Senin, 21 November 2016

Bung Tomo : Pejuang Kemerdekaan Yang Telat Memperoleh Gelar Pahlawan !


Bung Tomo dijuluki "Jenderal Kancil" oleh mantan Presiden Sukarno.

Selain proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, Indonesia juga mencatat momen sejarah penting dalam perjuangan melawan penjajah. Peristiwa itu terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya atau yang kemudian diabadikan menjadi Hari Pahlawan.

Menyebut Hari Pahlawan, memori bangsa teringat dengan aksi heroik Sutomo atau lebih dikenal dengan Bung Tomo dalam pertempuran di Surabaya melawan pasukan Inggris dan NICA-Belanda.

Dalam perang itu, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio. Suara dan pekikan takbirnya membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan para penjajah.


Sutomo atau lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945.

Meskipun Indonesia kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya tanggal 3 Oktober 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang.

Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

HBS (Hegere Burger School) merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam 5 tahun atau setara dengan MULO+AMS (SMP+SMA).

Sutomo alias Bung Tomo kerap dicela karena hanya lulusan Holland Inlander School atau sekolah rendah untuk kaum pribumi di Surabaya. Ini berarti dia hanya lulusan setingkat sekolah dasar.

Inilah sebabnya Bung Tomo kerap diejek karena dianggap bukan kalangan intelektual. “Bapak pernah dihina oleh orang-orang intelektual, ‘Bung Tomo ngerti apa, enggak sekolah’,” kata Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo.

Tak ada yang meragukan kemampuan Sutomo alias Bung Tomo dalam berpidato dan berorasi. Orasi Bung Tomo terbukti mampu membakar semangat para pemuda dalam pertempuran di Surabaya. Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan para pemuda kerap berkumpul di bawah pengeras suara mendengar pidato Bung Tomo yang disiarkan melalui radio.


Walaupun begitu Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses, ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia menjadi salah satu Pemimpin yang menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya, yang pada waktu itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi.

Video : "Suara Asli Pidato Bung Tomo - Resolusi Jihad Merdeka Atau Mati"

Istri Bung Tomo, Sulistina, juga membenarkan. “Banyak yang bilang, Bung Tomo itu pintar tapi sekolahnya rendah,” ujarnya. Dalam buku Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu dan beberapa buku lain disebutkan Sutomo pernah mengenyam Leidse Scrift Onderwiys Hoogere Burgerschool (HBS), pendidikan menengah setingkat SMP dan SMA selama lima tahun.


Sulistina mengatakan Bung Tomo gusar dengan ejekan tersebut. Lalu, Sutomo nekat menemui Profesor Doktor Djokosoetono, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sulistina bercerita, Sutomo akhirnya mendapat kesempatan mengikuti ujian colloquium doctum—tes masuk perguruan tinggi tanpa memandang ijazah yang dimiliki—bersama tiga orang lain.

Menurut Sulistina, selama dua bulan Sutomo mempersiapkan diri agar tak tertinggal dalam pelajaran SMP dan SMA. Tiga dosen penguji menyatakan dia lulus dan diterima di Universitas Indonesia. Jadilah, Bung Tomo kuliah pada 1959 atau saat dia berusia 39 tahun.

Meski jauh dari kesan mahasiswa yang serius belajar, Sutomo tetap dikagumi di kalangan mahasiswa. William H. Frederick, profesor sejarah di Ohio University, Amerika Serikat, dalam tulisannya, In Memoriam: Sutomo, mengatakan Sutomo tak pernah berhenti menyampaikan kritik.

Itulah sebabnya, kata William H. Frederick, banyak mahasiswa yang kemudian mengagumi Bung Tomo. "Banyak mahasiswa mengaguminya. Dia menjadi sangat populer di kalangan kaum muda dan muslim," tulis Frederick.

bung tomo 1

Kala muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Bung Tomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.

Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Selain sebagai orator ulung, Bung Tomo juga seorang wartawan yang aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisannya kerap menghiasi Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, Majalah Poestaka Timoer.

Dia juga menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei, dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Kelihaiannya dalam menulis, ia tuangkan saat menyusun aksara dalam surat cinta kepada calon istrinya. Kisah itu terungkap dalam buku 'Bung Tomo, Suamiku',yang ditulis istrinya, Sulistina Soetomo.

Dalam tulisannya, Bung Tomo mengisahkan awal perjumpaan dengan sang kekasih. Keduanya merupakan pejuang dan memulai kisah cintanya di medan pertempuran. Di suratnya, Bung Tomo menulis:

"Kalau ada musuh yang siap menembak, dan yang akan ditembak masih pikir-pikir dulu, itu kelamaan. Aku dikenal sebagai seorang pemimpin yang baik dan aku adalah seorang pandu yang suci dalam perkataan dan perbuatan. Pasti aku tidak akan mengecewakanmu."


Bung Tomo melanjutkan. "Seorang pejuang tidak akan mengingkari janjinya. Aku mencintaimu sepenuh hatiku, aku ingin menikahimu kalau Indonesia sudah merdeka. Aku akan membahagiakanmu dan tidak akan mengecewakanmu seumur hidupku."

