Rabu, 02 September 2015

Misteri Dibalik Pembangunan Candi Borobudur.


Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia. Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!…


Design Candi



Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa. Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.
Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi (Sampurno, 1966).


Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.


Material Penyusun Candi.

Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.

[​IMG]

Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis andesit dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.


Misteri Cara Membangun Candi.




Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. Dia mengatakan

“Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.”

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:

  • Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
  • Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
  • David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
  • Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.
Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.



Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:

  1. Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
  2. Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
  3. Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.
  4. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk
  5. Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.
  6. Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi
  7. Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
  8. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.
  9. Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
  10. Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
  11. Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
  12. Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.

Melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:

  1. Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalahproses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.
  2. Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berartiproses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.
  3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari.Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.
  4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.
  5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.
  6. Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.


Kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Aristektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!

Sumber : http://forum.viva.co.id, 10:03 AM.

Selasa, 01 September 2015

Inilah 5 Penyebab Kuota Internet Anda Cepat Habis


Kehabisan kuota layanan internet bisa menakutkan bagi sebagian orang. Ketika kuota internet habis, sejumlah pilihan untuk berkomunikasi pun putus. 

Anda tidak bisa mengirim pesan melalui WhatsApp, menelepon via Line, atau mengecek timeline media sosial kawan.

Tanpa koneksi data, hiburan digital pun tak bisa dinikmati. YouTube, online game dengan multiplayer, dan streaming musik tak bisa dilakukan. Smartphone seolah lumpuh total.

Beberapa penyedia layanan internet menyediakan paket data unlimited untuk mengatasi masalah kuota ini, tetapi tentu saja memiliki keterbatasan. Setelah batas wajar pemakaian paket unlimited tercapai, koneksi akan jadi sangat lambat.

Agar tidak terjebak masalah kuota internet, Anda sebaiknya merencanakan pemakaian data pada smartphone. Misalnya dengan memperhatikan, seperti apakah gaya pemakaian yang sangat berpengaruh pada besaran konsumsi data. 


Berikut ini lima hal yang bisa membuat kuota internet Anda cepat habis, seperti dilansir KompasTekno dari Cnet, Minggu (11/1/2015).


1. Unggah ke YouTube

Mengunggah video ke YouTube bisa memakan banyak kuota internet. Namun, semua ini tergantung pada setting yang diterapkan pengguna dan berbagai faktor lain. Rekaman video beresolusi high-definition (HD) bisa menghabiskan jatah internet hingga 200 MB per menit.

Bayangkan bila setiap bulan Anda mengunggah lima video HD berdurasi 1 menit dan kuota internet Anda hanya 1 GB per bulan. Karena itu, ada baiknya Anda menggunakan koneksi WiFi saja saat ingin mengunggah video seperti ini.


2. Obrolan video

Melakukan obrolan video via Skype atau FaceTime tergolong sebagai aktivitas yang membutuhkan banyak bandwidth. Namun, besaran konsumsi tersebut berbeda-beda tergantung pada aplikasi serta resolusi video yang digunakan.

Obrolan melalui video, umumnya, mengonsumsi bandwidth 3 MB per menit. Jika Anda berniat menghemat konsumsi data, sebaiknya kurangi sesi obrolan menggunakan video.


3. Online game 

Game, seperti Two Dots atau Words With Friend, tidak memakan banyak kuota internet. Kedua game ini hanya menghabiskan beberapa KB saja per menit sehingga tidak boros. 

Namun, game jenis real-time action, seperti Asphalt 8 atau Modern Combat 5: Blackout berbeda. Dua game yang disebut belakangan diperkirakan membutuhkan 1 MB data per menit. Permainan dalam durasi yang panjang akan semakin meningkatkan konsumsi data.


4. Streaming musik

Layanan streaming musik, seperti Guvera atau Rdio, memang sangat praktis. Anda bisa mendengarkan musik di mana pun asalkan ada koneksi internet. Anda juga tidak perlu menyediakan ruang untuk menyimpan file musik tersebut dalam kartu memori.

Namun, sisi lainnya, konsumsi data membengkak. Bila Anda memutar musik dengan resolusi 320 Kbps, total kuota internet yang dihabiskan adalah 2,4 MB per menit. Dalam durasi satu jam, Anda sudah menghabiskan 115 MB.


5. Streaming video

Saat ini, ada berbagai layanan streaming video yang memudahkan orang menemukan trailer film terbaru, film utuh, atau sekadar video klip penyanyi favorit. Sebut saja YouTube, iTunes, Vimeo, dan Hulu.

Hanya satu hal yang tidak boleh Anda lupa: streaming video merupakan penyerap paling "kejam" terhadap kuota internet. Masalahnya, konsumsi data streaming video bisa mencapai 50 MB per menit.

Bila kuota internet yang Anda pilih terbatas, dan Anda terbiasa menonton video-video tertentu secara berulang-ulang, lebih baik simpan file video secara offline.

Penulis: Yoga Hastyadi Widiartanto 
Editor: Reza Wahyudi
Sumber: CNET, dikutip dari : tekno.kompas.com, Selasa, 13 Januari 2015, 21.01 WIB.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Pemerintah RI "Coba-coba" Membatasi Kemerdekaan Pers ?


Satu lagi kebijakan pemerintah dianulir. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mencabut Surat Edaran yang berisi peraturan  yang membatasi atau menyeleksi jurnalis asing untuk menjalankan kegiatan jurnalistiknya di Indonesia. Umur surat itu pun baru hitungan jam, namun cepat ?munculkan keresahan di kalangan media massa.  

"Sore ini (Kamis, 27 Agustus 2105) kami cabut Surat Edaran tersebut. Sebagai Mendagri, saya siap salah," kata Menteri Tjahjo melalui keterangan tertulis kepada wartawan pada Kamis, 27 Agustus 2105.

Dia mengaku telah menyampaikan perihal pencabutan Surat Edaran itu kepada Presiden Joko Widodo dan pihak terkait, seperti Menteri Luar Negeri dan Kepolisian. Pada pokoknya, peraturan itu segera dinyatakan tidak berlaku.

Menteri Tjahjo juga berterus terang bahwa pembatalan kebijakan itu memang akibat protes keras sejumlah kalangan, terutama kalangan pers nasional. Niatnya baik: mengatur aktivitas jurnalis asing di Indonesia, bukan untuk membatasi atau mengekang kebebasan pers. Tapi belakangan diakui agak bertentangan dengan prinsip kebebasan pers di Indonesia.

Namun dia mengoreksi, kebijakan itu bukan kesalahan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo, sebagai pejabat yang menerbitkan surat itu. "Ini salah saya, bukan salah Dirjen Politik saya."


Polemik

Maklumat Menteri muncul dalam waktu yang relatif singkat, belum tiga hari sejak surat itu diterbitkan dan dikirimkan kepada seluruh pemerintah daerah. Bahkan, pada Kamis siang, Menteri masih bersemangat mengoreksi dan mengklarifikasi segala tuduhan kepadanya yang menyebut pemerintah sedang berupaya membatasi jurnalis asing.

