Kamis, 17 Januari 2019

Vanessa Angel, Pelajaran Apa Yang Bisa Kita petik Dari Kasus Ini?


Polisi akhirnya menetapkan Vanessa Angel sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online. Sebelumnya, status Vanessa sebagai saksi korban, karena menjadi salah satu penyedia layanan.

Vanessa Angel resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online. Namun, dalam kasus ini Vanessa dijerat pasal 27 ayat 1 Undang-undang ITE. Penetapan Vanessa sebagai tersangka ini merupakan fakta penyidikan Subdit V Cyber Crime Polda Jatim. Setelah diperiksa selama sembilan jam pada Senin (14/1) lalu, polisi juga mendapati beberapa fakta baru yang bisa menjerat Vanessa. Tak hanya itu, penetapan ini juga didapat dari hasil pemeriksaan saksi ahli, di antaranya ahli pidana, ahli bahasa, ahli ITE hingga ahli dari MUI dan Kementerian Agama.

"Hasil gelar dan beberapa ahli ahli pidana, ahli bahasa, ahli ITE dan ahli dari Kementerian Agama dari MUI dan juga dari beberapa bukti yang sangat mengaitkan dalam transaksi komunikasi," pungkas Luki.

Luki memaparkan penetapan Vanessa ini mengacu dari fakta penyidikan yang ada. Selain telah melakukan gelar perkara hingga pemeriksaan rekam data digital forensik pada handphone Vanessa, penyidik juga telah memeriksa ahli ITE, ahli bahasa, ahli pidana hingga ahli agama dari Kementerian Agama dan MUI.

Penetapan Vanessa sebagai tersangka menyusul penetapan tiga tersangka lainnya yang berperan sebagai muncikari, di antaranya Endang, Tentri dan Fitria.

"Saya sampaikan kepada rekan-rekan media terkait penyidikan kasus prostitusi online, kami sampaikan terkait hasil gelar daripada diperiksanya saudari VA dan kami mulai hari ini kami tetapkan sebagai tersangka," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (16/1/2019)

"Pasal yang kami tetapkan pasal 27 ayat 1 undang-undang ITE," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan saat rilis di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (16/1/2019).


Sebagaimana pasal 27 ayat 1 menyebut, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Dengan pasal tersebut, Vanessa Angel terancam hukuman enam tahun penjara.

Tak hanya itu, Luki mengatakan dijeratnya Vanessa dengan pasal 27 ayat 1 ini terkait dengan kegiatan Vanessa yang mengeksplor dirinya. Luki mengatakan Vanessa kerap mengirimkan foto dan video tak senonoh melalui pesan elektronik di handphone kepada muncikari. 

Selanjutnya, video ini pun tersebar. Para muncikari menggunakan foto dan video tak senonoh ini untuk menawarkan Vanessa kepada pelanggan prostitusi online.

"Pertimbangannya tadi sudah saya sampaikan yang bersangkutan secara langsung mengeksplor dirinya, mengeksploitasi dirinya langsung dengan muncikari, ada komunikasi," ungkap Luki.

Penetapan tersangka ini juga berhubungan dengan kasus prostitusi online yang sebelumnya menjadikan Vanessa sebagai saksi korban. Sebelumnya, Vanessa tertangkap saat melakukan hubungan badan dengan kliennya di hotel Jalan HR Muhammad Surabaya.


Sederet bukti yang kemudian memberatkan Vanessa Angel 

Berkaitan dengan penetapan Vanessa Angel menjadi tersangka, berikut TribunWow rangkum sederet bukti yang kemudian memberatkan Vanessa Angel dalam kasus prostitusi online:




1. Banyak Foto dan Video Porno Vanessa Angel di Ponsel Muncikari

Dikutip TribunWow.com dari TribunTimur.com, Polda Jatim mendapati foto dan video panas Vanessa Angel yang tersimpan dalam ponsel milik muncikari ES.


Menurut Frans Barung, video dan foto Vanessa tersebut digunakan oleh muncikari untuk menawarkan Vanessa Angel kepada para pelanggan.

"Ada foto dan video tak senonoh VA, tapi itu tentu tak pantas kita ungkapkan," ujarnya Rabu (16/1/2019).

Bahkan, menurut Frans jumlah foto dan video yang dikirimkan oleh Vanessa bisa dikatakan cukup banyak.

"Jadi yang bersangkutan tidak melakukannya satu dua kali, tapi banyak sekali," jelasnya.

Selain itu, Frans Barung juga turut menjelaskan bahwa video yang dikirim oleh Vanessa Angel tersebut memiliki durasi yang beragam.

"Foto dan video porno yang ada tidak selalu durasi panjang, satu menit pun ada. Salah satu contoh yang tersebar ke netizien ya itu (foto porno) dari yang bersangkutan," terang Frans, seperti dikutip dari Surya.co.id.

Ia menuturkan bahwa tindakan yang dilakukan Vanessa Angel tersebut akan mempengaruhi status hukumnya.

"Intinya status hukum artis Vanessa Angel berkaitan dengan apa yang dilakukannya," jelasnya.


2. Chatting Vanessa Angel dan Muncikari Penuhi Unsur Asusila

Dikutip TribunWow.com dari YouTube Official iNews, Selasa (15/1/2019), Frans Barung menuturkan pihaknya memiliki bukti yang kemungkinan bisa menjerat Vanessa Angel dalam UU ITE Pasal 27 ayat 1, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.


"(Mengenai) Pasal 27 ayat 1 ada beberapa hal yang dilakukan oleh yang bersangkutan, baik yang dilakukan by chatting, kemudian melakukan upload ya di media sosial yang melanggar kesusilaan," ujar Frans Barung.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap ahli IT kemudian ahli bahasa dan ahli kekriminologi, dan tiga ahli itu menyatakan bahwa disampaikan dalam melakukan chatting dan di upload itu melanggar keasusilaan," jelasnya.

Frans juga mengatakan chatting Vanessa dengan muncikari menjerumus ke hal yang berbau porno.

"Contoh saja chatting ini kan tidak masuk dalam video maupun photo tetapi chatting ini melanggar kesusilaan antara lain, ada hal yang tidak boleh kita sampaikan ke ruang publik ini yakni tentang kejantanan seseorang, itu disampaikan disitu, sehingga kita lakukan koordinasi cepat dengan tiga ahli itu untuk kita mintakan pendapat dan ternyata satu pendapat (bisa) terjerat pasal 27 ayat 1," ungkap Frans Barung.

Lanjutnya, Frans mengungkapkan transaksi itu bukan hanya muncikari yang mengendalikan, namun juga Vanessa.

"Lebih dalam lagi, bukan germo yang mengendalikan tapi pengendaliannya langsung dilakukan secara otomatis dilakukan secara penting adalah VA tadi." ungkap Frans.


