Kamis, 07 Desember 2017

Jangan Dipertanyakan Lagi, Ini Alasan Kera Tidak Berevolusi Jadi Manusia


Tim jurnalis sains di Washington Post pernah mendapat sebuah pertanyaan menarik. Kira-kira begini bunyinya: “Mengapa tidak ada Hominini yang tersisa di bumi? Kalau evolusi selalu terjadi dan spesies selalu berubah dan beradaptasi, tidakkah kita seharusnya bisa melihat spesies manusia baru yang merupakan hasil evolusi dari kera?”

Di Indonesia pun, pertanyaan ini sering kali ditanyakan, meskipun sebenarnya ada banyak kesalahan di dalamnya.


Pertama-tama, Homininii yang merupakan bahasa ilmiah untuk manusia masih ada di bumi, yaitu kita yang Homo sapiens.

Lalu, kita termasuk kelompok kera besar yang disebut sebagai keluarga taksonomi hominid atau hominidae. Begitu juga neanderthal, australopitechus, manusia purba lain, orangutan, gorila, bonobo dan simpanse yang berevolusi dari nenek moyang yang sama sekitar 14 juta tahun yang lalu.

Jadi, bisa dibilang bahwa makhluk yang kini kita sebut kera bukanlah nenek moyang, tetapi saudara jauh kita.

“Bertanya mengapa gorila tidak berevolusi menjadi manusia purba sama dengan bertanya mengapa anak-anak dari sepupu Anda tidak mirip Anda,” kata Matt Tocheri, seorang dosen antropologi di Lakehead University dan peneliti dari Program Asal Manusia di National Museum of Natural History.

Dia melanjutkan, makhluk-makhluk ini sudah memiliki garis keturunannya sendiri selama 10 juta tahun. Mereka tidak bisa mundur kembali dan turun menjadi manusia.


Selain itu, belum tentu para gorila, bonobo, simpanse, dan kera-kera modern lainnya ingin menjadi manusia.

Nina Jablonski, seorang paleoantropolog di Evan Pugh University berkata bahwa evolusi tidak selinear dan seprogresif yang Anda kira, meskipun sangat mudah untuk membayangkannya sebagai amoba bersel satu yang terus menerus berubah menjadi semakin kompleks hingga berakhir sebagai manusia.

Di dunia nyata, evolusi justru lebih suka menyederhanakan dan menghilangkan fitur-fitur tubuh yang dianggapnya tidak diperlukan.

Itulah sebabnya makhluk-makhluk yang hidup di gua dan laut dalam kehilangan pengelihatannya, dan paus yang merupakan keturunan mamalia darat hampir kehilangan seluruh tulang kakinya. Bahkan, landak laut yang nenek moyangnya memiliki otak kini tidak memiliki sistem sistem saraf pusat sama sekali.

Jablonski mengatakan, evolusi adalah usaha untuk bertahan hidup dalam kondisi tertentu, dan mutasi acak. Ada elemen keberuntungan yang besar dan tidak ada elemen arah di dalamnya. Makhluk hidup hanya berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Hal ini pun terlihat pada keberagaman Hominini di tahap evolusi awal. Australopithecus afarensis, misalnya, berevolusi untuk memiliki pinggang seperti manusia agar bisa berjalan dengan dua kaki dan membawa benda. Kemampuan ini sangat diperlukan untuk mengumpulkan makanan di padang rumput.

Sementara itu, Paranthropus robustus yang hidup di lingkungan kering berevolusi untuk memiliki rahang yang kuat agar bisa mengunyah makanan yang keras, dan Homo habilis yang memiliki otak yang besar membantu mereka untuk membuat alat-alat dari batu.

Namun, seiring dengan perkembangan alat-alat yang dapat dibuat, spesies Hominini yang lebih baru tidak lagi harus memilih antara gusi yang besar untuk mengunyah biji atau taring yang tajam untuk menyobek daging. Menggunakan alat yang mereka ciptakan, Hominini yang lebih modern bisa memotong makanan mereka dan mengonsumsinya.

Alhasil, evolusi pun lebih memilih spesies dengan otak yang besar dan gigi yang lebih kecil untuk menciptakan lebih banyak alat yang bisa membantu mereka untuk berburu, menjelajah, dan menghindari ancaman.

Jablonski berkata bahwa ketika spesies kita (Homo sapiens)muncul sekitar 200.000 tahun yang lalu, kita sudah dapat bertahan hidup dalam segala lingkungan dan kondisi. Menggunakan alat-alat yang lebih canggih dari spesies lainnya, kita pun bisa bertahan hidup dan melalui berbagai perubahan iklim yang membunuh spesies Hominini lainnya.

Nah, bagaimana dengan makhluk-makhluk yang kini kita sebut kera?

Ilustrasi March of Progress oleh Rudolph Zallinger yang dimuat di buku Early Man (1965). 
Ilustrasi ikonis ini membuat banyak orang salah memahami evolusi.

Menurut Jablonski, mereka biasanya hidup di hutan sehingga kemampuan untuk memanjat pohon lebih dibutuhkan daripada berjalan dengan dua kaki seperti manusia.

Tanpa otak yang besar dan menghabiskan energi sekalipun, penelitian juga telah menunjukkan bahwa simpanse dan bonobo mampu membangun sarang mereka, menggunakan alat yang belum sempurna, menghargai keindahan, dan menangisi kematian komunitasnya.

“Ketika kita melihat saudara kera sekarang, mereka baik-baik saja berperilaku seperti kera. Mereka melakukan apa yang dilakukan oleh simpanse, orangutan, dan gorila; dan mampu bertahan hidup tanpa menjadi manusia,” katanya.

“Tentunya itu dengan catatan manusia tidak menggunduli seluruh hutan mereka dan mengeluarkan mereka dari habitat aslinya. Namun, itu adalah masalah yang berbeda,” ujarnya lagi.
  
Penulis : Shierine Wangsa Wibawa
Sumber : The Washington Post, dikutip dari : sains.kompas.com, 20 Desember 2017, 20:04 WIB.

Nenek Moyangnya Bersisik, Kenapa Burung Modern Punya Bulu?


Berbagai macam burung modern punya bulu indah dengan banyak manfaat. Selain untuk melindungi tubuhnya, keindahan bulu juga berguna untuk memikat lawan jenis.

Namun, ternyata nenek moyang burung tak memiliki bulu, melainkan sisik. Hal ini menjadi teka-teki bagi para ilmuwan.

Untuk menjawabnya, mereka perlu mengetahui awal mula yang memungkinkan sisik burung dinosaurus berkembang menjadi bulu.


Para peneliti mengidentifikasi gen pembentuk bulu pada burung modern. Lalu, gen yang sama diaktifkan pada embrio buaya dan mengubah sisik buaya menjadi bulu.

Hal ini dimungkinkan, sebab aligator melepaskan lajur pembawa evolusi sekitar 8 juta tahun yang lalu. Dengan demikian, mempelajarinya dapat memberi petunjuk pada dinosaurus.

"Dalam evolusi manusia, pencapaian besar adalah otak, pada burung-burung itu adalah bulu-bulunya," kata penulis utama Cheng-Ming Choung, seorang profesor di Department of Pathology di University of Southern California, seperti dikutip Newsweek pada Sabtu (2/12/2017).

Riset berhasil. Ilmuwan menyimpulkan, perubahan level genetik-lah yang memungkinkan beberapa dinosaurus yang dulu bersisik kini berevolusi menjadi burung yang berbulu.

Dalam penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa semua dinosaurus memiliki bulu primitif. Namun, tak semua dinosaurus berevolusi untuk bisa berkembang menjadi burung.

Pascal Godefroit, Direktur Ilmu Pengetahuan Bumi dan Kehidupan di Royal Belgian Institute of Natural Sciences mengatakan, banyak dinosaurus merupakan bipedal dan memiliki kaki panjang dan punya lengan pendek.

"Tidak mungkin mereka terbang," kata Godefroit.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Molecular Biology and Evolution pada 21 November 2017 ini, merupakan tahap awal proses perubahan tersebut.

