Rabu, 01 Oktober 2014

Pidato Soeharto Saat Menemukan Jenazah Pahlawan Revolusi.


Hari ini, tepat 47 tahun lalu (sekarang 2014 = 49 tahun yang lalu), jenazah tujuh pahlawan revolusi berhasil diangkat di Lubang Buaya. Tugas itu dijalankan oleh Pasukan Intai Amfibi KKO TNI AL dengan masuk ke dalam sebuah sumur tua dan memasang tali guna mengevakuasi jenazah.

Sementara itu, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) menjaga ketat lokasi sekitar Lubang Buaya. Dengan senjata terisi penuh, mereka bersiaga. Apalagi malam sebelumnya pasukan Cakrabirawa mencoba mengambil jenazah di dalam sumur. Upaya itu gagal karena pasukan RPKAD berhasil mengusir mereka.

Panglima Kostrad Mayjen Soeharto memimpin penggalian jenazah. Satu per satu jenazah dinaikkan dari dasar sumur. Kondisinya sudah busuk karena sudah tiga hari lebih terkubur dalam sumur yang lembab.

Jenazah Letjen Achmad Yani, Mayjen Mas Tirtodarmo Harjono, Mayjen Siswondo Parman , Mayjen Suprapto, Brigjen Donald Isaac Pandjaitan, Brigjen Sutojo Siswomihardjo dan Lettu Pierre Tendean langsung dimasukan dalam peti.



Hadirin yang berada di Lubang Buaya diselimuti kemarahan melihat jenazah tujuh pahlawan revolusi. Marah, sedih, haru menyesak bercampur baur. Kebencian pada para penculik dari Gerakan 30 September memuncak.

Soeharto mengucapkan pidato dengan suara berat :

"Pada hari ini 4 Oktober 1965, kita bersama-sama dengan mata kepala masng-masing, kita menyaksikan pembongkaran jenazah para jenderal kita dengan satu perwira pertama dalam satu lubang sumur lama. Jenderal-jenderal kita dan perwira pertama ini telah menjadi korban kebiadaban dari petualang yang dinamakan Gerakan 30 September.

Kalau melihat daerah ini ada di kawasan lubang buaya. Daerah Lubang Buaya termasuk Lapangan Halim. Kalau saudara melihat fakta dekat sumur ini, telah menjadi pusat latihan dari sukwan dan sukwati yang dilaksanakan oleh Angkatan Udara. Mereka melatih anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani.

Satu fakta mungkin mereka latihan dalam rangka pertahanan pangkalan tapi menurut anggota Gerwani yang dilatih di sini dan ditangkap di Cirebon, adalah pulang dari Jateng, jauh dari daerah tersebut.

Jadi, kalau melihat fakta-fakta, apa yang diamanatkan Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi yang sangat kita cintai, bahwa Angkatan Udara tidak terlibat, mungkin ada benarnya. Tapi, tidak mungkin, tidak ada hubungan dari peristiwa ini daripada oknum-oknum Angkatan Udara.

Saya sebagai anggota daripada Angkatan Darat mengetok jiwa dan perasaan daripada patriot Angkatan Udara bilamana benar-benar ada oknum yang terlibat dengan pembunuhan yang kejam dari para jenderal kita yang tidak berdosa ini.

Saya berharap anggota patriot Angkatan Udara membersihkan anggota Angkatan Udara yang terlibat petualangan ini.

Saya berterimakasih akhirnya Tuhan memberikan petunjuk yang terang jelas pada kita sekalian. Bahwa setiap tindakan yang tidak jujur, bahwa setiap tindakan yang tidak baik akan terbongkar. Saya berterimakasih pada satuan-sartuan khususnya resimen Parako, KKO, satuan lainnya serta rakyat, yang membantu menemukan bukti ini dan turut serta mengangkat jenazah ini. Sehingga seluruh korban bisa ditemukan."

Saat itu Jakarta diselimuti kesedihan. Mendung menggelayuti langit Jakarta. Penemuan jenazah tujuh pahlawan revolusi adalah salah satu momen paling menentukan sejarah Orde Baru. Sebagai balas dendam, kelak lebih dari satu juta anggota dan kader PKI turut menjadi korban Revolusi Oktober.

Reporter : Ramadhian Fadillah
http://www.merdeka.com/peristiwa/pidato-soeharto-saat-menemukan-jenazah-pahlawan-revolusi.html,  | Kamis, 4 Oktober 2012 05:10 WIB.

Kisah Nyata Kekejaman PKI Pada Pemberontakan G-30S/ PKI Tanggal 30 September 1965.

Artikel ini secara khusu saya persembahkan kepada para pembaca yang masih muda, yang menganggap kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) hanyalah cerita yang dibuat-buat oleh rezim orde baru. Beberapa artikel berikut adalah cerita bukti kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) dari saksi mata, keluarga korban keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi sejarah bangsa Indonesia tercinta ini.