3. Vanessa Terbukti Aktif dalam Bisnis Prostitusi Online



Dikutip dari akun YouTube Official iNews Selasa (15/1/2019), Frans Barung menyebutkan bahwa hasil rekam jejak digital Vanessa Angel membeberkan fakta keterlibatannya.

"Tetapi satu yang ingin saya sampaikan sebagai catatan saja, bahwa Vanessa Angel mengatakan bahwa dia tidak terlibat, bahwa dia merasa terjebak, bahwa dia melakukan itu hanya untuk kepentingan sebagai master ceremony saja."

"Kenyataannya bahwa digital forensik rekam jejak digitalnya tidak berbicara seperti itu," terang Frans.

Frans Barung turut mengungkapkan Vanessa Angel sangat aktif dalam prostitusi online tersebut.

"Aktifnya VA ini luar biasa, bahkan dilakukan di luar negeri juga aktif untuk melakukannya, bukan hanya di kota Surabaya tetapi di Jakarta juga," ucapnya.


4. Vanessa Angel Terbukti Lakukan Belasan Transaksi Prostitusi


Hasil rekam jejak digital yang didalami Polda Jatim, didapati Vanessa Angel melakukan belasan transaksi terkait prostitusi online.

Soal banyaknya transaksi yang dilakukan Vanessa Angel dalam prostitusi tersebut, Frans memastikan bahwa jumlah yang didapatkan kepolisian akan terus bertambah.

"Ada 15 transaksi yang kita catat dan akan berkembang lagi saya ulangi sudah 15 transaksi yang kita catat dan akan berkembang lagi."

"Kami tidak membantah apa yang disampaikan oleh VA, tetapi biarlah jejak rekam digital nya nanti yang akan berbicara sesuai digital forensik yang ada," tegasnya dikutip dari akun YouTube Official iNews Selasa (15/1/2019), 

Menurut keterangan Frans Barung, hasil rekam jejak digital dari Vanessa Angel secara rinci tercatat semua percakapan dan juga transaksi apa saja yang dilakukan oleh Vanessa Angel.

"Inilah fakta yang nyata, karena disitu ada jam, waktunya kapan apa yang dibicarakan kemudian berlanjut kepada transaksi itu dan kemana arah uangnya dan dimana arah eksekusinya."

"Itu terbaca semua disana itu nanti akan kita sampaikan," jelasnya Frans Barung.


5. Vanessa Kembalikan Uang Rp 35 Juta sebagai Bukti Transaksi

Dikutip dari akun YouTube Officials iNews Senin (14/1/2019) Kombes Pol Frans Barung menuturkan bahwa segala bukti yang didapatkan oleh kepolisian, merupakan bukti yang telah lama dilakukan oleh Vanessa Angel dalam kasus prostitusi online.

Ia telah lama melakukan pengawasan terhadap Vanessa Angel dan juga muncikari yang terlibat.

"Polisi punya fakta dan polisi punya bukti-bukti, sekali lagi yang saya sampaikan bahwa kita memiliki rekam jejak digitalnya lama sebelum kasus ini."

"Artinya apa yang telah dilakukan yang bersangkutan (muncikari) meskipun mengatakan hanya mengantar Vanessa Angel saja nah bukti digital forensik itu yang akan menjelaskan semuanya nantinya bahwa apa yang dilakukan dan apa yang diterima apa yang didapatkan sudah tidak dapat dibantahkan lagi," lanjut Frans.

Meskipun keduanya baik Vanessa Angel dan muncikari ES membantah terlibat, nyatanya pihak Vanessa Angel telah mengembalikan uang dengan besaran tertentu yang jadi bukti adanya transaksi prostitusi online tersebut.

Sehingga, meskipun muncikari ES menjelaskan bahwa hanya menemani Vanessa Angel, bukti yang diterima oleh kepolisian justru berbeda.

"Nah ES menyampaikan bahwa dia hanya menjalankan saja kemudian menemani, nah tapi bukti transfer dari Vanessa Angel itu sudah ada ya, dan itu sudah disampaikan ke penyidik," ungkap Frans.



Pelajaran yang bisa kita ambil.
  1. Mari kita belajar bersyukur atas rejeki halal yang kita miliki
  2. Mari kita belajar menjaga kebersihan hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita, agar nurani kita jernih sehingga tidak melakukan perbuatan yang tidak benar.
  3. Perdalam iman dan ibadah dalam keluarga kita
  4. Jangan menyebarkan konten pornografi dalam segala bentuk baik media on-line maupun offline
  5. Jangan pernah terlibat dalam segala kegiatan dunia prostitusi. 
Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
dihimpun dari berbagai sumber.

Rabu, 16 Januari 2019

Kabar Baik, Benih yang Dibawa China ke Bulan Kini Telah Bersemi...


Kabar ini disampaikan oleh Badan Antariksa Nasional China. Fenomena ini juga menandai pertama kalinya materi biologis tumbuh di Bulan.

Hasil ini juga dilihat sebagai langkah penting menuju eksplorasi ruang angkasa jangka panjang.

Sebagai informasi, Chang'e 4 adalah misi pertama yang berhasil mendarat dan menjelajahi sisi jauh bulan.

Wahana tersebut mendarat pada 3 Januari lalu. Ia tak sendirian, tapi membawa instrumen ungtuk menganalisis di kawasan tersebut serta makhluk hidup pertama di Bulan.

Sebelumnya, tanaman telah tumbuh di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Tapi, ini adalah pertama kalinya tanaman benar-benar bersemi di Bulan.

Video : "Chang’e-4 biological experiment - the first cotton sprout on the far side of the Moon"

Kemampuan menumbuhkan tanaman di Bulan ini disambut baik banyak pihak. Terutama sebagai bagian integral untuk misi luar angkasa jangka panjang seperti perjalanan ke planet Mar yang memakan waktu hingga dua setengah tahun.

Artinya, astronot berpotensi memanen makanan mereka di luar angkasa. Dengan begitu, pasokan makanan yang diangkut bisa berkurang.

Tanaman itu dibawa oleh Chang'e dalam sebuah wadah tertutup yang berisi benih kentang, kapas, selada, serta ulat. Nantinya, mereka akan membentuk biosfer mini.

Astronom dari Observatorium Astronomi Asutralia Fred Watson menyambut baik kabar ini.

"Ini menunjukkan bahwa mungkin tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi para astronot di masa depan untuk mencoba menanam tanaman mereka sendiri di Bulan dalam lingkungan yang terkontrol," ungkap Watson dikutip dari BBC, Selasa (15/01/2019).

"Saya pikir pasti ada banyak minat dalam menggunakan Bulan sebagai pos pendaratan sementara, terutama untuk penerbangan ke Mars, karena (Bulan)relatif dekat dengan Bumi," imbuhnya.

