Kamis, 02 Juni 2016

Sejarah Lambang, Asal-usul Lambang Kota Surabaya dan Kisah Legenda Patung Sura dan Buaya.


Patung Sura dan Buaya (Jawa: Patung Suro lan Boyo) adalah sebuah patung yang merupakan lambang Kota Surabaya. Patung ini berada di depan Kebun Binatang Surabaya. Patung ini terdiri atas dua hewan ini yang menjadi inspirasi nama kota Surabaya: ikan sura dan buaya.

Jika para pembaca mendengar kata Surabaya, selain kota Pahlawan, secara spontan yang terlintas adalah teringat patung ikan Hiu dan Buaya yang saling serang yang kini menjadi lambang kota Surabaya.

Namun tahukah anda dari hasil penelusuran literatur, bahwa kata Surabaya sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan legenda Sura (ikan Hiu) dan Buaya tersebut. Mitos yang berkembang, nama Surabaya berasal pertarungan Ikan Hiu dan Buaya, sehingga Surabaya diambil dari kata Sura yang berarti ikan Hiu dan Baya yang berarti Buaya.

Secara terminology bahasa, mitos ini dapat dipatahkan, karena istilah Sura sama sekali tidak mencerminkan kata Ikan Hiu, baik dari bahasa Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol, Sansakerta, maupun Jawa Kuno. Kecuali Shark dalam bahasa Inggris yang lidahnya mungkin kepleset jadi Sura, terlalu jauh banget he-he...he.

Lain ceritanya jika Baya diambil dari Buaya atau Boyo, sehingga masih masuklah ini. Lalu Sura ini apa?
Jika bukan ikan Hiu, lalu kenapa lambang Surabaya adalah Ikan Hiu dan Buaya. Maka pertanyaan ini memunculkan rentetan pertanyaan berikutnya, sejak kapan Surabaya menggunakan logo Ikan Hiu dan Buaya sebagai lambang resmi identitas kota? Anda penasaran ?

Silahkan anda baca uraian berikut :


Sejarah Panjang Logo Kota Surabaya.


Sejumlah literatur sejarah mengungkapkan logo tertua model ikan dan buaya itu ditemukan arkeolog Belanda tahun 1920 dari penning atau prasasti tua yang dibuat untuk memperingati 10 tahun usia Perkumpulan Musik St Caecilia (1848 - 1858). Logo ini juga diyakini dibuat dari kain bludru yang dibordir di bendera yang menjadi panji panji perkumpulan musik ini. Logo itulah yang dipajang di setiap pementasan di bagian pinggir panggung para pemain musik.

Mungkin karena bentuk logonya unik, Di tahun 1848, sebuah koran dagang Hindia Belanda tertua yang terbit di Surabaya, Soerabaiasche Courant, meletakkan lambang ini di kop koran sebagai logonya. Namun saat itu tidak jelas apa filosofi di dalam logo ini karena tidak pernah ada catatan.


Kesimpulan sementara dari uraian Sawoong.com adalah, bahwa logo Ikan HIu dan Buaya yang dipakai Surabaya sebagai lambang identitas kota terinspirasi dari Perkumpulan Musik St Caecilia yang tenar pada tahun 1848 an, lalu dengan sedikit modifikasi dipakai sebagai lambang pemerintah Hindia Belanda di Surabaya tahun 1920 an dan kemudian diresmikan oleh Pemerintah Kota Surabaya tahun 1955 sampai sekarang dengan membuat ikon Sura dan Buaya nya saling serang dengan membentuk huruf “S”.

Sebelum tahun 1955, Gemeeente van Soerabaia alias pemkot Surabaya di masa Hindia Belanda juga mengambil dua binatang ini sebagai lambang.  Bedanya, lambang yang sekarang terkesan lebih heroik karena dua binatang itu saling serang, sementara lambang zaman Gemeeente kedua hewan ini pada posisi tidur sejajar di sebuah perisai warna biru langit. Ikan hiu di sisi atas menoleh ke kiri, dan buaya di bawah menghadap ke kanan. Keduanya berwarna perak.

