Kamis, 25 Januari 2018

Mengenal Seluk Beluk Kisah Wiracarita Rāmâyaṇa.


Ramayana (dari bahasa Sanskerta: रामायण, Rāmâyaṇa; yang berasal dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti "Perjalanan Rama") adalah syair epik India kuno yang menceritakan perjuangan Rama untuk menyelamatkan istrinya Sita dari raja Rahwana. Nama Ramayana adalah senyawa tatpuruṣa dari nama Rāma .


Ramayana Dalam Sejarah. 


Artikel terkait :



Menurut tradisi Hindu - dan menurut Ramayana sendiri - epik itu termasuk dalam genre itihasa seperti Mahabharata . Definisi itihāsa adalah narasi peristiwa masa lalu ( purāvṛtta ) yang mencakup ajaran tentang tujuan kehidupan manusia . Menurut tradisi Hindu, Ramayana berlangsung selama periode yang dikenal dengan Treta Yuga .

Beberapa bukti budaya, seperti kehadiran sati di Mahabharata tapi tidak di tubuh utama Ramayana, menunjukkan bahwa Ramayana mendahului Mahabharata . Namun, latar belakang budaya umum Ramayana adalah salah satu periode pasca urbanisasi di bagian timur India utara dan Nepal , sementara Mahabharata mencerminkan daerah Kuru di sebelah barat ini, dari periode Rigvedic sampai akhir Veda .

Menurut tradisi, teks itu termasuk dalam Treta Yuga , yang kedua dari empat jaman ( yuga ) kronologi Hindu . Rama dikatakan telah lahir di Treta yuga untuk raja Dasharatha di dinasti Ikshvaku .

Menurut pandangan akademis modern, Wisnu , yang, menurut bala kanda , berinkarnasi sebagai Rama , pertama kali menjadi terkenal dengan epos itu sendiri dan lebih jauh lagi, selama periode puranus pada akhir abad ke 1 M. Selain itu, dalam epik Mahabharata, ada versi Ramayana yang dikenal dengan Ramopakhyana. Versi ini digambarkan sebagai narasi ke Yudhistira .

Ada konsensus umum bahwa buku dua sampai enam merupakan bagian tertua epik, sementara buku pertama dan terakhir (Bala Kanda dan Uttara Kanda) kemudian ditambahkan. Penulis atau penulis Bala Kanda dan Ayodhya Kanda tampak akrab dengan daerah cekungan Gangga timur di India utara dan dengan daerah Kosala , Mithila dan Magadha selama periode enam belas Mahajanapadas , berdasarkan fakta bahwa data geografis dan geopolitik sesuai dengan apa yang diketahui tentang wilayah ini.


Ramayana Adalah Kisah Klasik Terbesar Di Dunia.


Ramayana adalah salah satu epos kuno terbesar dalam literatur dunia. Dalam bentuknya yang masih ada, Ramayana milik Valmiki adalah sebuah puisi epik dari sekitar 24.000 ayat (Shloka), terbagi menjadi tujuh kanda (buku) dan sekitar 500 karnaval (bab). Teks tersebut bertahan dalam beberapa ribu manuskrip parsial dan lengkap, yang tertua adalah manuskrip daun palem yang ditemukan di Nepal dan bertanggal pada abad ke-11 Masehi. Laporan Times of India tanggal 18 Desember 2015 menginformasikan tentang penemuan manuskrip Ramayana abad ke-6 di perpustakaan Masyarakat Asia, Kolkata .

Telah ada pembahasan mengenai apakah tulisan pertama dan terakhir (bala kandam dan uttara kandam) Ramayana karya Valmiki disusun oleh penulis aslinya. Sebagian besar umat Hindu masih percaya bahwa itu adalah bagian integral dari buku ini, terlepas dari beberapa perbedaan gaya dan kontradiksi naratif antara dua jilid ini dan keseluruhan buku ini.

Dalam tradisi Hindu , ini dianggap sebagai adi-kavya (puisi pertama). Ini menggambarkan tugas/ hubungan, menggambarkan karakter ideal seperti ayah ideal, pelayan ideal, saudara ideal, istri ideal dan raja yang ideal. Karakter Rama , Sita , Lakshmana , Bharata , Hanuman , Shatrughna , dan Ravana semuanya fundamental bagi kesadaran budaya India , Nepal , Sri Lanka dan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand , Kamboja , Malaysia dan Indonesia .