Kabar ini juga menjadi kebanggaan Profesor Xie Gengxin, kepala perancang percobaan ini.

"Kami telah mempertimbangkan kelangsungan hidup di ruang angkasa di masa depan," tutur Gengxin.

"Belajar tentang pertumbuhan tanaman ini di lingkungan gravitasi rendah akan memungkinkan kita untuk meletakkan pondasi pembentukan pangkalan ruang angkasa kita di masa depan," sambungnya.

Untuk diketahui, selama perjalanan 20 hari dari Bumi ke Bulan, benih tersebut dalam keadaan "tidak aktif". Para peneliti menggunakan teknologi biologis untuk menonaktifkan benih tersebut.


Baru setelah sampai di sisi jauh Bulan, pusat kendali China mengirim perintah ke wahana antariksa untuk menyirami benih tersebut. Saat itulah benih itu mulai aktif dan tumbuh.

Penulis : Resa Eka Ayu Sartika
Editor : Resa Eka Ayu Sartika
 Sumber : BBC, dikutip dari sains.kompas.com.  15 Januari 2019, 20:06 WIB.

Selasa, 15 Januari 2019

Mengenal Si Cantik tapi Mematikan : "Vespa affinis" (Tawon Ndas)



Namanya "seksi" dan enak didengar, Vespa affinis. Ia sering pula dipanggil tawon endas atau tawon ndas (dari bahasa jawa endhas, yang artinya kepala). Konon, nama ini bermula dari sengatan yang kerap menyasar kepala "korban"-nya. 

Dibanding tawon-tawon lainnya, V affinis memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dengan panjang sekitar tiga sentimeter. Ia mudah dikenali lewat warna tubuhnya yang hitam dan gelang yang berwarna kuning atau oranye di perut.

Video : "Satwa di Sekitar Kita- Tawon Ndas"

Namun, tak seperti namanya yang "seksi", serangga berukuran tidak lebih besar dari ibu jari orang dewasa ini bisa membunuh manusia. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, misalnya, sengatan tawon endas menewaskan tujuh orang dalam dua tahun terakhir. 


Bukan penghasil madu


Ada saja orang yang tidak dapat membedakan tawon dan lebah, apalagi mengenal baik tawon endas. Kebanyakan orang bahkan menyamakan tawon dan lebah sebagai sama-sama serangga penghasil madu.

Pakar toksinologi Dr dr Tri Maharani, MSi SPEM dan pakar ilmu serangga dari LIPI Hari Nugroho menjelaskan, tawon ndas bukanlah penghasil madu. Tawon endas adalah predator yang memangsa larva serangga lain. 

Sengat beracun adalah "senjata" tawon ndas, termasuk bila menyengat manusia. Apakah satu sengatan tawon ndas akan langsung mengancam nyawa manusia?


Dijelaskan oleh Tri, bila yang menyengat manusia hanya satu atau dua ekor tawon, sengatan V affinis tidak akan terlalu berbahaya. Korban sengatan akan mengalami alergi saja.

Bila tidak ditangani dalam tenggat 1 x 24 jam,  hiperalergi akan berlanjut menjadi anafilaksis (reaksi alergi berat) yang berisiko sistemik atau merusak organ tubuh.

Gejala alergi dari sengatan tawon ini antara lain bengkak. Penanganannya, bisa dikompres es dan ditangani sendiri menggunakan obat-obatan antihistamin atau corticosteroid.

Namun, lain ceritanya bila yang menyengat berjumlah banyak, cerita yang nyatanya lebih umum terjadi. Korban bisa mengalami hiperalergi.

Bila tidak ditangani dalam tenggat 1 x 24 jam,  hiperalergi akan berlanjut menjadi anafilaksis (reaksi alergi berat) yang berisiko sistemik atau merusak organ tubuh.

Kerusakan organ yang dapat terjadi dalam kondisi itu antara lain edema paru akut dan gagal ginjal akut dalam hitungan hari sejak korban tersengat tawon ndas.

Edema paru akut adalah kondisi ketika terjadi penumpukan cairan di paru-paru sehingga pasien kesulitan bernapas. Adapun gagal ginjal akut menyebabkan fungsi ginjal menurun drastis. 


Ilmu toksinologi yang langka

Tri yang juga penasihat kasus gigitan ular untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) berkata, V affinis juga sedang menjadi sorotan di negara-negara Asia lainnya.

Namun, berbeda dengan Indonesia, V affinis di luar negeri jarang sekali memakan korban jiwa manusia. Dalam setahun, V affinis biasanya  hanya menyengat dua atau tiga orang dan membuat satu orang meninggal.

Sejatinya, edema paru akut dan gagal ginjal akut yang disebabkan oleh sengatan V affinis bisa diatasi menggunakan tatalaksana masing-masing untuk menyelamatkan nyawa korban. 

Masalahnya, ahli toksinologi—membidangi racun—pun langka di Indonesia. Pada saat ini Tri adalah satu-satunya pakar toksinologi di sini.

Langkanya penguasaan ilmu toksinologi dikombinasikan dengan efek yang baru muncul setelah 2-3 hari membuat petugas kesehatan seringkali melewatkan risiko kematian dari sengatan tawon ndas.

Sering kali, pasien yang adalah korban sengatan tawon ndas hanya diberi perawatan jalan dan akhirnya meninggal di rumah karena terlambat ditangani lebih lanjut.


Usulan Pusat Racun

Untuk menyelesaikan masalah ini, Tri mengusulkan untuk menjadikan penanganan kasus bahaya hewan sebagai program nasional. Bentuk perwujudannya adalah pendirian pabrik khusus pembuatan antivenom dan Pusat Racun atau Poison Center.

Baik pabrik maupun Pusat Racun akan menjadi wadah bagi para peneliti yang tertarik dengan bidang tersebut untuk meneliti dan mencari solusi terhadap racun hewan. 

Pusat Racun juga akan menjadi universitas dan rumah sakit rujukan khusus racun hewan agar kasus-kasus semacam ini bisa diselesaikan dengan cepat.

Kondisi geografi Indonesia dan kekayaan hayatinya yang unik, ujar Tri, membuat hewan-hewan beracun di sini cenderung berbeda dengan yang ada di luar negeri.

Tri pun menggarisbawahi pentingnya kemandirian Indonesia dalam menangani kasus racun hewan.

Kondisi geografi Indonesia dan kekayaan hayatinya yang unik, ujar Tri, membuat hewan-hewan beracun di sini cenderung berbeda dengan yang ada di luar negeri. Oleh karena itu, antivenom dan penanganannya juga bisa jadi berbeda.

“Kita punya rumah sakit untuk infeksi, rumah sakit untuk jantung, tapi rumah sakit untuk toksinologi itu belum ada,” kata Tri.