Cerita Anak Jenderal D.I. Panjaitan Soal G30S/PKI

Masih ingat dengan film Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI? Selama masa kepresidenan Soeharto, film berkisah penculikan serta pembunuhan tujuh jenderal revolusi itu selalu diputar pada 30 September oleh Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Satu korban yang menjadi sasaran pembantaian adalah Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan atau D.I. Panjaitan. Dan putrinya, Catherine Panjaitan, menjadi saksi mata penculikan itu.

Pada majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, Catherine menceritakan kejadian malam berdarah itu. Ingatan itu tertuang dalam tulisan berjudul, Kisah-kisah Oktober 1965. Bagi Anda yang sempat menonton filmnya pasti melihat adegan putri D.I Panjaitan membasuhkan darah sang ayah ke mukanya. Tapi benarkah Chaterine melakukan hal itu?

Foto keluarga pabjaitan

“Saya melihat kepala Papi ditembak dua kali,” Catherine mengisahkan. “Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papi..., Papi...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada.”

Kata Catherine, penculikan terjadi sekitar pukul 04.30, pada 1 Oktober 1965. Kala itu, ia tengah tidur di kamar lantai dua. Kemudian terbangun karena teriakan dan tembakan. Catherine mengintip ke jendela. Ternyata telah banyak tentara berseragam lengkap di perkarangan rumah. “Beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan,” kata Catherine. 

Panik, ia lari ke kamar ayahnya. Yang dicari sudah terbangun dari tidur. Mereka pun berkumpul di ruang tengah lantai atas. Kata Catherine, almarhum papinya terus mondar-mandir, dari balkon ke kamar. Dia sempat mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Catherine sendiri sempat bertanya pada ayahnya soal apa yang terjadi. Tapi sang jenderal bergeming. Sedangkan di lantai bawah, bunyi tembakan terus terdengar. Televisi, koleksi kristal Ibu Panjaitan, dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal. “Tiarap…tiarap,” kata Catherine menirukan ayahnya.

Sebelum menyerahkan diri ke tentara, mendiang Panjaitan sempat meminta Catherine menelepon Samosir, asisten Jenderal S. Parman. Usai itu, Catherine menghubungi Bambang, pacar sahabatnya. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

alt

Berseragam lengkap, kemudian D.I. Panjaitan turun ke ruang tamu. Seorang berseragam hijau dan topi baja berseru, "Siap. Beri hormat," Tapi Panjaitan hanya mengambil topi, mengapitnya di ketiak kiri. Tak diacuhkan begitu, si tentara memukul Panjaitan dengan gagang senapan, hingga ia tersungkur. Setelah itu, kejadian bergulir cepat. Dor! Dor! “Darah menyembur dari kepala Papi,” kata Catherine.



Kisah Nyata Nasib Tragis Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno   

(Foto) Kisah Nyata Nasib Tragis Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno

Ada cerita menarik seputar pelantikan KASAD. Khususnya saat pemerintahan Presiden Soekarno yang mengangkat Letnan Jenderal Achmad Yani sebagai Kasad pada 28 Juni 1962. Ujung dari peristiwa ini adalah sejarah paling kelam dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika itu, Bung Karno mengangkat Kasad Jendera Abdul Haris Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab). Secara jabatan, Nasution mendapat promosi. Tetapi secara kewenangan, Nasution sebenarnya dilucuti. Kasab hanya mengurus administrasi, tidak lagi memegang komando pasukan. Hubungan Bung Karno dan Nasution memang tidak bisa dibilang sejalan, bahan cenderung berseberangan.

Bung Karno meminta Nasution merekomendasikan sejumlah nama perwira tinggi TNI AD untuk dilantik menjadi Kasadyang kemudian semua nama-nama tersebut ditolak oleh Bung Karno yang malah meminta diberikan nama-nama lain. Nasution menurutinya dengan mengajukan calon-calon lain. Dari daftar rekomendasi terbaru ini, nama Mayor Jenderal Ahmad Yani berada di posisi paling akhir.

Pada masa tersebut, Yani memang masih termasuk Jenderal junior. Itulah alasannya mengapa Nasution tidak memasukkannya ke dalam nama-nama pertama yang ia rekomendasikan pertama kali. Tapi justru Bung Karno malah akhirnya memilih Yani sebagai Panglima Angkatan Darat.

Jabatan Ahmad Yani saat itu adalah Kepala Staf Gabungan Komando Tertinggi (KOTI) pembebasan Irian Barat dan sekaligus juga menjadi juru bicara tunggal Panglima Tertinggi soal Irian Barat. Hampir setiap hari bertemu dalam rapat-rapat dengan Presiden Soekarno di Istana. Itulah yang menyebabkan hubungan mereka dekat. Setelah menjabat Kasad, hubungan Yani dan Bung Karno menjadi semakin akrab.