"Anda bisa melihat kita bisa benar-benar memaksa mereka untuk membentuk tambahan (bulu), meski bukan bulu yang indah, mereka benar-benar berusaha memanjang," katanya kepada BBC.

Kini, tim tersebut berkolaborasi dengan ahli bedah plastik untuk melihat bagaimana penelitian mereka dapat diterapkan pada jaringan parut manusia. Jaringan parut seringkali mencegah struktur kulit berkembang di daerah tersebut setelah disembuhkan.

Temuan ini bisa menjadi kunci terapi regenerasi kulit yang membantu meminimalkan penampilan bekas luka.

Penulis : Lutfi Mairizal Putra
Sumber : Kompas.com - 05 Desember 2017, 19:36 WIB

Rabu, 06 Desember 2017

Minum Susu Kurangi Risiko Jantung dan Diabetes.


Sejak dulu, susu dikenal dengan kandungan kalsium yang berkhasiat untuk pertumbuhan dan mencegah tulang mengalami kerapuhan. Ternyata, tak hanya itu, susu juga memiliki segudang manfaat bagi kesehatan.

Ahli gizi sekaligus dosen ilmu gizi di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II Dr. Marudut, MPS mengatakan bahwa selain untuk pertumbuhan dan kepadatan tulang, konsumsi susu juga bisa mencegah terkena penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan penyakit jantung.

"Kandungan asam lemak dalam susu penting untuk melancarkan metabolisme dalam tubuh. Selain itu, hal ini juga penting untuk menjaga kesehatan terutama untuk menghindari risiko terkena penyakit tidak menular," kata Marudut saat ditemui di acara diskusi cerdas bersama Frisian Flag pada Selasa (5/12/2017) di kawasan Jakarta Pusat.

Lebih jauh Marudut menjelaskan, selain mencegah terkena penyakit tidak menular, kandungan asam lemak dalam susu bisa membantu seseorang untuk mencegah dan mengatasi obesitas.

"Selain mencegah penyakit tidak menular, orang yang minum susu juga lebih mudah mengontrol berat badan. Orang yang minum susu cenderung makan lebih sedikit karena susu memberikan efek kenyang yang lebih lama," kata dia.


Penelitian

Marudut mengatakan bahwa beberapa penelitian yang dilakukan dalam jangka panjang telah mengungkapkan bahwa konsumsi susu dapat menurunkan kadar trigliserida dan insulin puasa.

"American Journal Clinical Nutrition 2013 mengungkapkan penelitian jangka panjang yang dilakukan pada 2000 sampai 2007. Hasilnya ditemukan bahwa orang yang mengonsumsi susu mengalami penurunan trigliserida dan insulin puasa. Ini berkt kandungan asam palmitoleat dalam susu," kata dia.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa orang yang mengonsumsi susu mengalami penurunan risiko diabetes sebanyak dua kali lipat. Hasil ini sejalan denga metaanalisis dan sistematik dari 50 penelitian yang juga mengatakan bahwa asam lemak palmitoleat bisa menurunkan risiko diabetes melitus.

"Selain diabetes, penelitian lainnya yang dilakukan pada 2000 sampai 2010 mengatakan bahwa asam lemak jenuh pada susu juga menurunkan risiko terkena penyakit kardiovaskular sebanyak 38 persen," lanjut dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, susu yang dimaksudkan dalam penelitian tersebut adalah susu murni, yaitu susu pasteurisasi dan susu ultra high temperature (UHT).

Penulis : Umi SeptiaUmi Septia
Sumber : http://health.liputan6.com, 06 Desember 2017, 06:30 WIB

Selasa, 05 Desember 2017

Tanaman Gandarusa Diteliti dan Ternyata Punya Zat Penghambat Virus HIV.

  
Daun Gandarusa

Penderita HIV selama ini mendapatkan obat berupa Anti Retroviral (ARV) yang salah satu komponennya adalah Azidothymidine (AZT).

Penelitian terbaru mengungkap bahwa tanaman gandarusa (Justicia gendarussa) yang akrab dengan masyarakat Indonesia juga punya khasiat yang sama

Ilmuwan Universitas Illinois di Chicago, Hong Kong Baptist University di Kowloon Tong, dan Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vietnam di Hanoi melakukan bioassay dan tes.



Dari bioassay, ilmuwan menemukan adanya anti-HIV arylnaphthalene lignan glycoside dalam tanaman gandarusa, patentiflorin A.

Tim peneliti lantas melakukan dua tes yang disebut M Tropik dan T Tropik, tujuannya untuk mengetahui kemampuan penghambatan patentiflorin A.

M-Tropik mengacu kepada kemampuan virus HIV untuk menyerang makrofag, sementara T-tropik mengacu pada kemampuannya untuk menyerang sel T.

"Patentiflorin A mampu menghambat enzim reverse transcriptase lebih efektif daripada AZT, baik pada tahap awal infeksi HIV saat virus menyerang makrofag, maupun saat menyerang sel-T," kata Lijun Rong dari University of Illinois yang melakukan riset.

Dari penelitian itu, Rong mengatakan bahwa patentiflorin A bisa menjadi alternatif baru pengobatan HIV.

"Patentiflorin A sebagai agen anti HIV bisa ditambahkan dalam rangkaian obat HIV saat ini untuk menghambat virus ataupun mencegah infeksi HIV," kata Rong seperti dikutip Medical News Today, Juni lalu.

Rong dan tim juga telah berhasil mensintesis Patentiflorin A sehingga tak diperlukan pembuatan kebun untuk menanam gandarusa hanya untuk memanen senyawanya.


Penelitian ini telah diterbitkan di Journal of Natural Products.
  
Penulis : Michael Hangga Wismabrata
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber: medicalnewstoday, dikutip dari : http://sains.kompas.com, 01 Desember 2017, 13:55 WIB.

Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Terinfeksi HIV daripada PSK, Kok Bisa?


Jika masyarakat awam ditanya “Siapa yang paling rentan mengidap HIV?”, kebanyakan akan menjawab pekerja seks komersial atau yang berhubungan sesama jenis.

Namun, data yang dikumpulkan dari tahun 1987 hingga 2014 oleh Pusat Data Informasi HIV AIDS dari Kementerian Kesehatan mengungkapkan kenyataan yang berbeda. Ibu rumah tangga justru lebih berisiko terinfeksi HIV daripada pekerja seks komersial (PSK).

Lebih dekat, hasil serupa juga ditemukan di Riau. Dari data sampai Agustus 2015, jumlah PSK yang terkena HIV di Riau hanya tujuh orang, sedangkan ibu rumah tangga mencapai 41 orang. Angka ini juga menunjukkan kecenderungan meningkat.

Dikutip dari Kompas.com, Selasa (10/11/2017), Mareno selaku Koordinator D-KAP Riau, organisasi pemerhati HIV/AIDS Riau berkata bahwa PSK justru lebih bersiap untuk mencegah HIV dengan memakai kondom.

“Adapun ibu rumah tangga lebih banyak ditularkan oleh suaminya yang berperilaku menyimpang di luar rumah,” imbuhnya.

Masalah ini diperkeruh dengan keengganan ibu rumah tangga untuk mencegah penyebaran dan penularan HIV.

Prosentase resiko penularan virus HIV

Artikel Hellosehat yang ditulis oleh Fauzan Budi Prasetya dan datanya ditelaah oleh dr Tania Savitri mengungkapkan bahwa masih banyak ibu rumah tangga yang menolak menjalani tes HIV.

Alasannya bermacam-macam. Ada yang karena sedang hamil, merasa malu atau tabu, atau menganggap dirinya dan pasangan tidak pernah berhubungan dengan orang lain.

“Menurut Yusniar Ritonga, seorang konselor HIV/AIDS, hanya ada 10 persen orang yang bersedia ikut dalam tes HIV setelah mereka menikah,” tulis Fauzan.