Ramayana adalah pengaruh penting pada puisi Sanskerta kemudian Hindu dan budaya dan kehidupan Hindu. Seperti Mahabharata , Ramayana bukan hanya sebuah cerita: ini menyajikan ajaran orang-orang bijak Hindu kuno dalam alegori naratif, menggabungkan unsur-unsur filosofis dan etis.

Ada banyak versi Ramayana dalam bahasa India, selain adaptasi Buddhis, Sikh dan Jain . Ada juga versi Kamboja , Indonesia , Filipina , Thailand , Laos , Burma dan Malaysia . Pastor Kamil Bulke, penulis Ramakatha , telah mengidentifikasi lebih dari 300 varian Ramayana .

Vanara (pasukan kera) yang membangun Jembatan Rama Setu ke Lanka , makara dan ikan juga membantu pembangunannya. Sebuah relief abad ke-9 Prambanan , Jawa Tengah, Indonesia.

Beberapa babak maupun adegan dalam Ramayana dituangkan ke dalam bentuk lukisan maupun pahatan dalam arsitektur bernuansa Hindu. Wiracarita Ramayana juga diangkat ke dalam budaya pewayangan di Nusantara, seperti misalnya di Jawa dan Bali. Selain itu di beberapa negara (seperti misalnya Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Philipina, dan lain-lain), Wiracarita Ramayana diangkat sebagai pertunjukan kesenian.

Ramayana terdapat pula dalam khazanah sastra Jawa dalam bentuk kakawin Ramayana, dan gubahan-gubahannya dalam bahasa Jawa Baru yang tidak semua berdasarkan kakawin ini. Dalam bahasa Melayu didapati pula Hikayat Seri Rama yang isinya berbeda dengan kakawin Ramayana dalam bahasa Jawa dan Bali kuno, yaitu wayang dan sendra tari.


Daftar Kitab Wiracarita Ramayana India.

Video : "Ramayana The Epic"

Wiracarita Ramayana terdiri dari tujuh kitab yang disebut Saptakanda. Urutan kitab menunjukkan kronologi peristiwa yang terjadi dalam Wiracarita Ramayana. Dalam kisah aslinya di India dalam bahasa Sanskerta, Ramayana dibagi menjadi tujuh kitab atau kanda sebagai berikut:

  • Balakanda
Kitab Balakanda merupakan awal dari kisah Ramayana. Kitab Balakanda menceritakan Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Prabu Dasarata berputra empat orang, yaitu: Rama, Bharata, Lakshmana dan Satrughna. Kitab Balakanda juga menceritakan kisah Sang Rama yang berhasil memenangkan sayembara dan memperistri Sita, puteri Prabu Janaka.

  • Ayodhyakanda
Kitab Ayodhyakanda berisi kisah dibuangnya Rama ke hutan bersama Dewi Sita dan Lakshmana karena permohonan Dewi Kekayi. Setelah itu, Prabu Dasarata yang sudah tua wafat. Bharata tidak ingin dinobatkan menjadi Raja, kemudian ia menyusul Rama. Rama menolak untuk kembali ke kerajaan. Akhirnya Bharata memerintah kerajaan atas nama Sang Rama.

  • Aranyakanda
Kitab Aranyakakanda menceritakan kisah Rama, Sita, dan Lakshmana di tengah hutan selama masa pengasingan. Di tengah hutan, Rama sering membantu para pertapa yang diganggu oleh para rakshasa. Kitab Aranyakakanda juga menceritakan kisah Sita diculik Rawana dan pertarungan antara Jatayu dengan Rawana.

  • Kiskindhakanda
Kitab Kiskindhakanda menceritakan kisah pertemuan Sang Rama dengan Raja kera Sugriwa. Sang Rama membantu Sugriwa merebut kerajaannya dari Subali, kakaknya. Dalam pertempuran, Subali terbunuh. Sugriwa menjadi Raja di Kiskindha. Kemudian Sang Rama dan Sugriwa bersekutu untuk menggempur Kerajaan Alengka.