Amelia Yani, Putri Ahmad Yani mengatakan bahwa "Banyak yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno,".

Hal berlawanan justru terjadi dalam hubungan antara Yani dan Nasution, dimana Nasution dan Yani malah sering berdebat. Keduanya kerap berbeda pendapat soal pembangunan Angkatan Darat. Yani dikenal tegas, blak-blakan dan jarang basa-basi.

Di masa kepemimpinan Yani, Angkatan Darat disibukkan Operasi Trikora merebut Irian Barat dari Belanda. Setelah itu Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Amelia mengingat Bung Karno ikut peduli masalah dengan renovasi rumah Yani di Jalan Lembang, Menteng. Bung Karno juga sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah, dan bahkan menyempatkan hadir saat acara syukuran rumah Yani.

"Hari Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia.

Namun saat itu pun suasana politik Indonesia makin memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) makin kuat karena merasa mendapat angin dukungan dari Bung Karno. Cuma masalahnya, Angkatan Darat, khususnya Ahmad Yani terang-terangan menolak segala kebijakan negara yang dipengaruhi PKI.

Yani bahkan menolak mentah-mentah permintaan Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit) yang meminta buruh dan kaum tani dipersenjatai. Jadilah, beredar isu Dewan Jenderal dan dokumen asing yang menyebut kolaborasi sejumlah jenderal AD dengan Barat. Karena berlawanan dengan Soekarno dan PKI yang cenderung ke negara Blok Timur seperti China dan Uni Soviet, maka Yani dan kawan-kawannya disebut-sebut akan melakukan kudeta terhadap Bung Karno.

Isu yang dihembuskan oleh PKI tersebut berhasil membuat hubungan Presiden Soekarno dan Yani retak perlahan-lahan. Puncaknya, Soekarno (berencana) memanggil Yani ke istana pada 1 Oktober 1965. Dia berniat mengganti Yani dengan Jenderal Moersjid. Yani tak pernah tahu mengenai hal ini.

Namun apa daya, Yani tak pernah bisa datang ke Istana menemui Bung Karno, karena pagi itu, 1 Oktober 1965 Pukul 04.30 WIB, sepasukan tentara datang menjemput Yani. Mereka mengatakan bahwa Yani diminta menghadap Soekarno segera saat itu juga. Yani sendiri tak curiga karena ia memang sudah ada rencana hendak ke Istana menghadap Bung Karno. Maka dia meminta waktu kepada tentara yang menjemputnya untuk berganti pakaian dengan seragam dinas.

Namun niatnya itu dibantah oleh Tjakrabirawa yang menjemputnya. "Tak usah ganti baju, jenderal!" bentak seorang bintara Tjakrabirawa itu membentak. Hal itu membuat Yani marah (mana boleh seorang bintara berani kurang ajar pada jenderal). Lalu Yani, membalikkan badan dan menempeleng prajurit kurang ajar itu.

Pintu Tempat Jenderal Ahmad Yani Ditembak
Pintu Tempat Jenderal Ahmad Yani Ditembak

Jenderal Ahmad Yani tewas ditembak di sini setelah menempeleng prajurit kurang ajar di pintu ini. Ia ditembak dari jarak dekat, peluru menembus pintu kaca memberondong tubuhnya yang berada dibalik pintu

Melihat peristiwa tersebut, seorang prajurit lainnya segera memberondong tubuh Yani dengan tembakan senapan otomatis secara membabi buta dari jarak dekat. Yani tersungkur dan gugur dengan berlumuran darah. Kejadian ini disaksikan oleh Untung dan Eddy, kedua putranya yang masih kecil.

Lokasi Jenderal Ahmad Yani Tewas Ditembak
Lokasi Jenderal Ahmad Yani Tewas Ditembak, Prasasti ini menunjukkan lokasi tersungkur dan gugurnya Jenderal Ahmad Yani, di balik pintu kaca dan pas di sebelah meja makan

Penculikan Jenderal Ahmad Yani
Lorong di depan pintu kaca. Di sepanjang lorong ini tubuh Jenderal Ahmad Yani diseret kemudian berbelok ke kanan. Darah berceceran dan menggenang di sepanjang lorong

Penculikan Jenderal Ahmad Yani
Foto ini menunjukkan jejak-jejak darah saat jenazah Pak Yani diseret dengan keji di sepanjang lorong

Lalu para gerombolan prajurit itu menyeret jenazah Yani di sepanjang lorong dan melemparnya ke atas truk. Mereka membawanya pergi, tapi bukan ke Istana melainkan ke sebuah tempat di Lubang Buaya Jakarta Timur. Itulah akhir tragis dari seorang Jenderal yang memiliki rekam jejak cemerlang dalam peristiwa nahas G30S/PKI.
(foto dokumentasi pribadi, Ahmad Yani Tumbal Revolusi/Galang Press, Museum Sasmitaloka Ahmad Yani dan berbagai sumber-sumber lain)

Sumber : http://www.memobee.com/foto-kisah-nyata-nasib-tragis-jenderal-ahmad-yani-anak-emas-presiden-soekarno-10107-eij.html


Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren

Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren

Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. "Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak," kata Masdoeqi saat ditemui Tempo di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu.

Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. "Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata," tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan.

Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah. 

Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh. Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya. Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang. "Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja," ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya. 

Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka. 

Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara. 

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian. "Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak," katanya. Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro.

Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, membantai anggota PKI. Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar. "Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI," ujarnya. 



Selasa, 30 September 2014

Soeharto: Kalau Kalah dari PKI, Saya Akan Jadi Pemberontak !


“Saya ini tentara. Tentara itu pedoman hidupnya Sapta Marga. Kami patriot Indonesia, pendukung dan pembela ideologi negara yang bertanggungjawab dan tidak mengenal menyerah. Melihat pemberontak yang komunis, sedangkan ideologi negara adalah Pancasila, ya saya harus melawan. Kalau saya kalah, saya akan memberontak,” 
(Soeharto)


Wismoyo Aris Munandar, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) punya pengalaman unik ketika berhubungan dengan Soeharto. Pengalaman pertama saat terjadi kerusuhan di jakarta yang terkenal dengan sebutan Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.

http://2.bp.blogspot.com/_13Qsa5sMQBI/SDZBOzJCSXI/AAAAAAAAAog/4ACfK-aUC9A/s320/A-11.jpg

Saat itu mahasiswa berdemonstrasi dan melakukan tindakan anarkis, menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai presiden. “Pada waktu itu saya masih berpangkat Mayor dan menjadi Wakil Asisten Pengamanan Kopassanda (kini bernama Kopassus). Saya ditugaskan menyampaikan pesan Komandan Kopassanda kepada Presiden Soeharto,” kata purnawirawan jenderal bintang empat itu.

Maksud pesan itu, agar Soeharto tidak ragu-ragu sehingga ia bisa membaca situasi dengan jelas. Wismoyo ditemui Soeharto di rumahnya,  Jl Cendana, Jakarta. Saat itu Seoharto mengenakan sarung dan kaus oblong. “Bisa dibayangkan, saya yang seorang Mayor menghadap Presiden, pasti deg-degan,” ujar Wismoyo

“Ono opo (Ada apa),” tanya Soeharto. Wismoyo kemudian menyampaikan pesan Komandan Jenderal Kopassanda bahwa Kopassanda tetap setia kepada Presiden RI. Soeharto tanpak santai mendengar pesan itu.

“Setia iku opo (Setia itu apa),” tanya Soeharto. Wismoyo terhenyak, tidak menduga mendapat pertanyaan seperti itu. Namun Soeharto kemudian mencairkan suasana dengan menjelaskan setia itu berarti memegang teguh kebersamaan dalam mencapai cita-cita.

“Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, dan pandai menganalisis,” kata Soeharto kepada Wismoyo.

Setelah peristiwa tersebut. Wismoyo mengaku memiliki pengalaman unik lainnya. Yaitu, ketika Wismoyo hendak meminang adik ipar Soeharto, Datit Siti Hardjanti (adik kandung Ny Tien Soeharto).  “Walaupun orang Jawa, saya tidak memahami betul tata krama Jawa hinggil (tinggi). Saya bahkan tidak bisa berbahasa Jawa krama (halus). Namun apa daya cinta saya berlabuh kepada Datit Siti Hardjanti, adik kandung Ibu Tien Soeharto,” kenang mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.

Datit ternyata minta Wismoyo meminang dirinya kepada Soeharto dan Ny Tien. “Sehari sebelum persitiwa penting dalam hidup saya itu, saya mempersiapkan diri lahir dan batin. Dengan grogi saya bolak-balik membersihkan sepatu supaya berkilau,” ujar Wismoyo.

Wismoyo berangkat ke rumah Soeharto sendirian. Setelah Wsmoyo masuk  ruang pertemuan tanpa melepas sepatu, Ny Tien memperhatikan dirinya dari bawah sampai ke atas. Tentu saja Wismoyo grogi bukan kepalang.

Soeharto: Kalau Kalah dari PKI, Saya Akan Jadi Pemberontak (3)
Kemesraan yang terjalain antara mantan presiden Soeharto dan istrinya, Ibu Tien Soeharto

“Wong lanang kok ingah-ingih (Laki-laki kok tersipu-sipu),” kata Ibu Tien.

Wismoyo kemudian memandang ke arah Soeharto yang saat itu hanya tersenyum. Wismoyo menunduk, terdiam seribu bahasa. “Aku mbiyen yo ingah-ingih  (Saya dulu juga tersipu-sipu),” ujar Soeharto sambil tersenyum.

