Sabtu, 29 November 2014

Rokok Elektronik Ini Sebar Virus ke Jaringan Komputer.


Merokok tidak hanya merusak kesehatan, namun juga dapat merusak komputer. Hal itu lantaran perusahaan rokok-elektrik di China dilaporkan digunakan untuk menyebarkan perangkat lunak berbahaya melalui koneksi USB yang digunakan untuk mengisi daya perangkat.

Dilansir laman Yahoo, Selasa (25/11/2014) bahwa secara detail bagaimana komputer di perusahaan besar telah terinfeksi oleh virus dari sumber yang tidak diketahui. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa virus tersebut berasal dari rokok elektrik yang dibeli di situs penjualan online e-bay seharga USD5 atau senilai Rp60.000.
Rokok yang mengandung nikotin ini ditemukan memiliki virus saat mengisi daya dan dapat menginfeksi sistem setelah dicolokkan melalui USB.

Kepala keamanan informasi di perusahaan manajemen ID Bit4ld, Pierluigi Paganini mengungkapkan bahwa rokok elektrik hanyalah vector terbaru untuk penyebaran virus.

“Faktanya itu merupakan sebuah ide yang lucu, banyak rokok elektrik yang mengisi dayanya melalui kabel USB atau menggunakan perangkat khusus atau langsung memasukkan salah satu ujung rokok ke USB,” ujar Paganini pada postingan blog-nya.

Kesimpulannya : 
Merokok baik rokok elektrik maupun rokok konvensional,
sama-sama merugikan pekerjaan dan kesehatan anda dan.....
SEBAIKNYA ANDA TIDAK MEROKOK !

Sumber : http://forum.viva.co.id, 27 Nopember 2014, 11:23 WIB.

Baca Juga : 

Jumat, 28 November 2014

Gatotkaca Legenda Manusia Perkasa Putera Bima : Versi India vs Versi Indonesia !

Anda mengenal kisah pewayangan ?
Anda mengetahui ada kisah manusia bisa terbang ?
Anda mengetahui ada bayi yang di akselerasi menjadi manusia dewasa dalam waktu singkat ?

Jika anda menjawab ya di semua pertanyaan di atas, anda pasti anda mengenal tokoh Gatotkaca, manusia perkasa dalam kisah pewayangan kita, jauh sebelum kemunculan "tokoh fiktif" semacam Superman, Batman, atau Iron Man.

Bangsa kita telah menciptakan tokoh manusia bisa terbang, dengan kemampuan "otot kawat balung wesi", kebal terhadap segala senjata, bisa terbang, dan aneka kemampuan lain. Banyak dari kita mengetahui bahwa Kisah Mahabarata, memang dari India, namun dengan kecerdasan imajinasi nenek moyang kita, kita bisa menciptakan sosok yang sama namun memiliki keunggulan yang sangaaaat jauuuh berbeda dari aslinya.

Gatotkaca versi serial tv Mahabharata produksi Star TV India

Gatotkaca versi Wayang Orang Indonesia

Artikel ini anda saya ajak membandingkan tokoh kita Gatotkaca versi Indonesia dan versi India, mana yang lebih hebat, anda yang menilai.


Gatotkaca atau  Ghaṭotkacha ?


Ghatotkacha membunuh Alambusha

Gatotkaca (Dewanagari: घटोत्कच; IAST: Ghaṭotkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata, putra Bimasena (Bima) atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Ibunya bernama Hidimbi (Harimbi), berasal dari bangsa rakshasa. 

Dalam bahasa Sanskerta, nama Ghatotkacha secara harfiah bermakna "memiliki kepala seperti kendi". Nama ini terdiri dari dua kata, yaitu ghaṭ(tt)am yang berarti "buli-buli" atau "kendi", dan utkacha yang berarti "kepala". Nama ini diberikan kepadanya karena sewaktu lahir kepalanya konon mirip dengan buli-buli atau kendi.


Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer. Misalnya dalam pewayangan Jawa, ia dikenal dengan sebutan Gatutkaca (bahasa Jawa: Gathutkaca). Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan "otot kawat tulang besi".


Kisah Kelahiran Gatotkaca.
  • Kelahiran Gatotkaca versi India.
Berkas:Krishna asking Ghatotkacha to fight Karna.jpg
Gatotkaca (kiri) menghadap Kresna dan Arjuna. 
Ilustrasi dari Mahabharata terbitan Gorakhpur Geeta Press
Perhatikan ia memiliki "ikat rambut seperti Upin-ipin"

Menurut versi Mahabharata, Gatotkaca adalah putra Bimasena dari keluaga Pandawa yang lahir dari seorang rakshasa perempuan bernama Hidimbi. Hidimbi sendiri merupakan raksasa penguasa sebuah hutan; tinggal bersama kakaknya yang bernama Hidimba (dalam pewayangan Jawa, ibu Gatotkaca lebih terkenal dengan sebutan Arimbi. Menurut versi ini, Arimbi bukan sekadar penghuni hutan biasa, melainkan putri dari Kerajaan Pringgadani, negeri bangsa rakshasa).


  • Kelahiran Gatotkaca versi Indonesia (Jawa).



Kisah kelahiran Gatotkaca dikisahkan secara tersendiri dalam pewayangan Jawa. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun tali pusarnya belum bisa dipotong walau menggunakan senjata apa pun. 

Arjuna (adik Bimasena) pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong nasib keponakannya itu. Namun pada saat yang sama Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka. 

Karena wajah keduanya mirip, Batara Narada selaku utusan kahyangan memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya. Arjuna lalu mengejar Karna untuk merebut senjata Konta.

Pertarungan pun terjadi. Karna berhasil meloloskan diri membawa senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut. Namun sarung pusaka Konta terbuat dari Kayu Mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka.

Akan tetapi keajaiban terjadi. Kayu Mastaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka. Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Namun ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta.


