Sabtu, 06 Februari 2016

Petir V-101: Wujud Kebangkitan Rudal Nasional !

Petir dirancang dengan sirip tegak ala F-18 Hornet.

Karena terbilang kompleks, penguasaan teknologi rudal yang mencakup elemen hulu ledak, aerodinamika, sistem pemandu, dan propulsi menjadi lambang kemajuan industri alutsista suatu negara. Dengan tekad kuat menuju kemandirian alutsista, setelah dirintis LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) lewat proyek RKX (Roket Kendali Experiment), kini giliran BUMS (Badan Usaha milik Swasta) nasional PT Sari Bahari menggebrak perhatian publik dengan diluncurkannya prototipe rudal permukaan ke permukaan berkecepatan subsonic yang diberi label Petir V-101.


Meski sejarah awal berdirinya PT Sari Bahari bukan produsen senjata, namun debut perusahaan yang berbasis di Malang, Jawa Timur ini mulai membetot khalayak publik saat dipercaya sebagai pemasok bom (dumb bomb) P-100 untuk jet tempur Sukhoi Su-27/Su-30 Flanker Skadron 11 TNI AU. Berangkat dari order dan pengakuan dari otoritas pertahanan RI, menjadi motivasi yang kuat PT Sari Bahari untuk melanjutkan inovasi baru. Selain di segmen bom, sejak tahun 2014 PT Sari Bahari mulai merintis prototipe desain rudal Petir.

Petir-1

Dan setelah melewat beberapa pengujian statis dan real flight, pada bulan Agustus 2014 Viper resmi diperkenalkan ke publik lewat media. Sejak 2014, tiga prototipe Petir menjalani serangkaian uji coba. Yang terakhir, pengujian terbang dilakukan di Pameungpeuk, Jawa Barat. Selama percobaan, Petir belum diisi hulu ledak karena hanya menguji aspek aerodinamika. ”Selanjutnya kami menguji sistem otopilotnya. Kalau berhasil, kami akan mengisi hulu ledaknya,” ujar seorang teknisi.

rudalpetir

Seperti dikutip dari news.detik.com, Direktur PT Sari Bahari, Ricky Hendrik Egam menargetkan, setelah uji coba terakhir, Petir tahun depan diharapkan dapat mengikuti uji kelayakan sebelum digunakan untuk memperkuat alutsista TNI. Dia berharap uji coba yang menyedot biaya Rp5 miliar dapat segera menghasilkan rudal andalan.

Petir-4

Ricky mengklaim, Petir sangat cocok dengan kebutuhan militer Indonesia. Selama ini rudal dengan jarak jelajah 45–60 km belum terisi. Rudal C-701 dan C-705 buatan Cina –kini dikembangkan dengan PT Dirgantara Indonesia (PT DI)– memiliki jelajah 60–80 km dan 135 km. Sedangkan Exocet MM40 Block 2 yang dimiliki TNI-AL berjarak 120 km. Dengan jarak jangkau yang lebih pendek, tentunya diharapkan rudal yang sepenuhnya dirancang Putra Indonesia dapat ditawarkan dengan harga lebih murah ketimbang rudal-rudal besutan Luar Negeri.

Poin keunggulan Petir diantaranya mengadopsi sejumlah teknologi mutakhir untuk pengindraan sasaran. Diantaranya sudah mengadopsi multiple 3D point, ini lebih maju daripada rudal yang menggunakan seeker, konsekuensinya Petir nanti dibenamkan prosesor tingkat tinggi untuk memproses data sasaran tembak. Sayangnya Petir belum dirancang untuk menghajar sasaran bergerak, jadi masih di setting untuk menghancurkan target statis.

Sebagai rudal permukaan ke permukaan berkemampuan balistik, Petir dirancang untuk bisa diluncurkan dari peluncur di darat dan kapal perang. Dengan program yang ditanam rudal petir dapat di seting untuk menuju ke target sasaran vital tertentu yang tidak bergerak. Meski belum disebut punya Petir V-101kemampuan sea skimmer, dengan titik kerendahan terbang berada pada ketinggian 20 meter, rudal ini juga mampu melintasi kontur sehingga meminimalkan untuk terbaca oleh radar dan menghindari frekuensi yang berubah-ubah, serta mereduksi resiko di jamming.


Spesifikasi Petir V-101:
  • Panjang: 1.850 mm
  • Bentang sayap: 1.550 mm
  • Berat tanpa hulu ledak: 20 kg
  • Air frame set: carbon reinforced composite
  • Propulsion system set: turbine engine thrust
  • Berat hulu ledak: 10 kg
  • Jarak jangkau pada uji perdana: 45 km
  • Kecepatan uji tahap kedua: 260 km per jam
  • Sistem elektronik: PID controller, 3D waypoint autopilot, GPS navigation, complete with 6 DoF sensors, dan 3 axis magnetometers
Mengenai spesifikasi dan kemampuannya, Petir menggunakan engine standar dengan kecepatan 260 kilometer per jam. Teknisi sedang merancang engine sendiri yang diharapkan mampu mendongkrak kecepatan Petir menjadi 500 km per jam. Rudal Petir disebut-sebut sudah diuji terbang, tinggal diuji ledak. Rencananya rudal tersebut akan diuji oleh Kemenhan dengan daya jangkau 40 km. Untuk hulu ledaknya dibekali bahan peledak 10 kg yang akan disuplai PT Dahana.

Dari segi rancangan, seperti nampak di foto, Petir bagaikan rudal jelajah Tomahawk dengan dukungan sirip tegak dan sayap utama. Ternyata teknisi memang sengaja memasang sirip menyerupai pesawat tempur untuk memudahkan pengendalian kecepatan. Jika engine- nya sudah siap, sirip nantinya akan dilepas. Dengan basis rudal permukaan ke permukaan, maka rudal ini ideal digunakan TNI AD dan TNI AL. 

Penulis : Gilang Perdana
Sumber : www.indomiliter.com, 18 Januari 2016

Kamis, 04 Februari 2016

Awas : Menyalakan Klakson Ada Aturannya !


"Tiiinn...nn!" "Diiiin..." Bagaimanapun suaranya, klakson identik dengan lalulintas. Baik saat macet atau lancar, ada saja pengendara yang mengendin klakson. Bagi saya, jalan raya adalah salah satu tempat paling memancing emosi setiap hari. Di antara berbagai kejadian menyebalkan yang terjadi, salah satu hal yang paling mengganggu adalah cara orang-orang menggunakan klakson. Berikut ini beberapa kesalahan penggunaan klakson menurut saya yang lazim terjadi di Indonesia.

Seolah sudah menjadi makanan sehari-hari warga kota besar. Suara klakson saat macet sudah serupa musik pengiring kejenuhan. Dari suara klakson pabrikan atau bawaan pabrik. Mulai dari klakson motor yang sederhana 'tiinnn.." sampai 'diinnn..' untuk mobil, suara seperti ini akan sering terdengar. Ada juga klakson Hella dengan varian twin tone yang rada nyaring disemat pengendara motor atau mobil. Atau di JKT, klakson dari PJR atau mobil Polantas plus loud speaker-nya juga sering terdengar. Mulai dari mentri sampai orang tenar, ditandai dengan bunyi-bunyi klakson besar dan cenderung arogan ini. 

Anda sebagai pengendara pasti mengklakson. Entah saat darurat atau untuk mengingatkan pengendara lain, klakson jadi andalan. Bahkan saat aki sudah soak dan suara klakson seperti orang bengek, pengendara tetap mengklakson. Kalau bisa diumpamakan, orang mau celaka akan ingat untuk menekan klakson daripada berdoa. Klakson menjadi media komunikasi antar pengendara. Saat pejalan kaki bisa dengan bertegur sapa. Maka di lalu lintas jalan raya, klakson menjadi andalannya.