“Padahal, seperti yang kita tahu, ada banyak cara penularan HIV/AIDS selain lewat hubungan seksual. Bisa dari pisau cukur, bisa dari jarum suntik, atau pun benda lain yang tidak steril dan pernah terkena darah dari pengidap AIDS,” imbuhnya.

Menghadapi dilema ini, solusi yang diusulkan oleh Fauzan dan dr Tania adalah dengan menggunakan kartu skor berisi pertanyaan-pertanyaan terkait pekerjaan dan aktivitas seksual diri dan pasangan.

“Jika suami Anda bekerja sebagai supir truk atau bis lintas provinsi dan jarang pulang ke rumah, maka bisa jadi Anda adalah kelompok berisiko dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut,” tulis Fauzan.

Namun, yang paling penting adalah menyadari bahwa semua orang bisa tertular HIV, meski telah berstatus ibu rumah tangga. “Karenanya, lebih baik mencegah dan mengobatinya secepat mungkin,” tutup Fauzan.
  
Penulis : Shierine Wangsa Wibawa
Sumber: hellosehat, dikutip dari : http://sains.kompas.com, 01 Desember 2017, 17:05 WIB.

Sabtu, 12 Agustus 2017

7 Alasan Kenapa Minum Kopi Bisa Bikin Panjang Umur.



Konsumsi kopi telah lama dikaitkan dengan usia yang lebih panjang. Dua studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine semakin menguatkan hal tersebut.

Studi pertama meneliti lebih dari 520.000 orang di 10 negara Eropa. Dengan jumlah partisipan tersebut, studi ini menjadi studi terbesar yang meneliti tentang kaitan konsumsi kopi dan kematian. Studi ini menemukan bahwa minum lebih banyak kopi dapat menurunkan risiko kematian seseorang secara signifikan.

Sementara itu, studi kedua berfokus pada populasi non-kulit putih. Setelah meneliti lebih dari 185.000 penduduk Afrika-Amerika, Amerika asli, Hawaii, Jepang-Amerika, dan Amerika Latin, para peneliti menemkukan bahwa orang yang meminum dua hingga empat cangkir kopi perhari memiliki risiko kematian 18 persen lebih rendah dibanding orang yang tidak mengkonsumsi kopi.

Dengan kata lain, fakta bahwa kopi meningkatkan kemungkinan panjang umur dapat terjadi di berbagai ras yang berbeda. 

“Dengan populasi yang sangat beragam ini, semua orang memiliki gaya hidup yang berbeda. Mereka memiliki kebiasaan makan yang sangat berbeda dan kerentanan yang berbeda, dan kami masih menemukan pola yang serupa,” kata Veronica Wendy Setiawan, Associate Professor pengobatan preventatif di USC's Keck School of Medicine, yang juga memimpin studi kedua.

Kedua studi ini menunjukkan hubungan terbalik antara konsumsi kopi dengan tingkat kematian karena penyakit jantung, kanker, penyakit saluran pernafasan, stroke, diabetes, penyakit ginjal, penyakit pencernaan, dan penyakit peredaran darah.

Dalam kedua studi, para peneliti memisahkan partisipan yang merupakan perokok dan perokok. Sebab, merokok telah diketahui sebagai perilaku yang mengurangi umur dan dikaitkan dengan beragam penyakit. Para peneliti menemukan bahwa efek kopi yang menurunkan risiko kematian juga terjadi pada perokok.



Meski demikian, bukan berarti dampak negatif kebiasaan buruk merokok bisa diimbangi dengan konsumsi kopi. “Pasalnya, merokok dapat meningkatkan risiko kematian Anda berkali-kali lipat. Sementara konsumsi kopi hanya mengurangi 10 persen dampak tersebut,” kata Dr. Alberto Ascherio, professor Epidemiologi and Nutrisi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, yang tak terlibat dalam studi.

Dengan semakin jelasnya bukti-bukti bahwa mengonsumsi kopi dapat membantu mengurangi risiko kematian, apakah lantas orang-orang yang bukan peminum kopi harus memulai kebiasaan minum kopi?

Para peneliti dari kedua studi di atas berpendapat, minum beberapa cangkir kopi sehari tidak akan membahayakan Anda, dan sebenarnya bermanfaat bagi kesehatan.

“Konsumsi kopi dalam jumlah sedang dapat dimasukkan ke dalam pola hidup sehat. Kedua studi ini dan studi-studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa bagi mayoritas orang, tak ada bahaya jangka panjang dari mengonsumsi kopi,” kata Setiawan.

Sementara itu, pendapat Dr. Ascherio sedikit lebih lunak. “Jika Anda memang peminum kopi, lanjutkan kebiasaan itu dan berbahagialah. Tapi jika bukan, tak masalah. Anda bisa minum teh atau air putih,” tutupnya.



Berikut ini adalah 7 manfaat kopi yang membuat peminum kopi cenderung panjang umur.

1. Mencegah Stroke

American Heart Association menerbitkan hasil studi yang cukup menggembirakan, khususnya bagi para pecinta kopi. Hasil seperti ini biasanya berlaku bagi para peminum teh. Seseorang yang meminum kopi segelas sehari 20% lebih manjur terhindar dari stroke sampai dekade atau 10 tahun berikutnya.

2. Mencegah Penyakit Jantung

kopi, jantung, kopi jantung, kopi jantung berdebar, kopi baik untuk jantung, manfaat kopi untuk jantung, pengaruh kopi terhadap jantung, manfaat kopi bagi jantung,gagal jantung kopi

Kafein dalam dosis bijak bisa memberi efek yang lebih bermanfaat. Begitu juga pada organ jantung. Hal itu dikarenakan kafein mampu memberikan efek positif juga terhadap proses metabolisme tubuh, merangsang sistem syaraf pusat, serta melepas asam lemak bebas dari jaringan lemaknya.


3. Mencegah Bunuh Diri
kopi, bunuh diri, kopi bunuh diri, bunuh diri dalam islam, cara bunuh diri, hukum bunuh diri, penyebab bunuh diri

Harvard pernah merilis sebuah studi di tahun 2013, dan isinya berupa korelasi antara kopi dan berkurangnya risiko untuk bunuh diri. Hasilnya, orang dewasa yang meminum kopi (berkafein) sebanyak 2-4 cangkir per hari memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan aksi bunuh diri. Kafein dengan dosis yang benar bisa menjadi antidepressant, sehingga otak mmapu memproduksi zat-zat seperti serotonin, dopamine, dan noradrenaline.


4. Mencegah Penyakit Neurologis

kopi dan saraf, kopi neurologis, manfaat dan bahaya kopi untuk kesehatan, manfaat dan kerugian kopi bagi kesehatan, kopi daya ingat, kopi dapat meningkatkan daya ingat, kopi menambah daya ingat

Meski tidak menutup kemungkinan bisa menyerang anak-anak, namun penyakit yang berhubungan erat dengan syaraf ini umumnya menyerang mereka yang sudah lansia. Hanya saja, lagi-lagi beberapa studi mengumumkan efek positif kopi. Para penikmat kopi bisa mengurangi 65% risiko perkembangan penyakit demensia, Alzheimer dan 32-60%-nya penyakit Parkinson.


5. Mencegah Diabetes Tipe 2

kopi, diabetes, diabetes tipe 2, kopi diabetes, kopi untuk penderita diabetes, kopi pahit untuk diabetes, manfaat kopi untuk diabetes, kopi bagi penderita diabetes, manfaat kopi bagi penderita diabetes, manfaat minum kopi pahit tanpa gula, kopi tanpa gula

Pada tahun 2004, sebuah studi sempat menyatakan bahwa… ketika minum kopi sebelum makan, kadar glukosa akan naik setelahnya. Dengan demikian, hasilnya berpengaruh pada tingkat resistensi insulin, yang mana bisa mencegah pemicu diabetes. Namun perlu diingat kalau kopi bukan obat dari dua tipe penyakit ini. Kopi bahkan bisa menjadi musuh bagi seseorang yang sudah terkena diabetes, atau sedang dalam masa pengobatan.