Dengan kehendak dewa-dewa, bayi Gatotkaca itu dimasak seperti bubur dan diisi dengan segala kesaktian; karena itu Raden Gatotkaca berurat kawat, bertulang besi, berdarah gala-gala, dapat terbang di awan dan duduk di atas awan yang melintang. Kecepatan Gatotkaca pada waktu terbang di awan bagai kilat dan liar bagai halilintar.

Tetuka kemudian dipinjam Narada untuk dibawa ke kahyangan yang saat itu sedang diserang musuh bernama Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket. Ia diutus rajanya yang bernama Kalapracona untuk melamar bidadari bernama Batari Supraba. Bayi Tetuka dihadapkan sebagai lawan Sekipu. Anehnya, semakin dihajar bukannya mati, Tetuka justru semakin kuat.

Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga. Narada kemudian menceburkan tubuh Tetuka ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah. Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya.

Tetuka kemudian bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya menggunakan gigitan taringnya. Kresna dan para Pandawa saat itu datang menyusul ke kahyangan. Kresna kemudian memotong taring Tetuka dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat-sifat kaum raksasa.


Batara Guru raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu diganti namanya menjadi Gatotkaca. Dengan mengenakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang secepat kilat menuju Kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona.


Pernikahan Gatotkaca.
  • Pernikahan Gatotkaca versi India.
Dalam versi Mahabharata, Gatotkaca menikahi Ahilawati, gadis dari Kerajaan Naga dan mempunyai anak bernama Barbarika. Dalam versi pewayangan Jawa, Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pergiwa, putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pergiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara, putra Duryodana dari keluarga Korawa. Dari perkawinannya dengan Pergiwa, Gatotkaca memiliki putra bernama Sasikirana, yang menjadi panglima perang Hastinapura pada masa pemerintahan Prabu Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna. Versi lain mengisahkan, Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.

  • Pernikahan Gatotkaca versi Indonesia.

Tersebut dalam cerita, Raden Gatotkaca seorang kesatria yang tak pernah bersolek, hanya berpakaian bersahaja, jauh dari wanita. Tetapi setelah Gatotkaca melihat puteri Raden Arjuna, Dewi Pregiwa, waktu diiring oleh Raden Angkawijaya, Raden Gatotkaca jatuh hati lantaran melihat puteri itu berhias serba bersahaja. Berubah tingkah Raden Gatotkaca ini diketahui oleh ibunya (Dewi Arimbi) dengan sukacita dan menuruti segala permintaan Raden Gatotkaca. Kemudian Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pregiwa putri Arjuna.

Ia berhasil menikahi Pregiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara putra Duryudana dari keluarga Korawa.

Dari perkawinan Gatotkaca dengan Pregiwa lahir seorang putra bernama Sasikirana. Ia menjadi panglima perang Kerajaan Hastina pada masa pemerintahan Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna.

Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.


Gatotkaca Menjadi Seorang Raja di Pringondani.


Gatotkaca versi Jawa adalah manusia setengah raksasa, namun bukan raksasa hutan. Ibunya adalah putri Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani. Tremboko tewas di tangan Pandu ayah para Pandawa akibat adu domba yang dilancarkan Sangkuni. Ia kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Arimba. Arimba sendiri tewas di tangan Bimasena pada saat para Pandawa membangun Kerajaan Amarta. Takhta Pringgadani kemudian dipegang oleh Arimbi yang telah diperistri Bima. Suksesi kepemimpinan kelak diserahkan kepada putra mereka setelah dewasa.

Arimbi memiliki lima orang adik bernama Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Brajadenta diangkat sebagai patih dan diberi tempat tinggal di Kasatrian Glagahtinunu. Sangkuni dari Kerajaan Hastina datang menghasut Brajadenta bahwa takhta Pringgadani seharusnya menjadi miliknya, bukan milik Gatotkaca. Akibat hasutan tersebut, Brajadenta memberontak untuk merebut takhta dari tangan Gatotkaca yang baru saja dilantik sebagai raja. Brajamusti yang memihak Gatotkaca bertarung menghadapi Brajadenta. Kedua raksasa tersebut tewas bersama. Roh mereka menyusup masing-masing ke dalam kedua telapak tangan Gatotkaca, sehingga menambah kesaktian keponakan mereka tersebut. Setelah peristiwa itu, Gatotkaca mengangkat Brajalamadan sebagai patih baru, dengan gelar Patih Prabakiswa.


Kematian Gatotkaca.
  • Kematian Gatotkaca versi India.
Kematian Gatotkaca terdapat dalam jilid ketujuh kitab Mahabharata yang berjudul Dronaparwa, pada bagian Ghattotkacabadhaparwa. Ia dikisahkan gugur dalam perang di Kurukshetra pada malam hari ke-14. Perang besar tersebut adalah perang saudara antara keluarga Pandawa melawan Korawa.

Aksi Gatotkaca versi India dalam film Mahabharata Produksi Star TV.




Mahabharata mengisahkan, sebagai seorang raksasa, Gatotkaca memiliki kekuatan luar biasa terutama pada malam hari. Setelah kematian Jayadrata di tangan Arjuna, pertempuran seharusnya dihentikan untuk sementara karena senja telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang pasukan Korawa saat mereka dalam perjalanan menuju perkemahan mereka. Pertempuran berlanjut; semakin malam, kesaktian Gatotkaca semakin meningkat. Banyak prajurit Korawa yang dibunuhnya. Seorang sekutu Korawa dari bangsa rakshasa bernama Alambusa maju menghadapinya. Gatotkaca menghajarnya dengan kejam karena Alambusa telah membunuh sepupunya, yaitu Irawan putra Arjuna pada pertempuran hari kedelapan. Tubuh Alambusa ditangkap dan dibawa terbang tinggi, kemudian dibanting ke tanah sampai hancur berantakan.

Berkas:Death of Gatotkacha 3.jpg
Ilustrasi kematian Gatotkaca, 
diambil dari kitab Mahabharata yang ditulis ulang oleh Ramanarayanadatta Astri.