Pada tahun 1950-an di Surabaya, Bung Tomo berusaha sebagai penolong tukang becak pertama yakni dengan mendirikan pabrik sabun melalui uang iuran tukang becak untuk pendirian pabrik sabun. Pabrik tersebut didirikan oleh dan untuk tukang becak akan tetapi kelanjutan ide pendirian pabrik sabun tidak berhasil dan tanpa adanya pertanggungan-jawaban keuangan.


Usai pertempuran di Surabaya, sejumlah jabatan penting pernah diembannya, ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Bung Tomo aktif menentang komunisme dan berada di barisan penentang Presiden Sukarno. Setelah berhasil menggulingkan Sukarno.

Pada awal Orde Baru, Bung Tomo mendukung pemerintahan Soeharto karena tidak berhalauan komunis. Namun sejak 1970, Bung Tomo mulai mengkritik kebijakan Soeharto.

Sikap kritis memang menjadi bagian dari kepribadian Bung Tomo kala melihat ketidakberesan di depan matanya. Hal itu terekam dalam wawancara Bung Tomo dengan Judul Bung Tomo Menggugat: Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah dikhianati di Majalah Panji Masyarakat No 855 Tahun XIII ”.

Dalam artikel itu ditulis kritikan Bung Tomo kepada Presiden Soeharto, Gubernur Ali Sadikin, dan Bulog yang seolah-olah menganakemaskan etnis Tionghoa.

Selain itu, Bung Tomo juga kerap mengkritik adanya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Orde Baru. Empat tahun setelah putra keduanya, Bambang Sulistomo, ditahan 2 tahun karena diduga terlibat unjuk rasa pada peristiwa 15 Januar 1974 atau dikenal dengan Malari, giliran Bung Tomo yang ditahan akibat diduga terlibat unjuk rasa mahasiswa yang menentang kebijakan Orde Baru.

Bung Tomo, Mahasiswa Abadi yang Populer

Sutomo pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Jadilah dia ditahan setahun di Penjara Nirbaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Bersamanya ditahan juga jurnalis Mahbub Junaedi dan ahli hukum Ismail Suny. Menurut Bambang, "Sejak keluar dari penjara, bapak tak lagi meledak-ledak meskipun hati, sikap, dan kata-katanya tetap satu, konsisten."

Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal. Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.


Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji.


Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya. Bung Tomo ingin dimakamkan membaur dengan masyarakat, makanya dimakamkan di TPU Ngagel Rejo.

Sementara itu, Sulistina Sutomo istri Bung Tomo, meninggal dunia pada Rabu dinihari 31 Agustus 2016. Jenazah Sulistina dimakamkan di sebelah timur di TPU Islam Ngagel Rejo di Jalan Bung Tomo Nomor 9 Surabaya. Sebelumnya, petugas pemakaman melebarkan makam Bung Tomo untuk menampung jenazah Sulistina.

"Sesuai petunjuk Gartap dan juga Dinas Sosial yang sudah dirapatkan bersama Asisten III Provinsi Jawa Timur, pemakaman almarhumah Ibu Sulistina sudah ditentukan pas di sebelah timurnya atau berjejer persis makam Bung Tomo," tutur Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Khalid Buchori.


Gelar Pahlawan Nasional.


Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.


Foto Legendaris Bung Tomo.


Sosok Bung Tomo tengah berpidato dengan sorot mata yang bersemangat kerap muncul dalam momen Hari Pahlawan. Namun, gambar tersebut ternyata bukanlah diambil saat 10 November.

Hal itu diungkapkan Istri Bung Tomo, Sulistina. Dia mengakui keaslian foto tersebut, namun momen yang tergambar dalam foto itu bukan terjadi pada operasi perang 10 November. Bung Tomo, kala itu berpidato di Lapangan Mojokerto pada 1947 dalam rangka mengumpulkan pakaian bagi korban perang Surabaya.

Saat itu, warga Surabaya masih tertahan di pengungsian Mojokerto dan jatuh miskin karena Surabaya masih dikuasai Belanda.

Momen penuh gelora itu diduga direkam oleh kamera fotografer Alexius Mendur dari IPPhoS (Indonesia Press Photo Services). Sang fotografer selanjutnya menerbitkannya di majalah majalah dwi bahasa Mandarin-Indonesia, Nanjang Post, edisi Februari 1947.

Alex sendiri merupakan kawan baik Bung Tomo dan juga merupakan pemotret peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 dan pengibaran bendera pusaka di hari itu.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sutomo
  • http://seleb.tempo.co/read/news/2015/11/09/219717072/lihat-14-seleb-tanpa-make-up-masih-cantik-jangan-kaget
  • http://regional.liputan6.com/read/2590694/alasan-bung-tomo-tak-mau-dimakamkan-di-taman-makam-pahlawan
  • http://smeaker.com/nasional/wp-content/uploads/2015/11
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...