6. Membakar Lemak

kopi, lemak, kopi lemak, nasi lemak kopi o, kopi pahit membakar lemak, kopi membakar lemak, membakar lemak perut, makanan yang membakar lemak, cara membakar lemak, kopi metabolisme

Sudah disinggung sebelumnya, kandungan kafein dalam kopi berpengaruh dalam proses metabolisme tubuh, sehingga bisa menjadi booster sebesar 3-11%. Semakin tinggi, tentu proses pembakaran lemak jadi semakin mudah. Biasanya pembakaran itu sebesar 10% bagi yang sudah mengalami obesitas, serta 29% bagi yang sudah slim aka ramping. Namun misi membakar lemak ini bisa gagal total juga jika ngopinya sambil membubuhkan whipped cream yang banyak, terus ditemani dengan cemilan yang beragam. Hehe…


7. Melindungi Hati

kopi, hati, kopi dan hati, manfaat minum kopi hitam, manfaat minum kopi pahit, kopi penyakit hati, simptom penyakit hati, penyakit hati liver, penyakit hati dan penyebabnya, penyakit hati bengkak, penyakit hati berlemak

Poin ini bukan berarti para peminum kopi tak pernah merasakan patah atau sakit hati. Hehe… tapi memang benar, kopi bisa melindungi peminumnya dari fenomena sirosis hati, bahkan tingkat risikonya yang rendah mencapai 80%. Singkatnya, sirosis hati adalah rusak atau lukanya hati dalam jangka waktu cukup lama yang bisa mendorong keadaan yang lebih kronis.

Baiklah… peminum kopi atau bukan, mudah-mudahan umur kita panjang dan pastinya bermanfaat bagi sekitar. Aamiin… 

Sumber :

Selasa, 25 Juli 2017

Mengapa Lulusan SMP/ SMA Bisa Lebih Kaya/ Makmur Dibanding Mereka Lulusan S 1 bahkan S 2 ?


Di blog yang saya kelola (www.strategimanajemen.net), saya sudah beberapa kali menampilkan profil anak muda yang cuma lulusan SMP atau SMA, namun hidupnya relatif makmur dan melimpah.

Yang pertama, anak ndeso yang cuma lulusan SMP bernama Darmanto, yang kini jadi national internet expert dan berkantor dari rumahnya di desa Kranggil, Pemalang.

Yang kedua, Afidz, lulusan SMP yang jadi juragan soto Lamongan dan bertekad segera mengumrohkan orang tuanya ke tanah suci.

Di sisi lain, kita acap melihat anak muda lulusan S1 bahkan S2 yang masih menganggur. Atau juga sudah bekerja namun dengan penghasilan pas-pasan. Bulan masih tanggal 9, gaji sudah habis. Pening deh kepala.

Pertanyaannya : kenapa bisa begitu? Kenapa anak lulusan SMP bisa lebih makmur dibanding lulusan S2? Sajian pagi ini akan menelisiknya dengan gurih dan merenyahkan.

Memang tak jarang kita melihat pemandangan yang paradoksal seperti itu : saat orang-orang yang hanya lulusan SMP bisa begitu sukses, sementara ribuan sarjana S1 dan bahkan S2 terpuruk dalam duka dan kepahitan yang mengigil.


Kenapa bisa begitu?

Ada setidaknya tiga elemen kunci yang barangkali bisa menjelaskan ironi getir semacam itu.


Faktor 1 : The Power of Kepepet. 

Mungkin orang-orang lulusan SMP itu bisa sangat sukses karena faktor kepepet. Justru karena kepepet, mereka sukses. Justru karena kepepet, mereka dipaksa melakukan something yang membuat mereka bisa melenting.

Sederhana saja, ijasah mereka hanyalah lulusan SMP. Dengan ijasah SMP, perkerjaan bagus apa yang bisa diharapkan? 

Tak ada pilihan lain : jika mereka ingin mengubah nasib lebih makmur, pilihannya adalah melakukannya dengan jalan merintis usaha sendiri.

Mereka dipepet oleh keadaan : mau hidup miskin selamanya (karena sulit dapat kerja dengan hanya mengandalkan ijasah SMP) atau nekad membangun usaha sendiri yang berpotensi sukses besar.

Orang dengan ijasah S1 dan S2 mungkin tidak punya faktor kepepet seperti itu : ah, santai saja toh nanti saya pasti dapat pekerjaan. 

Dan begitu sudah dapat pekerjaan (meski dengan gaji seadanya), tetap tidak ada “faktor yang me-mepet” dirinya : ah meski gaji segini kan saya bisa tetap hidup oke.

Pelan-pelan, perasaan semacam itu membuatnya masuk zona nyaman (comfort zone). Dan persis disitu, faktor kepepet menjadi mati.

Padahal seperti yang kita lihat, faktor kepepet justru yang bisa memaksa orang – bahkan lulusan SMP sekalipun – untuk melakukan something extraordinary. Kepepet karena tidak banyak pilihan mungkin bukan kutukan. Ia justru berkah terselubung yang bisa membuat orang menapak jalan kesuksesan.




Faktor 2 : The Darkness of Gengsi. 

Orang-orang lulusan SMP mungkin tidak lagi punya gengsi. Lhah cuman lulusan SMP, apa lagi yang mau dipamerkan.

Namun justru karena itu mereka tidak merasa rikuh untuk memulai usaha dari bawah sebawah-bawahnya : mulai dari pemulung misalnya, sebelum pelan-pelan merangkak menjadi juragan barang bekas.

Dan kisah orang sukses lulusan SMP banyak bermula dari jalur marginal seperti itu : mulai dari jualan gerobak bakso keliling di jalanan yang berdebu hingga punya 70 cabang. Mulai dari kuli keceh sablon hingga punya pabrik kaos sendiri.

Lulusan S2 dan S2 mungkin tidak punya keberanian seperti itu. Lhah saya kan lulusan S2, masak suruh dorong gerobak soto lamongan. Lhah, masak saya harus keliling ke pasar-pasar jualan kaos, kan saya sudah sekolah S1 susah-susah, bayarnya mahal lagi. Apa kata dunia?? (Dunia ndasmu le).

Dan persis mentalitas gengsi seperti itu yang barangkali membuat banyak lulusan S1 dan S2 menjadi yah, gitu-gitu deh nasib hidupnya.

Orang lulusan SMP tidak punya mentalitas gengsi seperti itu. Mereka mau berkeringat di jalanan yang panas dan berdebu, demi merintis impiannya menjadi juragan yang makmur dan kaya.


Faktor  3 : The Magic of Street Smart. 

Orang-orang lulusan SMP yang tak punya kemewahan berupa ijasah perguruan tinggi itu, mungkin dipaksa belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Dari kerja keras mereka di jalanan yang panas dan berdebu dan penuh lika liku.

Dan dari kerja keras di jalanan yang berdebu itu mungkin anak lulusan SMP tadi justru bisa mengenal “ilmu street smart” – kecerdasan jalanan yang tak akan pernah bisa diperoleh oleh para lulusan S1 dan bahkan S2 dari ruang kuliah yang acap “berjarak dengan realitas”.

Street smart yang mereka dapatkan dari jalanan itu pelan-pelan kemudian bisa membuat mereka benar-benar lebih cerdas dibanding lulusan S1 dan bahkan S1; meski cuma lulusan SMP.

Anak lulusan SMP yang langsung berjualan gerobak soto Lamongan mungkin bisa lebih cerdas tentang “ilmu pemasaran dan manajemen pelayanan pelanggan” dibanding anak-anak lulusan S1 yang sok belajar teori tentang customer service atau branding strategy (sic!).

Street smart barangkali yang ikut menjelmakan orang-orang lulusan SMP untuk merajut jalan hidup sukses yang penuh kemakmuran.

Demikianlah, tiga elemen kunci yang boleh jadi merupakan pemicu kenapa lulusan SMP bisa lebih kaya dibanding lulusan S1 dan S2 : the power of kepepet, the darkness of gengsi dan the magic of street smart.

Bagaimana pendapat anda?