Menteri ketika itu menegaskan tak ada niat sedikit pun untuk membatasi --apalagi mengekang-- jurnalis asing maupun nasional. Pemerintah pun sangat menghormati kemerdekaan pers sebagai bagian dari salah satu pilar demokrasi. Namun Pemerintah merasa perlu mengatur aktivitas jurnalis asing. Pengaturan itu, di antaranya, setiap jurnalis asing wajib mendapatkan izin dari Tim Koordinasi Kunjungan Orang Asing di Kementerian Luar Negeri sebelum menjalankan aktivitasnya di Indonesia.

Prosedur itu, Menteri menjelaskan, hanya perizinan untuk berkegiatan jurnalistik di Indonesia. Mereka yang telah mendapatkan izin, bebas berkegiatan atau melakukan reportase apa pun, tanpa diawasi khusus oleh aparat.

"Pemerintah tidak akan mungkin dan tidak akan mengikuti kegiatan reporter atau kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh jurnalis asing di Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang ramah dan bebas," katanya.


Prosedur berlapis

Sebenarnya memang tak ada pernyataan atau klausul yang menyebutkan dengan lugas tentang pembatasan bagi aktivitas jurnalis asing di Indonesia. Menteri pun telah menjamin tak ada pengawasan khusus kepada jurnalis asing saat beraktivitas di Indonesia sepanjang mereka telah mengantongi izin.

Prosedur perizinan pun, kata Menteri, tak berbelit, bakal dibuat sederhana alias dipermudah. Lagi pula, jurnalis asing ibarat tamu yang wajib dihormati, sebagaimana tradisi dan adat istiadat bangsa Indonesia.

Kementerian Dalam Negeri juga memerintahkan kepada seluruh pemerintah daerah agar terbuka terhadap pers Indonesia maupun pers asing untuk dapat menjalankan tugasnya. Itu adalah bagian dari komitmen Pemerintah mendukung dan menghormati kebebasan pers, bukan membatasinya.

Tapi, melihat prosedur perizinan sebagaimana termaktub dalam Surat Edaran Mendagri tentang penyesuaian prosedur kunjungan jurnalistik ke Indonesia, tak keliru-keliru amat kalau disebut pembatasan.

Dalam surat itu dijelaskan: jurnalis asing serta kru film yang hendak melakukan kegiatan di Indonesia harus memiliki izin dari Tim Koordinasi Kunjungan Orang Asing di Kementerian Luar Negeri dan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri.

Tim Koordinasi Kunjungan Orang Asing (TKKOA) adalah sejenis satuan tugas di Kementerian Luar Negeri. Tim itu terdiri atas berbagai lembaga, seperti Badan Intelijen Negara, Kepolisian, Direktorat Jenderal Imigrasi, dan beberapa unsur pengawasan terkait.

Jurnalis asing masih harus mengantongi izin pemerintah daerah jika aktivitas jurnalistik mereka berada di kota atau kabupaten di Tanah Air. Mereka kudu memiliki izin yang diterbitkan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) tingkat provinsi, kabupaten, atau kota atas kegiatan mereka.

Ketentuan serupa berlaku juga buat jurnalis asing, kru film asing, serta mitra lokal, seperti lembaga swadaya masyarakat asing, yang sudah berada di Indonesia. Mereka diminta untuk segera melaporkan kegiatannya kepada Bakesbangpol. Mereka wajib menunjukkan rekomendasi dan tanda pengenal yang resmi diterbitkan perwakilan Indonesia di luar negeri.

Berbagai ketentuan itu dapat diringkas begini: seorang jurnalis asing harus memperoleh izin dari TKKOA kalau ingin meliput kegiatan apa pun di Indonesia. Kalau tidak, dia akan dicegat di bandara atau pelabuhan dan dipulangkan ke negaranya.

Jurnalis asing yang telah mengantongi izin dari TKKOA, wajib permisi dulu kepada pemerintah daerah, misalnya, hendak meliputi agenda tahunan wisata di Toraja, Sulawesi Selatan. Jika Pemerintah Kabupaten Tana Toraja menolak memberi izin, jurnalis asing itu harus secepatnya pulang ke kampung halamannya.


Berhak mengusir

Prosedurnya sepintas tampak cukup sederhana. Benar yang disebut Menteri: tak berbelit. Namun ada hal yang perlu digarisbawahi: ada petunjuk tersirat bahwa TKKOA maupun Pemerintah Daerah diberi kewenangan mutlak untuk menentukan jurnalis mana yang diizinkan atau sebaliknya.

Artinya, TKKOA berhak menolak permohonan izin jurnalis A untuk menjalankan kegiatan jurnalistik di Indonesia. Begitu juga, umpamanya, Bakesbangpol Pemerintah Kabupaten Tana Toraja diperkenankan melarang jurnalis A meski dia telah mendapatkan izin dari Pemerintah Pusat.

Bagi jurnalis asing yang sudah terlanjur berada di Indonesia, misalnya, dua otoritas itu dibolehkan mengusir atau mendeportasi dengan alasan dan pertimbangan tertentu. Bisa saja pemerintah daerah membuat alasan demi menjaga keamanan dan ketertiban menjelang penyelenggaraan pilkada.

Dalam kalimat yang lebih pendek: Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah akan memilah dan memilih atau meyaring jurnalis asing yang boleh atau tidak boleh berkegiatan di Indonesia. Pokoknya di situ.

Menteri Tjahjo sebelumnya bahkan melegitimasi Surat Edaran yang diterbitkan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Soedarmo. "...Dirjen Politik dan Pemerintah Umum memang tugasnya untuk melakukan koordinasi demi menjaga stabilitas nasional dan daerah," katanya.


Jurnalis atau intelijen

Soedarmo tak menerangkan dengan terperinci seputar latar belakang atau alasan penerbitan Surat Edaran itu. Dia cuma menyebut, salah satuya --entah sebetulnya ada berapa-- ialah banyak jurnalis asing atau kru film yang datang ke Indonesia hanya menggunakan visa kunjungan, tapi mereka melakukan kegiatan lain. Misalnya, menggunakan visa wisata, mereka datang ke daerah rawan konflik dan mengumpulkan orang untuk mencari informasi tertentu.

Hal itu barangkali merujuk pada peristiwa penahanan dua jurnalis Perancis di Papua. Kedua jurnalis, Thomas Charles Dandois dan Valentine Bourrat, akhirnya dijatuhi hukuman penjara 2 bulan 15 hari dan denda uang Rp2 juta pada 24 Oktober 2014 oleh Pengadilan Negeri Jayapura, Papua. Mereka didakwa melanggar ketentuan imigrasi dan melakukan pekerjaan jurnalisme meski hanya memiliki visa turis.

Menurut Soedarmo, aturan perizinan bagi jurnalis asing itu sebagai salah satu bentuk bahwa Indonesia tegas menjaga kedaulatan negara. Dia mengklaim negara lain pun melakukan hal serupa kepada jurnalis asing. Tak cuma Indonesia. Tujuannya bukan untuk membatasi kebebasan pers, melainkan menjaga kedaulatan negara.

Argumentasi Soedarmo diperkuat pernyataan Menteri Tjahjo. Katanya, tak semua jurnalis asing berniat menjalankan kegiatan jurnalistik di Indonesia. Ada di antara mereka yang mengaku atau beridentitas pers, tetapi sejatinya adalah mata-mata alias intelijen.