Celetukan Soeharto tersebut membangkitkan kembali semangat Wismoyo untuk menyampaikan maksud kedatangannya. “Sungguh kalimat Pak Harto memotivasi kembali semangat saya. Peristiwa kecil itu sangat membekas di hati saya. Setiap pemimpin harus berani menyelamatkan bawahannya yang bertujuan baik,” tambah pria yang pernah menjabat Pangdam Diponegoro itu.


Keputusan berani

 

Pada suatu waktu Wismoyo menanyakan kepada Soeharto, apa yang membuatnya berani mengambil keputusan cepat untuk mengatasi pemberontakan PKI yang melakukan Gerakan 30 September 1965.

Saya ini tentara. Tentara itu pedoman hidupnya Sapta Marga. Kami patriot Indonesia, pendukung dan pembela ideologi negara yang bertanggungjawab dan tidak mengenal menyerah. Melihat pemberontak yang komunis, sedangkan ideologi negara adalah Pancasila, ya saya harus melawan. Kalau saya kalah, saya akan memberontak (melawan PKI sebagai penguasa (sukses memberontak)),” jawab Soeharto

Saat terjadi pemberontakan PKI, Soeharto menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). “Tidak mudah memutuskan sesuatu seperti dilakukan Pak Harto pada saat itu. Keadaan sangat sulit, namun Pak Harto punya nyali. Keputusan itu sangat beliau yakini kebenarannya. Alon-alon asal kelakon (Pelan-pelan asal terlaksana),” kata Wismoyo(tribunnews.com)

Sumber : http://tribunnews.com, dikutip dari : http://palingseru.com/, 27 Juni 27, 2011

Inilah Saat Pertama Soeharto Menuding PKI di Balik Peristiwa Pemberontakan Gerakan 30 September 1965.


PERNYATAAN Pangkostrad Mayjen Soeharto ini disampaikan ketika mayat tujuh perwira Angkatan Darat yang dibunuh kelompok Letkol Untung diangkat dari sebuah sumur tua wilayah Halim.

Inilah saat pertama Soeharto menuding keterlibatan organisasi mantel PKI dalam gerakan Letkol Untung walaupun belum ada pengusutan dan penyelidikan mengenai peristiwa itu.

Pernyataan yang disebarkan media massa yang dikuasai Angkatan Darat ini menjadi patokan bagi cerita, berita dan kabar yang berkembang selanjutnya mengenai pembantaian yang terjadi dinihari 1 Oktober itu.

Pernyataan di bawah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jurnal Indonesia yang diterbitkan Cornell University dari berita yang dimuat koran Berita Yudha edisi 5 Oktober juga siaran RRI sore hari tanggal 4 Oktober. Berikut pernyataan Soeharto.

Today, October 4, 1965, we witnessed together, with our own eyes, the recovery of the bodies of our generals — six generals — and one junior officer from an old well. As you already know, our generals and our junior officers have fallen victims to the uncivilized actions of the adventurers of the so-called “September 30th Movement.”

If we survey the place, it is in Lubang Buaja. Lubang Buaja is within the area of the Halim Air Base. Here you will also see that the area near the well has been used as a training center for volunteers under the auspices of the Air Force. The volunteers consisted of members of the Communist Youth Group [Pemuda Rakjat] and of the Communist Women’s Organization [Gerwani].

In a word, it is possible that they were undergoing training in the framework of the defense of the airbase. But with the capture in Tjirebon of a member of Gerwani who had been trained here and who hails from Central Java, it is clear that they come from far away. Thus, based on these facts, it is possible that there is truth in the statement by our beloved President Bung Karno that the Air Force is not involved in the affair. But it is impossible that there is no involvement in this affair of elements of the Air Force.

For this reason, as a member of the Army, I would like to express the sentiment of patriots who are members of the Army: If it is true that there are elements who are involved in the cruel killing of our innocent generals, I hope that Air Force patriots will purge such elements who are involved in this adventure.

I am very grateful that finally God gives clear guidance to us, that any dishonest action, that any bad action certainly will be suppressed. And I am grateful to units, particularly those from the paratroop regiment [RPKAD] and the marines [KKO] and other units, and the people who have assisted in the discovery of the well and the recovery of the bodies, so that the number of the victims could be determined.

That is all.

Terjemahan :

Hari ini, 4 Oktober 1965, kita menyaksikan bersama-samadengan mata kita sendiripemulihan tubuh jenderal kami - enam jenderal - dan satu perwira muda dari sumur tuaSeperti yang Anda sudah tahu, jenderal dan perwira junior kami telah jatuh korban tindakan tidak beradab para petualang dari apa yang disebut "Gerakan 30 September."