Di atas perisai terdapat gambar benteng yang mahkota warna emas. Sisi kiri-kanan perisai dipegangi dua singa Nederlandia (Nederlandse Leeuwen) berwarna emas dengan lidah dan kuku berwarna merah menjulur. Di bagian bawah ada pita bertuliskan "Soera-Ing-Baia".


Singa kembar mengapit prisai dengan pita di bagian bawah dan benteng di bagian atas adalah ciri lambang kolonial era 1900-an. Lambang ini berlaku di semua kota di Hindia Belanda, gementee van Soerabaia atau Pemkot Surabaya yang lahir pada 1 April 1906 juga ingin lambang kota.

Lambang sebuah ikan dan buaya itu sebenarnya usulan LCR Breemen, bos Bank Nutsspaark di Surabaya. Sia berdalih lambang dua hewan itu pantas karena dasar mitos. Namun Breemen hanya mengusulkan karena yang merancang desain grafisnya adalah Genealogisch Heralsch Leeuw atau perhimpunan ahli lambang di Belanda. Baru pada 1920, lambang dua hewan dalam perisai itu menjadi kop surat dan stempel resmi Gemeeente van Soerabaia.

Lambang kota Surabaya pada masa Hindia Belanda (1934).

Secara sederhana, dari ulasan singkat tersebut diketahui istilah Surabaya dimungkinkan berasal dari kata Soera ing Baia sebagaimana tertera pada lambang Gementee van Soerabaia. Namun, istilah Soera ing Baia sama sekali tidak menunjukkan hubungan antara Ikan Hiu dan Buaya. Soera Ing Baia membawa arti Berani menghadapi Bahaya, dari bahasa Sansakerta. Sebagaimana kita tahu, beberapa istilah dan symbol yang ada di Negara kita berasal dari bahasa Sansakerta, maka asal usul nama ini dapat dipertanggungjawabkan.


Arti lambang Kota Surabaya


Lambang kota Surabaya saat ini.

Lambang Kota Surabaya yang berlaku sampai saat ini ditetapkan oleh DPRS Kota Besar Surabaya dengan Putusan no. 34/DPRDS tanggal 19 Juni 1955, diperkuat dengan Keputusan Presiden R.I. No. 193 tahun 1956 tanggal 14 Desember 1956 yang isinya :
  • Lambang berbentuk perisai segi enam yang distilir (gesty leerd), yang maksudnya melindungi Kota Besar Surabaya.
  • Lukisan Tugu Pahlawan melambangkan kepahlawanan putera-puteri Surabaya dalam mempertahankan Kemerdekaan melawan kaum penjajah.
  • Lukisan ikan Sura dan Baya yang berarti Sura Ing Baya melambangkan sifat keberanian putera-puteri Surabaya yang tidak gentar menghadapi sesuatu bahaya.
  • Warna-warna biru, hitam, perak (putih) dan emas (kuning) dibuat sejernih dan secermelang mungkin, agar dengan demikian dihasilkan suatu lambang yang memuaskan.


Legenda Cerita Rakyat

Dahulu, di lautan luas sering terjadi perkelahian antara ikan hiu Sura dengan Buaya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus. Sudah berkali-kali mereka berkelahi belum pernah ada yang menang atau pun yang kalah. Akhimya mereka mengadakan kesepakatan.

“Aku bosan terus-menerus berkelahi, Buaya,” kata ikan Sura.

“Aku juga, Sura. Apa yang harus kita lakukan agar kita tidak lagi berkelahi?” tanya Buaya.

Ikan Hiu Sura yang sudah memiliki rencana untuk menghentikan perkelahiannya dengan Buaya segera menerangkan.

