Kamis, 04 Juni 2015

Inilah Angkor Wat Yang Konon Kemegahannya Mengalahkan Kemegahan Candi Borobudur.

Terjawab, Misteri Proses Pembangunan Kuil Angkor Wat

Angkor Wat (bahasa Khmer: អង្គរវត្ត) adalah sebuah kuil atau candi yang terletak di kota Angkor, Kamboja. Angkor Wat terletak 55 kilometres (34 mi) di utara kota modern Siem Reap, dan bergeser ke timur dari bekas ibu kota sebelumnya yang berpusat di candi Baphuon. Candi ini berada di kawasan kelompok percandian terpenting di Kamboja, juga menjadi candi paling selatan dari kelompok candi di kota Angkor. Angkor Wat adalah salah satu dari banyak candi yang ada di kawasan Yasodharapura sebuah kawasan peninggalan sejarah di wilayah Siem Reap. Menurut catatan sejarah, kompleks candi-candi tersebut dibangun antara abad ke-6 sampai ke-13.

Bangunan terdiri dari lima menara tinggi menjulang dengan candi-candi kecil di sekitarnya. Angkor Wat terletak di dataran Angkor yang juga dipenuhi bangunan kuil yang indah, tetapi Angkor Wat merupakan kuil yang paling terkenal di dataran Angkor. Pada awalnya tidak ada yang menyangka jika di dalam hutan belantara yang terasing ternyata terdapat sebuah bangunan megah dan bersejarah.

Kuil satu ini memang tampak berbeda. Bentuknya sekilas mirip piramid yang sangat besar. Maklum, lokasi kuil ini memang sangat luas. Di sepanjang jalan lintasan yang mengarah pada pintu masuk terdapat pagar yang berbentuk ular raksasa. Ini diyakini sebagai lambang kesuburan. Kuil ini terdiri atas sebuah bangunan tinggi dan sejumlah bangunan kecil di sekitarnya. Bangunan ini tersusun dalam serangkaian yang terdiri dari tiga lantai dan ada lima menara di atasnya. Di sekeliling bangunan itu terdapat ukiran-ukiran indah di atas batu. Bahkan, pada dinding ada pula ukiran yang melukiskan mitologi Hindu.

Angkor Wat melambangkan ciri keagamaan Hindu dengan menara utama yang melambangkan Gunung Meru, pusat seluruh kegiatan menurut hinduisme. Halaman dikelilingi dinding dan terusan yang berfungsi bukan saja sebagai penghadang, tetapi juga sebagai lambang Gunung Meru yang dikelilingi oleh banjaran dan lautan, sebagaimana digambarkan oleh kepercayaan Hindu. Terdapat sebuah parit dan dinding yang dilukis indah mengelilingi lima kuil utama.

Jalan masuk utama memiliki panjang setengah kilometer. Gerbang memiliki lambang jembatan pelangi yang dalam kepercayaan Hindu diartikan sebagai hubungan di antara alam gaib dengan nyata, atau antara alam dewa dengan manusia. Di sepanjang dinding bangunan pertama terdapat banyak relief yang antara lain menggambarkan Raja Suryavarman II menjadi raja, kemudian relief tentang pasukan Khmer, relief tentang surga dan negara, dan banyak lagi. Patung Dewa Wisnu dengan delapan tangan menghiasi salah satu ruangan di bangunan pertama dari Angkor Wat.

Nama modern Angkor Wat, berarti "Kuil Kota"; Angkor adalah bentuk perubahan dari kata នគរ nokor yang berasal dari kata नगर nagara dalam bahasa Sanskerta yang berarti ibu kota atau negara. wat adalah istilah dalam bahasa Khmer untuk kuil atau candi. Sebelumnya nama asli candi ini adalah Preah Pisnulok atau Vishnuloka (tempat dewa Wisnu bersemayam), berdasarkan nama anumerta raja pembangunnya, Suryawarman II.

Kuil ini dibangun oleh Raja Suryawarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun. Raja Suryawarman II memerintahkan pembangunan Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, dengan itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam kompleks bangunan Angkor Wat.


Sebagaimana mitologi gunung Meru, kawasan kuil Angkor Wat dikelilingi oleh dinding dan terusan yang mewakili lautan dan gunung yang mengelilingi dunia. Jalan masuk utama ke Angkor Wat yang sepanjang setengah kilometer dihiasi pagar susur pegangan tangan dan diapit oleh danau buatan manusia yang disebut sebagai Baray. Jalan masuk ke kuil Angkor Wat melalui pintu gerbang, mewakili jembatan pelangi yang menghubungkan antara alam dunia dengan alam dewa-dewa.