Menurut Tri, rumah sakit toksinologi sudah menjadi kebutuhan di Indonesia. 

"Karena, kalau ada kasus begini, kita rujuk ke mana? Kan rumah sakit olahraga juga ada. Jadi harusnya sudah waktunya kita punya rumah sakit toksinologi ini," tegas Tri.


Hilangnya habitat tawon

Peta serangan tawon 2017 di Klaten

Ada satu lagi yang perlu menjadi perhatian soal fenomena sengatan tawon ndas di Indonesia. Selain kurangnya pengetahuan petugas medis akan toksinologi, masifnya serangan tawon juga disebabkan oleh hilangnya habitat spesies ini.

Hari berkata, tawon ndas adalah spesialis dataran rendah atau kawasan dengan ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan air laut.

Tawon ndas adalah spesialis dataran rendah atau kawasan dengan ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan air laut.

Spesies ini tersebar di seluruh Asia Tropis, termasuk Indonesia, dan bisa hidup di berbagai tempat, seperti kawasan dan tepian hutan, tebing-tebing, bahkan permukiman warga.

Selain di Klaten, penampakan sarang tawon ndas di permukiman warga di Jawa Tengah juga telah dilaporkan di Solo, Sukoharjo, Boyolali, dan Sragen.

Meski demikian, Hari tidak sependapat bila ada yang mengatakan banyaknya kasus sengatan tawon yang sampai menelan korban jiwa di Klaten adalah karena ledakan populasi tawon ndas.

Hari menduga kuat, penyebab fenomena tersebut adalah semakin seringnya kontak antara manusia dan tawon ndas di Klaten. Dugaan tersebut muncul ketika Hari melakukan pemetaan serangan tawon ndas di Klaten.

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa serangga ini telah melingkupi seluruh dataran rendah di Klaten, khususnya Klaten timur.

Ketika dibandingkan dengan peta tata guna lahan, terlihat bahwa kondisi Klaten yang menyerupai kota kecil lainnya—yakni grup-grup permukiman dikelilingi lahan pertanian—memang sangat cocok bagi tawon ndas untuk berkembang biak.

Tawon ndas yang dulunya tinggal di padang-padang yang luas berpindah ke permukiman warga dengan karakter seperti itu, ungkap Hari, diduga karena tertarik oleh banyaknya mangsa, yakni larva hama pertanian, di sawah-sawah.

Selain itu, rumah warga memberikan perlindungan ekstra bagi serangga ini terhadap cuaca dan pemangsanya, yaitu burung-burung seperti elang madu asia.

"Kalau karakter Klaten seperti itu (grup pemukiman dikelilingi pertanian), kan burung-burung juga hilang. Jadi, pengontrol alaminya sudah tidak ada," ujar Hari.

Dengan semakin seringnya kontak antara manusia dan tawon, tidak heran bila muncul konflik seperti kasus belakangan ini.

Misalnya, anak-anak yang iseng mungkin akan melempar batu ke sarang tawon. Lalu, orang dewasa yang tidak punya kemampuan malah memindahkan sarang tawon seenaknya. Alhasil, tawon yang merasa terancam kemudian menyerang manusia.

Ini, ujar Hari, mirip dengan konflik antara manusia dengan harimau di Sumatera.

“Itu kan juga tidak bisa dibilang populasi harimau bertambah banyak, tetapi ia mencari makan di wilayah manusia. Bisa jadi tawon ini juga sama. Jadi, belum tentu outbreak (ledakan populasi), tetapi sekarang dia berpindah ke lingkungan manusia,” katanya.


Butuh pengendalian terpadu

Petugas Damkar Kabupaten Klaten saat melakukan proses evakuasi sarang tawon Vespa affinis di pohon, Jumat (11/1/2019) malam.


Menurut Hari, solusi dari fenomena sengatan tawon endas adalah pengendalian terpadu. Tujuannya, mengontrol populasi tawon ndas. Namun, pengendalian hayati ini membutuhkan riset lebih lanjut.

Hari menilai, pembasmian total bukan langkah yang bijak. Karena, tawon ndas juga memiliki peran ekologi yang penting sebagai pembasmi hama alami.

Bila tawon ndas menghilang, bisa jadi hama menjadi tidak terkontrol dan menganggu pertanian warga setempat.

Lagi pula, hilangnya tawon ndas juga akan memunculkan spesies lain yang menggantikan tempatnya—sebagai pemangsa serangga—sehingga tidak menyelesaikan masalah.

Tentunya, pengendalian terpadu ini juga harus mengutamakan keselamatan manusia, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Klaten. 

Para petugas damkar akan berupaya memindahkan sarang tawon ke tempat yang lebih aman. Namun, bila sarang berada di sekitar warga dan berpotensi menyerang, langkah petugas damkar adalah memusnahkannya.

Masyarakat diharapkan juga lebih sadar untuk tidak melakukan perilaku-perilaku yang membuat tawon ndas merasa terancam.

Sayangnya, kemampuan damkar tidak sebanding dengan kecepatan perkembangbiakan tawon ndas. Indikatornya, kasus sengatan masih terus berlanjut hingga kini.

Dalam pengendalian terpadu, lanjut Hari, perlu dipikirkan juga soal sanitasi lingkungan. Pasalnya, sisa-sisa daging dan fermentasi di tempat sampah akan menarik datangnya tawon ndas.

Masyarakat diharapkan juga lebih sadar untuk tidak melakukan perilaku-perilaku yang membuat tawon ndas merasa terancam, seperti melempari sarang tawon dengan batu.

Dalam kondisi populasi tawon ndas belum dapat dikontrol seperti sekarang, kata Hari, masyarakat harus bisa "hidup berdamai" dengan tawon.

Masyarakat juga dianjurkan untuk rutin mengecek keadaan rumah seminggu sekali. Mereka diperbolehkan memindahkan sarang bila ukurannya masih kecil dan populasinya sedikit tanpa menunggu petugas damkar.

Video : "Cara Ampuh Mengusir Tawon Ndas dari Rumah"

Namun, pemindahan tidak dianjurkan bila sarang sudah berukuran besar. Karena, populasi tawon di dalamnya bisa mencapai ribuan.

Terakhir, Hari berkata bahwa pengendalian terpadu bukan pekerjaan yang pendek dan mungkin butuh dua tahun atau lebih untuk terlaksana. Oleh karena itu, diperlukan juga dukungan dari pemerintah daerah setempat untuk menggerakkan seluruh potensinya.

“Jadi tidak hanya damkar yang memusnahkan sarang, tetapi juga dinas kesehatan, lingkungan hidup, dan dinas pertanian juga harus bergerak,” ujar Hari.

Sumber : https://sains.kompas.com, Sabtu, 12 Januari 2019, 19:14 WIB.

Sabtu, 12 Januari 2019

Ternyata Kondom Menjadi 'Bekal' Pasukan Elit TNI AL...