"Jangan lihat dia wartawan saja, di sakunya itu apa, intel-kah dia, harus clear (jelas). Apalagi dia masuk ke daerah rawan," kata Menteri beberapa jam sebelum maklumat pencabutan surat edaran itu.

Dia mengingatkan bahwa memang tak semua jurnalis asing patut dicurigai sebagai agen rahasia. Tentu ada jurnalis yang memang bekerja menjalankan kegiatan jurnalistik. Peraturan itu hanya sebagai langkah antisipatif untuk mencegah kalau ditemukan jurnalis asing yang patut dicurigai sebagai mata-mata.

Prosedur perizinan itu melibatkan juga Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang membawahi, di antaranya, Badan Intelijen Negara, Kepolisian, dan Tentara Nasional Indonesia. "Izin harus clear (jelas) dulu. Kami konsultasi dengan Menkopolhukam. Jangan sampai dia ternyata agen intelijen," ujarnya.


Kemerdekaan pers


Patut dipuji langkah Menteri yang segera mencabut peraturan itu. Kalau tidak, peraturan itu dapat menjadi ancaman serius bagi kemerdekaan pers di Indonesia. Mulanya hendak diujicobakan kepada jurnalis asing. Disusun prosedur sedemikian rupa sehingga tampak sekadar urusan izin, tapi sesungguhnya membatasi. Kelak ketika prosedur itu dianggap efektif, bukan tak mungkin diterapkan pada pers nasional.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers telah ditegaskan "...kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapat ... harus dijamin."

Uji coba Pemerintah membatasi aktivitas pers, termasuk jurnalis asing --meski dengan dalih hanya untuk mengatur-- bertentangan dengan Pasal 1 Ayat 8 Undang-Undang itu.

Disebutkan: "Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak mana pun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik."

Dalam aturan penjelasan pada Undang-Undang itu ditegaskan bahwa "Penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran tidak berlaku pada media cetak dan media elektronik." Ketentuan itu berlaku tak hanya bagi pers nasional, melainkan juga pers asing.

Ketua Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Iman D. Nugroho, upaya Pemerintah membatasi jurnalis asing telah mencederai kebebasan pers di Indonesia. Beruntung surat edaran itu dibatalkan. Kalau tidak, Pemerintah justru mengukuhkan ketertutupan akses bagi setiap jurnalis asing yang hendak meliput atau melakukan dokumentasi. 

Iman mengingatkan pernyataan Presiden Joko Widodo pada 9 Mei 2015 lalu, saat berkunjung ke Papua, yang menyatakan Papua terbuka untuk jurnalis asing yang hendak meliput. Pernyataan Presiden tentu dapat dimaknai tak hanya berlaku di Papua, melainkan seluruh wilayah Indonesia.

Klub Koresponden Asing di Jakarta (JFCC) mengaku sempat khawatir dengan kebijakan itu. Pembatasan jurnalis asing dianggap seperti membawa keadaan kembali pada zaman rezim Soeharto yang otoriter dan menodai transisi Indonesia menuju demokrasi.

JFCC tak memungkiri ada wartawan asing yang masuk ke Indonesia hanya dengan menggunakan visa turis. Tetapi, hal itu terpaksa mereka lakukan mengingat sulitnya mengurus perizinan yang diterapkan pemerintah Indonesia untuk menyetujui permintaan visa jurnalis. 

Penulis : Oleh : Mohammad Arief Hidayat
Sumber : fokus.news.viva.co.id, Jum'at, 28 Agustus 2015, 00:18 WIB.

Jumat, 28 Agustus 2015

Menangkal Penjajahan Siber Indonesia, Bakal dibentuk Badan Cyber Nasional Untuk Melindungi Aset Penting RI !

Menangkal Penjajahan Siber Indonesia

Badan Cyber Nasional (BCN) memang cukup menyita perhatian besar dari masyarakat Indonesia. Meski secara resmi badan ini belum lahir, BCN sudah menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat. 

Pro-kontra sudah muncul saat pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) akhir tahun lalu, pertama kali mewacanakan badan ini ke publik. Kontroversi awal yang mengemuka terkait BCN ini adalah perlu dan tidaknya BCN. 

Namun, setelah beberapa bulan bergulir, tampaknya pemerintah, dengan koordinator Kemenpolhukam sudah bulat ingin segera melahirkan BCN. Pertimbangannya jelas, melindungi aset penting Indonesia dari potensi serangan siber. Bila tak segera disikapi, serangan siber sangat berpotensi merugikan perekonomian di Indonesia.

Belakangan, isu yang membetot perhatian publik seputar BCN, yaitu adanya kabar keterlibatan badan intelijen asing dalam pembentukan BCN. Kabar yang merebak, Kemenkopolhukam akan meminta bantuan Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA).


Sontak hal ini membuat semua kalangan bereaksi. Alasannya jelas, unsur asing sangat ditakuti bisa merugikan pertahanan Indonesia. 

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai, pemerintah tak perlu melibatkan pihak asing dalam pembentukan BCN. Menurut dia, Indonesia sudah mampu berdiri secara mandiri, terlebih dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

Heru mengatakan, masalah yang dihadapi oleh Indonesia itu bagaimana caranya mengamankan data dalam negeri dari serangan luar yang berusaha untuk mencuri data-data Indonesia.

"Memang, ini yang belum ada di Indonesia. Seperti waktu itu kita perang cyber dengan negara (lain), kan pemerintah nggak berdaya, malah anak-anak muda yang berjibaku hingga malam dan pagi hari meruntuhkan situs-situs penting," ujarnya kepada VIVA.co.id, Selasa 25 Agustus 2015.

Terlebih lagi, kata dia, saat ini Indonesia tak memiliki tentara siber. Untuk itu, fokus BCN, menurut dia, adalah mempertahankan dari serangan siber luar negeri, bukan diperuntukkan lainnya. Apalagi, bekerja sama dengan negara asing, sebab ujungnya akan terjadi penyadapan.

"Karena, ujungnya kita yang disadap, digali informasinya dengan teknologi seperti big data yang sedang ramai," kata Heru. 

Kabar pelibatan badan intelijen asing itu juga menimbulkan reaksi dari Senayan. Komisi I DPR, yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika serta intelijen, turut gusar dengan kabar tersebut. 

Anggota Komisi I, Sukamta, mengatakan, komisinya segera menjadwalkan pemanggilan Menkopolhukam dan Panglima TNI, guna mengonfirmasi kabar campur tangan intelijen asing tersebut. 

"Saya juga mendapat info di media sosial seperti itu bahwa pembentukan Badan Cyber Nasional ini akan dilakukan melalui kerja sama dengan Amerika Serikat. Badan ini nanti kewenangannya juga bisa masuk ke wilayah privasi warga negara seperti yang dilakukan National Security Agency (NSA) di Amerika Serikat," ujar Sukamta, dalam keterangnnya kepada VIVA.co.id, Selasa 25 Agustus 2015. 

Anggota DPR dari daerah pemilihan DI Yogyakarta itu mengatakan, Komisi I juga akan menanyakan apakah nantinya BCN akan bekerja sama dengan NSA dalam memantau percakapan privasi masyarakat.

