Rabu, 11 Juni 2014

Memahami Bahaya dan Cara Mencegah Penularan Penyakit Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS)


Sindrom pernapasan Timur Tengah (bahasa Inggris: Middle East respiratory syndrome atau MERS) merupakan sindrom pernapasan yang sumber infeksinya adalah koronavirus - MERS.

Laporan awal membandingkan virus ini dengan sindrom pernapasan akut berat (SARS), dan dijuluki dengan virus mirip SARS dari Arab Saudi. Gejala infeksi MERS-CoV termasuk gagal ginjal dan pneunomia akut, yang seringkali berakibat fatal. Pasien pertama yang tercatat pada bulan Juni 2012 mengalami "demam, batuk berdahak, dan sesak napas selama 7 hari." MERS memiliki masa inkubasi sekitar 12 hari. MERS kadang juga dapat menyebabkan pneumonia, baik pneunomia viral maupun pneunomia bakterial.


Mengapa MERS Bisa Mematikan?

Sejak ditemukan pertama kali di Arab Saudi pada tahun 2012, sampai saat ini penyakit Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) sudah merenggut lebih dari 100 nyawa. Virus korona penyebab MERS memang ganas dan bisa mematikan.

Menurut dokter spesialis paru FKUI/RSCM Diah Handayani, MERS merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus. Berbeda dengan penyakit pernapasan umumnya yang disebabkan bakteri, perkembangan MERS jauh lebih cepat.

"Dalam hitungan jam, bukan hari, penyakit ini sudah menyebabkan kerusakan paru yang parah. Ini karena tingkat virulensi atau kemampuan virus menyebabkan penyakit untuk MERS sangat tinggi," jelas Diah kepada Kompas Health, Rabu (7/5/2014).

MERS, hampir sama seperti pneumonia lainnya yaitu awalnya menyerang paru-paru dan menyebabkan peradangan pada organ tersebut. Bila peradangan sudah meluas, maka fungsi paru-paru akan menurun.

Setelah fungsi organ tersebut menurun, suplai oksigen untuk organ tubuh lainnya terganggu. Inilah yang kemudian memicu peradangan di organ lainnya. Biasanya organ yang terkena setelah paru-paru adalah ginjal dan hati.

Peradangan di organ-organ tersebut menurunkan fungsinya, pada tahap yang sudah parah dapat menyebabkan kegagalan organ. Inilah yang mengakibatkan kematian pada pasien pneumonia, termasuk MERS.


"Pasien umumnya akan mengalami multi-organ failure atau kegagalan multi organ, jadi tidak hanya satu organ yang mengalami kegagalan berfungsi, tetapi banyak," jelas dokter dari Divisi Infeksi, Departemen Pulmologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi ini.

Berbeda dengan SARS, MERS menyerang orang dari kelompok umur di atas 50 tahun. Sebanyak 65 persen korban adalah laki-laki dan 63,4 persen menderita infeksi saluran pernapasan akut.

Guru Besar Pulmonologi FKUI Menaldi Rasmin seperti dikutip KOMPAS (8/5/14) menuturkan, virus korona belum dikenal tubuh. Hal ini menyebabkan sistem pertahanan tubuh belum mampu menangkalnya dengan baik sehingga jatuh korban jiwa.

Saat ini di Indonesia sudah ditemukan kasus meninggalnya beberapa jemaah yang baru pulang ibadah umrah, namun belum ada yang dipastikan MERS. Terakhir Rabu (8/5/2014) sore, Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan, kasus kematian jemaah umrah di Bali bukan diakibatkan oleh MERS.

"Pasien sebelum berangkat sudah memiliki penyakit paru-paru kronis dan penyakit jantung, sehingga kemungkinan penyebab kematian adalah dari sakit yang dideritanya. Namun tidak ditemukan virus MERS oleh tim dari Biomol Fakultas Kedokteran Universitas Udayana," tegasnya saat dihubungi Kompas Health.


Seberapa Menularkah MERS?


Indonesia termasuk negara yang paling rentan terjangkit Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS). Penyakit yang pertama kali ditemukan di Arab Saudi pada tahun 2012 ini sejauh ini sudah menginfeksi 495 orang di 12 negara dan lebih dari 100 orang meninggal dunia. 

MERS memang rentan menyebar di Indonesia mengingat sekitar 5.000 orang Indonesia pergi umrah ke Arab Saudi setiap hari. Jumlah itu diperkirakan naik signifikan pada musim libur sekolah dan Ramadhan. 

MERS (Middle East respiratory syndrome) disebabkan oleh virus yang disebut korona virus, yang masih satu kelompok dengan virus SARS. 

Gejala penyakit ini mirip dengan flu, yakni demam, batuk, dan sesak napas. Namun, virus ini akan menyerang hebat jika menginfeksi saluran pernapasan.

Meski penularan virus korona terjadi antarmanusia, menurut Health Protection Agency, penularannya sangat terbatas. Jika penularannya mudah, tentu jumlah kasusnya akan lebih besar lagi. 