Sejarah Pembangunan Angkor Wat.

Rupanya, Angkor adalah ibu kota Kerajaan Khmer sejak kota itu berdiri pada 880 Masehi hingga 1225. Sejarah Angkor Wat bermula sejak berdirinya Kerajaan Funan. Kerajaan ini dibentuk oleh seorang warga India. Dalam kurun waktu ratusan tahun kemudian, kerajaan yang menguasai Angkor Wat silih berganti. Sepanjang waktu itu, keinginan untuk memperluas kuil terus berlanjut. Banyak kuil yang dibangun. Namun, kuil yang paling terkenal tetap Angkor Wat yang juga merupakan persembahan untuk dewa Hindu, Wisnu.

Berkas:Suryavarman II in procession.jpg
Raja Suryawarman II, pembangun Angkor Wat.

Rintisan rancangan dan pembangunan candi dimulai pada paruh pertama abad ke-12 Masehi, pada masa pemerintahan raja Suryawarman II (memerintah pada 1113 – sekitar 1150). Dipersembahkan untuk memuliakan Wisnu, candi ini dibangun sebagai candi agung negara milik raja sekaligus sebagai ibu kota. Karena prasasti yang menyebutkan pembangunannya belum ditemukan, maka nama asli candi ini tidak diketahui. Ditafsirkan candi ini mungkin aslinya disebut sebagai "Preah Pisnu-lok" (Bahasa Khmer Kuno, serapan dari bahasa Sanskerta: "Vara Vishnu-loka") secara harfiah bermakna "Kawasan Suci Wisnu", berdasarkan dewa utama yang dimuliakan di candi ini. Proyek pembangunan sepertinya dihentikan segera setelah kematian raja, menyisakan beberapa relief rendah yang belum rampung. Pada 1177, kira-kira 27 tahun setelah kematian Suryawarman II, Angkor diserang oleh bangsa Champa, musuh tradisional bangsa Khmer. Kemudian kerajaan Khmer dipulihkan kembali oleh raja baru Jayawarman VII, yang mendirikan ibu kota baru di Angkor Thom candi kerajaan baru di Bayon, yang terletak beberapa kilometer di utara Angkor Wat.


Pada akhir abad ke-13, Angkor Wat perlahan-lahan dialihfungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada, hal ini berlangsung hingga kini. Angkor Wat agak tidak biasa dibandingkan candi-candi lainnya di Angkor, meskipun ditelantarkan setelah abad ke-16, Angkor Wat tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Angkor tetap bertahan antara lain salah satunya karena parit yang mengelilinginya melindungi bangunan candi dari rongrongan pohon besar hutan rimba.

Sebelum akhirnya ditemukan, Angkor Wat benar-benar tertutup untuk dunia asing. Hutan rimba lebat menutupi kawasan yang terletak di pusat Kamboja itu. Orang Prancis merupakan orang asing pertama yang berhasil mengungkap keberadaan Angkor. Ini pun gara-gara mereka mendengar cerita dari rakyat setempat tentang ''kuil yang dibangun oleh dewa-dewa atau raksasa.''

Salah satu pengunjung Barat perintis yang mengunjungi candi ini antara lain António da Madalena, seorang biarawan Katolik Portugis yang mengunjunginya pada tahun 1586 yang menyatakan "sebuah bangunan yang luar biasa yang tak mungkin digambarkan dengan pena, karena tidak ada bangunan lain di dunia ini yang menyerupainya. Bangunan ini memiliki menara dengan hiasan yang sangat halus dan indah yang hanya bisa diciptakan oleh manusia jenius." Pada pertengahan abad ke-19, candi ini dikunjungi oleh ilmuwan dan penjelajah Perancis, Henri Mouhot, yang memperkenalkan situs ini ke dunia Barat melalui catatan perjalanannya, ia menulis:

Berkas:Facade of Angkor Wat.jpg
Bagian muka Angkor Wat, digambar oleh Henri Mouhot.

"Candi ini—menyaingi (kemegahan) Bait Salomo, dibangun oleh Michelangelo purba—pantas menduduki tempat terhormat sebagai salah satu bangunan terindah (di dunia). Bangunan ini lebih besar dari segala peninggalan Yunani atau Romawi, dan menyajikan kontras yang sangat menyedihkan dengan kondisi kini yang jatuh terpuruk ke dalam kebiadaban."

