Kamis, 04 Desember 2014

Kebenaran Sejarah dalam Kitab Kejadian, Kisah Penciptaan Alam Semesta dan Adam Bukanlah Dongeng !


Paus Benediktus XVI Ekshortasi Apostoliknya Verbum Domini, mengajarkan demikian : 
"... Harus diingat bahwa pertama- tama dan yang utama, bahwa wahyu Kitab Suci berakar dalam sejarah..." 
(Verbum Domini, 42). 

Artinya kita sebagai umat Kristiani mengacu kepada prinsip bahwa Kitab Suci adalah kitab yang menyampaikan kebenaran yang sungguh terjadi dalam sejarah manusia. Dengan demikian, secara umum kita menerima bahwa apa yang disampaikan di dalam Kitab Suci adalah fakta yang sungguh terjadi secara historis, kecuali jika didukung oleh bukti- bukti/ argumen yang kuat yang membuktikan bahwa para penulis kitab bermaksud untuk menyampaikan perumpamaan atau alegori, ataupun arti lain yang berlainan dengan arti literal/ arti historis.

Secara khusus, Pontifical Biblical Commission di tahun 1909 mengajarkan bahwa ketiga bab pertama dalam Kitab Kejadian juga mempunyai nilai historis, artinya sungguh terjadi sehingga bukanlah hanya dongeng. Demikian terjemahan dalam Bahasa Indonesia :

Tentang Sifat Historis dari ketiga Bab Pertama di Kitab Kejadian
Komisi Kitab Suci Pontifikal, 30 Juni, 1909, (AAS 1 [1909] 567ff; EB 332ff; Dz 2121ff)
diterjemahkan oleh Ingrid Listiati- katolisitas.org

I: Do the various exegetical systems excogitated and defended under the guise of science to exclude the literal historical sense of the first three chapters of Genesis rest on a solid foundation?
Answer: In the negative.

I. Apakah bermacam sistem eksegesis /telaah tekstual Kitab Suci yang mempelajari dan mempertahankan [argumen]dalam bentuk ilmu pengetahuan untuk mengabaikan arti literal historis dalam tiga bab pertama Kitab Kejadian, mempunyai dasar yang kuat?
Jawab: Tidak.


II: Notwithstanding the historical character and form of Genesis, the special connection of the first three chapters with one another and with the following chapters, the manifold testimonies of the Scriptures both of the Old and of the New Testaments, the almost unanimous opinion of the holy Fathers and the traditional view which the people of Israel also has handed on and the Church has always held, may it be taught that: the aforesaid three chapters of Genesis Contain not accounts of actual events, accounts, that is, which correspond to objective reality and historical truth, but, either fables derived from the mythologies and cosmogonies of ancient peoples and accommodated by the sacred writer to monotheistic doctrine after the expurgation of any polytheistic error; or allegories and symbols without any foundation in objective reality proposed under the form of history to inculcate religious and philosophical truths; or finally legends in part historical and in part fictitious freely composed with a view to instruction and edification?
Answer: In the negative to both parts.


II. Meskipun adanya sifat dan bentuk historis dari Kitab Kejadian, hubungan khusus di antara ketiga bab pertama (antara satu bab dan ke dua bab lainnya dan sebaliknya), dan dengan bab- bab berikutnya, banyaknya kesaksian dalam Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Baru, pendapat para Bapa Gereja yang hampir sepakat dan pandangan tradisional yang telah dilestarikan oleh bangsa Israel dan yang selalu diyakini oleh Gereja, bolehkah diajarkan bahwa: 
(1) ketiga bab pertama Kitab Kejadian menceritakan bukan kejadian nyata yang sesuai dengan kenyataan obyektif dan kebenaran sejarah, tetapi entah dongeng yang diperoleh dari mitos dan kosmogoni dari bangsa- bangsa kuno dan diakomodasikan oleh pengarang suci menjadi ajaran monotheistik setelah dibersihkan dari kesalahan politheisme; atau perumpamaan, alegoris dan simbol- simbol tanpa dasar apapun dalam realita obyektif, yang disampaikan dalam bentuk sejarah untuk menanamkan kebenaran- kebenaran religius dan filosofis; atau 
(2) akhirnya [merupakan]legenda- legenda yang separuh historis dan separuh lagi fiksi yang disusun dengan bebas dengan pandangan untuk instruksi dan pengajaran?
Jawab: Tidak untuk keduanya[1]


III: In particular may the literal historical sense be called in doubt in the case of facts narrated in the same chapters which touch the foundations of the Christian religion: as are, among others, the creation of all things by God in the beginning of time; the special creation of man; the formation of the first woman from the first man; the unity of the human race; the original felicity of our first parents in the state of justice, integrity, and immortality; the command given by God to man to test his obedience; the transgression of the divine command at the instigation of the devil under the form of a serpent; the degradation of our first parents from that primeval state of innocence; and the promise of a future Redeemer?
Answer: In the negative.

