Senin, 30 April 2018

Waspadai Bahaya Mengancaman Di Balik Anemia Pada Anak.

 Anemia atau penyakit kekurangan sel darah merah juga bisa dialami anak-anak. Pengaruhnya bukan hanya lesu, tapi juga menurunkankonsentrasi, bahkan kecerdasan.

Risiko anak menderita anemia lebih besar jika ibunya juga mengalami anemia saat mengandung. Adapun kelompok ibu dan remaja putri merupakan kelompok yang dianggap paling rentan mengalami anemia.

"Di Indonesia, satu dari tiga ibu hamil menderita anemia," ujar Endang selaku Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), .

Penyebab utama anemia adalah kekurangan zat besi. Ibu yang terkena anemia akan "mewariskan" bayi yang kekurangan zat besi. Akibatnya, bayi pada usia empat hingga enam bulan bisa terkena anemia. Intelligence quotient (IQ) anak pun bisa terganggu jika mengalami anemia.

"Kalau sejak kecil menderita anemia, IQ-nya bisa turun 10-12 poin. Lalu IQ rata-rata sudah mepet garis normal, dikurangi 10 lagi bisa kurang dari normal dan akan pengaruh terhadap ketangkasan," tuturnya.


Anemia pada bayi usia 0-2 tahun jika tidak segera ditangani dikhawatirkan akan sulit diubah.

"Penurunan kemampuan kognitif atau kecerdasan pada bayi usia 0-2 tahun yang tidak segera dikoreksi sifatnya permanen. Susah diubahnya. Maka, mulailah dari remaja agar siap saat hamil agar tak anemia."

Cegah anemia pada anak Anemia pada anak bisa dicegah sejak dini. Pada masa kehamilan, misalnya, ibu dinjurkan rutin mengonsumsi tablet tambah darah setiap hari.

Endang menyarankan agar konsumsi tablet dimulai sejak masa prakonsepsi, atau sebelum pertemuan sel telur dan sperma. Namun, karena hal itu sulit untuk dihitung, ia menyarankan konsumsi tablet sebulan sebelum menikah.

"Satu tablet sehari untuk ibu hamil dan saat nifas. Kalau bisa selama hamil enam bulan, 180 hari 180 tablet itu bagus," tuturnya.

Setelah anak lahir, ada baiknya pula agar mereka mulai diberi makanan dengan kandungan zat besi yang cukup. Endang membagi makanan anak 0-2 tahun ke dalam dua jenis.

Jenis pertama adalah ASI eksklusif yang memiliki kandungan zat besi tinggi. Setelah memasuki bulan keenam, makanan anak perlu dikombinasikan.

Misalnya dengan pangan hewani. Keragaman gizi makanan sangat diperlukan pada anak di usia tersebut.

"Kalau dulu yang tradisional ada nasi tim, dikasih hati ayam atau sapi, kemudian ada wortel, bayam, dan nasi. Itu sebetulnya sudah bagus," katanya.

Untuk seterusnya, Endang menyarankan agar anak selalu diberi makanan bergizi seimbang dan kaya sumber zat besi.


Penulis : Nabilla Tashandra
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber : kompas.com, dikutip dari nationalgeographic.co.id,  26 April 2018, 23:51 WIB.