Aturan Penggunaan Klakson.


Membunyikan klakson saat berada di keramaian arus lalu lintas ternyata memiliki tata krama tersendiri. Klakson berfungsi untuk memberikan peringatan kepada pemakai jalan di depan pengendara lain atau pejalan kaki, agar memberikan jalan atau berhati-hati.

Saat anda membunyikan klakson maka bisa berarti klakson-mu adalah harimau-mu. Nah, bagaimana membunyikan klakson tanpa membuat orang lain kesal? Pengamat tata kota dan transportasi Yayat Supriyatna mengatakan bunyi klakson ternyata memiliki arti. "Ada cara supaya bunyi klakson sesuai situasi dan kondisi,"

Klakson adalah perlengkapan yang melekat pada kendaraan bermotor pada umumnya. Dalam Pasal 70 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan Bermotor dan Pengemudi, klakson dikategorikan sebagai komponan pendukung yang merupakan bagian dari kontruksi kendaraan bermotor, sama seperti kaca spion, bumper, penghapus kaca (wiper), sabuk pengaman, atau alat pengukur kecepatan untuk kendaraan yang memiliki kemampuan kecepatan 40km/jam atau lebih pada jalan datar.

Secara umum menggunakan klakson diatur dalam pasal 71 PP No.43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Dalam ayat 1, dikatakan isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa klakson dapat digunakan apabila :
  1. Diperlukan untuk keselamatan lalu lintas
  2. Melewati kendaraan lain yang ada di depan.
Hanya untuk kepentingan itu saja klakson relevan digunakan. Bahkan dalam ayat 2 pasal diatas ditentukan larangan menggunakan klakson, yakni ;
  1. Pada tempat – tempat tertentu yang dinyatakan dengan rambu – rambu;
  2. Apabila isyarat bunyi tersebut mengeluarkan suara yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor.
Mengingat tidak adanya ketentuan yang mengatur kiteria “suara yang tidak sesuai itu”. Pasal 74 PP No.44 Tahun 1993 hanya menyebutkan bahawa klakson harus dapat mengeluarkan bunyi yang dalam keadaan bisa dapat didengar pada jarak 60 meter.

Berdasarkan pasal 72 PP No.43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu lintas Jalan, isyarat peringatan dengan bunyi yang berupa sirine hanya dapat digunakan oleh :
  1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas, termasuk kendaraan yang diperbantukan untuk keperluan pemadam kebakaran.
  2. Ambulan yang sedang megangkut oarang sakit.
  3. Kendaraan jenazah yang sedang mengangkut jenazah.
  4. Kendaraan petugas penegak hukum tertentu yang sedang melaksanakan tugas
  5. Kendaraan petugas pengawal kendaraan Kepala Negara atau pemerintah asing  yang menjadi tamu negara.
Selain , sirine dilarang penggunaannya karena mengeluarkan bunyi yang cukup keras, yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis kendaraan bermotor seperti dijelaskan dalam pasal 71 ayat 2 PP No.43 Tahun 1993. Berpedoman pada ketentuan ini, dapat diartikan bahwa yang dilarang bukanlah sirine dalam arti fisik, tapi “bunyi yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis kendaraan bermotor”. Artinya, klakson biasa pun apabila mengeluarkan bunyi yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis kendaraan, jelas termasuk yang dilarang. Misalnya, mobil sedan menggunakan klakson bus malam atau truk atau sebaliknya. Begitu juga klakson yang mengeluarkan bunyi aneh yang berbeda dengan suara klakson pada umumnya, seperti gonggongan anjing, atau suara yang mirip dengan suara sirine. Belakangan di tempat – tempat penjualan peralatan kendaraan memang banyak dipasarkan klakson yang bersuara aneh itu, atau klakson yang mampu mengeluarkan suara sampai 150 desibel.

Kemudian dalam Pasal PP 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, ketentuan ini diulang lagi. Dijelaskan dalam Pasal 75, isyarat peringatan bunyi berupa sirine hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor :
  1. Petugas penegak hukum tertentu;
  2. Dinas pemadam kebakaran;
  3. Penanggulangan bencana;
  4. Kendaraan ambulan;
  5. Unit palang merah;
  6. Mobil jenazah.
Pasal 74 PP No.44 Tahun 1993 hanya menyebutkan bahawa klakson harus dapat mengeluarkan bunyi yang dalam keadaan bisa dapat didengar pada jarak 60 meter.

Pembahasan ini memang tidak jelas. Ukuran “dalam keadaan biasa dapat didengar pada jarak 60 meter” sangat relatif. Misalnya jarak 60 meter kota dengan di desa jelas berbeda. Karena batasan yang relatif itu, ada klakson kendaraan yang bunyinya seperti merintih, dan ada pula yang bunyinya terlalu keras seperti peluit stroom kapal.

Klakson yang ada disetiap kendaraan sebenarnya sudah dirancang oleh pabrik pembuatnya agar terdengar pantas dan sesuai dengan jenis kendaraan. Tetapi, tidak jarang pengendara melakukan modifikasi atau menggati klakson kendaraan agar berbunyi lebih nyaring.


Aplikasi Penggunaan Klakson


Dan jika Anda amati dan renungi, klakson pun seolah menjadi tuturan. Walau dengan suara sesederhana 'tiinnn..', ada tuturan yang diucap. Dan selazimnya tuturan, ada makna dibaliknya. Ada sebuah potensi menyampaikan pesan ke pengendara atau pengguna jalan. Dan jika ditelusur lebih dalam, ada gaya dalam mengklakson. Gaya ini akhirnya menjadikan tuturan klakson menjadi semakin kentara maknanya. Ada feasibility makna yang tersirat. Walau secara tersurat hanya suara sederhana. 

Video : "Bagaimana Aturan Jenis Penggunaan Klakson"

Namun saat gaya berklakson digunakan, spesifikasi makna terjadi. Berikut pemaknaan klakson yang saya amati. 

1. Klakson sekali dan perlahan 
Kira-kira jika dibayangkan bunyinya pelan dan gaya menekan klakson pun tidak dalam-dalam. Menekan klakson harus cepat dengan sedikit tenaga. Sehingga suara yang timbul akan tidak nyaring. Dalam suara dan gaya klakson seperti ini, ada makna menyapa. Biasanya dilakukan jika pengendara mengenal pengendara atau pengguna jalan. Bisa saja yang berpapasan adalah teman, saudara, kenalan, atau bahkan atasan. Karena kalau Anda mengklakson terlalu dalam dan nyaring, maka makna yang muncul berbeda. 

2. Klakson cepat sekali atau dua kali dan sedikit dalam 
Bunyinya akan sedikit nyaring karena klakson ditekan cukup bertenaga. Bisa dilakukan sekali sampai dua kali. Bunyinya nyaring namun wajar. Dalam suara dan gaya klakson ini, ada pesan menyampaikan hati-hati. Misalnya, saat ada pengemudi lain yang berjalannya agak terlalu mepet dengan kendaraan Anda, klakson dibunyikan seperti ini. Suara nyaring wajar pun mendukung makna hati-hati ini. Karena niatnya memang untuk didengar baik-baik oleh pengguna jalan lain. 

3. Klakson diulang-ulang dan sedikit dalam 
Klakson akan terus dibunyikan, dengan tinggi suara serupa. Bunyi berulangnya bisa cepat atau dengan interval tertentu. Menekan klakson pun cukup bertenaga. Sehingga pengguna jalan lain mendengar. Dengan bunyi dan gaya seperti ini, ada makna tergesa atau darurat. Konvoi kampanye atau iring-iringan motor dengan mobil jenazah biasanya membunyikan klakson seperti ini. Selain menarik perhatian pengendara lain, gaya berklakson seperti ini menjadi simbol agar pengendara lain segera minggir atau menepi.  

