Selasa, 27 September 2016

Menguak Misteri Berdetaknya "Jantung" Pluto.


Saat melintas dekat Pluto pada Juli 2015 lalu, wahana New Horizon menemukan fitur aneh yang bentuknya menyerupai jantung hati. Fitur yang paling menakjubkan adalah Sputnik Planum, fitur permukaan yang berbentuk jantung, lambang cinta. Para ilmuwan penasaran, bertanya-tanya tentang pembentukan fitur unik tersebut.

Berbeda dengan permukaan Pluto lainnya, Sputnik Planum sangat halus dan bebas dari tumbukan. Area itu juga punya fitur mirip gelembung berbentuk poligonal, berukuran hingga 6 x 24 mil.


Riset yang dipublikasikan di Nature pada Juni 2016 lalu mengungkap bahwa "jantung" itu "berdetak", menandai adanya aktivitas geologi. Kini, riset yang dipublikasikan di jurnal yang sama pada Senin (19/9/2016) menguak proses di belakang pembentukan fitur itu.

Dua makalah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature pada Kamis (2/6/2016) mengungkap asal-usul terciptanya fitur yang diduga termuda di Tata Surya itu.

William B McKinnon dari Washington University, penulis salah satu makalah, mengatakan, "(Sputnik Planum) tidak hanya jantung Pluto, tetapi jantung yang hidup."

"Ada banyak hal yang terjadi. Jika kita kembali 100.000 tahun lagi, maka polanya akan berubah," imbuh McKinnon seperti dikutip Washington Post, Kamis.

Menurut penelitian, fitur poligonal misterius pada Sputnik Planum merupakan gelembung yang naik ke atas permukaan, disebabkan oleh sistem pemanasan di bagian bawahnya.

Seluruh lapisan Sputnik Planum sejatinya merupakan es nitrogen yang dipanaskan secara berlahan secara konveksi oleh elemen radioaktif di dalam Pluto. 

Di Pluto, nitrogen padat lebih lunak, bisa mengalir perlahan. Seiring pemanasan dari dalam Pluto, nitrogen menjadi hangat, dan sebagian naik ke permukaan, seolah-olah lava gunung berapi.

Seiring waktu, gelembung tersebut mendingin dan tenggelam lagi, meninggalkan ruangan bagi gelembung baru untuk naik dan mengambil tempat.

Gelembung-gelembung nitrogen itu bisa menggabungkan diri satu sama lain sebelum tenggelam, menciptakan garis-garis yang kompleks. 

Ilmuwan percaya, gelembung tersebut memperbarui dirinya setiap 500.000 hingga 1 juta tahun. Ini terkesan lama bagi manusia, tetapi secara geologi tergolong singkat, apalagi di dunia yang jauh dari Matahari.

"Di sini kita menemukan bukti bahwa planet dingin berjarak miliaran mil jauhnya dari Bumi, ada energi untuk aktivitas geologi, selama memiliki materail yang tepat, artinya sesuatu selembut nitrogen," urai McKinnon. 

Proses pemanasan nitrogen itu pulalah yang menjadi rahasia halusnya jantung Pluto. Nitrogen yang naik ke permukaan seiring waktu menghapus jejak tumbukan yang mungkin ada di permukaan Sputnik Planum.

Pimpinan Investigasi New Horizon, Alan Stern, mengatakan, "Sputnik Planum merupakan penemuan geologi yang luar biasa dalam eksplorasi planet selama 50 tahun ini." 

Tanguy Bertrand, peneliti dari Université Pierre et Marie Curie yang melakukan riset menjelaskan, permukaan pluto terdiri dari wujud materi yang tak ditemukan di bumi, yaitu nitrogen, metana, dan karbon dioksida dalam bentuk es.


"Kami menemukan bahwa bentuk bentuk jantung tersebut terbentuk dari es nitrogen yang sangat mudah menguap yang secara tak terelakkan terakumulasi di basin, membentuk sumber es permanen yang kemudian dilihat New Horizon," ungkap Bertrand.

"Akumulasi terjadi karena kesetimbangan antara nitrogen dalam bentuk cair dan gas. Di dasar basin, tekanan atmosfer lebih tinggi, sehingga titik bekunya lebih tinggi daripada di tempat lain," imbuh Bertrand seperti dikutip Science Alert, Selasa (20/9/2016).

Riset itu menunjukkan bahwa Pluto tidak membutuhkan sumber nitrogen dari bawah permukaan untuk menjaga "jantungnya" tetap berdetak. Proses akumulasi nitrogen serta aktivitas geologi di Sputnik Planum - demikian nama area berbentuk jantung di Pluto - adalah sumber detak jantung Pluto.



Area jantung Pluto juga bisa kaya es sebab pergantian musim yang lambat. Mantan planet di Tata Surya itu mengelilingi matahari selama 248 tahun. Musim di sana berganti setiap beberapa dekade. Sputnik Planum akan mengalami musim dingin yang lama. 

Sementara, Bertrand menambahkan, "Setengah gletser di Sputnik Planum adalah gletser yang massif, yang tak akan terdampak oleh perubahan musim. Gletser itu mungkin terbentuk saat basin terbentuk dan akan tetap ada pada masa depan."

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : sains.kompas.com, Minggu, 5 Juni 2016.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...