  • Sundarakanda
Kitab Sundarakanda menceritakan kisah tentara Kiskindha yang membangun jembatan Situbanda yang menghubungkan India dengan Alengka. Hanuman yang menjadi duta Sang Rama pergi ke Alengka dan menghadap Dewi Sita. Di sana ia ditangkap namun dapat meloloskan diri dan membakar ibukota Alengka.

  • Yuddhakanda
Kitab Yuddhakanda menceritakan kisah pertempuran antara laskar kera Sang Rama dengan pasukan rakshasa Sang Rawana. Cerita diawali dengan usaha pasukan Sang Rama yang berhasil menyeberangi lautan dan mencapai Alengka. Sementara itu Wibisana diusir oleh Rawana karena terlalu banyak memberi nasihat. Dalam pertempuran, Rawana gugur di tangan Rama oleh senjata panah sakti. Sang Rama pulang dengan selamat ke Ayodhya bersama Dewi Sita.

  • Uttarakanda
Kitab Uttarakanda menceritakan kisah pembuangan Dewi Sita karena Sang Rama mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sita. Kemudian Dewi Sita tinggal di pertapaan Rsi Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rama pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Ramayana yang digubah oleh Rsi Walmiki.

Banyak yang berpendapat bahwa kanda pertama dan ketujuh merupakan sisipan baru. Dalam bahasa Jawa Kuno, Uttarakanda didapati pula.


Kutipan Dari Kakawin Ramayana Dalam Budaya Jawa.


Dua lembar lontar kakawin Ramayana yang tertua dan sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional R.I. Lontar ini berasal dari pegunungan Merapi-Merbabu, Jawa Tengah dari abad ke-16 M.

Kakawin Rāmāyaṇa (aksara Bali: Kakawin ramayana aksara bali.png, Jawa: ꦏꦏꦮꦶꦤ꧀ꦫꦩꦪꦟ ) adalah kakawin (syair) berisi cerita Ramayana. Ditulis dalam bentuk tembang berbahasa Jawa Kuno, diduga dibuat di Mataram Hindu pada masa pemerinthan Dyah Balitung sekitar tahun 820-832 Saka atau sekitar tahun 870 M. kakawin ini disebut-sebut sebagai adikakawin karena dianggap yang pertama, terpanjang, dan terindah gaya bahasanya dari periode Hindu-Jawa. 

Menurut tradisi Bali, Kakawin Ramayana ini dipercaya ditulis oleh seorang bernama Yogiswara. Hal ini ditolak oleh Prof. Dr. R.M.Ng. Purbatjaraka. Menurutnya, Yogiswara memang tercantum pada baris terakhir Ramayana versi Jawa ini, tetapi hal itu bukan merupakan identitas penulis, tetapi kalimat penutup yang berbunyi :

Sang Yogiswara çista, sang sujana suddha menahira huwus matje sira

kalimat tersebut jika diterjemahkan demikian:

Sang Yogi (pendeta/begawan) semakin bertambah pandai, Para sujana (cendekia/bijak) semakin bersih hatinya setelah membaca cerita ini.

Jadi jelas bahwa Yogiswara bukan merupakan nama penulis Ramayana Jawa ini.

Beberapa peneliti mengungkapkan, bahwa Kakawin Ramayana versi Jawa ini ternyata tidak sepenuhnya mengacu langsung kepada Ramayana versi Walmiki, akan tetapi mengacu ini merupakan transformasi dari kitab Rawanawadha yang ditulis oleh pujangga India kuno bernama  Bhaṭṭikāvya dari abad ke-6 sampai 7.. Hal ini disimpulkan oleh Manomohan Ghosh, seorang peneliti sastra dari India yang menemukan beberapa bait Ramayana Jawa yang sama dengan bait bait dalam Rawanawadha.

Kisah Ramayana di relief Candi Prambanan.

Kakawin Ramayana setelah diteliti oleh para pakar ternyata secara detail tidak mirip dengan versi-versi Ramayana di Nusantara lainnya, seperti Hikayat Sri Rama dalam bahasa Melayu, Serat Rama Keling dalam bahasa Jawa Baru dan juga relief-relief Ramayana yang terdapatkan di Candi Prambanan.

Dalam sastra Jawa Baru, kakawin Ramayana digubah ulang oleh kyai Yasadipura menjadi Serat Rama.