Duryodana, pemimpin Korawa merasa ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia memaksa Karna menggunakan senjata pusaka Indrastra pemberian Dewa Indra yang bernama Vasavishakti (senjata Konta menurut pewayangan Jawa) untuk membunuh rakshasa itu. Semula Karna menolak karena pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja dan akan dipergunakannya untuk membunuh Arjuna. Karena terus didesak, akhirnya Karna melemparkan pusakanya ke arah Gatotkaca. Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca memikirkan cara untuk membunuh prajurit Korawa dalam jumlah besar sekaligus sekali serang. Gatotkaca pun memperbesar ukuran tubuhnya sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa setelah senjata pamungkas Karna menembus dadanya. Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya Gatotkaca. Dalam barisan Pandawa, hanya Kresna yang tersenyum melihat kematian Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah kehilangan pusaka andalannya sehingga nyawa Arjuna dapat dikatakan aman.

  • Kelahiran Gatotkaca versi Indonesia (Jawa).
Perang di Kurukshetra dalam pewayangan Jawa biasa disebut dengan nama Baratayuda. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157 pada zaman Kerajaan Kadiri. Versi pewayangan mengisahkan, Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu, putra Arjuna. Abimanyu menikah dengan Utari putri Kerajaan Wirata, setelah ia mengaku masih perjaka. Kenyataannya, Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Kresna. Sitisundari yang dititipkan di istana Gatotkaca mendengar kabar bahwa suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang (Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tapi berhati polos dan mulia). Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah bahwa jika dirinya memang telah beristri selain Utari, maka ia rela mati dikeroyok musuhnya di kemudian hari. Kalabendana menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu marah, Gatotkaca memukul kepala Kalabendana. Mekipun perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.

Ketika perang Baratayuda meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Korawa pada hari ke-13. Pada hari ke-14, Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata. Duryodana sangat sedih atas kematian Jayadrata, adik iparnya sendiri. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa pada malam itu juga. Karna berangkat meskipun hal itu melanggar peraturan perang. Setelah tahu bahwa para Korawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih karena Kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benderang. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Korawa yang bernama Lembusa. Sementara itu dua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa, tewas di tangan musuh mereka, masing-masing bernama Lembusura dan Lembusana.

Gatotkaca berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca. 


Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu. Gatotkaca yang pasrah terhadap takdirnya berpesan supaya mayatnya bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju, kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. 

Pusaka itu melebur dengan sarungnya, yaitu kayu mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca. Setelah Gatotkaca gugur, arwah Kalabendana melemparkan jenazahnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut. Namun keretanya hancur berkeping-keping akibat tertimpa tubuh Gatotkaca. Pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Korawa yang berada di sekitarnya.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd. Artikel repost.
Sumber :
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Gatotkaca
  2. https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/

Kamis, 27 November 2014

Inilah Kisah Akhir Kehidupan Sri Krishna Dan Pandawa Setelah Perang Besar Mahabarata.


Dalam kitab Mahabharata dikisahkan tentang beberapa kutukan dari orang yang merasa dianiaya, dan demikian pula dalam kitab Srimad Bhagavatam. Rupanya sang penulis, Bhagawan Abyasa memberikan peringatan agar manusia berhati-hati dalam menapaki kehidupan, karena bisa saja orang teraniaya oleh tindakan kita dan hukum sebab-akibat akan mengejar kita. 


Dikisahkan bahwa Dewi Gendari mengutuk Sri Krishna, mengapa membiarkan perang Bharatayuda terjadi dan tidak membuat skenario agar para Korawa sadar dan tidak semakin berlarut-larut berkubang dalam perbuatan adharma sehingga perang Bharatayuda tidak terjadi. Perang Bharatayuda tidak memberi keuntungan bagi Korawa dan Pandawa. Korawa punah, di pihak Pandawa juga tinggal Pandawa sendiri yang sudah tua-tua dan seorang cucu Pandawa yang selamat yaitu Parikesit. Konon Dewi Gendari yang kehilangan semua putranya, mengutuk agar kejadian serupa terjadi pada Dinasti Yadawa. 

Bagaimana pun ada banyak faktor yang mempengaruhi terlaksananya sebuah kutukan dan faktor utama adalah : Hukum Alam dan Ridha Ilahi, Kehendak Hyang Widhi. Dan, perang Bharatayuda memang bukan merupakan kemenangan mutlak Pandawa, tetapi kemenangan mutlak dharma mengalahkan adharma.

Setelah perang Bharatayuda, Yudistira diangkat sebagai Raja Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia memerintah selama 36 tahun. 

Sementara itu Kresna tinggal bersama kaumnya di Dwaraka. Dinasti Yadawa mengalami masa jaya selama 36 tahun dibawah kepemimpinan Sri Krishna, Sang Wisnu yang mewujud di dunia untuk menegakkan dharma dan mengalahkan adharma yang merajalela. 


Ada perbedaan kehidupan Sri Krishna sewaktu kecil di Brindavan dan sesudah menjadi raja dinasti Yadawa di Dwaraka. Para Gopi dan Gopal, para penggembala di Brindavan merasa bahwa mereka adalah milik Sri Krishna, mereka tidak mempunyai kesenangan pribadi kecuali menyenangkan Sri Krishna. Sedangkan bagi dinasti Yadawa, Sri Krishna adalah milik mereka, mereka memuaskan kesenangan mereka sendiri, yang penting dilindungi Sri Krishna. Para Gopi dan Gopal sudah dapat mengendalikan sifat hewani mereka, sedangkan dinasti Yadawa tidak dapat mengendalikan sifat hewani mereka. Para Gopi dan Gopal yakin bahwa yang bisa membahagiakan manusia adalah kasih, sedangkan dinasti Yadawa masih yakin kenyamanan dunialah yang akan membahagiakan mereka.

