Jumat, 10 Juli 2015

4 Bintik Misterius Berdiameter 500 km Ditemukan di Planet Kerdil Pluto.

Wahana New Horizon memotret Pluto beserta bintik misteriusnya pada 29 Juni 2015 lalu. 

Foto planet Pluto yang diambil oleh wahana antariksa New Horizon memberikan pertanyaan baru bagi para ilmuwan. Ada empat bintik misterius yang terobservasi dari foto tersebut dan hingga kini ilmuwan belum mampu menjelaskannya.

Empat bintik itu masing-masing memiliki diameter sekitar 500 kilometer sementara penyebarannya tidak jelas. Namun demikian, bintik cenderung terletak pada belahan barat Pluto yang sayangnya tak akan dilihat New Horizon saat melintas dekat pada 14 Juli 2015.

"Ini benar-benar teka-teki, kami tak tahu apa bintik itu dan kami tak sabar untuk mengungkapnya," kata Alan Stern dari Southwest Research Institute, pimpinan investigasi New Horizon.

"Yang juga menjadi teka-teki adalah pertanyaan lama tentang perbedaan besar warna Pluto dengan bulannya, Charon, yang lebih gelap dan kelabu," imbuh Stern seperti dikutip BBC pada Jumat (2/7/2015) lalu.

Menurut ilmuwan, bila Pluto dan Charon terbentuk dari peristiwa tumbukan yang sama, seharusnya karakteristik keduanya mirip. Analisis data New Horizon diharapkan mampu memecahkan pertanyaan tentang asal-usul Pluto dan Charon.

Wajah Pluto, diambil dari wahana New Horizon milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).




Wajah Pluto terbaru pada awal bulan Juli 2015.

Image of Pluto

Pluto and Charon
Wajah Pluto diambil dengan teknologi Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) pada wahana antariksa New Horizon tanggal 8 Juli 2015.




Wajah Pluto dari informasi yang diperoleh oleh teleskop Hubble

Sebuah ekspedisi yang dinamakan Pluto Express direncanakan mulai meluncur ke angkasa pada Desember 2004 dan direncanakan tiba di Pluto paling lama pada tahun 2008, namun ekspedisi ini akhirnya dibatalkan pada tahun 2000 karena masalah dana dan digantikan sebuah misi baru bernama New Horizons (diluncurkan Januari 2006). Pesawat ini akan melintasi Pluto dan Charon, satelit alaminya dan kemudian mengirimkan foto-foto ke Bumi. Salah satu studi yang akan dilakukan Horizons mencakup masalah atmosfer yang ada di lapisan satelit Pluto tersebut. New Horizons juga direncanakan akan terbang menuju Sabuk Kuiper.

Trajectory of New Horizons past Pluto and its moons
Alur pejalanan wahana antariksa New Horizon 

New Horizon milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini tengah mendekati lingkungan Pluto yang terdiri dari satu planet kerdil dan lima bulan. Wahana itu akan mencapai jarak terdekat, 12.500 kilometer dari permukaan Pluto, pada 14 Juli 2015 pukul 18.49 WIB. New Horizon bakal mengirim gambar-gambar mengagumkan lagi tentang Pluto. 

Hingga kini dipercaya Pluto memiliki sifat atmosfer yang paling asli semenjak memisahkan diri dari matahari. Lapisan atmosfer ini juga dikenal sebagai lapisan paling dingin yang pernah dimasuki sebuah pesawat misi angkasa luar dari bumi.


Sekilas Tentang Planet Kerdil Pluto.

Berkas:Pluto, June 18, 2015.JPG
Pluto dilihat oleh wahana antariksa New Horizons pada tanggal 18 Juni 2015.

Pluto (nama resmi: 134340) adalah sebuah planet katai (dwarf planet) dalam Tata Surya. Sebelum 24 Agustus 2006, Pluto berstatus sebagai sebuah planet dan setelah pengukuran, merupakan planet terkecil dan terjauh (urutan kesembilan) dari matahari.

Pada 7 September 2006, nama Pluto diganti dengan nomor saja, yaitu 134340. Nama ini diberikan oleh Minor Planet Center (MPC), organisasi resmi yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan data tentang asteroid dan komet dalam tata surya kita.

Sejak ditemukan oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell, pada 18 Februari 1930, Pluto kemudian menjadi salah satu anggota Tata Surya yang paling jauh letaknya.


Jarak Pluto dengan matahari adalah 5.900,1 juta kilometer. Pluto memiliki diameter yang mencapai 2.486 km dan memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto mirip dengan Bulan dengan atmosfer yang mengandung metan. Suhu permukaan Pluto berkisar -233oCelsius sampai dengan-223o Celsius, sehingga sebagian besar berwujud es.