Hal tersebut, menurut dia, perlu dipertegas. Sebab beberapa waktu lalu perusahaan BUMN telekomunikasi, Telkom, telah menjalin kerja sama e-goverment dengan perusahaan telekomunikasi asing, Singtel Singapura. Kerja sama itu dikhawatirkan akan menyedot data pemerintahan. 

Sukamta mengatakan, alasan lebih jauh untuk menghindari campur tangan negara asing dalam BCN yaitu potensi penjajahan siber. Kekhawatiran ini, menurut dia, sangat logis melihat kekuatan siber antara Indonesia dan Amerika Serikat sangat jomplang.

"Kemampuan siber kita dengan Amerika jelas tidak seimbang. Kan malah repot kalau seperti itu (penjajahan siber) nantinya," kata Sukamta.

Terkait infrastruktur telekomunikasi, internet sampai satelit yang dikuasai asing, bagi Sukamta, bukan menjadi halangan Indonesia untuk berdaulat dalam pengelolaan siber nasional. Sebab, menurut dia, kemampuan SDM Indonesia secara teknis sudah mumpuni untuk mengelola siber nasional.


Bantahan pemerintah.


Terkait hal ini, Menkopolhukam Luhut B Panjaitan membantah dengan tegas rencana pemerintah akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam pembentukan BCN dan membuat sistem keamanan siber. Luhut justru mengatakan sistem keamanan siber bertujuan untuk memperkuat kedaulatan bangsa. 

“Sistem cyber yang akan dibentuk bukan malah untuk memata-matai warga negara sendiri,” kata Luhut dikutip dari situs Kepala Staf Presiden, ksp.go.id. Luhut pun saat ini tercatat masih menjabat kepala Kantor Staf Kepresidenan.

Luhut mengakui, untuk membentuk sistem dan BCN tersebut memang tidak bisa hanya Kemenpolhukam. Kementeriannya perlu menggandeng berbagai lembaga informasi pemerintah, semisal, Lembaga Sandi Negara, deputi siber di berbagai kementerian lembaga, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika maupun pakar IT. 

Tekad itu sekaligus menampik isu yang beredar bahwa Indonesia bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk membuat sistem keamanan siber. Masyarakat sudah telanjur diresahkan dengan kabar Kantor Staf Presiden akan menggandeng CIA, dalam mengawasi arus komunikasi warga lewat sistem Big Data.
Sistem itu dirumorkan bakal mampu menyedot pembicaraan pribadi di aplikasi WhatsApp, BlackBerrry Messenger, dan program jejaring sosial lain.

“Justru, pembangunan cyber security nasional ini dimaksudkan untuk menangkis serangan, khususnya dari luar yang bisa memperlemah bangsa,” kata Luhut.

Masyarakat, kata Luhut, tak perlu khawatir jika melalui sistem big data, akan dipakai untuk memantau percakapan masyarakat dalam aplikasi sosial. Sebab, big data merupakan istilah umum untuk himpunan data dalam jumlah besar, rumit, dan tak terstruktur. Untuk itu, sulit ditangani kalau hanya menggunakan manajemen basis data. 

“Jadi, tidak nyambung dengan isu sedot data,” kata Luhut.

Bantahan yang sama juga diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Menurut dia, memang banyak yang dilibatkan untuk membentuk sistem siber ini.

"Bukan cuma pemerintah, tapi multistakeholder lokal, termasuk di dalamnya Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi). Tidak ada kerja sama dengan CIA," kata dia usai acara Cyber Security Summit (ICSS) 2015 dan Indonesia Chief Information (id.CIO) Forum, Senin 24 Agustus 2015 di Jakarta.


Jangan ada cek kosong

Meski ditegaskan tak akan melibatkan asing dalam pembentukan BCN dan sistem keamanan siber Indonesia, tak lantas menjamin absennya penyadapan asing. 

Pengamat dari Indotelko Forum, Doni Darwin, mengatakan, jika campur tangan itu bisa saja ditiadakan. Namun, tetap tidak bisa mencegah kemungkinan adanya penyadapan pihak asing terhadap data siber di Indonesia.

"Permasalahan penggunaan teknologi asing seharusnya bisa ditolak oleh pemerintah. Tapi, ya, kemungkinan disadap pasti ada lah," kata Doni kepada VIVA.co.id, Selasa, 25 Agustus 2015. 

Lebih lanjut, Doni meminta masyarakat lebih kritis melihat sejauh mana BCN bisa menjamin keamanan dan perlindungan data warga Indonesia.


Ia mengatakan, masyarakat juga perlu fokus untuk melihat apakah nantinya BCN akan mewujud seperti NSA dan dipakai untuk menyadap warga Indonesia. 

"Ini yang harus dikritisi," kata dia. 

Dia meyakini jika permasalahan di arsitektur teknologi informasi terletak tidak hanya pada teknologi, namun pada sumber daya manusia. Disebutkannya, SDM atau operator IT sangat berbahaya bagi keamanan siber.

Dia mencontohkan ulah pembocor dokumen rahasia pemerintah AS, Edward Snowden. Pria yang kini berlindung di Rusia itu telah membuat AS meradang, karena membocorkan rahasia NSA kepada publik.

"Jadi, masalahnya, harus diatur wewenang Badan Cyber Nasional. Jangan dikasih cek kosong. Lindungi juga keamanan data pribadi warga lewat pengesahan RUU Perlindungan Data Pribadi, minimal dalam bentuk peraturan menteri," kata dia.

Peraturan perlindungan data pribadi itu, kata dia, bisa menjadi payung hukum bagi warga agar tidak menjadi bulan-bulanan Badan Cyber Nasional yang nantinya bisa melakukan penyadapan dengan seenaknya.

Penulis : Oleh : Amal Nur Ngazis, Siti Sarifah Alia, Agus Tri Haryanto.
Sumber : fokus.news.viva.co.id, Rabu, 26 Agustus 2015 | 00:45 WIB

Rabu, 26 Agustus 2015

5 Pesawat F-16 TNI AU VS 8 Pesawat F-18 Milik Australia, Bertarung di Kupang, Nusa Tenggara Timur.


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) unjuk gigi dalam latihan bersama dengan angkatan udara Australia (RAAF) di langit perbatasan kedua negara, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Latihan bersama dengan kode latihan AMX Elang Ausindo 2015 itu, sudah dimulai sejak Selasa pagi, 25 Agustus 2015 dan akan berlangsung hingga 27 Agustus 2015. 

Danlanud El Tari Kupang, Kolonel (Pnb) Andi Wijaya menyatakan, latihan bersama antara negara Indonesia dan Australia ini merupakan latihan persahabatan teknik manuver di udara. “Tujuan latihan bersama ini adalah menjalin hubungan bilateral serta meningkatkan kemampuan para personel TNI AU dalam menunjang tugas dan tanggung jawab dalam mempertahankan keutuhan negara.” jelas Andi. 


Komandan Wing Skuadron III Kolonel Penerbangan Irwan Pramuda menuturkan, dalam latihan bersama itu, TNI AU mengerahkan lima pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 3 Iswahyudi, satu Pesawat Hercules C-130 dari Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, dan satu Helikopter AS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6 Atang Sanjaya.