4. Klakson sekali dan ditekan dalam 
Bunyinya akan nyaring karena klakson ditekan bertenaga dan dalam-dalam. Dilakukan sekali sudah cukup. Durasinya bisa sampai 5 detik. Dengan suara dan gaya mengklakson seperti ini tersirat makna kemarahan. Laiknya serupa orang yang berteriak atau bersumpah serapah. Pengendara membunyikan klakson seperti ini memang marah karena ada ancaman keselamatan mereka. Bisa saat hampir mengalami kecelakaan atau mengalami kecelakaan itu sendiri. Suara nyaring dan lama akan terdengar sebagai peringatan dan kewaspadaan.


Kode bunyi klakson yang benar.

1. Mengingatkan
Klakson dibunyikan ketika kendaraan mengingatkan pengendara lain. Misalnya, kendaraan akan menyalip pengendara lain tersebut. Atau bisa juga mengingatkan pengguna jalan lain bahwa ia akan melewati jalur tersebut, menyeberang, berbelok, dan lain-lain.

2. Memerintah
Klakson dibunyikan untuk memerintah sesuatu, misalnya, ketika berada di lampu lalu lintas. Lampu merah sudah berubah hijau, tapi kendaraan yang berada di depan tak kunjung jalan. Biasanya mobil yang berada di belakangnya akan membunyikan klakson untuk meminta mobil di depannya segera maju.

3. Memperingatkan
Klakson dibunyikan untuk memperingatkan, misalnya, ketika pengendara lain jaraknya terlalu dekat dengan kendaraan yang ia kemudikan. Atau ketika kendaraan di depan hendak mundur, klakson dibunyikan untuk memperingatkan bahwa jaraknya terlalu mepet. Bisa juga untuk memperingatkan agar pengguna jalan lain tidak menyeberang sebelum ia lewat.

4. Tak sabar, gusar, atau marah
Biasanya klakson dibunyikan ketika pengendara dalam keadaan emosi, tidak sabar, dan terjebak kemacetan. Mungkin saking geregetan, pengendara pun membunyikan klakson bertubi-tubi. Menurut Yayat, dalam kondisi situasi tertentu, bahasa klakson ini bisa disalahartikan. Meski si penekan klakson tak bermaksud untuk menyampaikan pesan tertentu, pengendara lain bisa menerima artinya berbeda.

Persoalannya adalah tak semua orang memahami undang-undang dan etika berlalu lintas. Itu sebabnya, kata Yayat, ada orang-orang yang menyalahgunakan penggunaan klakson. "Ketika lampu lalu lintas hijau, orang sering membunyikan klakson menggila," ujarnya.

Peristiwa pengeroyokan terhadap juru bicara Front Pembela Islam (FPI) Munarman.

Ada pula orang yang menggunakan klakson karena status sosialnya. Misalnya, ketika si pengendara ini merasa status sosialnya tinggi sehingga ia membunyikan klakson tanpa menyesuaikan etika, tetapi justru bertubi-tubi dan selalu memerintah.

Akibatnya, pengendara dan pengguna jalan lain merasa dirugikan. Jika kedua pihak sama-sama emosi, rentan terjadi konflik dan pertengkaran.

5. Menghindari tabrakan.
Kita boleh, bahkan harus membunyikan klakson, kalau dari jauh keliatan ada orang dari jalur lain yang berlawanan masuk ke jalur kita, atau ada orang jalan/nyebrang di jalur kita, atau ada tikungan tajam yang kita ga bisa liat kendaraan yang datang dari setelah tikungan.

Bagaimana-pun juga, membunyikan klakson berkait erat dengan cara Anda mengemudi dan masalah sopan santun di jalan. Sementara, warga di Jepang, Eropa, atau Amerika, jarang sekali orang menggunakan klakson. Tingginya rasa solidaritas dan disiplin berlalu lintas, membuat klakson hanya digunakan bila ingin "menghalau" hewan yang lewat.


Layaknya orang yang berbicara, penggunaan klakson juga mempunyai etika tersendiri yang menunjukan tingkat kesopanan seorang pengendara dalam berkomunikasi dengan pengendara lain. Oleh karena itu, nada klakson harus disesuaikan dengan kondisi pesan yang disampaikan. Jika hanya untuk mendahului, atau meminta ruang jalan, klakson cukup di bunyikan dua tiga kali dengan nada pendek. Klakson dengan nada panjang yang berulang – ulang akan kedengaran seperti orang cerewet atau membentak. Tetapi, jika hendak memberi peringatan terhadap sesuatu yang mungkin mendatangkan bahaya, nada klakson bisa saja disesuaikan.

Penggunaan klakson ini memang sangat tergantung pada pribadi pengendara untuk memilih dan menggunakan klakson yang sesuai dan pantas. Yang jelas, apabila klakson kendaraan terlalu keras, dan para pengendara menggunakan klakson bukan sebatas untuk berkomunikasi antar kendaraan melainkan untuk saling “membentak” dijalan, maka dampak lanjutannya adalah terjadi kebisingan yang justru merugikan mereka sendiri dan para pemakai jalan lain.

Manusia normal mampu mendengar suara berfrekuensi 20 – 20.000Hz ( satuan suara berdasarkan perhitungan jumlah getar sumber bunyi perdetik ) dengan intensitas atau tingkat kekerasan dibawah 80 desibel. Bunyi diatas itu kalau terus menerus dan dipaksakan bisa merusak pendengaran karena bisa mematikan fungsi sel – sel rambut dalam sistem pendengaran.

Gejala awal seringkali tidak dirasakan, kecuali telinga berdengung, kemudia diikuti oleh menurunnya kemampuan pendengaran. Kebisingan suara dijalan yang setiap hari didengar oleh para supir bus pun bisa berdampak buruk bagi pendengaran supir itu sendiri.

Ada hasil penelitian yang menyatakan, kemunduran pendengaran pada para manula pun banyak bergantung pada polusi suara atau bunyi yang didengar sepanjang hidupnya. Artinya, kalau terlalu sering mendengarkan suara – suara bising dan keras, proses fisiologi jaringan otot dalam tubuh manusia akan lebih mudah terganggu.

Selain itu, suara bising yang ditimbulkan pengguna klakson yang berlebihan juga mengakibatkan tekanan psikis atau stres bagi yang mendengarnya, sehingga berpengarush pada tingkat konsentrasi dan emosi para pengendara. Konsentrasi dan emosi pengendara yang terganggu jelas berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas.

Oleh sebab itu, tidak ada yang menguntungkan dari penggunaan klakson yang berlebihan. Justru sebaliknya, pemakaian klakson tidak pada tempatnya, akan merugikan masyarakat sendiri. Di negara – negara maju yang budaya berlalu lintasnya sudah tinggi, para pengendara kendaraan bermotor tidak pernah menggunakan klakson sembarangan. Klakson baru diguanakan kalau benar – benar sangat di perlukan, itu pun dengan nada pendek yang tidak berulang –ulang. Etika berlalu lintas sangat di jaga. Para pengemudi sangat menghormati satu sama lainya sehingga mengemudikan kendaraan di jalan raya terasa nyaman.


Pentingnya Perawatan Klakson.


Klakson akan terus menjadi sarana komunikasi tutur di jalan raya. Fungsi dasar kendaraan yang sebaiknya terus dijaga. Hal yang memang akan selalu dicek para montir bengkel. Dan akan terus dibunyikan pengendara walau aki sudah tidak nyala. 