Jika kita survei tempatitu adalah di Lubang BuajaLubang Buaja berada dalam area Pangkalan Udara HalimDi sini Anda juga akan melihat bahwa daerah dekat sumur telah digunakan sebagai pusat pelatihan bagi relawan di bawah naungan Angkatan UdaraPara relawan terdiri dari anggota Kelompok Pemuda Komunis [Pemuda Rakyatdan Organisasi Perempuan Komunis [Gerwani].

Dengan kata lain, adalah mungkin bahwa mereka sedang menjalani pelatihan dalam rangka pertahanan pangkalan udaraTetapi dengan penangkapan di Cirebon dari anggota Gerwani yang telah dilatih di sini dan yang berasal dari Jawa Tengahjelas bahwa mereka datang dari jauhDengan demikianberdasarkan fakta-faktaadalah mungkin bahwa ada kebenaran dalam pernyataan oleh Presiden tercinta Bung Karno kami bahwa Angkatan Udara tidak terlibat dalam urusan tersebutTetapi tidak mungkin bahwa tidak ada keterlibatan dalam urusan elemen dari Angkatan Udara.

Untuk alasan inisebagai anggota Angkatan Daratsaya ingin mengekspresikan sentimen patriot yang merupakan anggota dari Angkatan DaratJika memang benar bahwa ada unsur-unsur yang terlibat dalam pembunuhan kejam jenderal bersalah kamisaya berharap bahwa Angkatan Udara patriot akan membersihkan unsur-unsur tersebut yang terlibat dalam petualangan ini.
Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan akhirnya memberikan panduan yang jelas bagi kitabahwa setiap tindakan tidak jujur​​, bahwa setiap tindakan yang buruk pasti akan ditekanDan saya berterima kasih kepada unitterutama dari resimen paratroop [RPKAD] dan marinir [KKO] dan lainnya unitdan orang-orang yang telah membantu dalam penemuan sumur dan pemulihan tubuhsehingga jumlah korban dapat ditentukan
Itu saja.

Pada kesempatan lain Presiden Suharto menjelaskan tentang Gerakan 30 September saat diadakan pertemuan di Prancis.

Sumber : http://teguhtimur.com/, Jumat, 17 Pebruari 2008

G-30S/PKI, Pemberontakan atau Perebutan Kekuasaan ?

Ilustrasi kelicikan PKI

Pagi hari tadi saya mendengar pengumuman di corong speaker masjid di tempat tinggal saya di Surabaya, bahwa hari ini tanggal 30 September 2014, kami wajib mengengibarkan bendera kesayangan saya : Sang Saka Merah Putih 1/2 tiang, mulai jam 06:00 sampai dengan jam 18:00 sore, sedangkan esok tanggal 1 Oktober 2014, kami wajib mengibarkan bendera 1 tiang penuh.

Setiap tanggal 30 September kita memperingati hari berkabung nasional mengenang sebuah peristiwa pembunuhan sejumlah pejabat TNI Angkatan Darat yang kita ketahui bersama dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. Dalam gerakan yang dinamakan "Gerakan 30 September" atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober). Peristiwa yang terjadi pada dini hari selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965. 

Pada era pemerintahan Presiden Suharto pada tanggal 30 September malam biasanya kita menyaksikan Film Pemberontakan G-30S/PKI ini di layar TVRI. Namun sejak era reformasi film ini tidak pernah diputar lagi, konon kata mereka ada "penyesatan sejarah" yang dilakukan oknum "Orde Baru" dalam film tersebut. Namun kita sebagai generasi muda mungkin perlu tahu dan menyaksikan film tersebut dan mencari kebenaran sejarah peristiwa bersejarah ini dalam berbagai referensi ilmiah si lembaga pendidikan  anda.

Lobby card, showing five main characters and the text "Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI" as well as a scene from the film

Film "Pemberontakan G-30S/PKI" yang dibuatt oleh Arifin C Noer itu dibintangi oleh beberapa artis terkenal kala itu. Sebut saja Ade Irawan, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Sofia WD. Dan film yang diproduksi tahun 1984 itu digolongkan dalam film berdurasi panjang dengan total waktu 220 menit dan dilatarbelakangi musik besutan Embie C Noer.

FILM DOKUMENTER Pengkhianatan G 30 S PKI

Pada hari kelam tersebut Pasukan Paspampres "Cakra Birawa" di bawah komando Letkol Untung bin Syamsuri mengambil paksa para perwira TNI Angkatan Darat Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:


  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/ Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)



  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)

  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)

  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)

  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)

  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)

  • Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)

  • Lettu CZI Pierre Andreas Tendean,  Ajudan Pribadi Jenderal TNI Abdul Harris Nasution
  • Ade Irma Suryani Nasution, anak  Jenderal TNI Abdul Harris Nasution

Lettu CZI Pierre Andreas Tendean adalah korban yang menjadi korban salah tangkap, Ade Irma Suryani Nasution adalah korban meninggal karena terkena peluru nyasar. Pada saat itu Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, berhasil meloloskan diri. 



    http://teguhtimur.files.wordpress.com/2009/04/lubang-buaya.jpg?w=425&h=550
    Pengambilan jenasah korban pembunuhan G-30S/PKI

    Berkas:Lubang Buaya.jpg
    Sumur Lubang Buaya

    Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Desa Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965.