Dari segi alur cerita, Kekawin Ramayana juga memiliki perbedaan dengan Ramayana Walmiki. Pada akhir cerita, sekembalinya Rama dan Sita ke Ayodya, mereka berpisah kembali, jadi Rama dan Sita tidak hidup bersama, demikian versi Walmiki. Sedang dalam versi Jawa, Rama dan Sita hidup bersama di Ayodya.

Video : "Ramayana Ballet at Prambanan 28 August 2015 Full HD"

KutipanTerjemahan
Hana sira Ratu dibya rēngőn, praçāsta ring rāt, musuhnira praṇata, jaya paṇdhita, ringaji kabèh, Sang Daçaratha, nāma tā moliAda seorang Raja besar, dengarkanlah. Terkenal di dunia, musuh baginda semua tunduk. Cukup mahir akan segala filsafat agama, Prabu Dasarata gelar Sri Baginda, tiada bandingannya
Sira ta Triwikrama pita, pinaka bapa, Bhaṭāra Wiṣḥnu mangjanma inakaning bhuwana kabèh, yatra dōnira nimittaning janmaDia ayah Sang Triwikrama, maksudnya ayah Bhatara Wisnu yang sedang menjelma akan menyelamatkan dunia seluruhnya. Demikian tujuan Sang Hyang Wisnu menjelma menjadi manusia.
Hana rājya tulya kèndran, kakwèhan sang mahārddhika suçila, ringayodhyā subbhagêng rāt, yeka kadhatwannirang nṛpatiAda sebuah istana bagaikan surga, dipenuhi oleh orang-orang bijak serta luhur perbuatan, di Ayodhya-lah yang cukup terkenal di dunia, itulah istana Sri Baginda Prabu Dasarata
Malawas sirār papangguh, masneha lawan mahādewī, suraseng sanggama rinasan, alinggana cumabanā dinyaSudah lama Sri Baginda menikah, saling mencintai dengan para permaisurinya, kenikmatan rasa pertemuan itu telah dapat dirasakan, bercumbu rayu dan sejenisnya
Mahyun ta sira maputra, mānaka wetnyar waṛēg rikang wiçaya, malawas tan pānakatah, mahyun ta sirā gawe yajñaTimbullah niat Sri Baginda agar berputra, agar berputra karena sudah puas bercinta, namun lama nian dia tidak berputra, lalu dia berniat mengadakan ritual
Sakalī kāraṇa ginawe, āwāhana len pratiṣṭa ānnidhya, Parameçwara hinangēnangēn, umungu ring kuṇḍa bahni mayaSemua perlengkapan upacara sudah dikerjakan, alat upacara pengundang serta tempat para Dewa sudah tersedia, Bhatara Çiwa yang dipuja-Pūja, agar berstana pd api suci itu
Çeṣa mahārsī mamūjā, pūrnāhuti dibya pathya gandharasa, yata pinangan kinabehan, denira Dewi maharājaSisa sesaji yang dihaturkan oleh Sang Maha Pendeta, sesajen yang sempurna, santapan yang nikmat rasa serta baunya, itulah yang disantap oleh dia, permaisuri Sri Baginda Raja
Ndata tīta kāla lunghā, mānak tā Sang Daçarathā sih, Sang Rāma nak matuha, i sira mahādewī KauçalyaDemikianlah tidak diceritakan lagi selang waktu itu, para permaisuri kesayangan Prabu Dasarata melahirkan putera, Sang Rama putera yang sulung, dari permaisuri Dewi Kosalya
Sang Kekayi makānak, Sang Bharatya kyāti çakti dibya guṇa, Dewi sirang Sumitrā, Laksmaṇa Çatrughna putraniraAdapun putera Dewi Kekayi, Sang Bharata yang terkenal sakti mandraguna, sedangkan Dewi Sumitra, berputra Sang Lakshmana dan Sang Satrugna
Sang Rāma sira winarahan, ringastra de Sang Wasiṣṭa tar malawas, kalawan nantēnira tiga, prajñeng widya kabeh wihikanSang Rama diberi pelajaran tentang panah memanah oleh Bagawan Wasista dalam waktu tidak lama, beserta ketiga adik-adiknya, semuanya pintar cekatan tentang ilmu memanah

Ringkasan Cerita Wiracarita Rāmâyaṇa Versi Walmiki.