Coba bayangkan Anda harus berteriak atau bersuara lantang menggantikan fungsi klakson. Tidak hanya lelah, namun akan mengundang banyak musuh dijalan raya. Karena komunikasi verbal akan lebih menohok daripada klakson. Dan konvensi klakson yang diam-diam dijalan raya fahami adalah, mengklakson silahkan tapi jangan membentak dengan ucapan. Orang yang diklakson pun tidak akan merasa banyak masalah. Karena toh ada konvensi lalulintas jalan raya yang bersama kita fahami. 

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • http://lamongankab.go.id/instansi/dishub/2014/05/10/ketentuan-penggunaan-klakson-dan-sirine/
  • www.kompasiana.com, Solo, 03 Februari 2016
  • http://www.kaskus.co.id/thread/51c17f0741cb17d92700000f/etika-dalam-menggunakan-klakson/

Selasa, 02 Februari 2016

Hal yang Wajib Anda Ketahui tentang Virus Zika.


Sebuah virus yang bersumber dari gigitan nyamuk diperkirakan telah menyebabkan cacat lahir yang serius pada ribuan bayi di Brasil.

Awalnya, Zika telah ditandai sebagai penyakit yang umumnya tidak berbahaya. Zika ditandai dengan gejala seperti ruam, demam, rasa sakit pada sendi, dan mata merah. Bahkan, sekitar satu dari empat orang yang terinfeksi virus ini bisa jadi tak menyadarinya.

Sayangnya, Zika menjadi pembicaraan luas di Brasil sejak pertengahan 2015 setelah sekitar 500.000 penduduk tertular virus ini. Lalu berkembang menjadi 1,5 juta penduduk yang tertular.

Pejabat kesehatan pun melihat, penyebaran Zika bertepatan dengan peningkatan tajam jumlah bayi yang menderita microcephaly, yaitu suatu kondisi di mana otak janin tidak tumbuh ke ukuran penuh dan menyebabkan bayi lahir dengan kepala abnormal berukuran kecil.

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, antara 2010 dan 2014, Brasil memiliki rata-rata 156 bayi yang lahir dengan microcephaly setiap tahun. Tapi pada tahun 2015, lebih dari 3.000 bayi lahir dengan kondisi tersebut. Sejauh ini, pihak berwenang sedang menyelidiki kondisi bayi-bayi tersebut, serta kematian yang diduga terkait dengan microcephaly dan jejak virus Zika.

Yang perlu menjadi perhatian, jika Zika mengikuti pola migrasi yang sama seperti virus yang dibawa nyamuk lain seperti demam berdarah dan chikungunya, para ahli di Texas mengatakan, Florida dan Hawaii berisiko terkena wabah ke depannya.

Jadi, selain memastikan kesehatan wilayah sebelum Anda berencana untuk pergi traveling, ada 3 hal tentang Zika yang perlu Anda ketahui:


1. Hubungan antara virus Zika dan microcephaly dicurigai, tetapi belum dikonfirmasi.


Konsekuensi seumur hidup dari penderita microcephaly dapat mencakup keterbelakangan mental, keterlambatan perkembangan, dan kejang, meskipun beberapa anak dengan kondisi tersebut berkesempatan untuk tumbuh dan memiliki kecerdasan normal.

Namun, penting untuk dicatat bahwa banyak hal lain yang bisa menyebabkan microcephaly, seperti gangguan genetik tertentu, paparan bahan kimia beracun, dan bahkan kelahiran traumatis.

Pejabat kesehatan Brazil mengatakan, ada hubungan antara Zika dan microcephaly, namun para ahli dari WHO dan lainnya yang berbicara kepada The Huffington Post belum mengonfirmasi.

Dr. Anna Durbin, seorang vaccinologist dan ahli dalam demam berdarah dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, memuji Brasil untuk penyelidikan kuat mereka ke masalah ini, tetapi bila mengikuti perspektif WHO, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa virus Zika menyebabkan cacat lahir.

"Pendekatan yang tepat adalah dengan mengatakan Brasil telah memiliki peningkatan besar dalam microcephaly, namun belum diketahui penyebab pastinya dan kami khawatir tentang fakta bahwa Brasil juga sedang dilanda wabah Zika," kata Durbin. "Tapi untuk mengatakan ada kaitan antara keduanya belum dikonfirmasi."

Saat ini, beberapa dokter Brasil menasihati wanita untuk menghindari kehamilan. Para pejabat juga sedang mencari tahu apa yang terjadi, dan wanita di Brasil yang saat ini sedang hamil mengatakan mereka merasa sangat stres. 


2. Zika virus disebarkan oleh nyamuk.


Zika pertama kali ditemukan pada tahun 1947 dan telah menjadi wabah di berbagai negara di Afrika, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Selama tahun lalu, penyakit ini juga telah menyebar di beberapa bagian Amerika Tengah dan Selatan.

Nyamuk Aedes aegypti adalah pembawa yang paling umum dari penyakit ini dan Aedes albopictus adalah nyamuk lain yang juga berpotensi. Mereka berasal dari Afrika dan Asia. Aedes albopictus, yang juga dikenal sebagai nyamuk macan Asia dengan ciri garis-garis putih, dianggap spesies nyamuk yang paling agresif.

Kedua spesies biasanya menggigit pada siang hari dan pada sore hari, sehingga kelambu untuk tidur malam dianggap tidak begitu berguna untuk mecegah Zika.

Setiap spesies juga dapat menginfeksi orang dengan demam berdarah, chikungunya, dan demam kuning. Penggunaan AC dan jaring-jaring pada jendela telah berhasil mencegah penyakit ini menjadi wabah di Amerika.


3. Pencegahan adalah yang terpenting.

Tidak ada, tepatnya belum ada vaksin untuk virus Zika, begitu juga dengan obat untuk menyembuhkannya. Mengonsumsi banyak cairan dianggap mampu meredakan gejala yang ditimbulkan seperti demam, sakit dan nyeri. Karena itu, pencegahan adalah yang terpenting.

Jika Anda pergi ke negara di mana virus Zika adalah endemik, ambillah langkah-langkah serius dalam pencegahan nyamuk. Gunakan krim anti nyamuk, kenakan baju dan celana panjang, serta tidurlah menggunakan kelambu di malam hari meskipun nyamuk yang menularkan Zika kebanyakan terbang di siang hari.

Pada bulan Desember lalu, Centers for Disease Control and Prevention telah mengeluarkan travel warning bila pergi ke Meksiko, Karibia, dan bagian lain dari Amerika Tengah dan Selatan.

Bila setelah Anda kembali dari suatu Negara dan Anda mulai merasa sakit apapun yang berkaitan dengan gejala Zika, pastikan untuk memberitahu dokter dan perawat tentang tujuan perjalanan Anda yang telah lalu. Gejala Zika memang mirip dengan banyak penyakit lain seperti pilek atau penyakit nyamuk lain, sehingga Anda perlu waspada.

Lebih luas lagi, cara yang paling efektif untuk mencegah virus ialah menjaga perkembangan nyamuk dengan menghindari adanya genangan air pada properti Anda, pengaturan perangkap nyamuk, dan mungkin melakukan semprot nyamuk secara masal.

"Jika kita bisa mengendalikan vektor, itu kecil kemungkinan bahwa kita akan memiliki infeksi,” kata Dr Andi Shane, pediatric infectious diseases expert di Emory University.

Sumber : health.kompas.com, Jumat, 22 Januari 2016, 08:25 WIB.