Kala sebuah bangsa atau seorang manusia mengalami penderitaan, maka semangatnya bangkit untuk berjuang melepaskan diri dari kesengsaraan. Akan tetapi kala, sudah tidak ada tantangan, hidup terasa nyaman, sebuah bangsa atau seorang manusia sering lalai dan terbuai oleh kenyamanan dan kenikmatan pancaindera. Demikianlah, setelah perang Bharatayuda dinasti Yadawa menjadi sombong, arogan dan gemar berpesta pora.

Pada suatu ketika beberapa resi mengunjungi Kota Dwaraka untuk menemui Sri Krishna. Beberapa pemuda mendandani Samba, putra Sri Krishna dari istri Dewi Jembawati sebagai seorang wanita yang sedang hamil dan para resi diminta meramalkan jenis kelamin bayi yang akan lahir. Merasa dipermalukan, salah seorang Resi mengutuk bahwa Samba akan melahirkan gada besi yang akan memusnahkan dinasti Yadawa. 

Para pemuda Dwaraka takut karena setelah Samba melepaskan “tumpukan kain” pakaian hamilnya betul-betul ada sebuah gada besi di dalam tumpukan kain tersebut. Atas perintah Ugrasena, senjata tersebut dihancurkan hingga menjadi debu lalu dibuang ke laut. Akan tetapi beberapa minggu kemudian, serbuk tersebut terbawa arus kembali kepantai. Dan, dari serbuk tersebut tumbuh ribuan alang-alang besi semacam bilah-bilah logam yang tajam yang disebut eruka.

Beberapa bulan kemudian, kala para pria Dwaraka mengadakan pesta mabuk-mabukan di pantai, Setyaki dan Kertamarma saling mengolok tentang perang Bharatayuda. Setyaki dikatakan membunuh Burisrawa yang sedang bermeditasi memulihkan ketenangan setelah tangannya dipanah Arjuna, sedangkan Kertamarma dikatakan membantu Aswatama membunuh Drestayumna, Srikandi dan anak-anak Pandawa yang sedang tidur lelap. Olok-olok tersebut berbuntut perkelahian. Dan, perkelahian tersebut merembet ke seluruh warga pria Dwarka. Mereka pada mengambil bilah-bilah logam di pantai sebagai senjata. 

Saat menyaksikan kaumnya saling bunuh, Kresna menggenggam rumput eruka dan melemparkannya ke tengah percekcokan tersebut yang mengakibatkan ledakan hebat sehingga membunuh hampir seluruh kaum Yadawa yang ada di sana. 

Baladewa datang ke tempat kejadian dan melihat semua dinasti Yadawa telah binasa dan ia pun segera pergi ke hutan. Sri Krishna kemudian berpesan kepada pelayannya agar melaporkan kejadian tersebut ke Pandawa di Hastina dan dia mengikuti Baladewa ke hutan. Sri Krishna melihat Baladewa duduk dalam posisi yoga dan tak lama kemudian dari mulutnya keluar asap putih berbentuk Nagasesa yang menuju ke arah samudera. Baladewa telah mengakhiri hidupnya.

Sri Krishna duduk dalam posisi yoga, dan seorang pemburu bernama Jara dari kejauhan melihat Sri Krishna seperti rusa emas yang sedang beristirahat. Jara memanah kaki rusa emas yang ternyata adalah Sri Krishna. Panah tersebut menyebabkan kematian Sri Krishna. Sebagian orang bercerita bahwa Sri Krishna sebagai titisan Wisnu, kala menjadi Sri Rama pernah memanah Subali dan kini menerima akibatnya. 

Sebagian orang lainnya bercerita, bahwa  Jara mempunyai makna usia tua, dan Sri Krishna meninggal karena usia tua. Menurut sumber-sumber dari Purana, kepergian Kresna menandai akhir zaman Dwaparayuga dan dimulainya Kaliyuga, yang dihitung jatuh pada tanggal 17/18 Februari 3102 SM. Seminggu setelah meninggalnya Sri Krishna Negeri Dwaraka mengalami bencana tsunami dan tenggelam ke laut.


Arjuna pergi ke Mathura menengok Prabu Basudewa, kakak ibundanya, dan Sang Prabu meninggal dunia setelah kedatangan Arjuna. Kemudian, Arjuna melanjutkan pergi ke Dwaraka mengumpulkan para wanita dan anak-anak yang selamat untuk dibawa ke Hastina. Dalam perjalanan rombongan tersebut dirampok dan Arjuna tidak dapat berbuat banyak karena kesaktiannya mendadak sirna.

Sesampai di Hastina, Arjuna menyampaikan hasil perjalanannya, yang membuat semua Pandawa berduka. Setelah menobatkan Parikesit sebagai raja Hastina, Pandawa beserta Drupadi dan seekor anjing melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci dan akhirnya ke naik ke gunung Himalaya mempersiapkan kematian mereka.


Satu per satu Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, Bhima meninggal di perjalanan dan tinggal Yudistira dan anjingnya. Sampai di Puncak Gunung, Yudistira bertemu Bathara Indra yang mengajaknya naik kereta ke kahyangan, akan tetapi anjingnya tidak diperbolehkan ikut. Yudistira bersikeras tidak mau pergi ke kahyangan bila anjingnya tidak ikut. Akhirnya sang anjing diperbolehkan naik kereta dan segera menghilang di perjalanan. Dikisahkan bahwa anjing tersebut merupakan simbol dari dharma manusia. Hanya dharma yang mendampingi ke kahyangan, saudara dan istri pun ditinggalkan di dunia.

Kala sampai di surga, Yudistira kaget karena yang nampak hanya Duryudana dan para Korawa. Yudistira minta dipertemukan dengan para saudaranya dan Bathara Yama mengajaknya ke Neraka. Yudistira melihat semua saudaranya di neraka dan memilih berada di neraka. 

