Jumat, 21 Juli 2017

Mengenal Dewi Sri, Dewi Pujaan Para Petani di Tanah Jawa....


SRI.....bukan judul lagu, nama menteri apalagi parpol.

Sri merupakan perwujudan sakti Wisnu yang selalu dihubungkan dengan unsur keberuntungan dan kemakmuran. Sri juga dikenal dengan sebutan ardhra yaitu yang selalu memberi kesan segar dan hidup seperti tanaman. Sebutan Sri yang lain adalah kairisin, yang berarti selalu melimpahi dengan pupuk (kandang), bhuti yang berarti selalu diharapkan untuk melimpahkan kemakmuran, serta jwalantin, yang selalu bersinar terang. 

Berkaitan dengan hal tersebut, maka Sri kemudian dipuja di kalangan masyarakat agraris, tidak ketinggalan pula di kalangan masyarakat Jawa. Di India, Sri tidak terlalu populer, jika dibandingkan dengan Laksmi. Akan tetapi, masyarakat Jawa Tengah Kuna tampaknya lebih mengenal Sri sebagai sakti Wisnu dari pada Laksmi. Pada periode Jawa Tengah Kuna, keberadaan Dewi Sri lebih populer dari pada Laksmi. Terdapat asumsi adanya pemujaan terhadap Wisnu dan saktinya Sri pada masa Jawa Tengah Kuna. Pengambaran Sri sebagai sakti Wisnu pada periode Jawa Tengah Kuna ditandai dengan laksana setangkai bulir padi pada tangan kirinya, sebagaimana ditunjukkan oleh arca perunggu yang merupakan penggambaran Dewi Sri koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. 

Dewi Sri
Koleksi museum Sonobudoyo diambil dari Tropen Museum.

Dewi Sri digambarkan duduk di atas padmasana dengan sikap sattwaparyangkasana. Dewi tersebut digambarkan dengan dua tangan, tangan kanannya bersikap waradahastamudra, sedangkan tangan kirinya memegang setangkai padi. Kedudukannya sebagai dewi ditunjukkan dengan hadirnya sirascakra (halo). Ia digambarkan mengenakan jatamakuta, kundala, hara, channawira, keyura, kankana dan urudamaj. 

Keberadaan unsur padi inilah yang kemungkinan menyebabkan Dewi Sri didudukkan sebagai dewi padi. Kemunculan peran Sri sebagai dewi padi sebenarnya baru muncul pada periode yang lebih kemudian, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Kitab yang berasal dari abad ke XV-XVI, sedangkan temuan nama Sri telah dijumpai pada cincin dengan tulisan Cri yang berasal dari abad VII-IX M yang dikombinasikan dengan mantra Om sehingga membentuk gambar zanca. Konsepsi ini mungkin merupakan pengembangan dari pemikiran bahwa Sri dianggap berhubungan dengan kesuburan tanaman sesuai dengan sebutan kairisin dan kadama, putera Sri yang berarti lumpur sawah, hal ini yang mencipatakan mitos bahwa Sri adalah penguasa padi (Buku Dewa Dewi Masa Klasik terbitan BPCB Jateng).

"Javanese Woman" 
Karya Kassian Cephas koleksi National Gallery of Australia.

Hal lain yang berhubunga dengan dewi Sri dan padi adalah Ani-ani. Ani-ani adalah sebuah alat memanen atau pemotong batang padi yang terbuat dari kayu, pegangannya terbuat dari selongsong bambu kecil dan sebilah pisau kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Masyarakat sunda atau jawa dahulu selalu memakai Ani-ani sebagai alat untuk memanen padi. Karena alat ini ukurannya cukup kecil dan penggunaanya pun sangat sederhana dimana Ani-ani hanya bisa memotong batang bulir padi satu persatu.
Dari segi efisiensi alat tradisional ini cukup banyak memakan waktu dan beda dengan cara di arit atau pakai clurit yang bisa memotong batang padi dalam jumlah yang banyak sekaligus.

Kelebihan Ani-ani adalah para petani bisa lebih selektif dalam meotong batang padi dan tidak semua padi dapat dipanen atau dipotong pada saat yang sama karena biasanya kalau yang masih hijau para petani akan menyisakan untuk dipanen dikemudian hari.

Pada saat memanen atau memotong padi masyarakat adat tradisional Sunda tidak membenarkan atau melarang memanen padi menggunakan golok atau arit. Menurut masyarakat tradisional Sunda yang masih kukuh memangku adat dalam memanen padi mereka percaya bahwa dewi padi Sari Pohaci Sanghyang Sri berjiwa halus dan lembut sehingga sangat ketakutan apabila melihat arit atau golok.


Selain itu juga ada kepercayaan bahwa padi yang akan dipanen, merupakan perwujudan sang dewi, harus diperlakukan dengan hormat dan lembut dipotong satu persatu, tidak boleh dibabat secara kasar begitu saja. Sampai sekarang tradisi kepercayaan itu masih banyak diamalkan oleh sebagian kalangan masyarakat Sunda dan Jawa pada umumnya, misalnya upacara tradisional panen padi masyarakat Sunda yang disebut Seren Tahun.

Penulis : Goenawan A. Sambodo