  • Prabu Dasarata dari Ayodhya.
Wiracarita Ramayana menceritakan kisah Sang Rama yang memerintah di Kerajaan Kosala, di sebelah utara Sungai Gangga, ibukotanya Ayodhya. Sebelumnya diawali dengan kisah Prabu Dasarata yang memiliki tiga permaisuri, yaitu: Kosalya, Kekayi, dan Sumitra. Dari Dewi Kosalya, lahirlah Sang Rama. Dari Dewi Kekayi, lahirlah Sang Bharata. Dari Dewi Sumitra, lahirlah putera kembar, bernama Lakshmana dan Satrugna. Keempat pangeran tersebut sangat gagah dan mahir bersenjata.

Pada suatu hari, Resi Wiswamitra meminta bantuan Sang Rama untuk melindungi pertapaan di tengah hutan dari gangguan para rakshasa. Setelah berunding dengan Prabu Dasarata, Resi Wiswamitra dan Sang Rama berangkat ke tengah hutan diiringi Sang Lakshmana. Selama perjalanannya, Sang Rama dan Lakshmana diberi ilmu kerohanian dari Resi Wiswamitra. Mereka juga tak henti-hentinya membunuh para raksasa yang mengganggu upacara para Resi. Ketika mereka melewati Mithila, Sang Rama mengikuti sayembara yang diadakan Prabu Janaka. Ia berhasil memenangkan sayembara dan berhak meminang Dewi Sinta, puteri Prabu Janaka. Dengan membawa Dewi Sinta, Rama dan Lakshmana kembali pulang ke Ayodhya.

Prabu Dasarata yang sudah tua, ingin menyerahkan tahta kepada Rama. Atas permohonan Dewi Kekayi, Sang Prabu dengan berat hati menyerahkan tahta kepada Bharata sedangkan Rama harus meninggalkan kerajaan selama 14 tahun. Bharata menginginkan Rama sebagai penerus tahta, namun Rama menolak dan menginginkan hidup di hutan bersama istrinya dan Lakshmana. Akhirnya Bharata memerintah Kerajaan Kosala atas nama Sang Rama.

  • Rama hidup di hutan.
Lakshmana , Rama dan Sita saat pengasingan mereka di Hutan Dandaka digambarkan dalam tarian Jawa.

Dalam masa pengasingannya di hutan, Rama dan Lakshmana bertemu dengan berbagai raksasa, termasuk Surpanaka. Karena Surpanaka bernafsu dengan Rama dan Lakshmana, hidungnya terluka oleh pedang Lakshmana. Surpanaka mengadu kepada Rawana bahwa ia dianiyaya. Rawana menjadi marah dan berniat membalas dendam. Ia menuju ke tempat Rama dan Lakshmana kemudian dengan tipu muslihat, ia menculik Sinta, istri Sang Rama. Dalam usaha penculikannya, Jatayu berusaha menolong namun tidak berhasil sehingga ia gugur. Rama yang mengetahui istrinya diculik mencari Rawana ke Kerajaan Alengka atas petunjuk Jatayu. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan Sugriwa, Sang Raja Kiskindha. Atas bantuan Sang Rama, Sugriwa berhasil merebut kerajaan dari kekuasaan kakaknya, Subali. Untuk membalas jasa, Sugriwa bersekutu dengan Sang Rama untuk menggempur Alengka. Dengan dibantu Hanuman dan ribuan wanara, mereka menyeberangi lautan dan menggempur Alengka.

  • Rama menggempur Rawana.

Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu, Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata panah Brahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.

Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada Wibisana. Sinta kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji. Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Hanuman menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan menyerahkan tahta kepada Rama.

Tak lama menjadi Raja dan Ratu di Kerajaan Ayodhya, Rama mendengar desas desus rakyatnya tentang kesucian Sita. Rama pun mengusir Sita dalam keadaan hamil dan Sita pergi ke tempat Resi Walmiki. Disana Sita menceritakan perjalanannya dengan Rama. Sita melahirkan anak kembar, yaitu Kusa dan Lawa. Beberapa tahun kemudian Rama mengadakan Upacara Aswamedha di Kerajaan Ayodhya. Sita, Resi Walmiki, Kusa dan Lawa datang ke upacara tersebut.