Pasukan berbaret merah di Indonesia bukan hanya Kopassus saja. Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL juga berbaret merah namun lebih marun.

Kopaska sendiri dibentuk pada tanggal 31 Maret 1962 oleh Presiden Soekarno demi mendukung Operasi Trikora merebut Irian Barat dari Belanda.

Mempunyai semboyan Tan Hana Wighna Tan Sirna yang berarti 'Tak Ada Rintangan yang Tak dapat Diatasi', Kopaska sering mendapat penugasan One Way Ticket atau boleh dikata misi bunuh diri.

Hal ini selaras kala pembentukannya memang para personil Kopaska bertugas menyusup dan menyerang pangkalan maupun kapal perang musuh dengan menggunakan torpedo berjiwa.

Para personil Kopaska mempunyai kualifikasi Tri Media. Mereka bisa melaksanakan berbagai macam operasi di segala medan, Udara, Darat dan Laut.

Misi penyusupan, penghancuran, intelijen, penculikan terhadap musuh dan demolisi bawah air menjadi makanan sehari-hari personil Kopaska.

Mengutip dari Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus, ketika operasi Trikora dilancarkan, pasukan Kopaska diberangkatkan ke Surabaya dari Jakarta.

Mereka lantas menuju gudang Penataran Angkatan Laut (PAL) untuk mengambil senjata dan perlengkapan tempur lainnya.

Namun sesampainya di sana isi gudang sudah raib yag ternyata senjata-senjata macam AK-47 sudah digunakan oleh pasukan lain dan sukarelawan yang hendak diterjunkan ke Irian Barat.

Tak pelak Kopaska harus terpaksa menggunakan senapan Madsen M-50 buatan Denmark yang tersisa di gudang.

Untuk melaksanakan Demolisi (peledakan) bawah air di medan operasi nantinya, personil Kopaska juga kebingungan karena kurangnya peralatan.

Untung mereka menemukan beberapa gulung kabel Firecord yang merupakan kabel pemicu bahan peledak.

Rupanya para personil Kopaska juga dibekali Kondom dalam jumlah banyak.

Ternyata fungsi kondom ialah untuk membungkus bahan peledak dan detonator ketika melakukan demolisi bawah air.

Terlihat nyeleneh dan sepele memang, namun harus diakui jika kondom sangat penting bagi Kopaska tatkala melaksanakan misi peledakan bawah air.

Bahkan saat melaksanakan misi Trikora, personil Kopaska sudah membayangkan bakal kesulitan jika tak ada kondom.

Editor: Rosalina Woso
Sumber: bangkapos.com

Kamis, 10 Januari 2019

Mengapa Anak Krakatau Masih Berbahaya? Berikut Penjelasan Ahli Gurung Berapi....


Pada 22 Desember 2018 pukul 21.03 WIB, sebuah bongkah seluas 64 hektare dari gunung api Anak Krakatau di Selat Sunda longsor di lautan setelah erupsi. 

Longsoran ini menciptakan tsunami yang menghantam wilayah pesisir di Jawa dan Sumatra, menewaskan setidaknya 426 orang dan melukai 7.202 orang. Data satelit dan rekaman helikopter yang diambil pada 23 Desember mengonfirmasi bahwa bagian sektor barat daya dari gunung api tersebut telah ambruk ke laut. 

Dalam sebuah laporan 29 Desember, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa tinggi Anak Krakatau turun dari 338 meter di atas permukaan laut ke 110 meter. 


Suatu simulasi peristiwa gunung berapi menunjukkan potensi gelombang 15 meter atau lebih secara lokal (merah) yang berasal dari situs Anak Krakatau. Giachetti et al. (2012) 

Saya dan kolega saya menerbitkan satu riset pada 2012 yang meneliti bahaya yang ditimbulkan situs ini dan menemukan bahwa, meski sangat sulit untuk memperkirakan jika dan kapan Anak Krakatau akan runtuh sebagian, karakteristik gelombang yang dihasilkan oleh peristiwa semacam ini tidak sepenuhnya tidak dapat diprediksi. 


Dipicu longsoran 

Meski sebagian besar tsunami memiliki asal-usul seismik (misalnya, tsunami di Aceh pada 2004 dan tsunami di Tohuku Jepang pada 2011), mereka juga dapat dipicu oleh fenomena yang terkait dengan letusan gunung berapi besar. 

Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). 

Tsunami yang disebabkan gunung berapi dapat dipicu oleh ledakan bawah laut atau oleh aliran piroklastik yang besar—campuran panas gas vulkanik, abu dan balok yang bergerak dengan kecepatan puluhan kilometer per jam–jika mereka masuk ke dalam badan air. 

Penyebab lainnya adalah ketika sebuah kawah besar terbentuk karena runtuhnya atap kamar magma–sebuah reservoir besar batuan panas di bawah permukaan bumi–setelah letusan. 

Di Anak Krakatau, massa besar yang meluncur dengan cepat yang menghantam air menyebabkan tsunami. Jenis peristiwa ini biasanya sulit diprediksi karena sebagian besar massa yang meluncur berada di bawah permukaan air. 

Video : "Longsoran Gunung Anak Krakatau Seluas 64 Hektar"

Tanah longsor vulkanik ini dapat menyebabkan tsunami besar. Tsunami yang dipicu oleh tanah longsor mirip dengan apa yang terjadi di Anak Krakatau yang terjadi pada Desember 2002 ketika 17 juta meter kubik (600 juta kaki kubik) material vulkanik dari gunung api Stromboli, di Italia, memicu gelombang setinggi 8 meter. Baru-baru ini pada Juni 2017, gelombang setinggi 100 meter dipicu oleh tanah longsor 45 juta meter kubik di Karrat Fjord di Greenland menyebabkan naiknya gelombang air laut secara cepat yang mendatangkan malapetaka dan menewaskan empat orang di desa nelayan Nuugaatsiaq yang terletak sekitar 20 km dari lokasi keruntuhan. 

Gambar satelit diambil pada 20 Agustus (kiri) dan 24 Desember (kanan) yang menunjukkan perubahan topografi Anak Krakatau (dalam lingkaran merah) sebelum dan sesudah letusan. Geospatial Information Authority of Japan, CC BY-NC-ND 

Kedua tsunami ini memiliki sedikit kematian korban karena terjadi di lokasi yang relatif terisolasi (Karrat Fjord) atau selama periode tanpa aktivitas wisata (Stromboli). Ini jelas tidak terjadi di Anak Krakatau pada 22 Desember. 


Anak Krakatau 

Bagian dunia ini berpengalaman dengan gunung berapi yang merusak. Pada 26-28 Agustus 1883, gunung api Krakatau mengalami salah satu letusan gunung berapi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, menghasilkan 15 meter (50 kaki) gelombang tsunami dan menyebabkan lebih dari 35.000 korban tewas di sepanjang pantai Selat Sunda di Indonesia. 