Setelah sepertiga belas hari di Neraka, Bathara Yama dan Indra datang menjelaskan bahwa neraka maupun surga adalah maya, ilusi dari pikiran Yudistira sendiri, yang percaya bahwa para kesatria harus masuk neraka dulu sebentar sebelum masuk surga. Wujud manusia Yudistira kemudian lenyap dan berubah menjadi dewa. Demikian pula para Pandawa dan semua kerabatnya……


Setelah Bhagawan Abyasa menutup kisah Mahabharata, beliau merenung, teringat saat Bathara Narada datang dan memberi nasehat seminggu setelah Sri Krishna wafat. Kisah kepahlawanan Mahabharata akan memberi semangat umat manusia masa depan untuk menegakkan dharma. 

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://triwidodo.wordpress.com/, 6 Juni 2011 
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Kresna

Kisah Nyata : Dwaraka (Dwarawati), Kota Sang Khrisna yang Tenggelam......


Peristiwa masa lalu adalah SEJARAH. Lama kelamaan sejarah ini bercampur dengan bumbu-bumbu tambahan yang bukan kejadian sebenarnya jadilah dia LEGENDA. Lama kelamaan legenda ini bercampur dengan tambahan-tambahan lagi dan didewa-dewakan, jadilah dia MITOS atau mythologi. Jadi hampir semua mitos dan legenda ada benang merahnya dengan sejarah. meskipung benang itu sangat tipis.

Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yang didirikan wangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha. Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Wasudewa selama zaman Dwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, dan beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, dan sebagian wilayahnya berada di darat dan berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta. Wilayah tersebut terlihat seperti negara Yunani yaitu negeri dengan pulau-pulau kecil dan sebagian berupa wilayah daratan. Kerajaan Dwaraka kira-kira terletak di sebelah Barat Laut Gujarat. Ibukotanya bernama Dwarawati (dekat Dwarka, Gujarat). Tapi kalau dilihat dari namanya, Dwaraka yang adalah bahasa Sanskrit ini berarti pintu-pintu, mirip babilon yang juga berarti pintu (baab)


Masa Jaya Kerajaan Dwaraka.


Selama masa jayanya, Dwaraka adalah kota yang dikelilngi tembok dan berisikan taman yang indah, parit yang dalam, dan beberapa kolam istana (Wisnu Purana), namun diyakini telah tenggelam setelah kepergian Krishna. Karena pentingnya sejarah dan hubungan dengan Mahabharata, Dwaraka terus menarik arkeolog dan sejarawan selain ilmuwan.

Sri Krishna membunuh Kamsa (Kangsa)  (paman dari pihak ibu) dan menobatkan Ugrasena (kakek dari pihak ibu-Nya) menjadi raja Mathura. Hal ini membuat Marah mertua Kamsa, Jarasanda (raja Magadh) bersama dengan temannya Kalayavana menyerang Mathura 17 kali. Untuk keselamatan bangsanya, Yadava, Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.

Sri Krishna dan kaumnya, Yadava meninggalkan Mathura dan tiba di pantai Saurashtra. Mereka memutuskan untuk membangun kota mereka di daerah pesisir dan dipanggillah Visvakarma, dewa konstruksi. Namun, Visvakarma mengatakan bahwa tugas bisa diselesaikan hanya jika Samudradeva, penguasa laut, menyediakan beberapa tanah. Sri Kresna membujuk Samudradeva, dan dengan senang Samudradeva memberi mereka tanah berukuran 12 yojanas dan selanjutnya, dibangunlah oleh Visvakarma kota Dwaraka, sebuah kota emas.

Dwaraka kemudian dikenal sebagai salah satu tempat suci selain Mathura dan Vrindavana pada masa itu. 


Sejarah Dwaraka. 


Kota Dwaraka telah diselidiki oleh para sejarawan sejak awal abad ke-20. Lokasi yang tepat dari kota pelabuhan telah menjadi perdebatan untuk waktu yang lama. Beberapa referensi sastra, terutama dari Mahabharata, telah digunakan untuk menunjukkan lokasi yang tepat.

Dwaraka disebutkan dalam Mahabharata (Mausala Parva) dan lampiran epik, Harivamsa, mengacu pada penenggelaman Dwaraka oleh laut. Dwaraka adalah sebuah negara kota membentang hingga ke Bet Dwaraka (Sankhoddhara) di utara dan Okhamadhi di selatan. ke timur hingga Pindata. 30 hingga 40 meter tinggi bukit di sisi timur Sankhoddhara yang tingginya 30-40 meter mungkin adalah Raivataka seperti yang dimaksud dalam Mahabharata.


Ekskavasi di Dwaraka menambah kepercayaan pada legenda Krishna dan perang Mahabharata, serta memberikan bukti yang luas bahwa pernah ada masyarakat yang sudah maju yang tinggal di daerah-daerah  pemukiman seperti MohenjoDaro-Harappa.


Dibawah ini kisah dwaraka dalam kitab Mosalaparwa  :

Mosalaparwa atau Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab Mahabharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka dan Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna dan saudaranya, Raja Baladewa. Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga atau zaman kegelapan. Ia telah melihat tanda-tanda alam yang mengerikan, yang seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yang mengenaskan akan terjadi. Hal yang sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, dan Andhaka yang telah menjadi sombong, takabur, dan senang minum minuman keras sampai mabuk. 

Kutukan para brahmana 

Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?" Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!" (mosala = gada)

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang Jara seorang pemburu. Pemburu yang bernama Jara membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah. 


Musnahnya Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa.

Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga". 


Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyadari bahwa rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua. 

Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna tahu bahwa ia mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari dan jalannya takdir. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyusul Baladewa yang sedang bertapa di dalam hutan. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberitahu berita kehancuran rakyat Kresna ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura. 

Di dalam hutan, Baladewa meninggal dunia dalam tapanya. Kemudian keluar naga dari mulutnya dan naga ini masuk ke laut untuk bergabung dengan naga-naga lainnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna mengenang segala peristiwa yang menimpa bangsanya. Pada saat ia berbaring di bawah pohon, seorang pemburu bernama Jara (secara tidak sengaja) membunuhnya dengan anak panah dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala di dalam ikan yang telah dihancurkan. Ketika sadar bahwa yang ia panah bukanlah seekor rusa, Jara meminta ma'af kepada Kresna. Kresna tersenyum dan berkata, "Apapun yang akan terjadi sudah terjadi. Aku sudah menyelesaikan hidupku". Sebelum Kresna wafat, teman Kresna yang bernama Daruka diutus untuk pergi ke Hastinapura, untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. Setelah Kresna wafat, Dwaraka mulai ditinggalkan penduduknya. 