Senin, 01 Februari 2016

Mengenal Bahaya Virus Zika, dan Ancamanya Terhadap Kesehatan di Indonesia.


Zika virus (ZIKV) adalah anggota dari Flaviviridae virus keluarga dan Flavivirus genus, ditularkan oleh siang-aktif Aedes nyamuk, seperti A. aegypti. Seperti virus lain Zika memiliki stuktur terselubung bebrbentuk ikosahedral dan memiliki nonsegmented, ratai untai tunggal, positif-rasa RNA genom. Hal ini paling erat terkait dengan virus Spondweni dan merupakan salah satu dari dua virus pada virus Spondweni clade. 


Pada manusia, virus menyebabkan penyakit ringan yang dikenal sebagai demam Zika, Zika, atau penyakit Zika, yang sejak tahun 1950 telah diketahui terjadi dalam sabuk khatulistiwa sempit dari Afrika ke Asia. 

Pada tahun 1947, para ilmuwan meneliti demam kuning ditempatkan monyet rhesus di kandang di Zika Hutan (zika berarti "ditumbuhi" dalam bahasa Luganda), dekat Afrika Timur Virus Research Institute di Entebbe, Uganda. Monyet dikembangkan demam, dan peneliti terisolasi dari serum yang agen menular yang pertama kali digambarkan sebagai virus Zika pada tahun 1952. Hal ini kemudian diisolasi dari manusia di Nigeria pada tahun 1954. Dari penemuannya hingga 2007, menegaskan kasus Zika infeksi virus dari Afrika dan Asia Tenggara yang jarang terjadi. 


Pada bulan April 2007, wabah pertama di luar Afrika dan Asia terjadi di pulau Yap di Negara Federasi Mikronesia, ditandai dengan ruam, konjungtivitis, dan arthralgia, yang awalnya dianggap berdarah, chikungunya, atau penyakit Ross River. Namun, sampel serum dari pasien dalam fase akut penyakit terkandung RNA virus Zika. Ada 49 kasus yang dikonfirmasi, 59 kasus yang belum dikonfirmasi, tidak ada rawat inap, dan tidak ada kematian. Baru-baru ini, epidemi telah terjadi di Polinesia, Pulau Paskah, Kepulauan Cook, dan Kaledonia Baru. 

Virus Zika berhubungan dengan demam berdarah, demam kuning, ensefalitis Jepang, dan West Nile virus. Penyakit itu menyebabkan mirip dengan bentuk ringan dari demam berdarah, diperlakukan dengan istirahat, dan belum bisa menjadi dicegah dengan obat-obatan atau vaksin. 

Infeksi virus Zika diduga memiliki keterkaitan dengan bayi lahir dengan kepala yang kecil atau mikrosefali.  Para ibu di Brasil yang terinfeksi virus ini saat hamil bisa melahirkan bayi dengan kondisi seperti itu sehingga perkembangan otak si Kecil jadi terganggu. Inilah alasan yang membuat masyarakat begitu takut bila sampai terinfeksi virus Zika.


Pada bulan Desember 2015, diduga bahwa infeksi transplasenta janin dapat menyebabkan microcephaly dan kerusakan otak.  Pada bulan Desember 2015, Pusat Eropa untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit mengeluarkan update komprehensif tentang kemungkinan asosiasi dari Zika . virus dengan microcephaly bawaan  The US CDC menyatakan bahwa, "Ada laporan dari microcephaly bawaan pada bayi dari ibu yang terinfeksi virus Zika sementara infeksi virus hamil Zika telah dikonfirmasi di beberapa bayi dengan microcephaly,. itu tidak diketahui berapa banyak kasus microcephaly berkaitan dengan infeksi virus Zika. "


File:Microcephaly-comparison-500px.jpg
Ilustrasi Microcephaly.

Para ibu di Brasil yang terinfeksi virus ini saat hamil bisa melahirkan bayi dengan kondisi seperti itu sehingga perkembangan otak si Kecil jadi terganggu. Inilah alasan yang membuat masyarakat begitu takut bila sampai terinfeksi virus Zika.

Ketakutan semakin bertambah ketika pemerintah Amerika melalui US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberi travel alert buat wanita hamil atau berencana hamil supaya menunda dulu perjalanan ke negara-negara yang sedang terjangkit virus Zika ini.

Belum lagi jumlah negara Amerika Latin dan Karibia yang melaporkan adanya infeksi virus Zika ini berjumlah 18. Seperti Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname dan Venezuela.

Pada tahun 2014, virus menyebar ke arah timur melintasi Samudera Pasifik ke Polinesia Prancis, lalu ke Pulau Paskah dan pada tahun 2015 ke Meksiko, Amerika Tengah, Karibia, dan Amerika Selatan, di mana wabah Zika telah mencapai pandemi tingkat. 

Pada bulan Januari 2016, AS Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menerbitkan panduan perjalanan di negara yang terkena dampak, termasuk penggunaan tindakan pencegahan ditingkatkan, dan pedoman untuk wanita hamil termasuk mempertimbangkan perjalanan menunda. pemerintah lain atau lembaga kesehatan segera mengeluarkan peringatan perjalanan yang sama, sementara Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, dan Jamaika menyarankan perempuan untuk menunda hamil sampai lebih yang diketahui tentang risiko. 


Pengembangan vaksin.

Vaksin yang efektif ada untuk beberapa flaviviruses. Vaksin untuk virus demam kuning, Japanese Encephalitis, dan tick-borne ensefalitis diperkenalkan pada tahun 1930, sedangkan vaksin untuk demam berdarah baru-baru ini menjadi tersedia untuk digunakan. 

Pekerjaan telah dimulai untuk mengembangkan vaksin untuk virus Zika, menurut Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi. Para peneliti di Pusat Penelitian Vaksin memiliki pengalaman yang luas dari bekerja dengan vaksin untuk virus lain seperti Barat virus Nile, virus chikungunya, dan demam berdarah. Nikos Vasilakis dari Pusat Biodefense dan Emerging Infectious Diseases meramalkan bahwa mungkin diperlukan waktu dua tahun untuk mengembangkan vaksin, tetapi 10 sampai 12 tahun mungkin diperlukan sebelum vaksin virus Zika efektif disetujui untuk regulator untuk kepentingan umum.


Ancaman bagi Indonesia ?

Meski kecil kemungkinan terjangkit virus Zika, masyarakat Indonesia harus tetap waspada. "Mengingat vektor pembawa penyakit dari virus ini ada di Indonesia, yaitu nyamuk Aedes Aegypti yang juga membawa penyakit infeksi demam berdarah dan chikungunya," kata Ari Fahrial Syam, MD.PhD,FACP dari Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, University of Indonesia melalui surat elektronik pada Kamis (28/1/2016)

Selain mencari tahu cara untuk mencegahnya, Ari berpesan agar masyarakat Indonesia mengenali gejala dari virus Zika, seperti demam tinggi mendadak, nyeri sendi atau otot, disertai kemerahan di kulit atau rash di badan, punggung, dan kaki.

"Saat ini memang vaksin untuk virus ini belum ada. Pengobatan lebih banyak bersifat suportif, istirahat cukup, banyak minum, jika demam minum obat penurun panas dan tetap mengonsumsi makanan yang bergizi," kata Ari.

Penyusun : Yohanes Gabriel, S Pd.
Sumber : 
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Zika_virus
  • http://health.liputan6.com/read/2423127/inilah-yang-membuat-virus-zika-ditakuti-di-indonesia

Jumat, 29 Januari 2016

Mengenang Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.


Kerajaan Mataram Kuno atau lebih dikenal Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8. Kerajaan Mataram Kuno adalah sebuah kerajaan yang luas, dikenal subur dan makmur, di sebuah yang pada masa lampau disebut Yawadwipa, negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas.

Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Mataram periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu. Perlu dipahami, penggunaan kata kuno disini bukan berarti primitif/ ketinggalan jaman, namun semata-mata untuk membedakan waktu kejadian.


Asal usul nama Kerajaan Mataram.

Dengan ditemukannya prasasti Wanua Tengah III,dapat diketahui bahwa nama asli Sanjaya adalah Rahyangta i Medang, dan ia sebelum menjadi raja adalah kepala daerah Mataram atau Bhumi Mataram, sehingga ia lebih dikenal sebagai Rakai Mataram. Sehingga dari sini bisa kita simpulkan Kerajaan Medang namanya diambil dari nama Sanjaya sendiri Rahyangta i Medang sedangkan Mataram adalah nama asli daerah tempat dimana kerajaan Medang tersebut berada.

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Mataram yang memerintah dari tahun 717 – 746 Masehi, Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tanggal 6 Oktober 732 yang berisi tentang pendirian sebuah lingga serta bangunan candi untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit.

Prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya. Prasasti ini berangka tahun Cruti Indria Rasa atau 654 Saka (1 Saka sama dengan 78 Masehi, berarti 654 Saka sama dengan 732 M), hurufnya Pallawa, bahasanya Sanskerta, dan letaknya di Gunung Wukir, sebelah selatan Muntilan.

Kapan tepatnya Kerajaan Mataram berdiri tidak diketahui dengan pasti. Seorang keturunan Sanjaya bernama Daksottama memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa atau “kalender Sanjaya” dalam prasasti-prasastinya, antara lain prasasti Taji Gunung tahun 910, prasasti Timbangan Wungkal tahun 913, dan prasasti Tihang tahun 914. Menurut analisis para sejarawan, tahun 1 Sanjaya bertepatan dengan tahun 717 Masehi dan besar kemungkinan itu adalah tahun di mana Sanjaya berhasil mendapatkan kembali takhta warisan Sanna.

Isinya adalah pada tahun tersebut Sanjaya mendirikan lingga di Bukit Stirangga untuk keselamatan rakyatnya dan pemujaan terhadap Syiwa, Brahma, dan Wisnu, di daerah suci Kunjarakunja. Menurut para ahli sejarah, yang dimaksud Bukit Stirangga adalah Gunung Wukir dan yang dimaksud Kunjarakunja adalah Sleman (kunjara = gajah = leman; kunja = hutan). Lingga adalah simbol yang menggambarkan kekuasaan, kekuatan, pemerintahan, lakilaki, dan dewa Syiwa.

Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Mataram diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah Mataram kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

Jadi bisa disimpulkan kesimpulan bahwa daerah Mataram yang sebenarnya adalah sebuah daerah yang dahulu bernama Bhumi Mataram adalah sebutan lama  saat ini berada di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (BUKAN DI SEBELAH TIMUR KOTA YOGYAKARTA ATAU DI TENGAH KOTA YOGYAKARTA). Hal ini disimpulkan dari penemuan prasasti Canggal di Candi Gunung Wukir yang berada di dusun tersebut.

Raja merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang berarti "pemimpin". Keduanya merupakan gelar asli Indonesia. Ketika Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti dengan gelar Sri Maharaja. Pemakaian gelar Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetap dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja versi Prasasti Mantyasih yang menyebutkan hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu.

Jabatan tertinggi sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa. Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta.

Jabatan sesudah Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.

Jabatan tertinggi di Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang atau setara dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.

Peradaban Jawa kuno menurut Supratikno Rahardjo (2001) bisa dibagi dalam dua periode utama , pertama periode Jawa Tengah sekitar Abad 8 – 10 Masehi, periode berikutnya periode setelah pusat pemerintahan pindah ke jawa timur. Menurut Profesor Brandes (1889) di Pulau Jawa sebelum masuknya Pengaruh Hindhu, berdasarkan bukti dan data-data Prasasti telah memiliki paling tidak 10 macam kepandaian khusus yakni pertunjukan wayang, musik gamelan, seni syair, pengrajin logam, sistem mata uang untuk perdagangan, navigasi, irigasi, ilmu falak, dan sistem pemerintahan yang teratur.

Penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.

Tarabhavanam (Candi Kalasan), candi Budha pertama di Indonesia. 

Abhayagirivihara (Komplek Ratu Boko)

Manjusrigrha (Candi Sewu).

Candi Sari

Menurut prasasti Mantyasih, Sanjaya digantikan oleh Maharaja Rakai Panangkaran sebagai raja Medang berikutnya. Raja kedua ini mendirikan sebuah bangunan Buddha, yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan, atas permohonan para guru raja Sailendra tahun 778.

Rakai Panangkaran inilah yang kelak akan dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan. Rakai Panangkaran adalah pelopor dan pendiri semua bangunan Budha berupa candi beraliran Buddha Mahayana di tanah Jawa antara lain Tarabhavanam (Candi Kalasan).

Selain candi Kalasan, berapa candi yang diperkirakan dibangun atas prakarsa Rakai Panangkaran antara lain Candi Sari yang dikaitkan sebagai wihara pendamping Candi Kalasan, Candi Lumbung, Prasada Vajrasana Manjusrigrha (Candi Sewu), dan Abhayagiri Vihara (kompleks Ratu Boko).

Sementara itu, prasasti yang berasal dari zaman Rakai Panangkaran adalah prasasti Kalasan tahun 778. Prasasti ini merupakan piagam peresmian pembangunan sebuah candi Buddha bernama Tarabhavanam (Buana Tara) untuk memuja Dewi Tara. Pembangunan ini atas permohonan para guru raja Sailendra. Dalam prasasti itu Rakai Panangkaran dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka atau “permata Wangsa Sailendra”. Candi yang didirikan oleh Rakai Panangkaran tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Candi Kalasan.

Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M menyebutkan tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana (Rakai Panangkaran) mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara, yang dikaitkan dengan kompleks Ratu Boko. Diperkirakan Raja Panangkaran telah wafat sebelum Candi Sewu dan Abhayagirivihara rampung, sehingga ia tidak sempat menyaksikan beberapa karyanya (Candi Sewu).


Awal berdirinya kerajaan. 

Prasasti Canggal, tonggak berdirinya Kerajaan Mataram Kuno.

Berdasarkan Prasasti Canggal  menjelaskan: -ada sebuah pulau bernama Yawadwipa -negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. -raja pertamanya : Raja Sanna. -setelah dia mangkat, diganti oleh ponakannya: Raja Sri Sanjaya. Prasasti Canggal juga mengisahkan bahwa, sebelum Sanjaya bertakhta sudah ada raja lain bernama Sanna yang memerintah Pulau Jawa dengan adil dan bijaksana. Setelah Sanna meninggal dunia karena gugur diserang musuh, keadaan menjadi kacau.Sanjaya putra Sannaha (saudara perempuan Sanna) kemudian tampil sebagai raja. Dengan gagah berani ia menaklukkan raja-raja lain di sekitarnya, sehingga Pulau Jawa kembali tentram.

Letak Candi Gunung Wukir (5) , tempat ditemukannya prasasti Canggal.

Prasasti Canggal ternyata tidak menyebutkan nama kerajaan yang dipimpin Sanna dan Sanjaya. Sementara itu, prasasti Mantyasih menyebut Sanjaya sebagai raja pertama Kerajaan Medang yang terletak di Pohpitu. Adapun nama Sanna sama sekali tidak disebut dalam prasasti tersebut. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa Sanna bukanlah raja Medang. Dengan kata lain, Sanjaya memang mewarisi takhta Sanna namun mendirikan sebuah kerajaan baru yang berbeda dari sebelumnya.