Hampir 45 tahun setelah letusan dahsyat pada 1883 ini, Anak Krakatau muncul dari laut di lokasi yang sama dengan bekas Krakatau, dan tumbuh mencapai sekitar 338 meter (1.108 kaki), ketinggian maksimumnya pada Desember 22, 2018.   



  • (a) Penampang Anak Krakatau dan kaldera letusan 1883. Bekas lokasi longsor yang digunakan untuk model digambar dalam warna hitam. Itu dihadapkan ke barat daya, membatasi volume yang runtuh sekitar 0,28 kilometer kubik. 
  • (b) Topografi sebelum tanah longsor disimulasikan. Kaldera yang dihasilkan dari letusan Krakatau 1883 jelas terlihat, demikian juga Anak Krakatau, yang dibangun di sisi timur laut kaldera ini. 
  • (c) Topografi setelah tanah longsor yang disimulasikan.Giachetti et al. (2012). Banyak tsunami yang terjadi selama letusan 1883. 

Bagaimana mereka dihasilkan masih diperdebatkan oleh ahli vulkanologi, karena beberapa proses vulkanik mungkin telah berlangsung secara berturut-turut atau bersama-sama. Saya meneliti masalah ini pada 2011 dengan rekan-rekan saya Raphaël Paris dan Karim Kelfoun dari Université Clermont Auvergne di Prancis, dan Budianto Ontowirjo dari Universitas Tanri Abeng di Indonesia.

Namun, waktu singkat yang tersisa dalam fellowhsip postdoctoral saya membuat saya beralih arah dari ledakan abad ke-19 untuk fokus pada Anak Krakatau. Pada 2012, kami menerbitkan sebuah makalah berjudul “Bahaya Tsunami terkait Keruntuhan Sisi Gunung Api Anak Krakatau, Selat Sunda, Indonesia.”

Penelitian ini dimulai dengan pengamatan bahwa Anak Krakatau sebagian terbangun di atas dinding kawah yang curam akibat letusan Krakatau 1883.

Karena itu kami bertanya pada diri sendiri, “bagaimana jika bagian dari gunung berapi ini runtuh ke laut?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami secara numerik mensimulasikan destabilisasi sebagian besar gunung berapi Anak Krakatau ke arah barat daya secara tiba-tiba, dan selanjutnya pembentukan serta perambatan tsunami.

Kami menunjukkan hasil yang memproyeksikan waktu kedatangan dan amplitudo gelombang yang dihasilkan, di Selat Sunda dan di pantai Jawa dan Sumatra.

Ketika memodelkan tsunami yang dipicu oleh tanah longsor, beberapa asumsi perlu dibuat mengenai volume dan bentuk tanah longsor, cara ia runtuh (dalam sekali ambrol versus dalam beberapa kegagalan), atau cara perambatannya.

Dalam studi itu, kami membayangkan “suatu skenario kasus terburuk” dengan volume 0,28 kilometer kubik material vulkanik yang runtuh–setara dengan sekitar 270 bangunan Empire State New York.

Kami memperkirakan bahwa semua pantai di sekitar Selat Sunda berpotensi terkena gelombang lebih dari 1 meter kurang dari 1 jam setelah kejadian. Sayangnya, tampaknya temuan kami tidak jauh dari apa yang terjadi pada 22 Desember: Waktu kedatangan dan amplitudo gelombang yang teramati berada dalam kisaran simulasi kami, dan ahli kelautan Stephan Grilli dan rekannya memperkirakan bahwa 0,2 kilometer kubik tanah benar-benar runtuh.

Sejak tanah longsor terjadi itu, telah terjadi letusan Surtseyan terus menerus. Ini melibatkan interaksi eksplosif antara magma gunung berapi dan air di sekitarnya, yang membentuk kembali Anak Krakatau karena terus perlahan meluncur ke barat daya. Indonesia tetap waspada. Para pejabat terus memperingatkan tentang potensi lebih banyak tsunami. Sementara menunggu, ada baiknya kembali merujuk ke riset yang telah melihat potensi bahaya yang disebabkan oleh gunung berapi. 

Nara Sumber : Thomas Giachetti, Assistant Professor of Earth Sciences, University of Oregon 
Editor : Shierine Wangsa Wibawa
Sumber : sains.kompas.com, 09 Januari 2019, 19:05 WIB.

Rabu, 09 Januari 2019

Mengenal Rsi Byasa (IAS Vyāsa) Filsuf Kuno Terbesar di India, Penulis Kisah Mahabarata.


Byasa (ˈvjɑːsə/; Sanskrit, व्यास; Vyāsa) (dalam pewayangan disebut Resi Abiyasa) adalah figur penting dalam agama Hindu. Ia juga bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda). Ia juga dikenal dengan nama Krishna Dvaipāyana (merujuk pada kulit gelap dan tempat kelahirannya).

Ada dua pandangan berbeda tentang tempat kelahirannya. Salah satu pandangan menunjukkan bahwa ia dilahirkan di distrik Tanahun di Nepal barat, di kotamadya Vyas zona Gandaki distrik Tanahun dan namanya, Ved Vyas, menamai tempat kelahirannya.

Pandangan lain menunjukkan bahwa ia dilahirkan di sebuah pulau di Sungai Yamuna dekat Kalpi , Uttar Pradesh, India.  Rsi Byasa  berkulit gelap dan karenanya dapat disebut dengan nama Krishna , dan juga nama Dwaipayana , yang berarti 'kelahiran di pulau'.

Rsi Byasa juga dianggap sebagai salah satu dari tujuh Chiranjivins (berumur panjang, atau abadi), yang masih ada menurut kepercayaan Hindu.

Rsi Byasa adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu Mahabharata.

Baca Juga :




Umat Hindu memandang Krishna Dwaipayana sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian (Caturweda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya "Pembagi Weda". Kata Wyasa berarti "membelah", "memecah", "membedakan". Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Menurut Wisnu Purana , "Veda Vyasa" adalah gelar yang diterapkan pada penyusun Veda yang merupakan avatar Wisnu; 28 orang dengan gelar ini telah muncul sejauh ini. Alasan untuk 28 orang ini adalah bahwa di setiap Yuga di Dwapara dari Manvantara diberikan dalam Kalpa diberikan (hari Brahma).

Veda Vyasa yang juga inkarnasi Dewa. Saat ini, kami berada di Sveta varaha kalpa Manu ke-7 yang disebut Vaivaswata Manu dan 27 Maha yuga telah selesai dan sedang dalam fase terakhir dari fase Yuga Kali Yuga ke-28.