“Untuk mencegah perkelahian di antara kita, sebaiknya kita membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Aku berkuasa sepenuhnya di dalam air dan harus mencari mangsa di dalam air, sedangkan kamu berkuasa di daratan dan mangsamu harus yang berada di daratan. Sebagai batas antara daratan dan air, kita tentukan batasnya, yaitu tempat yang dicapai oleh air laut pada waktu pasang surut!”

“Baik aku setujui gagasanmu itu!” kata Buaya.

Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan, maka tidak ada perkelahian lagi antara Sura dan Buaya. Keduanya telah sepakat untuk menghormati wilayah masing-masing.

Tetapi pada suatu hari, Ikan Hiu Sura mencari mangsa di sungai. Hal ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi agar Buaya tidak mengetahui. Mula-mula hal ini memarig tidak ketahuan. Tetapi pada suatu hari Buaya memergoki perbuatan Ikan Hiu Sura ini. Tentu saja Buaya sangat marah melihat Ikan Hiu Sura melanggar janjinya.

“Hai Sura, mengapa kamu melanggar peraturan yang telah kita sepakati berdua? Mengapa kamu berani memasuki sungai yang merupakan wilayah kekuasaanku?” tanya Buaya.

Ikan Hiu Sura yang tak merasa bersalah tenang-tenang saja. “Aku melanggar kesepakatan? Bukankah sungai ini berair? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah penguasa di air? Nah, sungai ini ‘kan ada airnya, jadi juga termasuk daerah kekuasaanku,” kata Ikan Hiu Sura.

“Apa? Sungai itu ‘kan tempatnya di darat, sedangkan daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu adalah daerah kekuasaanku!” Buaya ngotot.

“Tidak bisa. Aku “kan tidak pernah bilang kalau di air hanya air laut, tetapi juga air sungai,” jawab Ikan Hiu Sura.

“Kau sengaja mencari gara-gara, Sura?”

“Tidak! Kukira alasanku cukup kuat dan aku memang di pihak yang benar!” kata Sura.

“Kau sengaja mengakaliku. Aku tidak sebodoh yang kau kira!” kata Buaya mulai marah.

“Aku tak peduli kau bodoh atau pintar, yang penting air sungai dan air laut adalah kekuasaanku!” Sura tetap tak mau kalah.

“Kalau begitu kamu memang bermaksud membohongiku ? Dengan demikian perjanjian kita batal! Siapa yang memiliki kekuatan yang paling hebat, dialah yang akan menjadi penguasa tunggal!” kata Buaya.

“Berkelahi lagi, siapa takuuut!” tantang Sura dengan pongahnya.

Pertarungan sengit antara Ikan Hiu Sura dan Buaya terjadi lagi. Pertarungan kali ini semakin seru dan dahsyat. Saling menerjang dan menerkam, saling menggigit dan memukul. Dalam waktu sekejap, air di sekitarnya menjadi merah oleh darah yang keluar dari luka-luka kedua binatang itu. Mereka terus bertarung mati-matian tanpa istirahat sama sekali.

Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Ikan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Selanjutnya, ekornya itu terpaksa selalu membelok ke kiri. Sementara ikan Sura juga tergigiut ekornya hingga hampir putus lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas telah dapat mempertahankan daerahnya.

Pertarungan antara Ikan Hiu yang bernama Sura dengan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu, nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peristiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Madya Surabaya yaitu gambar ikan sura dan buaya.

Namun ada juga yang berpendapat Surabaya berasal dari Kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti selamat menghadapi bahaya. Bahaya yang dimaksud adalah serangah tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa. Seharusnya yang dihukum adalah Kertanegara, karena Kertanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar. Setelah mengalahkan Jayakatwang orang-orang Tar-Tar merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa ke Tiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan sepereti ini. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-Tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok.

Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.

Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus bergolak. Tanggal 10 Nopmber 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda.

Di zaman sekarang, pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kala musim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Di musim kemarau kadangkala tenpat-tempat genangan air menjadi daratan kering. 

Sumber : 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...