Ketika Sanna masih berkuasa, Sanjaya bertindak sebagai kepala daerah Mataram (daerah Yogyakarta sekarang). Disebutkan pula dalam prasasti Mantyasih bahwa Sanjaya adalah raja pertama yang bertakhta di Kerajaan Medang yang terletak di Pohpitu (‘’rahyangta rumuhun i Medang i Pohpitu’’). Dengan demikian, Pohpitu adalah ibu kota Kerajaan Medang yang dibangun oleh Sanjaya, namun di mana letaknya belum bisa dipastikan sampai saat ini.

Menurut catatan seorang sejarawan, Raja Sanjaya mendirikan kerajaan di Bagelen, satu abad kemudian dipindah ke Wonosobo. Sanjaya adalah keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna “Raja Gunung“, “Tuan yang Datang dari Gunung“. Atau, “Tuan yang Datang dari Kahyangan“, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempatnya para dewata.

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Sena adalah raja Kerajaan Galuh yang dikalahkan oleh saudara tirinya, bernama Purbasora. Putra Sena, bernama Rahyang Sanjaya alias Rakeyan Jambri saat itu telah menjadi menantu Tarusbawa raja Kerajaan Sunda. Dengan bantuan mertuanya, Sanjaya berhasil mengalahkan Purbasora tujuh tahun kemudian.

Sanjaya lalu menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora. Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora, merasa keberatan karena takut kelak Demunawan akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Maka, Sanjaya pun terpaksa menduduki sendiri takhta kerajaan tersebut.

Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahannya di Galuh lalu diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sementara itu, putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan diangkat sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana.

Karena merasa tertekan dan kurang dihargai, Premana Dikusumah akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama Pangreyep, seorang putri Kerajaan Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan putra bernama Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana.

Setelah Sanjaya menjadi raja di Mataram, wilayah Sunda dan Galuh dijadikan satu di bawah pemerintahan Tamperan. Kemudian terjadi pemberontakan Manarah putra Premana yang berhasil menewaskan Tamperan. Sementara itu putranya, yaitu Banga berhasil lolos dari kematian.

Mendengar berita kematian Tamperan, Sanjaya pun menyerang Manarah. Perang besar terjadi yang akhirya didamaikan oleh Demunawan (adik Purbasora). Setelah melalui perundingan dicapailah sebuah kesepakatan, yaitu Banga diangkat sebagai raja Sunda, sedangkan Manarah sebagai raja Galuh.

Carita Parahyangan terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.


Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja. Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan yang baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16. Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma.

 Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban dimintanya untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.


Misteri Siapakah Rakai Panangkaran itu ?

Ada beberapa misteri yang menyelimuti identitas Rakai Panangkaran ini, di satu sisi ia disebut sebagai putera Sanjaya yang bernama , namun disisi lain Rakai Panangkaran disebut sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra).

Berdasarkan berita tersebut, muncul beberapa teori tentang hubungan Sanjaya dengan Rakai Panangkaran :
  • Teori pertama dipelopori oleh van Naerssen menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang beragama Hindu. Ia dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. Jadi, pembangunan Candi Kalasan ialah atas perintah raja Sailendra terhadap Rakai Panangkaran yang menjadi bawahannya.
  • Teori kedua dipelopori oleh Porbatjaraka yang menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya, dan mereka berdua merupakan anggota Wangsa Sailendra. Dengan kata lain, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada karena tidak pernah tertulis dalam prasasti apa pun. Menurut teori ini, Rakai Panangkaran pindah agama menjadi penganut Buddha atas perintah Sanjaya sebelum meninggal. Tokoh Rakai Panangkaran dianggap identik dengan Rahyang Panaraban dalam Carita Parahyangan. Jadi, yang dimaksud dengan istilah “para guru raja Sailendra” dalam prasasti Kalasan tidak lain adalah para guru Rakai Panangkaran sendiri.
  • Teori ketiga dipelopori oleh Slamet Muljana bertentangan dengan kedua teori di atas. Menurutnya, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya, melainkan anggota Wangsa Sailendra yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Teori ini didasarkan pada daftar para raja dalam prasasti Mantyasih di mana hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu, sedangkan para penggantinya tiba-tiba begelar Maharaja. Selain itu, Rakai Panangkaran tidak mungkin berstatus sebagai raja bawahan, karena ia dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan. Alasan lainnya ialah, dalam prasasti Mantyasih Rakai Panangkaran bergelar maharaja, sehingga tidak mungkin kalau ia hanya seorang bawahan.

Jadi, menurut teori pertama dan kedua, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya. Sedangkan menurut teori ketiga, Rakai Panangkaran adalah musuh yang berhasil mengalahkan Sanjaya. Sementara itu menurut teori pertama, Rakai Panangkaran adalah bawahan raja Sailendra. Sedangkan menurut teori kedua dan ketiga, Rakai Panangkaran adalah raja Sailendra itu sendiri.


Akhirnya Prasasti Wanua Tengah III, menjelaskan misteri hubungan antara Rakai Panangkaran dengan Sanjaya, Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Maharaja Dyah Balitung tahun 908 Masehi juga menyebutkan daftar raja-raja Kerajaan Medang seperti prasasti Mantyasih tahun 907. Dalam prasasti Wanua Tengah III disebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah anak dari Rahyangta i Hara, sedangkan Rahyangta i Hara adalah adik dari Rahyangta i Medang.

Jika dalam prasasti Mantyasih disebutkan bahwa Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang, maka dapat diduga bahwa Rahyangta i Medang dalam prasasti Wanua Tengah III tidak lain adalah Sanjaya itu sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Rakai Panangkaran merupakan keponakan dari Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Prasasti Wanua Tengah III juga menyebutkan awal mula Rakai Panangkaran naik takhta, yaitu pada 7 Oktober 746. Jika demikian, dapat disimpulkan pula bahwa pada tahun 746 itulah pemerintahan Sanjaya berakhir.


Kisah Sanjaya menurut Prasasti Mantyasih.

Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. 

bagelen_1

Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara perempuan Sanna. Sanna, juga dikenal dengan nama "Sena" atau "Bratasenawa", merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 - 716 M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna. 

Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya. 

Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga, setelah Ratu Shima mangkat pada tahun 732 M, Ratu Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.


Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.

Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Irian, Tiongkok, hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (“Cerita Parahiyangan“).

Letak Kerajaan Mataram Kuno, lengkap dengan Sungai Elo dan Sungai Progo, yang disetarakan dengan Sungai Gangga di India.

Area Kerajaan Mataram Kuno berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno 618-906). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitab “Cerita Parahiyangan” dan “Babad Tanah Jawi“.

Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen. Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka Medang i bhumi Mataram bermakna “Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu” (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya.

Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Raja Sanjaya yang menganut Syiwa di kemudian hari menganjurkan putranya, Rakai Panangkaran untuk memeluk Budha. Menurut catatan Boechori, epigraf dan arkeolog, Syailendra merupakan penduduk asli Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh prasasti Wanua Tengah III (Temanggung) yang memuat silsilah raja-raja Mataram lengkap dengan tahunnya. Pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, Kerajaan Mataram Kuno Pusat kekuasaan dibagi menjadi dua :
  • Pertama, negara yang bersifat internasional dengan beragama Budha, diperintah oleh Dinasti Syailendra. 
  • Kedua, negara yang diperintah oleh sepupunya yang beragama Syiwa. 

