Jumat, 24 Juli 2015

Menatap Wajah Si Planet Bungsu Dari Tata Surya Matahari : Pluto.

Wahana luar angkasa NASA, New Horizon.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan bahwa misi menjamah dunia Pluto oleh wahana New Horizon sukses. Pernyataan itu dikeluarkan setelah tim ilmuwan menerima "telepon" dari wahana tersebut pada Rabu (15/7/2015) hari ini. 

"Telepon" yang aslinya hanyalah kiriman sinyal itu diterima oleh fasilitas piringan raksasa penerima sinyal yang ada di Madrid, Spanyol, salah satu jaringan fasilitas komunikasi yang dimiliki NASA.

Sinyal menempuh jarak 4,7 miliar kilometer dari Pluto ke Bumi dalam waktu 4 jam 25 menit. Kiriman sinyal itu menjadi tanda bahwa New Horizon berhasil lolos dari debris angkasa yang berserakan di lingkungan Pluto untuk menuju titik 12.500 kilometer dari permukaannya.

Para ilmuwan di pengontrol misi New Horizon di Laurel, Maryland, Amerika Serikat sangat gembira dengan keberhasilan itu. Ketika sinyal diterima pada pukul 07.53 WIB pagi tadi, para ilmuwan saling berpelukan.

"Kami terkunci dengan telemetri dari wahana antariksa ini," kata Alice Bowman, manager operasional misi, seperti dikutip BBC, Rabu. "Kita punya wahana yang sehat, kita telah merekam data Pluto."

Pejabat administrasi NASA, Charles Bolden, mengatakan, "Dengan misi ini, kita berhasil mengunjungi setiap planet di Tata Surya. Sementara pimpinan sains NASA John Grunsfeld, mengatakan, "Ini momen bersejarah."

Bowman yakin bahwa New Horizon juga telah mengumpulkan data-data berharga tentang Pluto. "Segmen sejumlah tertentu pada prekam telah digunakan. Itu menunjukkan bahwa data telah dikoleksi oleh wahana itu," katanya.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis foto paling detail planet kerdil Pluto. Foto itu merupakan hasil jepretan wahana antariksa New Horizon kala masuk jam-jam terakhir sebelum melintas dekat.


Dalam foto itu, Pluto tampak berbeda dengan yang dibayangkan. Alih-alih berwarna biru seperti Bumi atau abu-abu sebelum bulan dan asteroid, mantan planet tersebut ternyata berwarna merah, menyerupai Mars. 


Wajah Pluto hasil jepretan New Horizon pada Selasa (14/7/2015) beberapa waktu sebelum melintas dekat.

Hasil jepretan New Horizon itu merupakan foto paling detail Pluto. Foto mengungkap adanya "cinta" di Pluto. Ada area yang berbentuk jantung hati yang dikenal dengan "heart of Pluto". Ada juga kawah-kawah dan area ekuator yang tak tampak jelas dalam foto lain.

New Horizon merupakan wahana berbiaya 700 dollar AS yang diluncurkan NASA tahun 2006. Setelah 9,5 tahun, wahana ini akhirnya sampai ke wilayah dekat Pluto. Wahana itu dijadwalkan melintas dekat Pluto pada jarak 12.500 pada Selasa (14/7/2015) pukul 18.49 WIB.

Saat berita ini diturunkan, seharusnya New Horizon sudah sampai di Pluto. Namun, konfirmasi kesuksesan melintas dekat itu baru bisa didapatkan pada Rabu (15/7/2015) sekitar pukul 7 pagi, saat sinyal wahana itu diterima oleh pengontrol misi di Bumi.

Upaya New Horizon melintas dekat Pluto ini gampang-gampang susah. Pluto diselimuti debris komet dan benda langit lain. Peluang tumbukan memang hanya 1 : 10.000 tetapi jika terjadi akan merusak seluruh misi.

Namun seluruh tim misi New Horizon optimis. "Malam ini (waktu Amerika Serikat) kami akan mendapatkan sinyalnya dan kami harus mendapatkan sinyalnya," kata Ralph Semmel, director of the Johns Hopkins Applied Physics Laboratory, anggota tim, dikutip BBC, hari ini.


Pluto Lebih Besar dari Dugaan


Seiring keberhasilan misi New Horizon menjamah Pluto, debat tentang status Pluto kembali mengemuka. Sejumlah kalangan menginginkan status Pluto sebagai planet yang dilepaskan pada tahun 2006 dikembalikan.

Stuart Clark, seorang penulis astronomi, dalam tulisannya di The Guardian, Rabu (15/7/2015), mengungkapkan langsung lewat judul "Tentu Pluto cukup berhak menjadi planet. Ukuran Bukan Segalanya."

