Sabtu, 14 Maret 2015

Anak di Bawah Usia 3 Tahun Juga Perlu Pendidikan !


Pendidikan untuk anak kerap kali ditujukan untuk mereka dengan rentang usia 4-6 tahun. Padahal, menurut penelitian, anak pada usia 0-3 tahun sudah butuh pendidikan. 

Penelitian tersebut mengatakan, usia pada rentang 0-3 tahun merupakan Golden Age. Dikatakan demikian karena 80 persen pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut, sedangkan penyempurna sebesar 20 persen terbentuk pada masa pendidikan di atas usia tersebut. 

"Lalu kenapa di usia emas tersebut, pendidikan tidak diprioritaskan. Terlebih bagi anak-anak yang tumbuh di kawasan kumuh perkotaan. Jangankan pada usia segitu, pendidikan selalu terbatas biaya dan waktu," kata Andrew Collien, salah satu mahasiswa Binus Business School, Selasa, (10/3/2015). 

Hal itulah yang kemudian membawa Andrew beserta tiga teman lainnya, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, serta Inez Rarasati mewakili Binus University International untuk menyampaikan solusi atas pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai ini dalam ajang 'Hult Prize'. 

Hult Prize adalah ajang kompetisi tahunan skala internasional untuk mencari solusi terbaik dari berbagai masalah kesejahteraan sosial dunia. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Early Childhood Education for Urban Slum”.


Urban Slum

Menurut Andrew dan timnya, pendidikan tak harus selalu berbentuk media kelas dan guru. Pendidikan bisa diterapkan dimana dan oleh siapa saja. Dalam hal ini orangtua memiliki peran penting. 

Pengaruh minimnya pendidikan anak usia dini di kawasan kumuh perkotaan adalah timbulnya fenomena word gap, yaitu kemampuan mereka menyimpan koleksi kata-kata dalam otak. Akibatnya akan jelas terlihat saat mereka berada di sekolah formal.

"Sekolah formal itu tempat mereka berbaur dengan anak-anak lain yang sudah mendapat pendidikan saat usia dini," ungkapnya.

Menurut dia, bila pendidikan sudah disadari harus diberlakukan sedini mungkin, bukan hanya fenomena word gap dapat dipecahkan, melainkan juga mereduksi angka kejahatan di masa datang. 

Berdasarkan data Hult Prize, ada 112 juta anak berusia 0 sampai 6 tahun yang tinggal di kawasan kumuh perkotaan tidak mendapatkan pendidikan layak. Untuk itulah, solusi yang ditawarkan oleh Andrew dan timnya adalah Star(t) Educational Kit berupa kartu bergambar dengan menyasar usia anak 1 sampai 3 tahun.

Andrew Collien, Handrich Kongdro, Mario Tanuwijoko, dan Inez Rarasati mewakili BINUS University International untuk mengikuti kompetisi internasional Hult Prize 2015

"Picture Card menjadi media yang mudah dipelajari oleh anak-anak, khususnya mereka dengan usia 0-3 tahun. Untuk pemasarannya juga mudah. Rencananya, dalam distribusinya kami akan menggaet provider telekomunikasi yang memproduksi voucher fisik," ujar Andrew. \

Andrew menambahka, Picture Card tersebutkemudian dikombinasikan dengan fungsi voucher fisik. Mereka yang membeli pulsa bisa menjadikan voucher tersebut sebagai media pembelajaran bagi anak-anak usia dini di sekitar mereka. Pada picture card berbentuk voucher itu berisi gambar dan sedikit cerita yang mendeskripsikan gambar tersebut.

Picture Card menjadi media pembelajaran untuk anak usia 1-3 tahun. Dipakai sebagai solusi permasalahan kesejahteraan sosial kompetisi internasional.

'Ukurannya sama dengan voucher fisik, tetapi dalam bentuk lipatan. Bila dibuka akan menjadi satu gambar utuh yang besar," terang Andrew.

Dengan solusi seperti ini, tidak ada alasan untuk tidak memberi pendidikan pada anak usia dini. Seperti diketahui, sebagian banyak orang termasuk pada masyarakat kawasan kumuh perkotaan, ponsel sudah seperti kebutuhan utama. 

Harga pulsa fisik yang ekonomis tentu tidak sebesar biaya pendidikan yang selalu dianggap memberatkan. Untuk rumusan tersebut, Andrew dan teman-temannya melakukan riset di tiga kawasan, yaitu Senayan, Cinere, dan Bandung.

Tahun ini, pada kompetisi Hult Prize yang puncaknya diadakan pada 13-14 Maret 2015 di Shanghai, Andrew bersama teman-temannya maju sebagai salah satu tim dengan nama "Star(t) Team" didampingi oleh pelatih, Frans Bona Simanjuntak. Mereka akan berkompetisi dengan berpuluh-puluh tim dari 40 universitas lainnya dalam satu regional. Tim terbaik akan dikarantina di Boston bersama tim terbaik lain dari regional berbeda. 

Penulis : Sri Noviyanti
Editor : Latief
Sumber : edukasi.kompas.com, Kamis, 12 Maret 2015, 19:49 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...