Penulis : Yodhia Antariksa
Sumber : strategimanajemen.net, dikutip dari : https://www.facebook.com/refky.sabilillah

Jumat, 21 Juli 2017

Mengenal Dewi Sri, Dewi Pujaan Para Petani di Tanah Jawa....


SRI.....bukan judul lagu, nama menteri apalagi parpol.

Sri merupakan perwujudan sakti Wisnu yang selalu dihubungkan dengan unsur keberuntungan dan kemakmuran. Sri juga dikenal dengan sebutan ardhra yaitu yang selalu memberi kesan segar dan hidup seperti tanaman. Sebutan Sri yang lain adalah kairisin, yang berarti selalu melimpahi dengan pupuk (kandang), bhuti yang berarti selalu diharapkan untuk melimpahkan kemakmuran, serta jwalantin, yang selalu bersinar terang. 

Berkaitan dengan hal tersebut, maka Sri kemudian dipuja di kalangan masyarakat agraris, tidak ketinggalan pula di kalangan masyarakat Jawa. Di India, Sri tidak terlalu populer, jika dibandingkan dengan Laksmi. Akan tetapi, masyarakat Jawa Tengah Kuna tampaknya lebih mengenal Sri sebagai sakti Wisnu dari pada Laksmi. Pada periode Jawa Tengah Kuna, keberadaan Dewi Sri lebih populer dari pada Laksmi. Terdapat asumsi adanya pemujaan terhadap Wisnu dan saktinya Sri pada masa Jawa Tengah Kuna. Pengambaran Sri sebagai sakti Wisnu pada periode Jawa Tengah Kuna ditandai dengan laksana setangkai bulir padi pada tangan kirinya, sebagaimana ditunjukkan oleh arca perunggu yang merupakan penggambaran Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. 

Dewi Sri
Koleksi museum Sonobudoyo diambil dari Tropen Museum.

Dewi Sri digambarkan duduk di atas padmasana dengan sikap sattwaparyangkasana. Dewi tersebut digambarkan dengan dua tangan, tangan kanannya bersikap waradahastamudra, sedangkan tangan kirinya memegang setangkai padi. Kedudukannya sebagai dewi ditunjukkan dengan hadirnya sirascakra (halo). Ia digambarkan mengenakan jatamakuta, kundala, hara, channawira, keyura, kankana dan urudamaj. 

Keberadaan unsur padi inilah yang kemungkinan menyebabkan Dewi Sri didudukkan sebagai dewi padi. Kemunculan peran Sri sebagai dewi padi sebenarnya baru muncul pada periode yang lebih kemudian, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kitab yang berasal dari abad ke XV-XVI, sedangkan temuan nama Sri telah dijumpai pada cincin dengan tulisan Cri yang berasal dari abad VII-IX M yang dikombinasikan dengan mantra Om sehingga membentuk gambar zanca. Konsepsi ini mungkin merupakan pengembangan dari pemikiran bahwa Sri dianggap berhubungan dengan kesuburan tanaman sesuai dengan sebutan kairisin dan kadama, putera Sri yang berarti lumpur sawah, hal ini yang mencipatakan mitos bahwa Sri adalah penguasa padi (Buku Dewa Dewi Masa Klasik terbitan BPCB Jateng).

"Javanese Woman" 
Karya Kassian Cephas koleksi National Gallery of Australia.

Hal lain yang berhubunga dengan dewi Sri dan padi adalah Ani-ani. Ani-ani adalah sebuah alat memanen atau pemotong batang padi yang terbuat dari kayu, pegangannya terbuat dari selongsong bambu kecil dan sebilah pisau kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Masyarakat sunda atau jawa dahulu selalu memakai Ani-ani sebagai alat untuk memanen padi. Karena alat ini ukurannya cukup kecil dan penggunaanya pun sangat sederhana dimana Ani-ani hanya bisa memotong batang bulir padi satu persatu.
Dari segi efisiensi alat tradisional ini cukup banyak memakan waktu dan beda dengan cara di arit atau pakai clurit yang bisa memotong batang padi dalam jumlah yang banyak sekaligus.

Kelebihan Ani-ani adalah para petani bisa lebih selektif dalam meotong batang padi dan tidak semua padi dapat dipanen atau dipotong pada saat yang sama karena biasanya kalau yang masih hijau para petani akan menyisakan untuk dipanen dikemudian hari.

Pada saat memanen atau memotong padi masyarakat adat tradisional Sunda tidak membenarkan atau melarang memanen padi menggunakan golok atau arit. Menurut masyarakat tradisional Sunda yang masih kukuh memangku adat dalam memanen padi mereka percaya bahwa dewi padi Sari Pohaci Sanghyang Sri berjiwa halus dan lembut sehingga sangat ketakutan apabila melihat arit atau golok.


Selain itu juga ada kepercayaan bahwa padi yang akan dipanen, merupakan perwujudan sang dewi, harus diperlakukan dengan hormat dan lembut dipotong satu persatu, tidak boleh dibabat secara kasar begitu saja. Sampai sekarang tradisi kepercayaan itu masih banyak diamalkan oleh sebagian kalangan masyarakat Sunda dan Jawa pada umumnya, misalnya upacara tradisional panen padi masyarakat Sunda yang disebut Seren Tahun.

Penulis : Goenawan A. Sambodo

Kamis, 20 Juli 2017

Terkubur 5000 Tahun, Tulang “Manusia Raksasa” Ditemukan di Provinsi ShandongChina...


Dunia sains kembali dikejutkan dengan penemuan kuburan para "raksasa". Tulang belulang yang dikubur sekitar 5000 tahun yang lalu ini ditemukan saat para arkeolog melakukan penggalian di Provinsi Shandong, China tenggara.

Namun sebelum Anda kaget, para raksasa itu tetaplah manusia dan tidak seperti karakter dalam buku Perjalanan Guliver karya Jonathan Swift.

Salah satu raksasa adalah laki-laki yang memiliki tinggi badan mencapai 1,9 meter, sedangkan tulang-tulang lainnya mencapai 1,8 meter. Akan tetapi, jangan anggap remeh. Dengan tinggi tersebut, para raksasa menjulang di antara kebanyakan orang-orang pada zaman Neolitikum.

Lalu, bila dibandingkan dengan manusia modern, tinggi rata-rata laki-laki Shandong yang berusia 18 tahun pada tahun 2015 adalah 1,75 meter. Sementara itu, tinggi rata-rata nasional pada tahun 2015 adalah 1,72 meter.


“Ini hanya berdasarkan struktur tulang. Jika dia masih hidup, tingginya pasti akan melebihi 1,9 meter,” kata Dekan Sejarah dan Budaya Universitas Shandong, Fang Hui, kepada kantor berita China, Xinhua, seperti yang dikutip dari Science Alert 10 Juli 2017.

Meski belum diketahui berapa tinggi rata-rata laki-laki Shandong 5.000 tahun lalu, tinggi laki-laki Eropa pada masa yang sama diperkirakan hanya 1,65 meter. Oleh sebab itu, temuan ini pun menjadi sangat menarik, mengingat bahwa menusia modern yang punya lebih banyak akses terhadap makanan sehat nutrisi masih belum bisa mengalahkan para raksasa.

Penggalian yang dilakukan Fang bersama timnya di desa Jiaojia, Distrik Zhangqiu, Kota Jinan, telah berlangsung sejak tahun 2016. Hingga kini, mereka telah menggali 205 kuburan, 20 lubang upacara pengorbanan, dan 104 rumah.

Video : "Archaeologists find 5,000-year-old giants in Shandong, China"

Para arkeolog berpikir bahwa para raksasa menjalankan budaya Longshan dengan memakan makanan yang baik bagi tubuh. “Dengan sudah adanya pertanian pada waktu itu, mereka telah memiliki sumber makanan yang beragam dan kaya sehingga fisik mereka pun berubah," kata Fang.

Di daerah penguburan, orang-orang bertubuh tinggi juga ditemukan dalam makam yang lebih besar. Ini berarti, mereka memiliki status sosial yang tinggi sehingga memiliki lebih banyak akses terhadap makanan enak dan kenyamanan hidup yang lebih baik.