"Jika si A terinfeksi, ia bisa menularkan MERS kepada si B, tetapi si B tidak bisa dengan mudah menularkannya ke orang lain, misalnya ke C. Ini disebut juga dengan penularan tertiary," kata Dr Michael Osterholm dari Pusat Penelitian Penyakit Menular Universitas Minnesota.

Penularan bisa terjadi pada orang-orang yang berada dalam kontak dekat. Misalnya saja dari pasien ke petugas kesehatan. Inkubasi penyakit ini berlangsung kira-kira 7 hari. 

Walaupun demikian, petugas kesehatan yang menangani pasien MERS harus mendapatkan perlindungan yang maksimal. Pasien harus berada di ruang isolasi dan seluruh petugas kesehatan wajib menggunakan pakaian khusus. 

Menurut WHO, virus korona termasuk rapuh karena ia hanya bisa bertahan di luar tubuh selama 24 jam. Virus ini juga gampang dibunuh dengan sabun antibakteri. 

Oleh karena itu, selalu cuci tangan dengan sabun saat berada di ruang terbuka dan gunakan masker untuk menghindari percikan ludah.


Cegah Penularan MERS Saat Ibadah Umrah



Kita harus mencermati perkembangan penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Arab Saudi saat ini dan mencermati kasus-kasus yang telah tersebar ke beberapa negara. Termasuk beberapa kasus di Indonesia yang diduga MERS.

Terakhir ada satu kasus dari kota Medan yang baru saja pulang umrah yang diduga MERS dengan gejala MERS meninggal kemarin 4 Mei 2014  dan hanya sempat dirawat beberapa jam di RSU Adam Malik.  Sampai sejauh ini belum ada obat dan vaksin untuk penyakit MERS ini. 

Di Arab saudi sendiri kasus ini yang awalnya terjadi ratusan kilometer dari Riyadh ternyata sudah tersebar ke kota dimana jemaah umrah berada seperti Mekah, Madinah dan Jedah. Bahkan 1 jemaah umrah Mesir meninggal dunia beberapa saat lalu. 

Memang saat ini pemerintah Arab Saudi dan pemerintah Indonesia belum memberlakukan travel warning utk para jemaah umrah, walau terdapat pembatasan pemberian visa oleh pemerintah Arab Saudi. Pemerintah Indonesia melalui pernyataan 3 menteri hari ini 5 Mei 2014 yaitu Menteri Agama, Menko Kesra dan Menkes menyampaikan bahwa pemerintah tetap memberangkatkan jemaah umrah dan haji tahun ini. 

Melihat perkembangan saat ini, dimana sudah ada jemaah umrah yang terkena infeksi MERS, cepat atau lambat akan ada jemaah Indonesia yang positif tertular mengingat jamaah umrah Indonesia merupakan jemaah terbesar di tanah suci.

Sebagaimana kita ketahui infeksi MERS disebabkan oleh virus korona yang menyerang saluran pernafasan bawah (paru). Pasien yang mengalami infeksi ini akan mengalami demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Pada paru terjadi radang paru akut (Pneumonia) dan mudah terjadi komplikasi pada ginjal sampai gagal ginjal. Angka kematian cukup tinggi, sampai saat ini hampir 25 % kasus meninggal.

Mengingat kasus yang ditemukan sudah terjadi pada jemaah umrah ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para calon jemaah umrah dan petugas kesehatan yang kebetulan menangani infeksi yang terjadi pada pasien yang baru pulang umroh. 

Untuk para jemaah umrah:
  1. Bagi orang usia lanjut diatas 60 tahun dengan penyakit kronis dianjurkan tidak berangkat.
  2. Bagi jemaah dengan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) juga dianjurkan untuk tidak berangkat.
  3. Sebaiknya jemaah yang akan berangkat dalam keadaan sehat dan tidak sedang mengalami infeksi.
  4. Selama berada di Arab Saudi terutama jika sedang berada kerumunan sebaiknya selalu menggunakan masker terutama masker N95. Masker ini untuk orang sehat dan bertujuan untuk mencegah terhirup virus dan partikel halus.  
  5. Selalu mencuci tangan pakai sabun baik sebelum dan sesudah makan dan selalu kontak dengan sesuatu yang juga disentuh oleh orang lain.
  6. Tetap makan dan minum cukup. 
  7. Konsumsi buah dan sayuran. 
  8. Usahakan tetap tidur cukup minimal 6 jam dalam 24 jam selama berada di tanah suci.
  9. Menghindari makanan dan minuman  yang manis, gorengan dan minuman yang dingin.
  10. Jika demam dan batuk saat di Arab Saudi atau setelah pulang umrah segera datang berobat ke RS.


Secara khusus bagi petugas kesehatan di Indonesia  untuk mencurigai MERS pada masyarakat yang mengalami demam, batuk dan sesak sepulang dari umrah atau baru datang dari Arab Saudi misal sebagai tenaga kerja.

Waspada selalu dan tetap beribadah umrah dengan nyaman.

Sumber :

  1. http://health.kompas.com/.
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Sindrom_pernapasan_Timur_Tengah


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...