Telah diperdebatkan apakah Wyasa adalah nama seseorang ataukah kelas para sarjana yang membagi Weda. Kitab Wisnupurana memiliki teori menarik mengenai Wyasa. Menurut pandangan Hindu, alam semesta adalah suatu siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang memiliki empat zaman, disebut Caturyuga (empat Yuga). Dwaparayuga adalah Yuga yang ketiga. Kitab Purana (Buku 3, Chanto 3) berkata:

Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa."

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa Brahma, Hyang Ganapati (Ganesa) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan Mahabharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya.


Setelah dua setengah tahun, Mahabharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orang tua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati).

Rsi Byasa juga menulis :
  • Delapan belas Purāṇa utama. Putranya, Shuka, adalah narator dari Purāṇa Bhagavat-Purāṇa utama.
  • Yoga Bhashya , sebuah komentar tentang Yoga Sutra Patanjali , dikaitkan dengan Rsi Byasa.
  • Sutra Brahma dikaitkan dengan Badarayana - yang membuatnya menjadi pendukung aliran permata dari filsafat Hindu, yaitu, Vedanta . Vaishnava mengacaukan riwayat Rsi Byasa dengan Badarayana karena pulau tempat Vyasa dilahirkan dikatakan telah ditutupi dengan pohon badara (jujube India / Ber / Ziziphus mauritiana ). Beberapa sejarawan modern, Namun, sarankan bahwa Rsi Byasa dan  Badarayana adalah dua kepribadian yang berbeda.

Mungkin ada lebih dari satu Rsi Byasa, atau nama Vyasa (Byasa) mungkin telah digunakan pada waktu-waktu tertentu untuk memberikan kredibilitas kepada sejumlah teks kuno.

Banyak literatur India kuno adalah hasil dari tradisi lisan yang panjang dengan signifikansi budaya yang luas daripada hasil dari seorang penulis tunggal. Namun, Rsi Byasa diangap berjasa dalam mendokumentasikan, menyusun, mengelompokkan, dan menulis komentar pada banyak literatur ini.


Kelahiran Rsi Byasa .

Menurut Wisnu Purana bahwa Shri Vyasa Deva (Krishna Dwaipayana Vyasa) atau Ved Vyasa, putra Parashara dan Satyavati dan penulis Mahabharata lahir di sebuah pulau di Yamuna di Kalpi .

Menurut legenda, dalam kehidupan sebelumnya, Rsi Byasa  adalah Sage Apantaratamas, yang lahir ketika Dewa Wisnu mengucapkan suku kata "Bhu". Dia adalah pemuja Dewa Wisnu. Sejak lahir, ia sudah memiliki pengetahuan tentang Veda, Dharmashastras dan Upanishad. Atas perintah Wisnu , ia dilahirkan kembali sebagai Vyasa (Rsi Byasa ).

Sage Parashara adalah ayah dari Vyasa dan cucu dari Sage Vashistha . Sebelum kelahiran Byasa, Parashara telah melakukan silih berat kepada Dewa Siwa . Shiva memberi berkah bahwa putra Parashara akan menjadi seorang Brahmarshi yang setara dengan Vashistha dan akan terkenal karena pengetahuannya.

Parashara memperanakkan Byasa  dengan Satyavati . Dia mengandung dan segera melahirkan Byasa. Byasa berubah menjadi orang dewasa dan pergi, menjanjikan ibunya bahwa dia akan datang padanya ketika dibutuhkan. Byasa  memperoleh ilmunya dari empat Kumara, Narada dan Dewa Brahma sendiri.



Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati, putri angkat dari nelayan Dusharaj menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu.

Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orang tua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.


Rsi Byasa, Penutur Kisah Mahabarata.

Dikatakan bahwa Rsi Byasa adalah titisan Dewa Wisnu yang datang di Dwaparayuga untuk membuat semua pengetahuan Veda tersedia dalam bentuk tertulis yang tersedia dalam bentuk lisan pada waktu itu.

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam Mahabharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu.

Video : "Mahabharata Show FULL ANTV ( 3 Oktober 2014 )"

Mahabharata (Sanskerta: महाभारत; Mahābhārata) adalah sebuah karya sastra kuno yang berasal dari India. Secara tradisional, penulis Mahabharata adalah Begawan Byasa atau Vyasa. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa (asta = 8, dasa = 10, parwa = kitab). Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.


Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena ia takut melihat wajah Byasa yang sangat hebat, maka ia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata bahwa anak Ambika akan terlahir buta. Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, ia menjadi takut namun tidak mau menutup mata sehingga wajahnya menjadi pucat. Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi. Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak mau menghadap Byasa, namun mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.

Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging tersebut dipotong menjadi seratus bagian. Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Byasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga ia tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri. Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa. Tak lama kemudian Arjuna beserta para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan senjata sakti Brahmastra. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.


Rsi Byasa Versi Pewayangan Jawa, Indonesia.


Dalam pewayangan Jawa, tokoh Byasa disebut dengan nama "Abyasa", "Kresna Dipayana", "Sutiknaprawa", atau "Rancakaprawa". Kisah kehidupannya dikembangkan sedemikian rupa oleh para dalang sehingga cenderung berbeda dengan versi aslinya.

Abyasa merupakan putra pasangan Parasara dan Durgandini. Dikisahkan Durgandini menderita bau amis pada badannya semenjak lahir. Ia diobati Parasara seorang pendeta muda, di atas perahu sampai sembuh. Keduanya saling jatuh hati dan melakukan sanggama, sehingga lahir Abyasa.



Abyasa tidak lahir sendiri. Parasara juga mencipta perahu, penyakit, dan alat-alat pengobatannya menjadi manusia berjumlah enam, yaitu Setatama, Rekathawati, Bimakinca, Kincaka, Rupakinca, dan Rajamala. Semuanya dipersaudarakan dengan Abyasa.

Durgandini kemudian menjadi permaisuri Sentanu, raja Hastina. Ia melahirkan Citranggada dan Citrawirya. Masing-masing secara berturut-turut naik takhta menggantikan Sentanu. Namun, keduanya masih muda ketika meninggal. Citranggada meninggal saat belum menikah, sedangkan Citrawirya meninggal saat belum memiliki putra.

Durgandini kemudian memanggil Abyasa untuk menikahi kedua janda Citrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika. Saat itu ia baru saja bertapa sehingga keadaan tubuhnya sangat buruk dan mengerikan. Ambika ketakutan saat pertama kali bertemu sampai memejamkan mata. Abyasa meramalkan kalau Ambika kelak melahirkan putra buta. Sementara itu, Ambalika memalingkan muka karena takut. Abyasa meramalkan kelak Ambalika akan melahirkan bayi berleher cacad. Abyasa juga menikahi dayang Ambalika bernama Datri. Perempuan itu ketakutan dan mencoba lari. Ia pun diramal kelak akan melahirkan putra berkaki pincang.