Kenyamanan juga terlihat dari tata letak rumah yang ditemukan pada penggalian. Pada desa yang berusia lima milenium tersebut, rumah telah dipisah-pisah menjadi dapur dan kamar tidur.


Selain jenazah manusia dan pondasi bangunan, para arkeolog juga menemukan tulang babi dan gigi, bersama dengan berbagai tembikar berwarna-warni dan giok hijau.

Beberapa kerangka dan artefak budaya memiliki tanda-tanda kerusakan fisik. Para peneliti menduga bahwa hal itu sengaja dilakukan setelah penguburan karena motivasi politis dalam pertarungan kekuasaan lokal.
  
Penulis : Lutfy Mairizal Putra
Editor : Shierine Wangsa Wibawa
Sumber : Science Alert,dikutip dari : sains.kompas.com, 11 Juli 2017, 16:30 WIB

Rabu, 19 Juli 2017

Gula Rendah Kalori Tak Bantu Turunkan Berat Badan, Ini Buktinya....


Apakah Anda sedang dalam program penurunan berat badan dan menggunakan gula rendah kalori sebagai pengganti gula?

Jika ya, tampaknya Anda harus mempertimbangkan lagi penggunaan pemanis artifisial itu. Pasalnya, studi yang dipublikasikan di Canadian Medical Association Journal pada Senin (17/7/2017) mengungkap, gula rendah kalori tidak menguruskan badan dan bahkan berpotensi meningkatkannya.



Meghan B Azad dari Universitas Manitoba di Kanada bersama timnya menganalisis hasil dari 37 studi yang melibatkan 400.000 orang dalam periode 10 tahun.

Menerangkan hasil studinya, Meghan seperti dikutip NPR hari ini mengatakan, "Tidak jelas manfaat gula rendah kalori pada penurunan badan, malah ada potensi pemanis artifisial itu memicu kenaikan berat badan, diabetes, serta penyakit kardiovaskuler."

Dalam studinya, Azad menganalisis studi yang menggunakan dua pendekatan, percobaan secara langsung serta observasi.

Kedua studi memiliki kelebihan dan kekurangan. Pendekatan percobaan memungkinkan peneliti mengetahui dampak senyawa pemanis artifisial tertentu secara pasti. Namun, pendekatan itu hanya bisa dilakukan dalam waktu singkat dan obyek studi terbatas.

Pendekatan observasi bisa mengamati obyek studi dalam jangka waktu lebih lama, tetapi kesimpulan hasil studi biasanya kurang memuaskan sebab tak bisa mengaitkan secara langsung dampak senyawa pada kesehatan.

Lewat kajian ulang yang diharapkan bisa memberi gambaran menyeluruh tentang pengaruh gula rendah kalori itu, peneliti menemukan bahwa gula rendah kalori justru bisa meningkatkan indeks massa tubuh (BMI) dan meningkatkan peluang diabetes tipe 2 sebesar 14 persen.

Tidak hanya itu. Kajian ulang juga mengungkap, konsumsi pemanis artifisial bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler hingga 32 persen.

Sejumlah studi yang dijadikan bahan kajian ulang juga menemukan, pemanis buatan bisa membingungkan tubuh. Pasalnya, biasanya tubuh menganggap makanan manis berkalori. Ketika menemui rasa manis yang tak berkalori, tubuh bingung dalam memetabolismenya.

Pemanis buatan juga membuat tubuh ingin terus-terusan memakan manis. Akhirnya, jumlah pemanis buatan dan mungkin juga gula yang dikonsumsi justru lebuh besar.

Azad mengatakan, masih butuh studi lanjut untuk menegaskan pengaruh pemanis buatan pada tubuh. Namun, ia meminta siapa pun untuk mempertimbangkan lagi konsumsinya. Ia menyarankan, lebih baik menghindari makanan manis baik yang memakai gula maupun gula rendah kalori.

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : http://sains.kompas.com, 17 Juli 2017, 19:13 WIB.

Sabtu, 15 Juli 2017

Belangkas, Fosil Hidup yang Lebih Tua dari Dinosaurus Terancam Punah...


Belangkas  atau Mimi  (suku Limulidae) mencakup empat jenis hewan beruas (artropoda) yang menghuni perairan dangkal wilayah paya-paya dan kawasan mangrove. Kesemuanya merupakan anggota suku Limulidae dan menjadi satu-satunya wakil dari bangsa Xiphosurida yang masih sintas di bumi. Cetakan fosil hewan ini tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama.

Orang Jawa menyebut mimi untuk yang berjenis kelamin jantan dan mintuna untuk yang betina. Hewan ini monogamik, sehingga sering dijadikan simbol kelanggengan pasangan suami-isteri. Orang Inggris mengenalnya sebagai horseshoe crab atau "ketam ladam" karena bentuknya yang dianggap seperti ladam kuda.



Jenis-jenis Belangkas.
  • Marga Carcinoscorpius.Carcinoscorpius rotundicauda, mimi ranti, hidup di perairan mangrove Asia Tenggara
  • Marga Limulus. Limulus polyphemus, menghuni pantai-pantai timur Amerika Utara
  • Marga Tachypleus. Tachypleus gigas, mimi bulan, menghuni pantai Asia Tenggara dan Asia Selatan, sedangkan Marga Tachypleus tridentatus, menghuni pantai-pantai Asia Timur
Dari beberapa marga jenis ini, hanya L. polyphemus yang tidak ditemukan di perairan Indonesia.



10 Fakta Unik dan Menarik Seputar Belangkas.

1. Belangkas   itu Sangat Tua

Bukan tanpa alasan media memberikan gelar sebagai “fosil hidup” bagi kepiting ini. Apalagi untuk Lunataspis Aurora, yang ditemukan di Manitoba, Kanada. Makhluk dengan lebar 25 milimeter tersebut rupanya sudah melanglangbuana selama 445 juta tahun. Karena itu, mereka pun disebut sebagai kepiting tapal kuda tertua di dunia. Tetapi bentuknya memang sudah mengalami evolusi panjang. Dulu bagian depannya memiliki cabang. Namun yang versi kekinian hanya memiliki satu saja.


2. Belangkas   Ternyata Bukan Termasuk Kepiting

Jangankan kepiting, horseshoe crabs ini bahkan tidak masuk dalam kategori binatang crustaceans. Pada umumnya, kepiting dan keluarganya memiliki jumlah antena yang cukup banyak. Kontras dengan makhluk yang satu ini. Sehingga mereka pun bergabung bersama klasifikasi chelicerates, semacam subphylum yang di dalamnya terdapat arakhnida juga. Chelicerae juga menjadi sebutan khas karena hewan yang memiliki dua segmen tubuh ini memiliki sepasang penjepit yang unik.


3. Belangkas   Memiliki Indera Penglihatan yang Keren


Di tiap sisi cangkangnya terdapat indera mata yang majemuk. Bagian ini sangat membantu ketika musim kawin tiba, sehingga mereka bisa mendeteksi pasangannya dengan benar. Di bagian belakang mata tersebut, terdapat semacam fotoreseptor kecil yang dinamakan mata lateral. Di depan cangkangnya sendiri ada dua mata yang ukurannya sedang serta satu mata endoparietal tunggal. Sementara di bagian bawahnya terdapat dua mata ventral. Indera ini sangat menolong ketika mereka melakukan navigasi di saat berenang.


4. Bayi Belangkas   Bisa Berenang Ke Atas dan Ke Bawah

Jika berkesempatan untuk jalan-jalan di dasar lautan, kemungkinan kita akan menemui kepiting tapal kuda berjalan kesana-kemari. Sementara untuk kepiting muda, mereka akan melakukan improvisasi dengan insangnya. Bisa dibilang, insang tersebut dijadikan sebagai dayung ketika berenang. Namun semakin dewasa, mereka akan semakin jarang mempergunakannya.