Kedua kerajaan ini berada dalam satu istana, dan disebut Kerajaan Medang i Bhumi Mataram. Berdasarkan prasasti berbahasa Melayu Kuno (Desa Sojomerto, Batang) memperkuat pendapat sejarawan Purbacaraka, bahwa hanya ada satu dinasti saja di Jawa Tengah, yakni Syailendra.


Candi Gunung Wukir, Jejak Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.



Candi Gunung Wukir adalah peninggalan candi Hindu karena Menurut perkiraan, candi ini merupakan candi tertua yang dibangun pada saat pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno. Terletak di dusun Canggal, kalurahan Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini tepatnya berada di atas bukit Gunung Wukir dari lereng gunung Merapi pada perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Candi Gunung Wukir ini disebut juga Candi Canggal atau Shiwalingga

Di candi ini pada bangunan utama dari empat bangunan yang ada ditempatkan suatu arca yoni yang melambangkan wanita dengan ukuran cukup besar. Kini keempat bangunan candi ini hanya tinggal dasar bangunan sehingga kelihatan menyerupai altar. Bila melihat sekitar bangunan itu bisa dijumpai reruntuhan batu candi yang menjadi dinding dari keempat bangunan candi itu.


Lingga yang seharusnya tertancap di yoni dan menjadi simbol pria juga sudah tidak terlihat. Beberapa lingga berserak di sekitar bangunan candi. Selain lingga dan yoni, arca lembu betina atau andini juga ditemukan di situs candi itu.

Kompleks dari reruntuhan candi ini mempunyai ukuran 50 m x 50 m terbuat dari jenis batu andesit, dan di sini pada tahun 1879 ditemukan prasasti Canggal yang banyak kita kenal sekarang ini. Selain prasasti Canggal, dalam candi ini dulu juga ditemukan altar yoni, patung lingga (lambang dewa Siwa), dan arca lembu betina atau Andini.

Prasasti yang menggunakan angka tahun untuk pertama kali dijumpai pada prasasti Canggal berangka tahun 654 Saka atau 732 M. Prasasti ini ditemukan di lokasi situs Candi Gunung Wukir. Prasasti itu menceritakan pertama kali candi itu dibangun. Benih kebudayaan India itu disemaikan di lahan yang tepat dan subur. Kesuburan ini ditandai dengan situs candi yang selalu berlokasi di wilayah pertanian subur.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  • http://sejatininghidup.blogspot.co.id/2014/02/sejarah-bagelen.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kalingga
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Medang
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Canggal
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Mantyasih
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sanjaya
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Rakai_Panangkaran
  • http://warnainfo.blogspot.co.id/2012/06/candi-canggal-atau-candi-gunung-wukir.html

Kamis, 28 Januari 2016

Mengenal Kerajaan Kalingga, Kerajaan Tertua di Pulau Jawa Bagian Tengah.

Candi Angin, candi mistik yang menandai keberadaan Kerajaan Kalingga.

Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. 



Secara umum Kerajaan Kalingga beribu kota kerajaan di Keling (Jepara), masyarakat menggunakan bahasa Melayu Kuna dan Sanskerta menggunakan aksara Palawa-Kawi (cikal bakal aksara Jawa Kuno), secara umum masyarakat beragama Agama Hindu, Buddha dan animisme. Kerajaan Kalingga diperintah oleh ratu yang terkenal adalah Ratu Jay Shima yang memerintah sekitar tahun 674-732 M.


Pengaruh kerajaan kalingga sampai daerah selatan Jawa Tengah, terbukti diketemukannya prasasti Upit/Yupit yang diperkirakan pada abad 6-7 M. Disebutkan dalam prasasti tersebut pada wilayah Upit merupakan daerah perdikan yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Daerah perdikan Upit sekarang menjadi Ngupit. Kampung Ngupit adalah kampung yang berada di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. 

Catatan Sejarah.


Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman Dinasti Tang dan catatan I-Tsing.

A. Catatan dari zaman Dinasti Tang.
Cerita Cina pada zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan tentang keterangan Ho-ling sebagai berikut.
  1. Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
  2. Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  3. Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
  4. Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
  5. Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.
  6. Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.


B. Catatan I-Tsing.
Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.


C. Catatan Prasasti Peninggalan Kerajaan Kalingga.
  • Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas 

Prasasti Tukmas ditemukan di ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Prasasti bertuliskan huruf Pallawa yang berbahasa Sanskerta. Prasasti menyebutkan tentang mata air yang bersih dan jernih. Sungai yang mengalir dari sumber air tersebut disamakan dengan Sungai Gangga di India. Pada prasasti itu ada gambar-gambar seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra dan bunga teratai yang merupakan lambang keeratan hubungan manusia dengan dewa-dewa Hindu.
  • Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto

Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini beraksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuna dan berasal dari sekitar abad ke-7 masehi. Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.

Komplek Candi Dieng.

Candi Borobudur

Komplek Candi Kalasan

Ratu Boko



Komplek Candi Prambanan.

Wangsa Sailendra inilah yang kelak akan membangun semua candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, baik candi Hindu maupun candi Budha. Komplek Candi Dieng, Candi Gunung Wukir, Candi Borobudur, Komplek Candi Kalasan, Komplek Prambanan, Ratu Boko, Komplek Candi Liyangan dan bangunan candi lain yang tersebar di kabupaten Gunung Kidul..

Kedua temuan prasasti ini menunjukkan bahwa kawasan pantai utara Jawa Tengah dahulu berkembang kerajaan yang bercorak Hindu Siwais. Catatan ini menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan Wangsa Sailendra atau kerajaan Medang yang berkembang kemudian di Jawa Tengah Selatan.

  • Prasasti Upit (disimpan di Kantor/Dinas Purbakala Jateng di Prambanan Klaten)
Prasasti Upit

Kampung Ngupit merupakan daerah perdikan, yang dianugerahkan oleh Ratu Shima. Ngupit terletak di Desa Kahuman/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Prasasti tersebut semula dijadikan alas/bancik padasan tempat untuk wudlu' di Masjid Sogaten, Desa Ngawen. Dan sejak tahun 1992 sudah disimpan di Kantor Purbakala Jawa tengah di Prambanan.


D. Catatan dari sumber lokal.
  • Kisah lokal.
Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah utara mengenai seorang Maharani legendaris yang menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri. Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemashuran rakyat kerajaan Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada sorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman dipotong kakinya.


  • Carita Parahyangan.
Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Maharani Shima, Parwati, menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Maharani Shima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Brantasenawa. Sanaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M).

Setelah Maharani Shima meninggal pada tahun 732 M, Ratu Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Kemudian Raja Sanjaya menikahi Sudiwara puteri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Pada abad ke-5 muncul Kerajaan Ho-ling (atau Kalingga) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari prasasti dan catatan dari negeri Cina. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan Hindu, bersama Malayu dan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.


Jejak Peninggalan.

Di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) dekat dengan Kecamatan Keling di sana terdapat empat arca batu, yaitu arca Batara Guru, Narada, Togog, dan Wisnu. Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan bagaimana mengangkut arca tersebut ke puncak itu mengingat medan yang begitu berat.

Pada tahun 1990, di seputar puncak tersebut, Prof Gunadi dan empat orang tenaga stafnya dari Balai Arkeologi Nasional Yogyakarta (kini Balai Arkeologi Yogyakarta) menemukan Prasasti Rahtawun. Selain empat arca, di kawasan itu ada pula enam tempat pemujaan yang letaknya tersebar dari arah bawah hingga menjelang puncak. Masing-masing diberi nama (pewayangan) Bambang Sakri, Abiyoso, Jonggring Saloko, Sekutrem, Pandu Dewonoto, dan Kamunoyoso.


Candi Peninggalan Kerajaan Kalingga. 
  • Candi Angin

Candi Angin ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
  • Candi Bubrah

Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...