Lalu Kusa dan Lawa menyanyikan syair Ramayana. Rama kaget ada yang menceritakan perjalanannya. Setelah itu Sita bersumpah di depan semua orang " Jika aku suci maka Bumi akan menelanku." Tidak lama Ibu Dewi Pertiwi menjemput Sita dan ia pun ditelan Bumi. Rama yang sakit hati menanggalkan tubuhnya dan tidak lagi menjadi Perwujudan Wishnu. Rama pun meninggal di pantai Uttara.


Ramayana di Indonesia

Video : "Ki Mantab Soedarsono 2017 Rama Tambak Full"

Indonesia memiliki beberapa adaptasi Ramayana, termasuk Kakawin Ramayana dari Jawa, dan Ramakavaca di Bali (Indonesia).  Ramayana versi Jawa memiliki beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan versi asli Hindu. Paruh pertama Kakawin Ramayana mirip dengan versi Sansekerta aslinya, sedangkan paruh kedua sangat berbeda dengan Ramayana aslinya.

Salah satu modifikasi yang dapat dikenali dalam versi Jawa Ramayana adalah masuknya dewa penjaga Jawa pribumi, Semar , dan anak-anaknya yang cacat, Gareng, Petruk, dan Bagong yang membentuk empat besar angka Punokawan atau "pembantu badut". Kakawin Ramayana diyakini telah ditulis di Jawa Tengah sekitar tahun 870 M pada masa pemerintahan Mpu Sindok di Kerajaan Medang.

Kakawin Ramayana Jawa tidak didasarkan pada epik Valmiki, yang merupakan versi paling terkenal dalam cerita Rama, namun berdasarkan pada Ravanavadha atau "pembantaian Ravana", yang merupakan puisi abad keenam atau ketujuh oleh penyair India Bhattikavya .

Kakawin Ramayana juga menjadi rujukan Ramayana di pulau tetangga Bali yang mengembangkan Ramakavaca Bali. Relief dasar Ramayana dan Krishnayana diukir di dinding langkan candi prambanan abad ke-9 di Yogyakarta, serta di Jawa Timur pada abad ke-14 dari relief candi Penataran.  Di Indonesia , Ramayana telah diintegrasikan ke dalam budaya lokal terutama masyarakat Jawa , Bali dan Sunda , dan telah menjadi sumber bimbingan moral dan spiritual serta estetika dan juga hiburan, seperti wayang dan tarian tradisional.

Video : "Kecak Dance / Uluwatu, Bali (Full)"

Drama tari kecak Bali misalnya, mewakili cerita yang diambil dari episode Ramayana, di mana penari yang bermain sebagai Rama, Sita, Lakhsmana, Jatayu, Hanuman, Rahwana, Kumbhakarna dan Indrajit, tampil dan dikelilingi oleh rombongan lebih dari 50 telanjang Orang-orang berpakaian yang melayani sebagai paduan suara meneriakkan "cak" nyanyian. Pertunjukan tersebut juga mencakup acara api untuk menggambarkan pembakaran Lanka oleh Hanuman.

Di Yogyakarta , drama tari Jawa Wayang Wong juga menampilkan episode Ramayana dari Jawa. Pertunjukan Ramayana yang paling spektakuler di Jawa adalah Ballet Ramayana yang dipentaskan di panggung terbuka Trimurti Prambanan, dengan tampilan latar belakang tiga prasad utama menara candi Hindu Prambanan .


Sendratari Ramayana di Candi Prambanan.


Sendratari Ramayana Prambanan adalah singkatan dari kata seni drama dan tari artinya seni drama yang ditarikan. Yang sebelumnya disebut Ramayana Ballet. Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari dan drama tanpa dialog, diangkat dari cerita Ramayana dan dipertunjukkan di dekat Candi Prambanan di Pulau Jawa, Indonesia.


Dokumentasi pemeran utama Sendratari Ramayana, Rama (Tunjung Sulaksono) dan Sinta (Sumaryaning) bersama Charlie Chaplin dan GPH Suryohamijoyo (1961).

Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sendratari yang paling rutin mementaskan Sendratari Ramayana sejak 1961. Karakterisasi gerak tari Sendratari Ramayana Prambanan mengacu pada karakterisasi gerak pada wayang orang. Awal perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan didominasi gaya tari Surakarta, sedikit teknik gerak tari gaya Yogyakarta yang mengisi namun tetap lebih dominan gaya Surakarta.

Pelaksanaan teknis serta penyajian gaya Yogyakarta dan Surakarta agak berbeda, Gaya Surakarta lebih dekat dengan gaya romantik, sedangkan gaya Surakarta lebih dekat dengan gaya klasik. Dominasi gaya Surakarta pada awal perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan disebabkan koreografer yang ikut dalam proyek awal berasal dari Surakarta, salah satu pimpinan proyek pementasan sendiri adalah GPH Soerio Hamidjojo yang merupakan ahli tari dan karawitan di Surakarta. Selain itu salah satu pelatih adalah RT Atmokesowo yang juga merupakan ahli tari di Surakarta. Sejak tampilnya penari muda dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta, perlahan pengaruh gaya Yogyakarta dan daerah lain masuk ke dalam Sendratari tersebut. Hasilnya dapat dikatakan saat ini di Jawa Tengah tedapat tiga gaya sendratari, yaitu gaya Prambanan, gaya Surakarta, dan gaya Yogyakarta.

Sendratari Ramayana Prambanan biasa digelar tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, pementasan di panggung terbuka hanya pada bulan kemarau, di luar itu pementasan diadakan di panggung tertutup. Alamat lengkap kantor serta lokasi pertunjukan adalah Jalan Raya Jogja - Solo Km 16 Prambanan Sleman, Yogyakarta 55571.



Keistimewaan panggung terbuka di Prambanan adalah pada ukuran yang besar 14 m X 50 m dan dibangun sebagai bangunan yang menyatu dengan Candi Prambanan ( Candi Siwa) sebagai latar belakangnya dan menyatu dengan lingkungan alam yaitu Gunung Merapi serta langit biru sebagai dekorasi alamnya.

Panggung terbuka Candi Prambanan yang sebelumnya dibuat pada pertama kali pementasan tahun 1961 masih berada di dalam kompleks Candi Prambanan, sehingga kemudian dibuat panggung terbuka baru yang berada di luar zona candi. Panggung terbuka yang baru memiliki kapasitas 991 tempat duduk, terletak di sebelah barat kompleks Candi Prambanan, di sebelah barat Kali Opak.

Tribun penonton menghadap ke timur sehingga ketiga candi utamam Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma menjadi latar belakang panggung. Pada malam hari candi akan disorot dengan lampu berteganggan tinggi untuk menghasilkan efek latar yang megah.

Pertunjukan panggung terbuka hanya bisa diselenggarakan pada musim kemarau berkisar bulan Mei – Oktober, pentas dimulai dari pukul 19.30 sampai 21.30 bergantung kondisi cuaca. Gedung pertunjukan tertutup bernama Trimurti terletak di sebelah selatan panggung tertutup, dapat menampung 300 sampai 400 penonton, Sendratari Ramayana di gedung Trimurti disajikan dalam format cerita penuh dari sejak Rama mengikuti sayembara sampai dengan pertemuan kembali Rama dengan Sinta.

Harga Tiket :
DAFTAR HARGA 2018
PANGGUNG TERBUKAPANGGUNG TERTUTUP ( GEDUNG TRIMURTI )    
KELASHARGAFASILITASTEMPAT DUDUKKELASHARGAFASILITAS TEMPAT DUDUK
VIPIDR. 400.000DRINK64 VIP NO NO NO
KHUSUSIDR. 300.000SOFT DRINK130 KHUSUS IDR.300.000 SOFT DRINK 52
KELAS 1IDR. 200.000NO276 KELAS 1 IDR.200.000 NO 118
KELAS 2IDR. 125.000NO668 KELAS 2 IDR.125.000 NO 160
ROMBONGAN PELAJAR DOMESTIC MINIMUM 30 ORANG DENGAN SURAT PERMOHONAN DISPENSASI DARI SEKOLAH DI TEMPATKAN DI KELAS 2 DENGAN HARGA IDR. 50.000,- PER ORANG
RAMA SHINTA GARDEN RESTO PRAMBANAN
MAKAN MALAM (18.00-19.30)
IDR.145.000(2018)
MENU MASAKAN INDONESIA DISAJIKAN SECARA PRASMANAN
Return transfers from Jogjakarta City Area to Ramayana Prambanan : @ Rp. 105.000,-/person Minimum 2 persons. Included : Car, petrol and parking fees