5. Ekor Belangkas   Ini Memang Multifungsi

Selama ini kita sering keliru, menganggap kalau ekor mereka bisa menyengat korbannya. Faktanya, bagian belakang tubuh mereka sangat bermanfaat ketika mereka bergerak, mengemudikan dirinya sendiri. Selain itu, ekor juga bisa menjadi bantuan efektif kalau-kalau kepiting tapal kuda terjebak di bagian punggungnya.


6. Makanan Belangkas  Dewasa

Baik kepiting tapal kuda dalam bentuk larva atau yang sudah dewasa, mereka sama-sama mengkonsumsi cacing air. Tetapi pilihan menu makanan yang dewasa sudah cukup beragam. Mereka juga akan melahap ganggang atau alga, remis, dan kerang. Untuk memakannya, mereka sudah terbiasa dengan menumbuk makanannya lebih dahulu, untuk kemudian didorong masuk ke dalam mulutnya.


7. Acara Tahunan Belangkas  

Kepiting ini juga memiliki agenda tahunan tersendiri, tepatnya pada bulan Mei dan Juni. Pada waktu itu, mereka akan bertelur massal di teluk. Jika tiba waktu malam, yang betina tiba di pesisir pantai bersama satu atau lebih kepiting jantan. Dia kemudian menggali pasir untuk mengamankan telurnya. Kemudian yang jantan menyuburkan telur-telur tersebut. Beberapa burung pantai yang bermigrasi kemungkinan akan turun dan mengincar telur yang memang kaya akan nutrisi itu.


8. Belangkas  Bertahan Sampai Dewasa itu Langka

can you eat horseshoe crabs, horseshoe crabs news, horseshoe crabs with blue blood, baby horseshoe crab, biggest horseshoe crab, horseshoe crab underside, how big can a horseshoe crab get, prehistoric looking crab

Sebenarnya, induk dari kepiting ini bisa mengerami sampai 90.000 telur di dalam sarangnya. Namun kita tak bisa berharap banyak kalau ribuan calon kepiting tapal kuda itu bakal bertahan sampai dewasa. Ketika berbentuk pun, nyawa mereka sudah terancam. Para predator sudah siap mengincar. Entah itu ikan, burung, atau kura-kura laut. Tak heran kalau dari sekian ribu telur, diperkirakan hanya sekitar 10 kepiting yang akan bertahan tumbuh berkembang.


9. Belangkas  Betina di Atlantik Lebih Besar dari yang Jantan

Ukuran mereka bisa 25 sampai 30% lebih besar. Sementara untuk proses pendewasaannya, yang betina cenderung berkembang lebih lambat. Yang jantan sudah siap berpasangan di usia 8 atau 9 tahun. Sementara lawan jenisnya baru bisa produktif di usia 10 atau 11 tahun.


10. Belangkas  Menjadi Pahlawan Vaksin

horseshoe crabs blue blood, horseshoe crabs facts, horseshoe crabs mating, horseshoe crab's blood, horseshoe crabs for sale

Sudah disinggung sebelumnya, kalau kepiting ini memiliki darah yang aneh atau unik. Warnanya biru dan mengandung zat hemocyanin, bukan hemoglobin. Ilmuwan melakukan studi yang cukup penting terkait manfaatnya terhadap dunia medis. Kandungan protein dan sel amebocyte– menjadi “pahlawan” di balik gagalnya serangan bakteri terhadap darah manusia. Ya, para kepiting tapal kuda rutin ditangkap untuk kemudian diekstrak atau dimanfaatkan darahnya.


Belangkas Terancam Punah.


Belangkas bisa dibilang adalah pemenang evolusi terbaik sepanjang masa. Hewan ini sudah ada sejak 450 juta tahun yang lalu, jauh sebelum adanya dinosaurus, dan telah melewati lima kepunahan masal.

“(Belangkas) tampak seperti sesuatu yang dapat Anda bayangkan, tetapi tidak pernah lihat sebelumnya. Melihat mereka seperti melihat unicorn,” kata fotografer margasatwa untuk New York City Audobon, Camilla Cerea, kepada Smithsonian.com 5 Juli 2017.

Lalu, tidak hanya hidup untuk dilihat saja, belangkas ternyata juga bermanfaat untuk manusia. Setiap tahunnya, darah dari 500.000 belangkas digunakan untuk uji coba kontaminasi bakteri berbagai produk, mulai dari lensa kontak hingga vaksin. Selain itu, masyarakat di beberapa negara juga memanen belangkas untuk digunakan sebagai umpan atau pangan.

Namun, kini fosil hidup ini tengah terancam kepunahan. Pada tahun lalu, belangkas Atlantis ditandai sebagai hewan yang rentan kepunahan dalam Daftar Merah milik International Union for the Conservation of Nature.

Beberapa penyebabnya termasuk reklamasi pantai dan naiknya permukaan air laut akibat perubahan iklim yang menghilangkan habitat belangkas untuk berkembang biak. Selain itu, panen belangkas yang tidak terkontrol  juga membuat populasi belangkas di dunia menyusut.

Untuk itu, Cornell University dan NYC Audobon pun bekerjasama untuk melakukan program monitoring setiap tahunnya. Dalam program tersebut, para peneliti dan volunter akan berpatroli di pantai-pantai New York untuk mendata belangkas yang masih hidup.

Cerea yang berencana untuk berpartisipasi sebagai fotografer dan volunter pada tahun depan mengatakan, belangkas adalah hewan yang sangat penting, tetapi tidak diketahui banyak orang. Mereka bahkan lebih tua dari dinosaurus, tetapi mereka nyata dan masih ada di sini.

“Jangan sampai kita menjadi penyebab kepunahan pemenang evolusi ini dalam 450 juta tahun ke depan,” ujarnya.


Kegunaan Belangkas. 

Esktrak plasma darahnya (haemocyte lysate) banyak digunakan dalam kajian biomedis dan lingkungan. Di Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang ekstrak darah ini digunakan sebagai bahan pengujian endotoksin serta untuk mendiagnosis penyakit meningitis dan gonorhoe. Serum anti-toksin menggunakan belangkas telah berkembang di Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Barat. Warna darah belangkas adalah biru, terbentuk dari senyawa mirip hemoglobin pada manusia, yang disebut hemosianin. Apabila hemoglobin memiliki atom besi sebagai pusat, hemosianin memiliki atom tembaga sebagai pusatnya.

Daging dan telur belangkas bisa dikonsumsi. Masyarakat Melayu di Kota Tinggi, Johor, mengenal masakan asam pedas dan sambal tumis belangkas. Belangkas juga disantap dengan hanya memanggang atau membakar saja. Namun, belangkas menghasilkan sejenis racun yang bisa memabukkan. Hanya bagian tertentu saja boleh dimakan dan hanya seorang yang sudah terbiasa dan ahli saja yang mengetahui cara menyajikan makanan laut dari belangkas ini.


Ada peribahasa dalam masyarakat Jawa iaitu 'mimi-lan-mintuno' yang berarti cinta sejati, karena hewan ini seringkali ditemukan berpasangan.
  

Jumat, 09 Juni 2017

Manfaatkan Buah Naga untuk Sel Surya, Miranti Ayu Kamaratih dan Octiafani Isna Ariani Siap Berlaga di Amerika !


Energi matahari jadi salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan daya yang ramah lingkungan. Selain tersedia dalam jumlah melimpah, energi ini tak bikin polusi.

Sayangnya, pembuatan panel surya untuk mengubah sinar matahari menjadi listrik kini masih tidak "ramah" bagi kantung.

Salah satu jenis panel surya, Dye Sensitized Sollar Cell (DSSC) misalnya, menggunakan ruthenium kompleks yang harus diimpor dan berbiaya relatif mahal.

Miranti Ayu Kamaratih dan Octiafani Isna Ariani dari SMA Al- Hikmah, Surabaya memutar otak dan akhirnya berhasil membuat DSSC lebih murah dengan memakai limbah kulit buah naga.

