Senin, 21 Maret 2016

"Equinox" Jelas Punya Dampak, tetapi Apakah Seseram di Pesan Berantai?


Informasi yang beredar di media sosial dan beragam forum menunjukkan bahwa wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura akan dilanda suhu panas akibat equinox.

Berdasarkan pesan berantai itu, publik diminta untuk tinggal di dalam rumah pada pukul 12.00-15.00. 

Diinformasikan juga, jika ingin memastikan apakah suhu benar-benar tinggi, masyarakat bisa menempatkan lilin di sudut rumah. Jika lilin meleleh, maka suhu sudah mencapai titik yang membahayakan. 

Akibat equinox, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat celsius. Publik diminta beradaptasi dengan mengonsumsi air 3 liter sehari, memperbanyak makan sayuran, dan mandi sesering mungkin.

Gambaran dampak equinox itu mengerikan sebab manusia bisa pingsan, terserang heat stroke, dan mengalami kegagalan fungsi organ tertentu. Suhu bisa naik hingga 9 derajat celsius.

Benarkah isi pesan berantai itu? Jawabannya, ada yang benar, dan ada yang tidak.

Equinox sebenarnya adalah fenomena yang wajar dan terjadi sejak awal bumi ada. Fenomena tersebut muncul karena pergerakan semu tahunan matahari.

Jadi, setiap tahunnya, matahari secara semu berada di tempat yang berbeda. Kadang matahari tepat di atas khatulistiwa, kadang di atas 23,5 derajat Lintang Selatan, kadang di atas 23,5 derajat Lintang Utara.

Equinox terdekat akan terjadi pada 21 Maret 2016. Fenomena itu memang akan memberikan dampak, tetapi efeknya tak sesignifikan yang digambarkan dalam pesan berantai.

"Matahari di equinox setiap tanggal 21 Maret dan tidak memberikan efek signifikan," kata Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Secara relatif, panjang siang dan malam saat terjadi equinox sama. Itu juga berlaku di wilayah subtropis.

Yunus S Swarinoto, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, mengatakan, "Equinox bukan merupakan fenomena heat wave atau gelombang panas seperti di Afrika dan Timur Tengah, yang dapat mengakibatkan peningkatan suhu secara besar dan bertahan lama."


Penjelasan BMKG

Terkait pesan berantai itu, BMKG secara resmi akhirnya mengeluarkan penjelasan. Penjelasan itu disampaikan di laman jejaring BMKG.

Dalam keterangannya, BMKG menekankan, equinox adalah salah satu fenomena astronomi saat matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung 2 kali dalam setahun, yaitu pada tanggal 21 Maret dan 23 September.


Saat fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi hampir relatif sama, termasuk wilayah yang berada di subtropis di bagian utara ataupun selatan.

"Keberadaan fenomena tersebut tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis, dan kita ketahui bahwa rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia bisa 32-36 derajat celsius," papar Yunus.

Menyikapi hal ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan menurut isu yang berkembang.

Secara umum, kondisi cuaca di beberapa wilayah Indonesia cenderung kering. Beberapa tempat, seperti Sumatera bagian utara, mulai memasuki musim kemarau. 

Maka dari itu, ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan.

Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Amir Sodikin
Sumber : sains.kompas.com, Sabtu, 19 Maret 2016, 12:04 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...