Hancurnya Kerajaan Dwaraka 

Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup bersama sejumlah wanita. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk paman dari pihak ibunya, yaitu Basudewa. Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka. 

Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan janda-janda yang ditinggalkan oleh para suaminya, yang meratap dan memohon agar Arjuna melindungi mereka. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan kesdiahnnya kepada Arjuna, Basudewa mangkat. Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat. 

Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra. 

Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.


Dwaraka dibanjiri oleh tsunami?

Mungkinkah tsunami telah melanda pantai Gujarat untuk menenggelamkan kota kuno Dwaraka? Para ahli yang terkait erat dengan penemuan kota yang hilang di lepas pantai Saurashtra tidak menutup kemungkinan ini. Mereka mengatakan bahwa Mahabharata berbicara tentang laut yang tiba-tiba melanda kota setelah menghilangnya Dewa Krishna dan Arjuna mengambil cucu Krishna ke Hastinapura.

Mungkinkah Dwaraka dulu kena sunami seperti ini?

"The Bhagavata Purana (11.30.5) menyebutkan 'ete ghora mahotpata dvarvatyam yama-ketavah, muhurtam api atra na stheyam ada Yadu-pungavah." 

Terjemahan harfiah adalah "Bencana ini telah menjadi simbol kematian dan bangsa Yadavas tak bisa bertahan di sini lebih lama lagi.." Hal ini mirip dengan kerusakan yang ditimbulkan tsunami yang mungkin terjadi pada Dwaraka kuno dan penduduknya.

Tapi ada tiga teks termasuk Harivamsa, Matsya Purana dan Bhagavat-gita, yang menyatakan bahwa butuh waktu tujuh hari untuk mengosongkan Dwaraka sebelum tenggelam oleh laut. Jika kita menganggap bahwa Dwaraka tenggelam akibat tsunami, gerakan bertahap dari laut tidak dapat dijelaskan.


Tenggelamnya Kota Dwaraka

Setelah Sri Krishna pergi ke tempat tinggal-Nya dan Yadawa utama kepala tewas dalam perkelahian di antara mereka sendiri, Dwaraka menjadi tenggelam di laut. 

Ini adalah gambaran yang diberikan oleh Arjuna dalam Mahabharata:
"Laut, yang menghantam pantai, tiba-tiba memecahkan batas yang ditetapkan oleh alam. Laut itu bergegas ke memasuki kota dan memenuhi jalan-jalan kota yang indah.. Laut menutupi segala sesuatu di kota." Arjuna melihat bangunan indah tenggelam satu per satu Dia lalu mengamati  istana Krishna.. Dalam hitungan beberapa saat semuanya berakhir. laut itu sekarang menjadi tenang seperti danau. tidak ada bekas . kota yang indah Dwarka, yang telah menjadi tempat favorit dari semua Pandawa, kini hanya nama, hanya kenangan ". - Mausala Parva, Mahabharata.


Temuan Arkeologi Terbaru.

File: Gujarat Gulfs.jpg
Teluk Khambhat di sebelah kanan. Gambar Observatory NASA Earth

Unit Arkeologi Kelautan (MAU) bersama-sama dengan Institut Oseanografi Nasional dan Survei Arkeologi India. Di bawah bimbingan Dr Rao, seorang arkeolog kelautan yang terkenal, membentuk sebuah tim yang terdiri dari para penyelam-fotografer dan para arkeolog. Teknik survei geofisika dikombinasikan dengan penggunaan gema-suara, penembus lumpur, sub-bottom profiler dan detektor logam di bawah air. Tim ini melakukan ekspedisi arkeologi laut sebanyak 12 kali antara tahun 1983-1992. Artefak dan barang antik yang ditemukan dikirim ke Laboratorium Penelitian Fisik untuk mengetahui usia artefak. Dengan menggunakan termo-luminescence, karbon dating dan teknik ilmiah modern lain, artefak yang ditemukan berasal dari periode antara abad 15 hingga abad ke-18 SM. Dalam karya besarnya, The Lost City Dwaraka, Dr Rao telah memberikan rincian penemuan-penemuan ilmiah dan artefak.





Antara tahun 1983 sampai 1990, kota yang dikelilingi dinding Dwaraka ditemukan, dengan daerah lebih dari setengah mil dari garis pantai. Kota ini dibangun pada enam sektor di sepanjang tepi sungai. Fondasi batu dinding kota yang didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut. Secara umum, kota Dwaraka yang dijelaskan dalam teks-teks kuno sesuai dengan kota bawah laut yang ditemukan oleh MAU.

Menurut penemuan, Dwaraka adalah sebuah kota makmur di zaman kuno, yang hancur dan dibangun kembali beberapa kali. Ekskavasi besar yang dilakukan oleh Z.D. Ansari dan M.S. Mate menemukan candi candi yang terkubur di dekat kota Dwaraka sekarang.

Kesimpulan dari ekskavasi-ekskavasi yang dilakukan adalah bahwa kota ini adalah sebuah kota pelabuhan yang makmur, dan bertahan sekitar 60-70 tahun di abad ke-15 SM sebelum tenggelam di bawah laut pada tahun 1443 SM (meskipun masih ada yang berpendapat bahwa dwaraka tenggelam sekitar 3102SM), tapi yang jelas kota ini berasal tidak lebih dari 5000 tahun yang lalu.