Berkas:Pluto and its satellites (2005).jpg
Pluto dan tiga satelitnya: Charon, Nix dan Hydra.

Animation of Pluto and Charon as seen from New Horizons spacecraft
Orbit Pluto dan Charon, dilihat oleh wahana antariksa New Horizons pada tanggal 12-18 April 2015.

Hasil penelitian terbaru, Pluto memiliki 5 satelit.

Pada 1978 Pluto diketahui memiliki satelit yang berukuran tidak terlalu kecil darinya bernama Charon (berdiameter 1.196 km). Kemudian ditemukan lagi satelit lainnya, Nix dan Hydra.


Kontroversi Status ke-planetan Pluto.

Wajah pluto saat ditemukan tahun 1930.

Wajah Clyde William Tombaugh sang penemu Pluto.

Pluto ditemukan oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell, pada 18 Februari 1930. Pada saat Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada setelah Neptunus. Kemudian, Charon, satelit yang mengelilingi Pluto sempat dikira sebagai planet yang sebenarnya. Akhirnya keberadaan satelit Charon ini semakin menguatkan status Pluto sebagai planet.

Asal-usul nama Pluto, juga sempat menjadi kontroversi. Karena sempat membuat banyak pihak saling berselisih paham. Banyak yang bilang nama ini berasal dari karakter anjing dalam komik Walt Disney. Kenyataan bahwa komik tersebut memulai debutnya pada tahun yang sama dengan penemuan benda angkasa tersebut oleh manusia dipercaya banyak pihak sebagai salah satu alasannya.

Nama Pluto juga merupakan nama seorang dewa dari kebudayaan Romawi yang menguasai dunia kematian (Hades dalam kebudayaan Yunani). Nama ini diberikan mungkin karena benda angkasa ini sama gelap dan dinginnya dengan dewa tersebut,selain juga misteri yang menyelimutinya.

Ternyata banyak nama lain yang pernah ditolak untuk menamai planet baru tersebut. Salah satunya adalah Minerva, yang berarti dewi ilmu pengetahuan. Alasannya jelas, karena nama tersebut sudah dipergunakan untuk hal yang lain. Lalu ada nama Constante, merujuk pada nama pendiri observatorium tempat Clyde bekerja, Constante Lowell. Namun pemberian nama Lowell juga ditolak secara perlahan-lahan.





Ribuan obyek trans-Neptunus yang salah satunya adalah Pluto, area ini disebut sebagai Obyek Sabuk Kuiper.

Akan tetapi, para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda langit termasuk dalam Obyek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna dan Haumea (1.500 km pada Mei 2004).

Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Obyek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil daripada Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama Xena oleh penemunya. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.

Orbit Planet Kerdil Pluto yang aneh, menunjukkan orbit Pluto dilihat dari atas, di mana Pluto suatu masa lebih dekat ke Matahari daripada Neptunus; panel 4 menunjukkan orbit Pluto dilihat dari samping, terhadap orbit planet-planet lain mengitari Matahari..

Pluto sendiri, dengan orbit memanjangnya yang aneh, memiliki perilaku lebih mirip objek Sabuk Kuiper daripada sebuah planet, demikian anggapan beberapa astronom. Orbit Pluto yang berbentuk elips tumpang tindih dengan orbit Neptunus. Orbitnya terhadap Matahari juga terlalu melengkung dibandingkan delapan objek yang diklasifikasikan sebagai planet. Pluto juga berukuran amat kecil, bahkan lebih kecil daripada Bulan, sehingga terlalu kecil untuk disebut planet.

Setelah Tombaugh wafat tahun 1997, beberapa astronom menyarankan agar International Astronomical Union, sebuah badan yang mengurusi penamaan dan penggolongan benda langit, menurunkan pangkat Pluto bukan lagi sebagai planet. Selain itu beberapa astronom juga tetap ingin menerima Pluto sebagai sebuah planet. Alasannya, Pluto memiliki bentuk bundar seperti planet, sedangkan komet dan asteroid cenderung berbentuk tak beraturan. Pluto juga mempunyai atmosfer dan musim layaknya planet.

Pada 24 Agustus 2006, dalam sebuah pertemuan Persatuan Astronomi Internasional, 3.000 ilmuwan astronomi memutuskan untuk mengubah status Pluto menjadi "planet katai" bersama-sama dengan sejumlah benda langit lainnya.

Penyusun: Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  1. sains.kompas.com, Selasa, 7 Juli 2015,09:51 WIB.
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Pluto
  3. https://www.nasa.gov/mission_pages/newhorizons/main/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...