III: Secara khusus, bolehkah meragukan arti historis literal dalam kasus kejadian- kejadian yang dikisahkan di bab- bab yang sama yang berkenaan dengan pondasi agama Kristiani: seperti antara lain, penciptaan segala sesuatu oleh Tuhan pada awal mula; penciptaan manusia secara khusus; pembentukan wanita pertama dari pria pertama; kesatuan seluruh umat manusia; kebaikan asal mula dari orang tua pertama (Adam dan Hawa) dalam tingkat keadilan, integritas, dan tidak dapat mati; perintah Tuhan diberikan untuk menguji ketaatannya; pelanggaran terhadap perintah ilahi karena bujukan setan dalam rupa ular, penurunan tingkat orang tua pertama (Adam dan Hawa) dari keadaan awalnya yang tidak berdosa; dan janji akan Sang Penebus di masa mendatang?
Jawab: Tidak


IV: In the interpretation of those passages in these chapters which the Fathers and Doctors understood in different manners without proposing anything certain and definite, is it lawful, without prejudice to the judgement of the Church and with attention to the analogy of faith, to follow and defend the opinion that commends itself to each one?
Answer: In the affirmative.

IV. Di dalam interpretasi perikop- perikop itu di dalam bab- bab ini di mana para Bapa Gereja dan Pujangga Gereja memahaminya dengan cara yang berbeda- beda tanpa merumuskan sesuatu yang tertentu dan definitif, apakah diperbolehkan, tanpa terpengaruh pandangan Gereja dan dengan perhatian kepada analogi iman, untuk mengikuti dan mempertahankan pendapat yang mempercayakan diri sendiri kepada masing- masing [interpretasi tersebut]?
Jawab: Ya.


V: Must each and every word and phrase occurring in the aforesaid chapters always and necessarily be understood in its literal sense, so that it is never lawful to deviate from it, even when it appears obvious that the diction is employed in an applied sense, either metaphorical or anthropomorphical, and either reason forbids the retention or necessity imposes the abandonment of the literal sense?
Answer: In the negative.

V. Apakah setiap kata dan frasa yang ada di bab- bab tersebut selalu dan harus dimengerti dalam arti literal, sehingga tidak pernah bolehlah bergeser sedikitpun darinya, bahkan ketika itu nampak jelas bahwa gaya bahasa digunakan di dalam artian yang berkenaan dengan, entah metaforik (perumpamaan) ataupun antropomorfis (pembandingan dengan keadaan manusiawi) dan entah akal sehat melarang pengingatan atau kebutuhan menekankan pengabaian arti literal?
Jawaban: Tidak


VI: Provided that the literal and historical sense is presupposed, may certain passages in the same chapters, in the light of the example of the holy Fathers and of the Church itself, be wisely and profitably interpreted in an allegorical and prophetic sense?
Answer: In the affirmative.

VI. Asalkan arti literal dan historis diasumsikan terlebih dahulu, bolehkah perikop- perikop tertentu di dalam bab- bab yang sama, dengan terang contoh dari para Bapa Gereja yang suci dan dari Gereja sendiri, diinterpretasikan dengan bijak dan berguna, sebagai arti alegoris (perumpamaan) dan profetis (nubuat)?
Jawab: Ya, boleh.


VII: As it was not the mind of the sacred author in the composition of the first chapter of Genesis to give scientific teaching about the internal Constitution of visible things and the entire order of creation, but rather to communicate to his people a popular notion in accord with the current speech of the time and suited to the understanding and capacity of men, must the exactness of scientific language be always meticulously sought for in the interpretation of these matters?
Answer: In the negative.