Sedangkan Australia membawa sembilan pesawat tempurnya, yakni delapan pesawat tempur F/A-18 Hornet dan satu pesawat angkut C-17 Globemaster. Sembilan Pesawat itu saat ini sudah berada di Lanud El Tari, Kupang.

"Kupang dipilih sebagai wilayah latihan karena wilayah ini berbatasan langsung dengan Australia," kata Irwan, Selasa, 25 Agustus 2015.

Irwan menjelaskan, metode latihan yang dilaksanakan dalam latihan tempur udara Indonesia-Australia yakni satu lawan satu (close combat) jarak dekat dan akan berlanjut menjadi air combat maneuvering yang mana dua pesawat melawan satu pesawat. Serta akan dilaksanakan secara bergantian yakni satu F-16 TNI AU melawan dua pesawat tempur F-18 Australia begitupun sebaliknya.


"TNI Angkatan Udara akan terus melakukan operasi udara di setiap daerah perbatasan di seluruh wilayah Indonesia  untuk menunjukkan kepada negara lain bahwa wilayah perbatasan selalu dan senantiasa di jaga dan dikawal oleh TNI," kata Irwan.


TNI AU tetapkan El Tari Kupang jadi lokasi latihan terbang.

Merdeka.com - Mabes TNI AU menetapkan Lapangan Udara El Tari Kupang sebagai tempat latihan terbang tahunan bersama pasukan Angkatan Udara Australia. Hal ini dilakukan mulai tahun 2015 ini.

"Mulai tahun ini Mabes TNI AU telah mengalihkan tempat latihan bersama ini dilakukan di wilayah Kupang," kata Panglima Komando Operasi Sektor Pertahanan Udara Nasional IV Kolonel (Pnb) Nanang Santoso usai menggelar upacara bersama sejumlah tentara TNI AU dan Australia di Lanud El Tari Kupang, Senin (24/8).

Dia menjelaskan dalam satu tahun ke depan kemungkinan akan digelar dua kali latihan di Kupang. Latihan tersebut dilakukan dengan Australia maupun dengan negara-negara tetangga lainnya.

"Ini akan berlaku seterusnya, sampai dengan ada keputusan lanjutan dari pihak Mabes TNI AU," ujarnya dikutip Antara.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Latihan bersama, Kolonel penerbang (Pnb) Irwan Pramuda. Dia mengatakan kurang lebih 200 personel gabungan tentara Angkatan Udara kedua negara tersebut telah tiba di Kupang pada Jumat (21/8) pekan lalu.


Menurutnya, latihan yang bertajuk Air ManuVer Excercise (AMX) Elang Ausindo 2015 ini, selain digelar bersama dengan Australia, nanti akan menggelar latihan bersama beberapa negara tetangga seperti Brunei, Singapura. Untuk lokasi latihan sendiri, Komandan Wing Udara 3 Lanud Iswajudi Madiun ini mengatakan akan dilaksanakan di daerah selatan Kupang agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat di Kota Kupang.

"Untuk lokasi latihannya akan berada di sekitar laut Kupang bagian Selatan, sehingga tidak mengganggu warga di Kupang," pungkasnya. 

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://strategi-militer.blogspot.com/2015/08/ri-dan-australia-unjuk-kekuatan-tempur.html#more
  2. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/665452-pesawat-tni-au-dan-f-18-milik-australia--duel--di-kupang
  3. http://garudamiliter.blogspot.com/2015/08/tni-au-latihan-bersama-au-australia-di.html

Selasa, 25 Agustus 2015

Meluruskan Sejarah Bendera Pusaka: Bendera Pusaka "Sang Saka Merah Putih" Pertama ( TIDAK DIBUAT ) Dari Kain Tenda Pedagang Soto !

Berkas:Indonesia flag raising witnesses 17 August 1945.jpg
Pengibaran bendera pusaka merah putih pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. 
Foto: Frans Mendur/IPPHOS.

Di internet beredar luas informasi mengenai kain bendera pusaka merah putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Disebutkan, bendera itu berasal dari kain seprai warna putih dan kain tenda sebuah warung soto warna merah. Keterangan ini berasal dari Lukas Kustaryo, seorang tentara, yang menceritakan pengalamannya kepada majalah Intisari, Agustus 1991. (Baca: Lukas Kustaryo, Kisah Duka Dari Rawagede).

Sebelum meneliti lebih jauh kebenaran isu tersebut mari kita mengenal apakah "Bendera Pusaka" itu.


Definisi Bendera Pusaka.

Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih adalah sebutan bagi bendera Indonesia yang pertama. Bendera Pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri presiden Soekarno. Bendera Pusaka pertama kali dinaikkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Walaupun seharusnya Bendera Pusaka disimpan di Monas, Bendera Pusaka masih disimpan di Istana Negara.


Sejarah Bendera Pusaka. 

Bendera Pusaka dijahit oleh istri Soekarno yaitu Fatmawati. Desain bendera dibuat berdasarkan bendera Majapahit pada abad ke-13, yang terdiri dari sembilan garis berwarna merah dan putih tersusun secara bergantian.

Bendera Pusaka pertama dinaikkan di rumah Soekarno di Jalan Pengangsaan Timur 56, Jakarta, setelah Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bendera dinaikkan pada tiang bambu oleh Paskibraka yang dipimpin oleh Kapten Latief Hendraningrat. Setelah dinaikkan, lagu "Indonesia Raya" kemudian dinyanyikan secara bersama-sama.

Pada tahun pertama Revolusi Nasional Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan siang dan malam. Setelah Belanda menguasai Jakarta pada 1946, Bendera Pustaka dibawa ke Yogyakarta dalam koper Soekarno. Ketika terjadi Operatie Kraai, Bendera Pustaka dipotong dua lalu diberikan kepada Husein Mutahar untuk diamankan. Mutahar diharuskan untuk "menjaga bendera dengan nyawa". Walaupun kemudian ditangkap lalu melarikan diri dari tentara Belanda, Mutahar berhasil membawanya kembali ke Jakarta, menjahit kembali, dan memberikannya pada Soedjono. Soedjono lalu kemudian membawa benderanya ke Soekarno, yang berada dalam pengasingan di Bangka.

Setelah perang berakhir, Bendera Pusaka selalu dinaikkan sekali di depan Istana Negara pada Hari Kemerdekaan. Namun karena kerapuhan bendera, sejak tahun 1968, bendera yang dinaikkan di Istana Negara adalah replika yang terbuat dari sutra.


Arti dan simbolisme.

Bendara Pusaka terdiri dari dua warna, merah di atas dan putih di bawah dengan ratio 2:3. Warna merah melambangkan keberanian, sementara warna putih melambangkan kesucian. Namun, juga terdapat arti lain, salah satunya adalah merah melambangkan gula aren dan putih melambangkan nasi, keduanya adalah bahan yang penting dalam masakan Indonesia.



Awal Mula Isu Bendera Pusaka dibuat dat Kain Sprei dan Tenda Soto.

Kustaryo mengklaim telah mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati. “Benar, kain merah putih yang saya jahit itulah pemberian saudara,” kata Fatmawati, seperti ditirukan Kustaryo.

Benar atau tidak klaim Kustaryo, wartawan Intisari jelas tak bisa mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati yang wafat pada 14 Mei 1980. Yang pasti, Fatmawati sendiri menceritakan dari mana dia mendapatkan kain untuk bendera merah putih dalam bukunya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978.