Ruthenium kompleks dan kulit buah naga sama-sama berwarna merah. Selain itu, pemanfaatan limbah kulit buah naga menjadi nilai tambah bagi lingkungan.


"Karakter warna dari kulit buah naga merah mirip dengan karakter ruthenium kompleks. Ruthenium kompleks sendiri harganya sekitar Rp 10 juta isi 100 mililiter dan impor," kata Miranti di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Senin (8/5/2017).

Miranti menuturkan, kulit buah naga diekstrak dengan etanol 96 persen pada pH 2-3 selama dua jam. Kemudian, hasil ekstraksi disaring dan diuapkan pada suhu 35 derajat celsius.

Ekstrak buah naga itu berfungsi untuk menangkap sinar matahari yang sebelumnya dikerjakan oleh ruthenium kompleks.

Untuk melakukan percobaan, Miranti dan Octiafani menggunakan fasilitas di laboratorium panel surya LIPI di Bandung, Jawa Barat.

Percobaan memakan waktu selama lima pekan. Keduanya menguji hasil dari ekstrak kulit buah naga dan ruthenium kompleks dalam menyerap energi matahari.

Hasilnya, ektrak kulit buah naga mampu menghasilkan energi sebesar 56 persen dibandingkan ruthenium kompleks.


"Hasilnya memang lebih rendah tapi sudah mencapai 56 persen efisiensinya dari ruthenium. Jadi mungkin dengan meningkatkan kestabilan warnanya, karena natural dye itu pasti tidak stabil warnannya, itu mungkin bisa mencapai rutenium," ujar Miranti.

Riset penggunaan buah naga untuk energi surya ini bukan yang pertama. Sebelumnya, peneliti dari Institut Teknik Surabaya (ITS) menggunakan daging buah naga pada panel surya.

"Cuma hasilnya lebih rendah dari kami. Karena daging buah naga mengandung air, jadi akan menguap. Kan sayang daging buahnya. Harusnya dimakan," ucap Miranti.


Hasil penelitian Miranti dan Octiafani berhasil menyabet juara I pada Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2016. Mereka akan berkompetisi pada ajang Intel International Science and Engineering Fair (IISEF) 2017 di Los Angeles, Amerika Serikat pada 13-20 Mei 2017.
  
Penulis : Lutfy Mairizal Putra
Editor: Yunanto Wiji Utomo
Sumber : sains.kompas.com, 08 Mei 2017, 19:58 WIB.

Mengenal Naufal Rizki, Siswa SMP Yang Menemukan Energi Listrik Dari Pohon Kedongdong dan Bagaimana Cara Kerjanya..

Naufal Rizki listrik pohon kedondong 1

Siapa sangka, ternyata pohon kedondong bisa menghasilkan listrik. Naufal Raziq, bocah asal Aceh berusia 15 tahun yang menemukan itu. Ia berhasil membuat listrik dari pohon kedondong sejak 2 tahun lalu saat masih berusia 13 tahun.

Naufal Rizki adalah seorang pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh, Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Supriaman dan Deski ini sebelumnya hanya coba-coba. Berawal dari pelajaran di sekolah, Naufal akhirnya berhasil menciptakan tenaga listrik dari batang pohon.

Dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah, Naufal mengetahui buah-buahan seperti mangga, belimbing, asam jawa bisa menghasilkan arus listrik karena punya kandungan asam. Dia menjelaskan, pertama kali eksperimen itu dilakukan pada pohon mangga dan ternyata tidak layak. Akhirnya saya menemukan kedondong pagar yang kadar asam atau getahnya mampu menghantarkan listrik. 

Di bangku SD, Naufal pernah melakukan percobaan, ia memasukkan lempeng tembaga dan logam ke dalam kentang, ada arus listrik yang muncul. Dari sinilah inspirasi awal Naufal.

Kemudian tercetus ide untuk mencobanya pada pohon. Seperti halnya buah, pohon juga mengandung asam. Pengagum BJ Habibie dan Thomas Alfa Edison ini lalu mencobanya pada sejumlah pohon seperti pohon mangga, pohon belimbing, hingga akhirnya pohon kedondong.

"Masing-masing pohon ada keunggulannya. Saya pakai kedondong pagar karena memiliki batang yang besar, mudah tumbuhnya, jika kita buka kulitnya tidak busuk, bisa recover," kata Naufal saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Naufal Rizki listrik pohon kedondong 2

Ia menjelaskan, untuk memproduksi listrik dari pohon kedondong hanya dibutuhkan tembaga, logam, dan kain atau tisu. Kain atau tisu dipakai untuk melapisi tembaga dan logam. Pohon dilubangi, lalu tembaga dan logam yang sudah berlapis kain/tisu dimasukkan ke lubang tersebut.

Fungsi kain/tisu adalah untuk menyerap asam dari pohon, lalu menghantarkannya ke tembaga dan logam. Dari situ lah timbul arus listrik.

"Untuk pembuatan energinya, terutama kita butuh tembaga sama logam untuk mengubah asam menjadi listrik. Sebelum dimasukkan ke pohon, kita lapis tembaga dan logam dengan tisu dan kain, fungsinya untuk menyerap asam. Kita lipat jadi satu, dipasang ke pohon," paparnya.

Tiap lubang di pohon kedondong dapat menghasilkan arus listrik sebesar 1 Volt. Setiap pohon kedondong bisa dibuat 4 lubang dan menghasilkan 4 Volt. Maka listrik dari 4 pohon kedondong bisa menyalakan 1 lampu.

"Satu lubang itu 1 Volt. Jadi kalau kita mau tambah listriknya tinggal tambah lubang dan pohonnya. Satu pohon ada 4 lubang. 4 pohon bisa untuk 1 lampu," Naufal menerangkan.

Penemuan Naufal ini telah diaplikasikan untuk menerangi puluhan rumah di Desa Tampur Paloh, Langsa, Aceh.



Video : "Naufal Raziq. Inspirasi dari seorang remaja laki-laki asal Langsalama, Aceh."

"Biaya yang dibutuhkan untuk menyalakan 2 lampu (dari listrik pohon kedondong) itu Rp 1,2 juta. Sekarang ini saya dibina oleh Pertamina, jadi semua itu Pertamina yang tanggung. Masyarakat tinggal sediakan pohon saja," tutupnya.



Meski demikian, Naufal mengaku bahwa bekal yang dimiliki tidak hanya dari sekolah. Namun juga adanya  dukungan sang Ayah yang sangat membantu dalam percobaannya tersebut.

"Kebetulan ayah Naufal bekerja di elektronik. Jadi sedikit banyak saya tahu alat-alat elektronik," paparnya.

Hasil temuan energi dari pohon kayu ini memang sederhana, dengan rangkaian yang terdiri dari pipa tembaga, batangan besi, kapasitor dan dioda, arus listrik yang dihasilkan sangat tergantung kepada kadar keasaman pohon.

Sebelumnya, Naufal sudah melakukan lebih dari 60 kali percobaan dan menelan biaya sekitar Rp14 juta. Dengan temuannya ini, satu rumah dapat dialiri listrik melalui sepuluh pohon kedondong pagar.

Ditanya cita-cita dan keinginannya ke depan. Dengan sigap Naufal langsung menjawab ingin menjadi ilmuwan. "Saya ingin jadi ilmuwan dan kedepannya ingin mengembangkan eksperimen untuk menghidupkan alat elektronik," tukasnya.

Begini Cara Naufal Raziq Bikin Listrik dari Pohon Kedondong

Naufal sendiri diundang dalam acara Pertamina Science Fun Fair 2016 untuk berbagi inspirasi kepada para peserta lomba untuk dapat menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan inspiratif. Melalui ajang ini juga diharapkan, akan lahir Naufal lainnya yang mampu mengharumkan nama bangsa.

Sumber : 
  • https://autotekno.sindonews.com/read/1151164/124/bocah-dari-aceh-ini-sulap-pohon-kedondong-jadi-sumber-listrik-1477730185
  • https://finance.detik.com/energi/3506767/begini-cara-naufal-raziq-bikin-listrik-dari-pohon-kedondong