Clark mengatakan bahwa Pluto memang dunia kecil, diameternya hanya 2.370 kilometer dan volumenya hanya 1 persen Bumi. "Namun, soal ukuran itu tak seharusnya dijadikan alasan untuk menendang Pluto," katanya.

Menurut Clark, menolak status Pluto sebagai planet merupakan penyangkalan terhadap sejarah. Tahun 1930, Clyde Tombaugh dari Lowell Observatory di Arizona menemukan Pluto sebagai planet. Sejarah itu, menurut Clark, tak seharusnya ditulis ulang.

Keberhasilan New Horizon harus dimanfaatkan untuk melihat ulang status Pluto. "Ini waktunya untuk mengkaji ulang aturan penetapan planet, mengembalikan status Pluto, dan menerima bahwa kita hidup di tata surya yang lebih besar dan bervariasi," jelasnya.


Diragukan sejak awal

Status Pluto sebagai planet sebenarnya sudah diragukan sejak awal, sejak masih disebut "Planet X". Sebulan setelah publikasi penemuannya di jurnal Science pada 21 Maret 1930, artikel di jurnal yang sama meragukan temuan itu.


Pluto kala itu dikatakan berukuran jauh lebih kecil dari dugaan. Sementara bidang orbitnya juga jauh lebih miring dan lebih lebar dibandingkan planet pada umumnya. Sempat diduga bahwa pluto adalah asteroid yang unik.

Kontroversi terus berlanjut, tetapi para ilmuwan yang mendukung keberadaan planet ini "tak peduli". Bulan Juni 1930, planet X dinamai sebagai Pluto berdasarkan usulan putri salah satu profesor dari Oxford University. 

Selama 7 dekade setelah penemuan, Pluto tetap menyandang status planet walaupun masih kontroversi. Baru tahun 2006, status planet Pluto dicabut oleh International Astronomical Union (IAU), badan yang bertanggung jawab pada penamaan dan klasifikasi benda langit. 

Penemuan Eris pada tahun 2005 memicu "pemecatan" Pluto. Eris memiliki ukuran sedikit lebih besar dari Pluto. Ilmuwan lantas bingung, apakah lalu bisa dikatakan bahwa Eris adalah planet kesepuluh di tata surya?

Tahun 2006, IAU memaparkan sejumlah syarat utama benda langit bisa disebut planet. Pluto tak memenuhi syarat ukuran dan orbit. Ukuran Pluto terlalu kecil dan orbitnya belum bisa dikatakan "bersih" dari benda langit lain selain satelitnya. 


Mungkin ditarik sebagai planet Lagi?


Beberapa saat sebelum New Horizon berhasil melintas dekat Pluto pada jarak 12.500 kilometer dari permukaannya, wahana itu mengungkap bahwa di planet kerdil ternyata berukuran lebih besar dari dugaan.

Akankah ukuran itu membuat Pluto kembali dinyatakan sebagai planet. Sepertinya tidak. Meski diketahui lebih besar, ukuran Pluto tetap setara dengan Eris, belum bisa menyamai ukuran planet terkecil di Tata Surya, Merkurius.

"Dalam tata surya kita, ada perbedaan jelas antara obyek yang besar dan kecil, Pluto, Eris, Ceres, dan planet terkecil di tata surya, Merkurius," kata astrobom Jonti Homer seperti dikutip Sydney Morning Herald, Selasa (14/7/2015).

Pluto juga tetap sulit dikategorikan sebagai planet karena orbitnya masih bersinggungan dengan orbit Neptunus dan benda langit lain. Pluto baru mungkin menjadi planet bila kriteria planet itu sendiri diubah.

Alan Stern dari NASA yang kini memimpin misi New Horizon adalah salah satu orang yang percaya bahwa kriteria planet harus diubah. Menurutnya, kriteria planet IAU absurd. Temuan dan gagasan baru hasil riset seharusnya bisa diakomodasi untuk mengklasifikasikan benda langit.

Terlepas dari status Pluto, Lewis Ball dari Organisasi Riset Sains dan Industri Australia (CSRIO) mengatakan, misi New Horizon memegang peran penting dalam upaya menguak rahasia pembentukan tata surya.


"Mencapai Pluto dan wilayah terjauh tata surya menjadi prioritas dalam riset keantariksaan karena dunia itu menyimpan unsur tata surya yang dipendam dalam beku. Dunia beku itu menyimpan material yang membentuk planet-planet," katanya.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Disarikan dari : sains.kompas.com.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...