Menurut Fatmawati, suatu hari, Oktober 1944, tatkala kandungannya berumur sembilan bulan (Guntur lahir pada 3 November 1944), datanglah seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai,” kata Fatmawati.


Dengan kain itulah, Fatmawati menjahitkan sehelai bendera merah putih dengan menggunakan mesin jahit tangan,“sebab tidak boleh lagi mempergunakan mesin jahit kaki.”.

Pemberian kain sebagai bahan bendera itu agaknya berkaitan dengan pengumuman Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia “kelak di kemudian hari.”

Menurut Sukmawati Sukarnoputri, dikutip oase.kompas.com, 24 Juli 2011, Fatmawati menjahit sambil sesekali terisak dalam tangis karena dia tidak percaya Indonesia akhirnya merdeka dan mempunyai bendera serta kedaulatan sendiri.

Ny Fatmawati akhirnya menyelesaikan bendera merah putih yang baru, malam itu juga. Ukurannya 276 x 200 cm. Bendera baru ini akhirnya dikibarkan tepat 17 Agustus 1945, dan menjadi bendera pusaka negara di tahun-tahun sesudahnya.


Siapa perwira Jepang yang mengantarkan kain merah putih kepada Fatmawati?

Perwira tersebut adalah seorang pemuda bernama Chairul Basri. Dia mendapatkannya dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda).

Pada 1978, Hitoshi Shimizu diundang Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia karena dianggap berjasa meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang. Usai menerima penghargaan, Shimizu bertemu dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang.

“Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu,” kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat.

Pada kesempatan lain, waktu berkunjung lagi ke Indonesia, Shimizu menceritakan kepada Chairul Basri bahwa dia pernah memberikan kain merah putih kepadanya untuk diserahkan kepada Fatmawati. Kain itu diperoleh dari sebuah gudang Jepang di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat, di depan bekas bioskop Capitol. “Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma,” kenang Chairul.


Tiba saatnya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.


Ketika Fatmawati akan melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. “Kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah satu yang hadir di tempat depan kamar tidur. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro ex walikota DKI), Suhud, Kolonel Latif Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku,” kata Fatmawati.

Setelah Sukarno membacakan proklamasi, Latif Hendraningrat dan Suhud kemudian mengerek bendera pusaka merah putih.


Karena usia tuanya, sang Saka terakhir kali berkibar pada tahun 1969 untuk kemudian diistirahatkan di Museum Nasional. Untuk selanjutnya, pemerintah membuat bendera duplikat dengan ukuran 300 x 200 cm.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S  Pd.
Sumber :

  • http://historia.id/modern/meluruskan-sejarah-bendera-pusaka
  • http://www.apakabardunia.com.
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Bendera_Pusaka

Sabtu, 22 Agustus 2015

Satelit LAPAN A2 Diluncurkan September 2015.


Setelah tertunda tiga tahun, satelit Lapan A2/Orari buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan diluncurkan 27 September dari Pusat Antariksa Satish Dhawan, Sriharikota, India. Satelit dibawa ke orbit dengan ditumpangkan pada roket India bersama satelit penelitian astronomi milik Organisasi Riset Antariksa India (ISRO), Astrosat.

"LAPAN A2/Orari adalah satelit pertama yang sepenuhnya dirancang dan dibuat ahli-ahli Lapan memakai fasilitas produksi dan fasilitas uji di Indonesia," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin dalam sosialisasi Pemanfaatan Teknologi Satelit LAPAN A-2/Orari, di Bogor, Kamis (13/8/2015).


Satelit tersebut merupakan generasi terbaru satelit seri A. Generasi sebelumnya adalah LAPAN A1/TUBSat yang dibuat bersama ahli-ahli Jerman dan diluncurkan pada 2007. Pembuatan kedua satelit mikro dan eksperimen itu merupakan bagian penahapan agar Indonesia bisa membuat satelit telekomunikasi pada 2021.

Meski demikian, Kepala Pusat Teknologi Satelit LAPAN Suhermanto mengakui komponen dalam negeri dari satelit itu masih kurang dari 10 persen. Sebab, kemampuan laboratorium fisika dan perusahaan manufaktur Indonesia sebagai pembuat komponen masih terbatas.

Sama dengan LAPAN A1, peluncuran LAPAN A2 masih menumpang pada roket milik India. Deputi Bidang Teknologi Dirgantara LAPAN Rika Andiarti mengatakan, Indonesia belum menguasai teknologi roket peluncur. "Dalam 25 tahun ke depan, teknologi roket Indonesia diharapkan berkembang untuk meluncurkan satelit kecil," ujarnya.

Pembuatan LAPAN A2 butuh dana Rp 35 miliar-Rp 40 miliar. Biaya peluncuran, 550.000 dollar AS atau setara Rp 7,6 miliar. Ini harga diskon karena Lapan memiliki kerja sama dengan ISRO.

LAPAN A2/Orari berbobot 78 kilogram. Ia akan ditempatkan di orbit pada ketinggian 650 kilometer dari permukaan Bumi.

Satelit ini memiliki orbit ekuatorial, yaitu bergerak di sekitar garis Khatulistiwa antara 6 derajat lintang utara dan 6 derajat lintang selatan. Dengan kecepatan mencapai 7,5 kilometer per detik, satelit butuh 98 menit untuk satu kali mengelilingi Bumi.


Menurut Suhermanto, dibandingkan satelit dengan orbit polar atau yang mengitari Kutub Utara dan Kutub Selatan, satelit berorbit ekuatorial lebih sering ada di wilayah udara Indonesia. "Dalam sehari, LAPAN A2 akan 14 kali melintasi wilayah Indonesia," katanya.




LAPAN A2 dilengkapi kamera digital dan kamera video analog untuk mengamati muka Bumi, seperti pemetaan perubahan tata guna lahan. Peralatan lain adalah Automatic Identification System untuk memantau lalu lintas kapal, operasi keamanan laut, serta eksplorasi sumber daya kelautan dan perikanan. Selain itu, ada Automatic Packet Relay System untuk komunikasi radio amatir untuk mitigasi bencana. 

Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : http://sains.kompas.com, Jumat, 14 Agustus 2015, 18:28 WIB.

Selasa, 18 Agustus 2015

Mengenal Segala Hal Tentang Paskibraka, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Sang Merah Putih Pada Setiap HUT RI 17 Agustus .

Paskibraka Maria Felicia Gunawan pembawa baki bendera pusaka HUT RI ke-70

Raut wajah tegang terpancar di tiap-tiap anggota pasukan pengibar bendera pusaka pada Senin (17/8/2015) pagi ini. Peluh keringat pun tak digubris saat mereka harus berbaris mengantarkan bendera pusaka hingga akhirnya bisa berkibar di langit. 

Ketegangan, rasa gugup, hingga ujian dari proses latihan panjang yang telah dijalani dirasakan betul Zainal Aziz usai didapuk sebagai pembentang bendera pusaka pada upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Merdeka. 

Pelajar SMAN 1 Payakumbuh, Sumatera Barat, itu mengaku khawatir bendera yang dibentangkan terbalik. "Banyak sekali, saya khawatir tidak terbentang dengan baik, terlepas, tetapi alhamdulillah sudah berjalan dengan baik," ujar Zainal saat dijumpai seusai acara.