VII. Oleh karena bukan maksud dari para pengarang suci dalam penyusunan bab pertama Kitab Kejadian untuk memberikan pengajaran ilmiah tentang Konsititusi/ penciptaan benda- benda yang kelihatan dan keseluruhan keteraturan penciptaan, tetapi lebih kepada menyampaikan kepada bangsanya gambaran popular sesuai dengan gaya bahasa pada saat itu dan cocok dengan pemahaman dan kemampuan manusia, haruskah ketepatan bahasa ilmu pengetahuan selalu dengan teliti dicari di dalam interpretasi hal- hal ini?
Jawab: Tidak


VIII : In the designation and distinction of the six days mentioned in the first chapter of Genesis may the word Yom (day) be taken either in the literal sense for the natural day or in an applied sense for a certain space of time, and may this question be the subject of free discussion among exegetes?
Answer: In the affirmative.


VIII. Dalam penentuan dan pembedaan enam hari yang disebutkan di dalam bab pertama kitab Kejadian, bolehkah kata Yom (hari) diartikan entah dalam arti literal sebagai hari yang natural atau di dalam arti untuk dikenakan kepada sejumlah rentang waktu, dan bolehkan pertanyaan ini menjadi subyek diskusi bebas di antara para ahli Kitab Suci?
Jawab: Ya, boleh


Umat Kristiani mengimani bahwa Kitab Suci ditulis oleh pengarang kitab atas ilham Roh Kudus; artinya tidak harus ia sendiri mengalami atau menjadi saksi kejadian tersebut, sebab Roh Kudus-lah yang mengilhami dia untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan faktanya, seperti yang dikehendaki oleh Allah. 

Dengan prinsip ini tidak harus Adam dan Hawa atau para saksinya (sekitar 4000-an BC) yang mengarang Kitab Kejadian; dan Tradisi Gereja mengajarkan kepada kita bahwa kelima kitab Musa (Pentateuch) yaitu Kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan dikarang oleh Nabi Musa, yang hidup sampai sekitar 1406 BC; namun pengeditan naskah Pentateuch diselesaikan sekitar tahun 550 BC.

Dengan demikian, kisah Adam dan Hawa juga terjadi seperti adanya, yaitu bahwa ada sepasang manusia yang diciptakan Allah, dengan jiwa manusia yang diciptakan langsung oleh Allah. Kitab Suci mengatakan bahwa tubuh manusia dibentuk dari material yang sudah ada (debu tanah) namun jiwanya langsung dihembuskan oleh Tuhan. 

Dengan demikian, seandainya dapat dibuktikan bahwa ada mahluk lain yang konon menyerupai manusia (tapi bukan manusia) dan berevolusi menjadi semakin mirip dengan manusia, yang ada sebelum manusia Adam dan Hawa, hal itu tetap tidak menyalahi interpretasi dari Kitab Kejadian (dalam hal ini jika perikop tersebut diartikan secara allegoris. 

Namun untuk mengatakan demikian, tentu harus ada buktinya terlebih dahulu secara ilmiah bahwa memang terjadi proses evolusi tersebut.  Kitab Kejadian mencatat tubuh manusia diciptakan dari materi yang sudah ada -dalam hal ini debu tanah, namun pada saat penciptaan Adam dan Hawa, Allah mengubah materi/ tubuh yang sudah ada tersebut menjadi tubuh yang layak untuk menerima jiwa manusia. Sedangkan jiwa manusia diciptakan langsung oleh Tuhan dari ketiadaan. Lebih lanjut tentang teori evolusi dan iman, silakan klik.

Kitab Suci mencatat bahwa Adam dan Hawa mempunyai lebih dari 2 anak (Kain dan Habel). Adam dan Hawa mempunyai anak laki- laki lain yang bernama Set (Kej 4:25), dan selanjutnya ia memperanakkan anak-anak laki- laki dan perempuan (lih. Kej 5:4) namun tidak disebutkan jumlahnya dan nama- namanya. 



Selanjutnya ada prinsip- prinsip lain yang perlu diketahui, yaitu:

1. Gereja Katolik percaya bahwa seluruh umat manusia diturunkan dari Adam dan Hawa, “Magisterium Gereja Katolik mengajarkan tentang dosa asal, yang berasal dari dosa yang dilakukan oleh seorang Adam [manusia pertama], dan yang diturunkan kepada semua orang….” (Paus Pius XII, Humani Generis 37). Artinya, Gereja Katolik mengajarkan monogenism dan menolak polygenism; sebab kita percaya bahwa semua manusia diturunkan dari sepasang manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa. 