Video Dwaraka - Legendary city of Shri Krishna rediscovered - Tv9

Di antara benda-benda yang digali yang terbukti memiliki koneksi dengan Dwaraka, epik Mahabharata adalah segel diukir dengan gambar binatang berkepala tiga. Epik Mahabarata menyebutkan segel yang diberikan kepada warga Dwaraka sebagai bukti identitas ketika kota itu terancam oleh Raja Jarasanda dari kerajaan Magadh. Fondasi batu dinding kota didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut sekitar 3.600 tahun yang lalu. Epik Mahabarata juga menyebutkan kegiatan reklamasi tersebut di Dwaraka. Tujuh pulau yang disebutkan di dalamnya juga ditemukan tenggelam di Laut Arab.

Pada tanggal 19 Mei 2001, ilmu pengetahuan dan teknologi Menteri India Murli Manohar Joshi mengumumkan temuan reruntuhan di Teluk Khambhat . Reruntuhan, yang dikenal sebagai Teluk Khambhat Cultural Complex (GKCC), yang terletak di dasar laut hamparan sembilan kilometer di lepas pantai Gujarat pada kedalaman sekitar 40 m. Situs ini ditemukan oleh tim dari National Institute of Technology Samudra (NIOT) pada bulan Desember 2000 dan diselidiki selama enam bulan dengan teknik akustik.

Sebuah tindak lanjut penyelidikan dilakukan oleh lembaga yang sama pada bulan November 2001, yang termasuk pengerukan untuk memulihkan artefak . Sebuah putaran eksplorasi lebih lanjut di bawah air dibuat di Teluk situs Khambhat oleh tim NIOT 2003-2004, dan sampel , mendapatkan apa yang diduga tembikar, dikirim ke laboratorium di Oxford , Inggris dan Hannover , Jerman, seperti serta beberapa lembaga di India, untuk tanggal. Dalam sebuah makalah 2003 AS Gaur dan Sundaresh dari National Institute of Oceanography menyimpulkan: "Kehadiran penggalian telah dilemparkan cahaya pada urutan budaya Bet Dwarka Pulau Sekitar abad ke-17 SM Akhir. Harappan orang telah didirikan pemukiman mereka, dan mereka mungkin bermigrasi dari Nageshwar, yang dekat. Mereka telah mengeksploitasi sumber daya laut seperti ikan dan kerang kerang. Tampaknya, bahwa Akhir Harappans dari Bet pulau Dwarka memiliki interaksi dengan Saurashtra Harappans dan mereka mungkin mengunjungi pelabuhan di pantai wilayah Saurashtra utara. The habitational langka deposito menunjukkan, bahwa situs itu ditinggalkan setelah beberapa abad. Pulau ini dihuni lagi selama abad ke-8 SM di pantai tenggara pulau. " 

Temuan meyakinkan Namun, mengangkat kemungkinan, bahwa sampel sangat tua, sebagaimana didalilkan bagi banyak artefak lainnya, pulih dari Teluk Khambhat (Cambay), tidak artefak buatan manusia atau potsherds, melainkan geofacts dan obyek terkait berasal dari alam. 

Michael Witzel berpendapat, bahwa "reruntuhan" yang baik formasi batuan alam atau hasil dari rusak penginderaan jauh peralatan dan bahwa "artefak" pulih yang baik geofacts atau benda asing diperkenalkan ke situs dengan sangat kuat arus pasang surut di Teluk Cambay . The side scan sonar peralatan, yang digunakan untuk gambar dasar Teluk, mungkin telah rusak, dan bukti yang mendukung klaim adalah murni mendalam.  

"Penemuan kota legendaris dari Dwaraka yang dikatakan telah didirikan oleh Sri Krishna, adalah sebuah tonggak penting dalam sejarah India. Karena Hal ini telah menghilangkan keraguan para sejarawan tentang historisitas Mahabharata dan keberadaan kota Dwaraka. Hal ini juga mempersempit kesenjangan sejarah India dengan adanya kelangsungan peradaban India dari era Veda sampai hari ini. Atau dengan kata lain, telah terbukti bahwa Krishna memang benar pernah ada. 


Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://versesofuniverse.blogspot.com, Sabtu, 17 September 2011.
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Dvārakā

Rabu, 26 November 2014

Download And Install Microsoft Windows 10 Technical Preview In A Sandbox Step by step (Free).


All eyes are on Microsoft next year, in 2011 the team screwed up by offering a mobile-like experience to Windows customers with Windows 8, alongside pricing it rather highly, compared to Apple who decided to drop the price of OS X and make it free to all desktop users on the platform.

It looks like Microsoft will take a note from Apple’s book and make Windows 10 (also Windows 9) free for all consumers. Notice the last bit? Yep, Microsoft will still offer paid features and upgrades for enterprise, the one market they can count on.

Enterprise has been stuck in this time-lapse where Windows XP is still acceptable, but throughout the past half decade, we have seen a steady move to the new age-old option: Windows 7, which will probably last longer than Windows XP if Microsoft doesn’t hit a home-run with Windows 10.

Microsoft will make the initial upgrade to Windows 10 free for enterprise, but offer paid privileges like only having to update annually, better admin controls, more enterprise level help on basic functionality – allowing a company to install the system without having issues.

It is about time Microsoft dropped the price for Windows, especially when they offer Windows Phone – their mobile product which will become Windows 10 in 2015 – for free to smartphone users.

Microsoft will talk more about Windows 10 at BUILD in April next year. Until then, we will get to see the latest updates via the Technical Preview, launched last month by Microsoft.

If you love Windows and just can’t wait for the final public release of Windows 10 then don’t worry Windows 10 Technical Preview is here and available to download and install at your leisure. Microsoft made the OS available for download recently and it’s available free of charge.

If you want to get up close and personal with the latest version of Windows then you have a couple options. First up, if you have an old PC that isn’t doing very much then you could install Windows 10 from a flash drive. That may not be the best solution. We think it would be better to run the new OS inside a “sandbox,” a virtual machine. This way it won’t affect your system in any way and it’ll be more convenient than rummaging around for that old PC.