Maria Felicia Gunawan dari SMAK Penabur Gading Serpong, Provinsi Banten, terpilih menjadi pembawa duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2015. Maria Felicia Gunawan melaksanakan tugas dengan baik. Gadis itu menaiki tangga menuju panggung inspektur upacara yang akan menyampaikan duplikat bendera pusaka kepadanya.


Presiden Joko Widodo selaku inspektur upacara menyerahkan duplikat bendera pusaka ke atas baki yang dibawa wanita yang akrab disapa Cia itu. Cia menuruni tangga dan kembali ke barisan. Ia kemudian menyerahkan bendera tersebut untuk dikibarkan. Setelah bendera dikibarkan, ia melaporkan tugas tersebut telah dilaksanakan kepada inspektur upacara.

Dapatkah anda menemukan Maria Felicia Gunawan dan Rani Noerinsan, pembawa baki bendera pusaka saat pengibaran dan penutupan HUT RI ke-70 tahun 2015 ?

Anggota Paskibraka 2015 berjumlah 68 orang. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Masing-masing provinsi mengirimkan dua wakilnya: satu putra dan satu putri. Mereka kemudian dibagi menjadi dua kelompok: satu kelompok bertugas dalam upacara penaikan bendera pada pagi hari dan kelompok lain pada penurunan bendera di sore hari. Upacara penurunan bendera akan dilaksanakan pada hari yang sama sekitar pukul 15.00 WIB. Selain pembawa baki, pembentang bendera pusaka menjadi pusat perhatian jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikan siaran langsung pelaksanaan upacara bendera tahun ini.

043 Latgab 05

043 Latgab 04

043 Latgab 06

043 Latgab 01

043 Latgab 02



Album kegiatan anggota Paskibraka  tahun 2015.

Tahukah anda apa itu Paskibraka ? Bagaimana sejarah dan filosofi Yang menyertai pembentukanya ?
mari kita pelajari bersama.

Logo Paskibraka.jpg

Paskibraka adalah singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dengan tugas utamanya mengibarkan duplikat bendera pusaka dalam upacara peringatan proklamasi kemerdekaan Indonesia di 3 tempat, yakni tingkat Kabupaten/Kota (Kantor Bupati/Walikota), Provinsi (Kantor Gubernur), dan Nasional (Istana Merdeka). Anggotanya berasal dari pelajar SMA Sederajat kelas 1 atau 2. Penyeleksian anggotanya biasanya dilakukan sekitar bulan April untuk persiapan pengibaran pada 17 Agustus.

Selama waktu seleksi sampai 16 Agustus, seorang anggota calon Paskibraka dinamakan "CAPASKA" atau Calon Paskibraka. Pada waktu penugasan 17 Agustus, anggota dinamakan "PASKIBRAKA", dan setelah 17 Agustus, dinamakan "PURNA PASKIBRAKA".


Lambang Anggota Paskibraka.


Lambang Anggota Paskibraka adalah bunga teratai.
  • tiga helai daun yang tumbuh ke atas: artinya paskibraka harus belajar, bekerja, dan berbakti
  • tiga helai daun yang tumbuh mendatar/samping: artinya seorang pakibra harus aktif, disiplin, dan bergembira

Artinya adalah bahwa setiap anggota paskibraka memiliki jiwa yang sangat mulia. dan mengapa Lambang Anggota Paskibraka dilambangkan dengan Bunga Teratai. Karena Bunga Teratai tumbuh di lumpur dan berkembang diatas air yang bermakna bahwa anggota Paskibraka adalah pemuda dan pemudi yang tumbuh dari (Orang Biasa) tanah air yang sedang bermekar/berkembang dan membangun.


Sejarah.

Gagasan Paskibraka lahir pada tahun 1946, pada saat ibukota Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husein Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak Mutahar terlintas suatu gagasan bahwa sebaiknya pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air, karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa yang bertugas.

Tetapi, karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu, sampai tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.

Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17 Agustus di Istana Merdeka dilaksanakan oleh Rumah Tangga Kepresidenan sampai tahun 1966. Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil presiden saat itu, Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta, dia kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai sesuai jumlah anggotanya, yaitu:
  • Pasukan 17 / pengiring (pemandu),
  • Pasukan 8 / pembawa bendera (inti),
  • Pasukan 45/pengawal.

Berkas:H Mutahar.jpg
Idik Sulaiman, Sang Pencetus Istilah Paskibraka

Jumlah tersebut merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas pengibaran bendera pusaka. Rencana semula, untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI) namun tidak dapat dilaksanakan. Usul lain menggunakan anggota pasukan khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, KKO, dan Brimob) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi karena mereka bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi. Tetapi karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusan sehingga masih harus ditambah oleh eks-anggota pasukan tahun 1967.

Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan reproduksi Naskah Proklamasi oleh Suharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia. Bendera duplikat (yang terdiri dari 6 carik kain) mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput bendera duplikat yang dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969 itu, anggota pengibar bendera pusaka adalah para remaja siswa SLTA se-tanah air Indonesia yang merupakan utusan dari seluruh provinsi di Indonesia, dan tiap provinsi diwakili oleh sepasang remaja putra dan putri.

[Paski+1976+-+Cherry+isi+biodata+dg+Slamet.JPG]

Barisan Paskibraka 1978 

Istilah yang digunakan dari tahun 1967 sampai tahun 1972 masih Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Baru pada tahun 1973, Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. PAS berasal dari PASukan, KIB berasal dari KIBar mengandung pengertian pengibar, RA berarti bendeRA dan KA berarti PusaKA. Mulai saat itu, anggota pengibar bendera pusaka disebut Paskibraka.


Perbedaan Purna Paskibraka Indonesa (PPI), Paskibra, Paskibraka dan Purna Paskibraka.


  • Paskibra merupakan pasukan pengibar bendera yang tidak bertugas sebagai pengibar bendera pusaka di tingkat kota, provinsi, dan nasional, namun hanya bertugas di sekolah. Paskibra merupakan anggota yang mengikuti ekstra kurikuler Paskibra di sekolah tetapi tidak diutus untuk menjadi Paskibraka, anggota Paskibra yang telah mengikuti seleksi Paskibraka tetapi tidak lolos, dan/atau anggota yang mengikuti perlombaan baris-berbaris paskibra yang tidak diutus menjadi Paskibraka.


  • Paskibraka merupakan pasukan pengibar bendera pusaka yang dimana anggotanya melakukan tugas pengibaran dan/atau penurunan bendera duplikat pusaka merah putih di tingkat kota, provinsi, dan nasional. Purna Paskibraka adalah sebutan bagi anggota Paskibraka yang telah mengikuti pelatihan Pandu Ibu-Indonesia Berpancasila dan selesai menjalankan tugas pengibaran bendera pusaka.
  • Purna Paskibraka Indonesia atau disingkat PPI merupakan organisasi yang beranggotakan mereka yang pernah bertugas sebagai anggota Paskibraka pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi atau nasional.


Latihan dan Persiapan PASKIBRAKA sebelum 17 Agustus (HUT-RI).