Akhirnya, Ambika, Ambalika, dan Datri masing-masing melahirkan putra yang diberi nama Dretarastra, Pandu, dan Widura.


Rsi Byasa  Sebagai Raja dan Pendeta.

Pewaris sah takhta Hastina sesungguhnya adalah Bisma putra Sentanu dari istri pertama. Namun ia telah bersumpah tidak akan menjadi raja, sehingga sebagai pengganti Citrawirya, Abyasa pun naik takhta sampai kelak ketiga putranya dewasa. Setelah tiba saatnya, Abyasa pun turun takhta digantikan Pandu sebagai raja Hastina selanjutnya. Ia kembali menjadi pendeta di pertapaan Ratawu yang terletak di pegunungan Saptaarga. Abyasa merupakan pendeta agung yang sangat dihormati. Tidak hanya keluarga Hastina saja yeng menjadikannya tempat meminta nasihat, namunjuga dari negeri-negeri lainnya.

Versi pewayangan mengisahkan kematian Abyasa sesaat sesudah perang Baratayuda usai, yaitu ketika keturunannya yang bernama Parikesit cucu Arjuna dilahirkan. Konon, atas jasa-jasanya selama hidup di dunia, datang kereta emas dari kahyangan menjemput Abyasa. Ia pun naik ke surga bersama seluruh raganya.

Nama Dipayana kemudian diwarisi oleh Parikesit.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Vyasa
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Byasa
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Mahabharata

Senin, 07 Januari 2019

Misi Pendaratan di Bulan Milik China Bawa Benih Kentang, Untuk Apa?


China telah meluncurkan misi mereka yang pertama untuk mendaratkan sebuah pesawat robotik di sisi jauh Bulan. Kabar ini didapatkan dari media China. Misi yang diberi nama wahana Chang'e-4 itu akan mengupayakan pendaratan di kawah Von Kármán, yang terletak di bagian Bulan yang tidak pernah menghadap ke Bumi. 

Wahana itu diluncurkan dengan roket Long March 3B dari Xichang Satellite Launch Center. Pendaratannya sendiri baru akan terjadi sekitar Januari. Kawah Von Kármán menarik perhatian para ilmuwan karena terletak di dalam wilayah terdampak benturan tertua dan terbesar di Bulan - Cekungan Kutub Selatan-Aitken. 

Kawasan ini diduga terbentuk oleh dampak benturan asteroid raksasa miliaran tahun lalu. Misi ini akan mendaratkan dua wahana, terdiri dari wahana statis dan wahana penjelah untuk merumuskan geologi dan komposisi batuan dan tanah di kawasan itu. 

Dari bumi kita hanya melihat satu "wajah" Bulan karena fenomena yang disebut "tidal locking". Ini karena dalam rotasinya, Bulan membutuhkan waktu yang sama dengan saat menyelesaikan satu orbit Bumi. 


Meskipun sering disebut sebagai "sisi gelap", wajah Bulan ini juga diterangi oleh Matahari dan memiliki fase yang sama dengan sisi yang dekat. "Gelap" dalam konteks ini artinya tidak terlihat dari Bumi. 

Sisi jauh Bulan terlihat agak berbeda: memiliki kerak yang lebih tebal dan lebih tua dan dipenuhi lebih banyak kawah. Ada juga beberapa "mare" - suatu lautan basalt gelap yang tercipta oleh aliran lava - yang terlihat di sisi dekat Bulan. 

Benturan kuat yang menciptakan Cekungan Aitken Kutub Selatan mungkin menembus kerak hingga lapisan mantel Bulan. 

Instrumen Chang'e-4 dapat memeriksa apakah itu yang terjadi, dan dengan demikian akan mengungkap sejarah awal dari satu-satunya satelit alami kita. 


Bawa Benih Kentang. 


Misi ini juga akan mengidentifikasi "lingkungan radio" di sisi jauh bulan. Untuk itu, misi ini dilengkapi dengan sebuah ujicoba yang dirancang untuk meletakkan dasar bagi penciptaan teleskop astronomi radio masa depan di sisi jauh, yang terlindung dari kebisingan radio Bumi. 

Pendarat statis akan membawa wadah seberat 3kg yang membawa bibit tanaman kentang dan arabidopsis untuk melakukan percobaan biologis. 

Percobaan "biosfer bulan mini" itu dirancang oleh 28 universitas Cina. "Kami ingin mempelajari respirasi benih dan fotosintesis di Bulan," kata Liu Hanlong, direktur utama percobaan dan wakil rektor Universitas Chongqing, kepada kantor berita pemerintah Cina, Xinhua beberapa waktu lalu. 

Xie Gengxin, ilmuwan yang mengepalai percobaan ini mengatakan, "Kita harus menjaga suhu di 'biosfer mini' dalam rentang dari 1 derajat hingga 30 derajat, dan mengendalikan kelembaban dan nutrisi dengan baik." 

"Kita akan menggunakan tabung untuk mengarahkan cahaya alami di permukaan Bulan ke dalam kaleng untuk membuat tanaman tumbuh," sambungnya. 

Karena dua wahana itu mendarat di sisi jauh Bulan, artinya mereka tidak memiliki garis pandang dengan planet kita. Dengan begitu, keduanya harus mengirim data ke Bumi melalui satelit relay bernama Queqiao, yang diluncurkan oleh China pada bulan Mei 2018. 

Desain wahana ini didasarkan pada pendahulunya, Chang'e-3, dengan berbagai modifikasi penting. Chang'e-4 berhasil mendaratkan wahana ke wilayah Mare Imbrium Bulan pada tahun 2013. 


Ambisi China 

Video "What Is China Doing In Space?"

Wahana pendarat kali ini membawa dua kamera; sebuah eksperimen radiasi buatan Jerman yang disebut LND; dan spektrometer yang akan melakukan pengamatan astronomi dengan radio frekuensi rendah. 

Sedangkan wahana penjelajah akan membawa kamera panorama; sebuah radar yang akan menyelidiki permukaan bulan; sebuah spektrometer pencitraan untuk mengidentifikasi mineral; dan sebuah eksperimen untuk menguji interaksi antara angin matahari (arus partikel energi dari Matahari) dengan permukaan bulan. 

Misi ini adalah bagian dari program China dalam eksplorasi Bulan yang lebih besar. 

Misi Chang'e pertama dan kedua dirancang untuk mengumpulkan data dari orbit, sementara yang ketiga dan keempat dirancang untuk operasi di permukaan Bulan. 

Chang'e-5 dan 6 adalah misi untuk membawa sampel batuan dan tanah bulan ke laboratorium di Bumi. 

Editor : Resa Eka Ayu Sartika
Sumber : BBC Indonesia, dikutip dari sains.kompas.com, 09 Desember 2018, 10:15 WIB