Sinopsis Ramayana Ballet :

Video : "Sendratari Ramayana Prambanan 2014-07-24"

Ramayana Ballet atau Sendratari Ramayana diawali dengan kemenangan Rama dari sebuah kompetisi memanah. Kompetisi ini diadakan untuk mencari kesatria terbaik yang akan menikah dengan anak perempuan Raja Mantili yaitu Putri Shinta. Pada akhir kompetisi memanah itu Rama dari Kerajaan Ayodya keluar sebagai pemenangnya. Kemudian mereka menikah dan pergi kehutan Dandaka dengan Laksmana saudara laki-laki Rama.

Dihutan Dandaka, Rahwana menculik Shinta dan dibawa ke Alengka. Untuk merbut kembali Shinta, Rama dibantu oleh Hanoman dan pasukan kera membangun jembatan menuju kerajaan Alengka untuk membebaskan Shinta. Terjadilah pertempuran besar anatara kerajaan Alengka melawan Ayodya. Pasukan kera melawan para raksasa yang menjaga kerajaan Alengka.Ayodya dalam sayembara untuk mendapatkan Shinta. Setelah memenangkan sayembara tersebut Rama, Leksmana dan Shinta mengembara di hutan Dandaka.

Cerita ini diakhiri dengan kematian Rahwana oleh panah milik Rama dan bertemunya kembali Rama dan istrinya Shinta. Namun Rama menolak Shinta karena meragukan kesucian Shinta. kemudian Shinta membakar diri untuk membuktikan kesucian dirinya. Shinta terselamatkan dari api dan hal tersebut membuktikan bahwa Shinta masih suci. Akhirnya Rama dan Shinta bersatu kembali.


Pengelola Pementasan Sendratari Ramayana Prambanan Dari Masa ke Masa.


Sampai saat ini pengelola Sendratari Ramayana Prambanan telah berganti tiga kali. Pengelola pertama adalah panitia nasional yang langsung ditangani oleh Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata.

Pada tanggal 28 Mei 1964 Paku Alam VIII membentuk Yayasan Roro Jonggrang yang bertugas mengelola serta menyelenggarakan Sendratari Ramayana Prambanan. Pada tahun 1988, pengelolaan Sendratari Ramayana Prambanan diambil alih oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, dan Prambanan yang bekerja sama dengan Yayasan Roro Jonggrang sebagai direktur seni pementasan sendratari.

Setelah selesainya restorasi Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Wahana, serta Candi Sewu dan Candi Boko yang letaknya di luar kompleks Prambanan, pada tahun 1992 nama Perseroan diubah menjadi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.

Semula Sendratari Ramayana yang dipentaskan di panggung tertutup digelar dalam empat episode tiap bulan Mei-Oktober selama empat malam berturut-turut, yaitu pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin. Sedangkan di panggung tertutup dipentaskan tiap Selasa sepanjang tahun dalam bentuk cerita utuh. Pada tahun 1990, pementasan di panggung terbuka ditingkatkan menjadi 2 x 4 malam dengan tetap empat episode; sedang di panggung tertutup pementasan ditingkatkan menjadi tiap Selasa, Rabu, dan Kamis.

Saat ini pementasan di panggung tertutup diadakan pada bulan Mei-Oktober tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, dan biasanya pada saat bulan purnama akan diselenggarakan selama empat malam berturut-turut. Pada panggung tertutup dilaksanakan tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, sepanjang tahun di luar bulan Mei-Oktober. Sendratari Ramayana Prambanan meraih penghargaan Pacific Asia Travel Association (PATA) Gold Awards 2012, pada 21 April 2012 dalam “PATA Annual Report Conference" yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Ramayana
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Vali_(Ramayana)
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ramayana
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kakawin_Ramayana
  • http://www.borobudursunrise.net/news142-jadwal-dan-harga-ramayana-ballet-prambanan-2016.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sendratari_Ramayana_Prambanan