Paskibraka diawali dengan seleksi dari tingkat Kota/Kabupaten pada bulan Maret dan April. Yang berhasil lolos akan dikirim ke seleksi tingkat Provinsi pada bulan Mei. Dari seleksi tingkat provinsi akan dikirim dua pasang putra dan putri ke seleksi tingkat nasional pada bulan Juni. Seleksi tingkat nasional akan menetapkan satu pasangan putra dan putri terbaik dari setiap provinsi untuk mewakili provinsi yang bersangkutan menjadi Anggota Paskibraka Nasional yang bertugas mengibarkan bendera di Istana Merdeka.

Anggota Paskibraka tingkat Nasional biasanya memasuki asrama Pelatihan pada minggu terakhir bulan Juli. Selama tiga minggu mereka akan menjalani latihan baris berbaris dan formasi pengibaran bendera di Pusat Pelatihan Paskibraka Cibubur. Setelah melaksanakan gladi kotor dan gladi bersih pada tanggal 14 dan 15 Agustus, mereka akan mengikuti upacara Pangukuhan pada tanggal 16 Agustus. Keesokan harinya, tanggal 17 Agustus, anggota Paskibraka melaksanakan tugas utama pengibaran bendera pusaka pada pagi hari dan penurunan bendera pada sore hari.

Selain mengikuti latihan fisik baris berbaris, anggota Paskibraka juga mengikuti latihan mental spiritual dan kepemimpinan yang disebut Latihan Pandu Ibu-Indonesia Berpancasila. Latihan ini bermaksud mempersiapkan anggota Paskibraka menjadi putra-putri Indonesia terbaik yang akan menjadi generasi penerus dan calon-calon pemimpin di masa depan. Pelatihan ganda seperti itu sudah ditradisikan sejak tahun 1968, namun untuk lebih menyeragamkan pelatihan tersebut ke tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pemerintah telah mengeluarkan pedoman berupa Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) No. 065 Tahun 2015.


Pembentukan Formasi Pasukan.


Pada dasarnya Paskibraka terdiri dari 3 tingkatan, yaitu tingkat Kota/Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Untuk tingkat Kota/Kabupaten yaitu melaksanakan tugas di Kota asal Paskibraka tersebut dengan inspektur upacara yaitu Walikota/setara. Pembentukan Tingkat Provinsi yaitu diseleksi dari kota-kota pada provinsi tersebut dan akan diutus ke ibukota provinsi dari kota-kota di provinsi daerah asal, Paskibraka pada tingkat ini melaksanakan tugas di ibukota Provinsi dengan inspektur upacara yaitu Gubernur/setara. Dan yang akhir yaitu tingkat Nasional yaitu Paskibraka yang diseleksi dari seluruh provinsi di Indonesia yang tiap-tiap provinsi akan mengutus satu putra dan satu putri terbaik dan tingkat ini melaksanakan tugas di Istana Merdeka Jakarta, dengan inspektur upacara yaitu Presiden Republik Indonesia. Paskibraka dibagi menjadi dua tim tugas yaitu pasukan yang melakukan tugas pagi sebagai pengibar bendera dan tugas sore sebagai pasukan penurunan bendera.



Formasi khusus Paskibraka yaitu:
  • Kelompok 17 berposisi di paling depan sebagai pemandu/pengiring dengan dipimpin oleh suatu Komandan Kelompok (Danpok). Kelompok 17 Ini seluruhnya merupakan anggota Paskibraka.
  • Kelompok 8 berposisi di belakang kelompok 17 sebagai pasukan inti dan pembawa bendera. Di kelompok ini terdapat 4 anggota TNI atau POLRI sebagai pengawal dan 2 putri Paskibraka sebagai pembawa bendera (sekarang hanya satu pembawa bendera), 3 putra Paskibraka pengibar/penurun bendera, dan 3 putri Paskibraka di saf belakang sebagai pelengkap/pagar.
  • Pasukan 45 berposisi di belakang kelompok 8 sebagai pasukan pengawal/pengaman dan merupakan anggota dari TNI atau POLRI dengan senjata lengkap.
Pasukan yang melakukan pengibaran/penurunan bendera dipimpin oleh Komandan Pasukan (Danpas) yang posisinya di sebelah kanan Komandan Kelompok (Danpok) 17. Danpas merupakan perwira TNI atau POLRI berpangkat kapten atau ajun komisaris polisi.


Tentang Makna Merah Putih

Sang Saka Merah Putih jahitan tangan ibu Fatmawati

Bendera Negara Republik Indonesia, yang secara singkat disebut Bendera Negara, adalah Sang Saka Merah Putih (bendera asli jahitan tangan ibu Fatmawati), Sang Merah Putih, Merah Putih, atau kadang disebut Sang Dwiwarna (dua warna). Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

Warna merah-putih bendera negara diambil dari warna panji atau pataka Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur pada abad ke-13. Akan tetapi ada pendapat bahwa pemuliaan terhadap warna merah dan putih dapat ditelusuri akar asal-mulanya dari mitologi bangsa Austronesia mengenai Bunda Bumi dan Bapak Langit; keduanya dilambangkan dengan warna merah (tanah) dan putih (langit). Karena hal inilah maka warna merah dan putih kerap muncul dalam lambang-lambang Austronesia — dari Tahiti, Indonesia, sampai Madagaskar. Merah dan putih kemudian digunakan untuk melambangkan dualisme alam yang saling berpasangan. Catatan paling awal yang menyebut penggunaan bendera merah putih dapat ditemukan dalam Pararaton; menurut sumber ini disebutkan balatentara Jayakatwang dari Gelang-gelang mengibarkan panji berwarna merah dan putih saat menyerang Singhasari. Hal ini berarti sebelum masa Majapahit pun warna merah dan putih telah digunakan sebagai panji kerajaan, mungkin sejak masa Kerajaan Kediri. Pembuatan panji merah putih pun sudah dimungkinkan dalam teknik pewarnaan tekstil di Indonesia purba. Warna putih adalah warna alami kapuk atau kapas katun yang ditenun menjadi selembar kain, sementara zat pewarna merah alami diperoleh dari daun pohon jati, bunga belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), atau dari kulit buah manggis.

Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang – pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Quran. Di zaman kerajaan Bugis Bone,Sulawesi Selatan sebelum Arung Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang. Panji kerajaan Badung yang berpusat di Puri Pamecutan juga mengandung warna merah dan putih, panji mereka berwarna merah, putih, dan hitam yang mungkin juga berasal dari warna Majapahit.

Pada waktu perang Jawa (1825-1830 M) Pangeran Diponegoro memakai panji-panji berwarna merah putih dalam perjuangannya melawan Belanda. Kemudian, warna-warna yang dihidupkan kembali oleh para mahasiswa dan kemudian nasionalis di awal abad 20 sebagai ekspresi nasionalisme terhadap Belanda. Bendera merah putih digunakan untuk pertama kalinya di Jawa pada tahun 1928. Di bawah pemerintahan kolonialisme, bendera itu dilarang digunakan. Bendera ini resmi dijadikan sebagai bendera nasional Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, ketika kemerdekaan diumumkan dan resmi digunakan sejak saat itu pula.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • http://paskibraka-community.com
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Paskibraka
  • http://nasional.kompas.com.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...