Sabtu, 15 Agustus 2015

Kisah Heroik Kemerdekaan Indonesia : Hari Jumat, 17 Agustus 1945, 70 Tahun, 1 hari Lalu.

  

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang dan tanggal 8 Ramadan 1364 menurut Kalender Hijriah, yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Ternyata peristiwa tersebut memiliki rentetan peristiwa sejarah yang melibatkan banyak tokoh baik dari warga negara Jepang maupun para memuda dari Indonesia.


Jepang kalah perang, Jepang kebingungan.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau "Dokuritsu Junbi Cosakai", berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.

Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, berdasarkan tim PPKI.[2] Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.

Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang telah menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang (sic).

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang secara resmi menyerah kepada Sekutu di kapal USS Missouri. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.

Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.

Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.

Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.


Peristiwa Rengasdengklok.

Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana terbakar gelora kepahlawanannya setelah berdiskusi dengan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka tergabung dalam gerakan bawah tanah kehilangan kesabaran. Pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945, mereka bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, mereka membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaan.


Kisah Bung Karno sakit menjelang peristiwa proklamasi kemerdekaan.


Pada hari itu, ketika fajar belum lama muncul di ufuk timur, Bung Karno dibangunkan dari tidurnya, walau kondisinya kurang sehat dan baru tidur sebentar. Pada hari itu, ketika fajar belum lama muncul di ufuk timur, Bung Karno dibangunkan dari tidurnya, walau kondisinya kurang sehat dan baru tidur sebentar.

Dalam buku Sukarno: an Autobiography as told to Cindy Adams (1965), Bung Karno mengatakan bahwa Ibu Fatmawati membiarkan dirinya tetap bekerja dalam keadaan mengigil akibat demam malaria karena cukup mengerti gejolak hati suaminya. Sementara itu, Ibu Fatmawati sendiri bukan berarti segar-bugar. Ia juga sebenarnya lelah, karena mengikuti seluruh dinamika menjelang Proklamasi Kemerdekaan.

Melihat kondisi suaminya, Ibu Fatmawati tampak cemas. Tapi, “Tanpa banyak kata, Bung Karno bukannya merebahkan badan, melainkan berjalan menuju meja tulis. Diambilnya kertas dan pena, lalu ia menulis berlusin-lusin surat,” tutur Roso. Dan, Bung Karno melakukan itu dalam keadaan menggigil karena demam malaria. Setelah itu barulah ia tidur dan dibangunkan sekitar satu jam menjelang upacara Proklamasi, kurang-lebih pukul 09.00 pagi.


Relokasi pembacaan teks proklamasi.

Rencananya, seperti diputuskan dalam rapat yang diadakan pada malam harinya di rumah Laksamana Maeda (sekarang menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat), Bung Karno dan Bung Hatta akan membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia di Lapangan Ikada (lapangan Monas sekarang) pada pukul 11.00. Persiapan pun sudah dilakukan, termasuk mengutus beberapa orang untuk menginformasikan kepada berbagai pihak yang diharapkan hadir, seperti tokoh-tokoh pergerakan dan segenap eksponen Barisan Pelopor. Informasi ini disampakan juga lewat telepon dan surat yang dibawa kurir.

Namun, ketika menjelang siang, rencana itu terpaksa diubah. Pasalnya, Balatentara Jepang sudah mengendus rencana tersebut. Maka, dalam waktu singkat diputuskanlah Upacara Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia dipindahkan ke rumah Bung Karno, di Jalan Pengangsaan Timur No. 56, dan akan dilaksanakan pukul 10.00 pagi.

Tanpa membuang waktu, para pejuang bergerak mengabarkan perubahan itu. Sebagian lagi mempersiapkan tempat dan perlengkapan upacara. Ada yang sibuk memasang mikrofon dan versterker (amplifier), yang baru disewa dari perusahaan jasa penyewaan sound system Radio Satrija, di Jalan Salemba Tengah No. 24. Tiang bendera pun dibuat dari sebatang bambu, yang ditancapkan di muka kamar depan rumah Bung Karno, beberapa menit sebelum upacara dimulai. Setelah siap semuanya, tanpa adanya protokol terlebih dahulu, upacara langsung dimulai.


Kisah Bendera Pusaka Sang Merah Putih.

Dalam buku Sukarno: an Autobiography as told to Cindy Adams (1965), Bung Karno mengatakan:  Ibu Fatmawatilah yang membuat Sang Saka Merah-Putih, dengan jahitan tangan, untuk dikibarkan pada 17 Agustus 1945.

Tentu saja bendera itu sangat bernilai. “Sejak dikibarkan di Pegangsaan Timur 56, bendera itu pantang diturunkan. Pasukan Berani Mati yang dibentuk sehari setelah Proklamasi berjaga 24 jam, siap menghadang tentara Jepang jika mereka datang hendak menurunkannya,” ungkap Roso Daras.