Mouhot, seperti kebanyakan pengunjung Barat, sulit memercayai bahwa bangsa Khmer mampu membangun candi semegah ini, secara keliru memperkirakan waktu pembangunannya sezaman dengan era Romawi Kuno. Sejarah sebenarnya dari Angkor Wat secara perlahan dirangkaikan kembali melalui mempelajari gaya arsitektur serta bukti epigrafi tertulis pada prasasti, dilanjutkan dengan pembersihan di sekitar situs Angkor. Penggalian di sekitar situs Angkor Wat tidak menemukan peninggalan permukiman seperti bekas rumah hunian atau bukti hunian lainnya seperti perabot memasak, senjata, atau bekas pakaian yang biasa ditemukan di situs purbakala. Hanya monumen inilah yang ditemukan di kawasan ini.

Angkor Wat menjalani pemugaran yang berarti pada abad ke-20, kebanyakan di antaranya adalah membersihkan jeratan tumbuhan dan tumpukan tanah yang menutupi bangunan. Proyek pemugaran terputus akibat perang saudara dan kendali rezim Khmer Merah atas Kamboja pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, akan tetapi kerusakan relatif minim pada periode ini yang kebanyakan adalah penjarahan dan pencurian serta perusakan pada arca setelah era Angkor.

Candi ini merupakan simbol yang kuat dan amat penting bagi negara Kamboja, sebagai sumber kebanggaan nasional dan menjadi faktor penting bagi hubungan diplomatik luar negeri antara Kamboja dengan Perancis, Amerika Serikat, dan Thailand. Penggambaran Angkor Wat dalam bendera nasional Kamboja telah mulai ditampilkan sejak diperkenalkannya bendera perdana Kamboja pada 1863.


Akan tetapi, dari perspektif sejarah dan antarbudaya, Angkor Wat tidak pernah menjadi lambang kebanggaan nasional yang sesungguhnya sui generis namun diterapkan dalam proses politik-budaya oleh Kolonial Perancis yang menampilkan candi ini dalam pameran Kolonial Perancis dan pameran universal di Paris dan Marseille antara tahun 1889 dan 1937.

Warisan kesenian yang agung dari Angkor Wat dan monumen Khmer lainnya di kawasan Angkor telah mendorong Perancis untuk memasukkan Kamboja sebagai protektorat Perancis pada 11 Agustus 1863 dan menyerang kerajaan Siam untuk merebut kendali atas kawasan reruntuhan candi ini. Hal ini mendorong Kamboja untuk merebut kembali kawasan di sudut barat laut yang di bawah penjajahan Siam sejak tahun 1351 (Manich Jumsai 2001), atau menurut sumber lain, 1431. Kamboja meraih kemerdekaan dari Perancis pada 9 November 1953 dan sejak saat itu menguasai candi Angkor Wat.


Angkor Wat berada dalam keadaan yang baik dibandingkan dengan kuil lain di dataran Angkor disebabkan karena Angkor Wat telah dialihfungsikan menjadi kuil Buddha dan dipelihara serta digunakan secara terus menerus ketika agama Buddha menggantikan agama Hindu di Angkor pada abad ke-13. Kuil Angkor pernah dijajah oleh Siam pada tahun 1431.

Seperti halnya Candi Borobudur dan Prambanan, Angkor Wat juga tersohor sebagai situs warisan dunia dengan kemegahan dan keeksotikannya. Pada tahun 1992, Angkor Wat masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.


Misteri Pembangunan Angkor Wat.


Menjadi pertanyaan sampai saat ini adalah dari mana dan bagaimana batu-batu besar tersebut sampai di lokasi dan digunakan untuk membangun candi pada masa itu. Karena melihat letaknya, akses menuju lokasi bukanlah medan yang mudah untuk ditempuh.

Namun studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti asal Jepang Estuo Uchida dari Universita Waseda, Jepang, mengungkapkan bahwa batu-batu tersebut dapat sampai ke lokasi dengan menggunakan jaringan ratusan kanal. "Kami menemukan banyak tambang blok batu pasir yang digunakan untuk membangun Kuil Angkor dan juga rute transportasi dari blok batu pasir tersebut," ungkap Uchida.

Arkeolog memang telah mengetahui bahwa batu yang digunakan untuk membangun kuil berasal dari tambang yang berada di dasar gunung yang letaknya berdekatan dengan situs. Namun, mereka masih bertanya-tanya bagaimana batu tersebut mencapai lokasi situs tersebut.

Terlebih, menurut peneliti, situs ini memuat lima juta hingga sepuluh juta batu dengan berat mencapai 1.500 kilogram. Sebelumnya, orang-orang beranggapan batu-batu tersebut diangkut ke danau Tone Slap melalui kanal, kemudian mereka mendayungnya dengan melawan arus melalui sungai lain hingga mencapai lokasi candi.