System requirements

  • Basically, if your PC can run Windows 8.1, you’re good to go. If you're not sure, don't worry—Windows will check your system to make sure it can install the preview.
  • Processor: 1 gigahertz (GHz) or faster
  • RAM: 1 gigabyte (GB) (32-bit) or 2 GB (64-bit)
  • Free hard disk space: 16 GB
  • Graphics card: Microsoft DirectX 9 graphics device with WDDM driver
  • A Microsoft account and Internet access



Important notes

  • Some PC processors and hardware configurations aren’t supported by Technical Preview.
  • To access the Windows Store and to download and run apps, you need an Internet connection, a screen resolution of at least 1024 x 768, and a Microsoft account.
  • After you install the preview, you won't be able to play DVDs using Windows Media Player.
  • If you have Windows 8 Pro with Media Center and you install the preview, Windows Media Center will be removed.
  • The preview won’t work on Windows RT 8.1 and Windows N editions.
  • The preview is not available for Windows Phone.
  • A small number of older, 64-bit CPUs might be blocked from installing the preview.
  • If you're running Windows 7 without SP1, you can only upgrade to the preview by downloading an ISO file. If you install Windows 7 SP1, you can upgrade to the preview by using Windows Update or by downloading an ISO file.


Download Windows Technical Preview
Follow these steps to download Technical Preview:

  1. Sign up for the Windows Insider Program, if you haven't already.
  2. Read the system requirements.
  3. Click one of the Download links on this page to download a special file—it's called an ISO file—that you can use to install the preview.
  4. When the download is complete, transfer the ISO file to installation media such as a USB flash drive or DVD.
  5. Boot your PC from the installation media, and then follow the steps to perform a clean install.


Important.

  • You'll need a third-party program to convert the ISO file into installable media—DVD burning software often includes this capability.
  • Remember, trying out an early build like this can be risky. That's why we recommend that you don't install the preview on your primary home or business PC. Unexpected PC crashes could damage or even delete your files, so you should back up everything.
  • If you want to stop using Windows Technical Preview and return to your previous version of Windows, you'll need to reinstall your previous version from the recovery or installation media that came with your PC—typically a DVD. If you don't have recovery media, you might be able to create recovery media from a recovery partition on your PC using software provided by your PC manufacturer. You'll need to do this before you upgrade. Check the support section of your PC manufacturer's website for more info.
  • After you install Windows Technical Preview, you won’t be able to use the recovery partition on your PC to go back to your previous version of Windows.
Official Site Windows 10 Technical Preview download link :


Download links

Product key: NKJFK-GPHP7-G8C3J-P6JXR-HQRJR

LanguageLink to downloadSHA-1 hash value
English (United States) 64-bit (x64)
 Download (3.81 GB)  
EB75A3D3C0F621F175B75DC65DB036D0E00EAC43
English (United States) 32-bit (x86)
 Download (2.93 GB) 
73AC23AD89489855F33CA224F196327740057E2E
English (United Kingdom) 64-bit (x64)
 Download (3.79 GB)  
17C6CD7224D13DB61B93A4A9D38202E3A0019378
English (United Kingdom) 32-bit (x86)
 Download (2.94 GB) 
BFF496678A09255738BFBFA14903295D55478C33
Chinese (Simplified) 64-bit (x64)
 Download (3.96 GB)   
135E3193571C5AF9FBF36D24D07B2BE7EE49B2E8  
Chinese (Simplified) 32-bit (x86)
 Download (3.05 GB)   
3EE3A2033BE666BA55AFED3FCF6BB52A7C15C7CC  
Portuguese (Brazil) 64-bit (x64)
 Download (3.76 GB)    
3DA91BB9EA7316F670C0A132D940FC1D58BAB296  
Portuguese (Brazil) 32-bit (x86)
 Download (2.91 GB)   
611FE8F94906EFE75F64D197913344AC040DF644

Windows 10 Technical Preview enterprise edition.




Quick guide to install Windows 10 Technical Preview 

To install Windows 10 Technical preview doesn’t take too long, the whole process takes approximately 30 (depending on the speed of your PC). This is a quick guide on how to install what you need in a few steps:
  1. Start off by navigating Microsoft’s website and download the Windows 10 Technical Preview ISO file. Just simply click through the “Get Started” and “Join Now” screens, then scroll down and choose the appropriate language and version (32- or 64-bit).
  2. Download and install Oracle VM VirtualBox, the free virtualization tool which is going to make it possible for you to run Windows 10 inside Windows. 
  3. Run VirtualBox, then click the New icon. In the Create Virtual Machine dialog box, type ‘Windows 10,’ then click the version selector and choose Windows 8.1 You must ensure that you match the ISO to what you downloaded, either 32 or 64 bit, to what version is listed for 8.1.
  4. VirtualBox will provide you with a recommended memory size; accept unless you have a specific reason for changing it. Then select ‘Create a virtual hard drive’ and click Create. Accept VDI as the file type for the drive and then choose Fixed Size for the virtual drive. Finally, click Create and wait while VirtualBox constructs your virtual drive.
  5. When the drive is ready, click the Start button in the VirtualBox toolbar. You’ll see a box telling you to ‘Select start-up disk.’ Just Click the file folder next to the pull-down and navigate to the Windows 10 ISO file you downloaded in the first step and click Start.
  6. Now just install Windows as normal, but make sure to choose the ‘Custom: Install Windows only (advanced)’ option when asked. As usual, the setup process may involve a few reboots, though only within the confines of the VM.

A PC running Windows Technical Preview

Voila! Now you should have a version of Windows 10 running inside a safe and sandboxed window. Please note although the installation appears to have completed, you will have to reboot the system manually once more. After that, you are good to go for as long as you have the preview trial.


Technical Preview expires on April 15, 2015

If you’re running Technical Preview, we'll send you notifications beginning on April 1, 2015 to remind you that it’s time to upgrade your PC to a newer version.


Oracle VM VirtualBox download link :

Source : 

  1. http://news.filehippo.com/
  2. http://windows.microsoft.com/