Ketika Tentara Sekutu datang, bendera itu pun terus dijaga keberadaannya. Apalagi, Tentara Sekutu juga rupanya berminat untuk memusnahkan Sang Saka Merah-Putih, yang dibuat oleh Ibu Fatmawati. Para pejuang kemerdekaan benar-benar melindungi Sang Saka Merah-Putih. Bahkan, dokter pribadi Bung Karno, dr. Soeharto, tidak mengetahui keberadaannya sampai tahun 1949.

“Dokter Soeharto sendiri tidak tahu di mana Sang Merah-Putih antara kurun 1945 – April 1949. Yang jelas, pada suatu malam di bulan April 1949, ia kedatangan tamu misterius bernama Muthahar. Tokoh ini di kemudian hari menjabat Duta Besar Republik Indonesia serta pemimpin Kwartir Nasional Pramuka. Malam itu, ia datang dengan menyelinap, takut tercium NICA. Di tangannya terpegang dua carik kain, merah di kanan, putih di kiri. Itulah Sang Saka Merah Putih, yang untuk tujuan pengamanan telah dilepas jahitannya dan diamankan sedemikian rupa sebagai sebuah benda mahapenting bagi tonggak berdirinya republik,” tutur Roso Daras.

Malam itu, Muthahar menitipkannya kepada dr. Soeharto. Mendapat amanat penting, Soeharto menerima dengan sangat hati-hati. Ia menyimpan potongan kain merah di satu tempat dan kain putih jauh di tempat lain. Itu dilakukan untuk menjaga kemungkinan penggeledahan oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Tentara Sekutu yang ditugaskan mengontrol wilayah bekas jajahan Belanda yang pernah dikuasai Jepang - dan kemudian bernama Indonesia.

Terakhir, Sang Saka Merah Putih dikibarkan pada Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1968. Selanjutnya disimpan dan hanya dikeluarkan setiap tanggal 17 Agustus namun tetap dalam kotak penyimpanannya. Yang digunakan pada upacara resmi kenegaraan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 1969 sampai sekarang adalah duplikatnya. Dan, upacara resmi kenegaraan tersebut dilakukan di Istana Merdeka.


Pembacaan Teks Proklamasi.

Video dokumentasi : "Proclamation Indonesia of Independence 17-august-1945 "

Seusai upacara, tiba-tiba datang kurang-lebih seratus orang anggota Barisan Pelopor, yang dipimpin S. Brata. Rupanya, mereka tidak tahu adanya perubahan rencana lokasi upacara dari Lapangan Ikada ke rumah Bung Karno, sehingga datang terlambat. Mereka lalu meminta Bung Karno untuk mengulangi upacara dan membacakan kembali Proklamasi Kemerdekaan. Bung Karno yang telah masuk kamar pun lalu keluar kembali dan menyatakan lewat mikrofon bahwa pembacaan Proklamasi tidak dapat diulang.

Karena kondisi sedang tidak sehat, Bung Karno memang langsung masuk kamar setelah upacara. Apalagi, sebelum rapat di rumah Laksamana Maeda, Bung Karno, Ibu Fatmawati, dan Guntur Soekarnoputra diculik sekelompok pemuda radikal dan dibawa ke Rengasdengklok, Krawang, Jawa Barat. Mereka baru diantarkan kembali ke Jakarta pada tanggal 16 Agustus 1945 malam hari dan Bung Karno langsung rapat.

Menurut Roso Daras, penulis buku Bung Karno: The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer (2009), subuh tanggal 17 Agustus 1945, dalam keletihan yang teramat sangat, Bung Karno pulang dalam keadaan menggigil. Malarianya kumat. “Terlebih dua hari dua malam ia tidak tidur. Hanya air soda dan air soda yang diminum untuk menyegarkan mata,” ungkap Roso, seperti yang ia juga tulis dalam blog-nya, http://rosodaras. wordpress.com.


Rumah Bung Karno.



Penaikan Sang Saka Merah-Putih dilaksanakan setelah Bung Karno membacakan teks Proklamasi, didampingi Bung Hatta. Setelah itu, Bung Karno berpidato singkat.

Yang diminta menjadi petugas pengibar bendera adalah Trimurti, tapi dia menolak dan mengusulkan agar pengibaran itu dilakukan oleh seorang prajurit. Serta-merta, Latif Hendraningrat yang masih memakai seragam lengkap Pembela Tanah Air maju ke depan sampai ke dekat tiang bendera. Lalu datanglah dua orang membawa Sang Saka Merah-Putih, yang diletakkan di atas nampan. Bendera pun kemudian dinaikkan. Yang menakjubkan, yang hadir dalam upacara tersebut langsung menyanyikan lagu “Indonesia Raya” bersama-sama, tanpa aba-aba. Berkibarlah Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya di masa Indonesia merdeka.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...