Untuk menelusurinya, Uchida bersama timnya mencoba meninjau kawasan tersebut. Di sana mereka menemukan 50 tambang di sepanjang tanggul di Gunung Kulen. Mereka juga menjelajahi lokasi dengan menggunakan citra satelit dan menemukan jaringan dari ratusan kanal sebagai jalan yang menghubungkan tambang ke situs candi. 

Dengan menggunakan akses jaringan kanal, jarak antara tambang dengan situs hanya sekitar 37 kilometer, lebih dekat dibanding jarak melalui jalur sungai sepanjang 90 kilometer. Grid kanal ini menunjukkan bahwa para nenek moyang kita mengambil jalan pintas ketika membangun candi.

Mungkin inilah jawaban mengapa para leluhur dapat membangun sebuah kompleks yang megah hanya dalam beberapa dekade saja. Konon, pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun.

Beginilah kira-kira kemegahan Angkor Wat di masa lalu.

Pada abad ke-12 Raja Suryavarman II dari Kerajaan Khmer mulai membangun candi di atas tanah seluas 200 hektar yang terletak di ibukota Angkor yang saat ini dikenal dengan Kamboja. Kompleks ini dibangun untuk menghormati Dewa Wisnu. Namun, pada abad ke-14 pemimpin setempat mengonversinya menjadi sebuah kuil Buddha.


Anda berminat untuk berkunjung ?


Untuk mengunjunginya sangat mustahil jika hanya berjalan kaki, karena jarak antara antara satu candi dengan candi lainnya cukup jauh. Selain sepeda, ada juga ojek sepeda motor dan sepeda botor becak. Untuk sepeda disewakan seharga 4 dolar AS/hari, ojek sepeda motor 7 dolar AS/hari.













Tiket masuk lokasi kompleks (Candi Angkor Wat dan beberapa candi lainnya) dibagi dalam 3 jenis: 1 hari (20 dolar), 3 hari (40 dolar), dan 1 minggu (60 dolar). Sebetulnya sangat mustahil mengunjungi kompleks dalam waktu satu hari karena begitu banyaknya obyek yang harus dikunjungi, yaitu Angkor Wat itu sendiri, juga Angkor Thom (Bayon), Ta Prohm, Banteay Srei, Elephant Terrace, Baray Barat, Baray Selatan dan masih banyak lagi candi yang semuanya berada dalam kompleks Yasodharapura atau lebih dikenal dengan kompleks Angkor Wat.


Candi Borobudur dan Angkor Wat Ada kemiripan ?

Candi Borobudur dan Angkor Wat memiliki kemiripan, walaupun terpisah oleh samudra, sekilas tampak banyak sekali kesamaan antara mereka. Dan menurut penjelasan ahli sejarah, relief Borobudur ada kemiripan dengan Candi Angkor Wat. Benarkah?  Coba kita perhatikan detail di masing-masing candi berikut

Relief di Candi Borobudur

Relief di Angkor Wat

Candi Borobudur dan Angkor Wat hanyalah salah satu tanda dari banyak kemiripan dari negara-negara ASEAN. Saya yakin negara-negara ASEAN adalah serumpun. Dan mungkin saja pada jaman dulu kala, kita sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama.

Kembali ke Candi Borobudur dan Angkor Wat, sebenarnya pada tahun 2009, pemerintah Indonesia dan Kamboja sudah pernah membahas tentang kemiripan kedua candi ini.  Dalam seminar mengenai penelitan Candi Borobudur dan Angkor Wat di kota Siem Reap, 5-6 Desember 2009, Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja, Ngurah Swajaya, mengusulkan beberapa rekomendasi konkrit kerjasama kedua negara, seperti pelaksanaan riset mengenai hubungan sejarah kedua negara, pendirian pusat informasi mengenai Borobudur di Siem Riep dan Angkor Wat di Jawa Tengah sebagai salah satu program sister temple antara Siem Riep dan Jawa Tengah.

Seminar itu juga menghasilkan rekomendasi untuk menjajaki promosi bersama dalam menarik wisatawan asing mengunjungi Borobudur dan Angkor Wat.

Dengan adanya ASEAN Economic Community (AEC) 2015 nanti kerjasama dan program sister temple ini pasti bisa lebih intens dilaksanakan.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Angkor_Wat
  2. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/11/terjawab-misteri-proses-pembangunan-kuil-angkor-wat
  3. https://id-id.facebook.com/aguscupritt/posts/550381735069625
  4. https://yessigreena.wordpress.com/2013/08/27/ada-apa-dengan-candi-borobudur-dan-angkor-wat/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...