    Pada tanggal 1 Oktober 1965, di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, PKI melakukan pembunuhan terhadap :  

    • Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

    • Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

    Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi.

    Monumen Pancasila Sakti

    Kesemua korban pembunuhan tersebut mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi. Pada lokasi penemuan jenasah tersebut didirikan Monumen Pancasila Sakti, dan untuk menumbuhkan ingatan akan kemanusiaan Bangsa Indonesia pada tanggal 1 Oktober kita memperingatinya sebagai"Hari Kesaktian Pancasila.

    Benarkah peristiwa ini murni pemberontakan atau perebutan kekuasaan antar petinggi TNI ? mari kita belajar bersama.
    • Setelah penandatanganan Perjanjian Renville pada tahun 1948, hasil kesepakatan perundingan Renville dianggap menguntungkan posisi Belanda. Sebaliknya, Indonesia menjadi pihak yang dirugikan dengan semakin sempit wilayah yang dimiliki. 
    • Pada tanggal 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Jakarta setelah dua belas tahun di Uni Soviet. Politibiro PKI direkonstruksi, termasuk D.N. Aidit, M.H. Lukman dan Njoto. Pada 5 September 1948 dia memberikan pidato anjuran agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Dan anjuran itu berujung pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawa Timur.
    • Banyak unit bersenjata dari Partai Republik kembali dari zona konflik. Hal ini memberikan beberapa keyakinan sayap kanan Indonesia bahwa mereka akan mampu menandingi PKI secara militer. Unit gerilya dan milisi di bawah pengaruh PKI diperintahkan untuk membubarkan diri. Di Madiun kelompok militer PKI menolak untuk pergi bersama dengan perlucutan senjata para anggota yang dibunuh pada bulan September tahun yang sama. 
    • Pembunuhan itu memicu pemberontakan kekerasan. Hal Ini memberikan alasan untuk menekan PKI. Hal ini diklaim oleh sumber-sumber militer bahwa PKI telah mengumumkan proklamasi 'Republik Soviet Indonesia' pada tanggal 18 September dengan menyebut Musso sebagai presiden dan Amir Syarifuddin sebagai perdana menteri. Pada saat yang sama PKI mengecam pemberontakan dan meminta tenang. Pada 30 September Madiun diambil alih oleh TNI dari Divisi Siliwangi. Ribuan kader partai terbunuh dan 36 000 dipenjara. Di antara beberapa pemimpin yang dieksekusi termasuk Musso yang dibunuh pada 31 Oktober saat tertangkap di Desa Niten Kecamatan Sumorejo, Ponorogo. Diduga ketika Musso mencoba melarikan diri dari penjara. Aidit dan Lukman pergi ke pengasingan di Republik Rakyat Tiongkok. Namun, PKI tidak dilarang dan terus berfungsi. Rekonstruksi partai dimulai pada tahun 1949.


    • Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Aidit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada 1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun. 
    • Pada Agustus 1951, PKI memimpin serangkaian pemogokan-pemogokan, yang diikuti oleh tindakan-tindakan tegas oleh kubu yang menentang PKI di Medan dan Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali bergerak di bawah tanah untuk sementara waktu.
    DN Aidit berbicara pada pertemuan pemilu 1955
    Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165.000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959
    • Pada Februari 1958 sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh kekuatan pro-AS antara militer dan politik sayap kanan. Para pemberontak, yang berbasis di Sumatera dan Sulawesi, memproklamasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia pada tanggal 15 Februari. Pemerintah Revolusioner yang terbentuk ini segera mulai menangkapi ribuan anggota PKI di daerah di bawah kendali mereka. PKI mendukung upaya Soekarno untuk memadamkan pemberontakan, termasuk pemberlakuan hukum darurat militer. Pemberontakan itu akhirnya dikalahkan.
    • Pada bulan Agustus 1959 terjadi upaya atas nama militer untuk mencegah penyelenggaraan kongres PKI. Namun kongres digelar sesuai jadwal, dan ditangani oleh Sukarno sendiri. Pada tahun 1960 Sukarno meluncurkan slogan Nasakom, singkatan dari Nasionalisme, Agama, Komunisme. Dengan demikian peran PKI sebagai mitra junior dalam pemerintahan Sukarno resmi dilembagakan. PKI menyambut baik peluncuran konsep Nasakom, melihatnya dari segi front persatuan multikelas.
    • PKI di Indonesia merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Sehingga dimungkinkan Indonesia hendak dijadikan "Uni Soviet ke-II", sehingga untuk misi ini Organisasi PKI mendapat dukungan penuh dari Uni Soviet dan RRC (silahkan baca buku sejarah/ referensi ilmiah sejarah).
    • Pada awal tahun 1965 Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana mentri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai memberikan 100.000 pucuk senjata chung secara "gratis dan tanpa syarat". 
    Berkas:45tahunPKI.jpg
    • Sebelum G-30S/PKI Organisasi PKI adalah Partai Politik terkuat, mempunyai akses langsung ke pusat kekuasaan yaitu Presiden Sukarno pada waktu itu, sehingga ia selalu berupaya memperlemah lawan politiknya dengan berbagai cara diantaranya TNI AD, Partai berbasis Agama (Masyumi)   dan Nasionalis (termasuk PNI (Sekarang dikenal dengan nama Partai Demokrasi Indonesia)).
    • Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga menginfiltrasi polisi dan tentara dengan slogan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat". Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi". Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subyek karya-karya mereka.
    • Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani bergerak merampas tanah yang bukan hak mereka atas hasutan PKI. Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dan polisi dan para pemilik tanah. 
    • Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat".

