Rabu, 30 September 2015

Peringatan 50 Tahun Pemberontakan G30S/PKI : "Sing Wis Yo Wis (Yang Sudah Terjadi Ya Sudah), Saat Ini Kita Bersatu Saja Membangun Kemerdekaan Kita"

 Warga berada di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Selasa (29/9).

Wacana mengenai permintaan maaf pemerintah terhadap keluarga eks Partai Komunis Indonesia (PKI) santer menjadi pemberitaan saat ini. Pro-kontra pun muncul, ada yang mendukung adapula yang menolak kelas permintaan maaf tersebut.

Djoko Pekik

Salah satu pelaku sejarah peristiwa tersebut, pelukis Djoko Pekik mengatakan kemungkinan besar peristiwa pada tahun 1965  merupakan kesalahan bersama. Sehingga permintaan maaf  peristiwa G30S/PKI bukanlah suatu yang harus dilakukan.

"Sing wis yo wis (yang sudah terjadi ya sudah), saat ini kita bersatu saja membangun kemerdekaan kita," ujar Joko dalam acara Indonesian Lawyers Club, Selasa (29/9).

Ia yang merupakan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) bentukan PKI itu merasa curiga dengan peristiwa tersebut. Ia mempertanyakan apakah nasib bangsa Indonesia pada tahun 1965 itu merupakan politik adu domba besar-besaran.

Ia pun membandingkan dengan politik divide et impera pada jaman kolonial Belanda. Bahkan, sambung dia, saat ini tak bisa dipungkiri Indonesia sedang dijajah oleh neokolonialisme yang menguras semua harta bangsa melalui para pengusaha asing yang dibiarkan saja oleh pemerintah dan rakyat.

"Harta benda di bumi Indonesia digerogoti para pengusaha besar, anehnya bangsa kita itu seakan tidak sadar, perumpamaan seperti digigit lintah enak-enak gatel ternyata darahnya habis," ucapnya.

Sementara itu, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta mantan Menteri Perindustrian, Fahmi Idris menilai peristiwa G30S/PKI merupakan peristiwa yang tidak bisa dimaafkan, karena peristiwa tersebut merupakan sebuah pengkhianatan terhadap negara.

"Peristiwa tersebut ingin mengubah dan mengganti pancasila sehingga tidak bisa dimaafkan, dan jangan sampai terulang lagi, sing wis yo wis," ucapnya.


MAYJEN TNI (Purn) Kivlan Zen : Pemerintah tidak mengambil tindakan ceroboh dengan meminta maaf kepada mereka yang terlibat PKI.


MAYJEN TNI (Purn) Kivlan Zen mengingatkan agar pemerintah tidak mengambil tindakan ceroboh dengan meminta maaf kepada mereka yang terlibat PKI.

Mantan Kaskostrad ini menilai permintaan maaf adalah kesalahan. Tindakan itu akan membuat PKI semakin merasa kuat.

“Dampaknya mereka akan merasa tidak bersalah karena ada rehabilitasi dan kompensasi, mereka akan minta dihidupkan lagi PKI, karena tidak bersalah,” ujarnya saat ditemui Islampos di Menteng Atas, Jakarta, Sabtu (26/9/2015)

Kivlan mengimbau agar masyarakat waspada terhadap munculnya simbol-simbol PKI. Gerakan dan tokoh-tokoh Islam harus bersatu. Sebab, lanjutnya, target utama mereka adalah ulama, kyai, pesantren, ormas Islam termasuk NU dan Muhammadiyah.

Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen memberi syarat jika para keluarga PKI ingin menuntut permintaan maaf dari negara. Syaratnya mereka dahulu yang harus meminta maaf kepada keluarga korban PKI.

Mantan Kakostrad ABRI itu mengaku sependapat apabila ada ide untuk saling memaafkan, antara para keluarga PKI dan keluarga korban kekejaman PKI pada G-30 S. "Minta maaf dulu kepada kita, baru kita saling memaafkan," kata Zen dalam sebuah acara talkshow di sebuah televisi nasional, Jakarta, Selasa (29/9) malam.

Akan tetapi, ia mempertanyakan tindakan Komnas HAM yang sebelumnya melakukan penyelidikan kepada keluarga PKI. Menurutnya, Komnas HAM seharusnya juga melakukan penyelidikan terhadap apa yang dialami oleh para keluarga korban kekejaman PKI.

Zen pun setuju dengan pendapat salah satu anak dari PKI, Ilham Aidit, yang membutuhkan pengakuan dari negara. Dengan begitu diharapkan bisa membuat mereka menjalani hidup tenang dan saling memaafkan.


Pendapat Keluarga Korban Kekejaman PKI.


Putri Jenderal Ahmad Yani, Amelia Yani mempertanyakan rencana permintaan maaf pemerintah atas peristiwa tragedi 1965. Ia menegaskan bukan hanya keluarga anggota dan terduga PKI saja yang menjadi korban dalam masa itu.

Putri ketiga salah seorang Pahlawan Revolusi itu mengaku tidak begitu mengerti mengenai kabar jika pemerintah akan meminta maaf atas peristiwa 1965.
Ia hanya menegaskan, yang menjadi korban bukan hanya keluarga anggota PKI atau orang-orang yang diduga simpatisan partai itu saja.

Namun ia, keluarganya serta keluarga korban pembataian dari PKS sebelum meletusnya peristiwa Gerakan 30 September juga masuk dalam kategori korban.

"Minta maaf itu ke siapa, karena kami juga korban," katanya dalam sebuah acara talkshow di sebuah televisi nasional, Jakarta, Selasa (29/9) malam.

Amelia yang tergabung dalam salah satu forum silaturahmi yang mempertemukan anak-anak dari para tokoh bangsa, termasuk anak-anak dari PKI, mengungkapkan pada awalnya memang tidak mudah untuk bersama mereka, yang merupakan keluarga dari orang yang membunuh ayahnya.

Namun, nasib para keluarga PKI yang keberadaaan orang tuanya sulit untuk ditemukan, membuatnya berfikir ulang tentang hal tersebut.

Ia menyadari kalau kesedihan mendalam juga pasti melanda para keluarga PKI, yang sebenarnya tidak tahu menahu soal peristiwa G 30 S/ PKI, namun sulit untuk menemukan orang tuanya, atau bahkan makamnya kalau mereka telah dieksekusi.

Hal itulah yang membuatnya bersimpati kepada para keluarga PKI, yang ia sadari betul juga merasakan kepahitan setelah peristiwa tersebut.

"Sama saja perasaannya, sama sakitnya," ujarnya.

Amelia menerangkan kalau ia dan para anak-anak Jenderal lain yang menjadi korban pembantaian G-30 S PKI, sudah bisa memahami satu sama lain, termasuk kepada para keluarga dari PKI.

Menurut Amelia, Indonesia tidak bisa terus-menerus seperti ini melihat peristiwa masa lalu. Ia menekankan kalau Indonesia harus sembuh dan menyongsong masa depan yang lebih baik lagi.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/09/30/nvg7gl330-50-tahun-g30spki-djoko-pekik-sing-wis-yo-wis
  2. http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/09/29/nvg1tg354-putri-jenderal-a-yani-negara-minta-maaf-ke-siapa-kami-juga-korban
  3. https://www.islampos.com/mayjen-tni-purn-kivlan-zein-indikasi-kebangkitan-pki-makin-jelas-216332/
  4. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/15/09/29/nvg2rn377-kivlan-zen-keluarga-pki-harus-meminta-maaf-terlebih-dahulu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...