Kitab Suci mengajarkan bahwa semua manusia diturunkan dari Adam:
"Dari satu orang saja Ia [Tuhan] telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi ….." (Kis 17:26)

Hal ini penting, sehubungan dengan kebenaran yang lain, bahwa oleh satu orang manusia (Adam) seluruh umat manusia jatuh dalam dosa, dan oleh satu orang manusia yang lain (Kristus) seluruh umat manusia diselamatkan dari dosa. Hal ini jelas diajarkan oleh Rasul Paulus dalam perikop Adam dan Kristus, Rom 5:21-21.


2. Oleh karena itu, konsekuensinya, maka memang pada masa- masa awal sejarah manusia, terjadi ‘intermarry‘/ perkawinan sesama saudara atau incest. Walaupun memang kemudian, setelah jumlah manusia sudah mulai banyak, perkawinan sesama saudara tersebut dilarang oleh Tuhan (Im 18:6-18), demi kebaikan manusia itu sendiri. Ilmu pengetahuan pada saat ini menyatakan alasannya mengapa hal tersebut dapat menimbulkan/ mempunyai resiko besar akan ketidaknormalan pada keturunan pasangan dari perkawinan antar saudara tersebut.

3. Sedangkan bagaimana dari Adam dan Hawa dapat diturunkan berbagai macam ras dan bangsa dengan ciri khas yang berbeda, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

Sedangkan tentang gaya bahasa/sastra (literary genre) kesebelas bab pertama dalam Kitab Kejadian, menurut surat dari Sekretaris Komisi Kitab Suci kepada Kardinal Suhard. Uskup Agung Paris, tanggal 16 Januari, 1948, mengatakan:

"......Masalah tentang bentuk- bentuk sastra dari kesebelas bab kitab Kejadian adalah lebih samar danrumit. Bentuk gaya bahasa/ sastra ini tidak persis sesuai dengan katagori klasik, dan tidak dapat dinilai menurut sastra Yunani-Latin ataupun sastra modern. Maka historisitas (nilai sejarah) dari bab-bab ini tidak dapat disangkal ataupun dengan mudah diafirmasi, tanpa penerapan norma-norma sastra yang tidak cocok dengan klasifikasi sastra di mana mereka digolongkan. Maka, jika diterima bahwa dalam bab-bab ini sejarah dalam pengertian klasik dan nodern tidak ditemukan, maka juga perlu diakui bahwa ilmu pengetahuan modern juga tidak memberikan solusi positif kepada semua masalah di bab-bab ini.... 

Jika seseorang menentang dengan sikap apriori bahwa penjabaran di bab-bab tersebut tidak mengandung sejarah dalam pengertian modern, ia akan dengan mudahnya beranggapan bahwa bab-bab ini sama sekali tidak benar secara historis, meskipun kenyataannya bab-bab ini menghubungkan dengan cara yang sederhana dan figuratif, yang sesuai dengan kemampuan orang-orang yang kurang berpendidikan/mempunyai pengetahuan, kebenaran-kebenaran fundamental yang mengacu kepada urusan keadaan jiwa dan tubuh, dan menggambarkan dengan cara popular tentang asal usul umat manusia dan asal usul sebuah bangsa terpilih ...."

Dengan demikian Gereja Katolik mengajarkan bahwa hal-hal yang tertulis dalam kesebelas bab pertama dalam kitab Kejadian adalah hal yang benar secara historis (sebagai suatu kejadian yang sungguh terjadi). Bahwa penuturannya tidak sesuai dengan cara penuturan sastra klasik dan sastra modern, tidaklah membatalkan inti yang mau disampaikan, ataupun membuat pemaparannya menjadi hanya kisah dongeng (fable). 

Dengan kata lain, inti yang tertulis dalam kitab Kejadian tersebut tetaplah benar, walaupun disampaikan dengan gaya penuturan figuratif.

Penulis : Stefanus Tay dan Ingrid 
Sumber : http://katolisitas.org/, 8 September 2011, dengan pengeditan susunan tulisan oleh : Yohanes Gitoyo..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...