    • Keributan antara PKI dan Islam (tidak hanya NU, tapi juga dengan Persis dan Muhammadiyah) itu pada dasarnya terjadi di hampir semua tempat di Indonesia, di Jawa Barat, Jawa Timur, dan di propinsi-propinsi lain juga terjadi hal demikian, PKI di beberapa tempat bahkan sudah mengancam kyai-kyai bahwa mereka akan disembelih setelah tanggal 30 September 1965.
    • Para korban pembunuhan adalah para perwira tinggi TNI AD yang sebelumya secara terang benderang menghalangi misi PKI membentuk Angkatan ke-lima.
    • Pada sekitar bulan September 1965 muncul isu adanya Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno "disebut-sebut" memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, dan Harjono.
    • Setelah "sukses" melakukan aksi "bunuh jendral", PKI langsung beraksi menguasai Kantor Telekomunikasi dan RRI dan Lanud Halim Perdana Kusuma dengan membawa serta Bung Karno (Presiden RI waktu itu). sebagai sandera atau tameng keamanan ??
    • Para pemimpin PKI mengumumkan peristiwa pembunuhan tersebut pada tanggal 1 Oktober 1965, dan memproklamasikan kemenangannya terhadap para "Dewan Jendral" di Radio Republi k Indonesia.
    • Dokumen Gilchrist yang diambil dari nama duta besar Inggris untuk Indonesia Andrew Gilchrist beredar hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal. Dokumen ini, yang oleh beberapa pihak disebut sebagai pemalsuan oleh intelejen Ceko di bawah pengawasan Jenderal Agayant dari KGB Rusia, menyebutkan adanya "Teman Tentara Lokal Kita" = PKI yang mengesankan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat telah dibeli oleh pihak Barat sehingga PKI wajib melenyapkan para Dewan Jendral tersebut.
    • PKI telah memanfaatkan institusi negara Pasapampres Cakrabirawa untuk melancarkan proses kriminal meculik dan membunuh seorang Jendral TNI (rencana) dan  Menteri/Panglima Angkatan Darat/ Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi, ini jelas peristiwa pemberontakan !
    • Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Sovyet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik...Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan...Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam." (bergembira karena berhasil mengenyahkan lawan politik PKI ??)
    • Dalam sebuah Konferensi Tiga Benua di Havana di bulan Februari 1966, perwakilan Uni-Sovyet berusaha dengan segala kemampuan mereka untuk menghindari pengutukan atas penangkapan dan pembunuhan orang-orang yang dituduh sebagai PKI, yang sedang terjadi terhadap rakyat Indonesia.




    Let.Kol Untung dalam Mahmilub atas keterlibatannya dalam G30S/PKI
    • Dalam Sidang Pengadilan Sipil maupun Militer para pelaku pemberontakan terbukti secara nyata bersalah sebagai pelaku (tersangka).

    Syukurlah Tuhan masih melindungi bangsa kita, kita diselamatkan dari kekelaman paham KOMUNIS dan (biasanya) ATHEIS) melalui para pendiri bangsa yang masih jernih dan bersih.

    PANCASILA jiwa dan roh Bangsa Indonesia dahulu - sekarang - dan masa depan Indonesia !

    Saya pribadi berpendapat bahwa peristiwa pembunuhan ini adalah sebuah "peristiwa pemberontakan terencana" yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia. dengan beberapa dasar pemikiran di atas, harapan saya, semoga sejarah adalah sejarah, jangan samapai sejarah terebut terlupa, atau dilupakan.

    Tidak ada yang namanya pemutihan merahnya sejarah. 
    Apalagi untuk kepentingan pemutar balikan sejarah, hati-hati, hukum karma Tuhan !

    Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
    Referensi :
    1. http://en.wikipedia.org/wiki/Pengkhianatan_G30S/PKI
    2. http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia