Kamis, 12 Februari 2015

Mobil Selo, "Calon" Mobil Listrik Nasional Yang "Malang" Nasipnya


Selo adalah mobil listrik sport generasi kedua setelah Tucuxi, yang digagas oleh Menteri Negara BUMN petahana, Dahlan Iskan bersama tim Putra Petir. Bersama mobil listrik lain berjenis minibus, bus dan sedan, Selo dipersiapkan untuk dipertunjukkan di KTT APEC di Bali, 5-6 Oktober 2013. Jika Tucuxi, mobil listrik sport generasi pertama, terlihat seperti Ferrari, Selo dilihat orang seperti Lamborghini.


Asal kata.

Selo diambil dari bahasa Jawa yang berarti batu. Belum jelas motif pemilihan nama tersebut, akan tetapi setelah Tucuxi, generasi kedua mobil listrik memilih nama yang lebih Indonesia, seperti Selo, Gendhis[1], dan lain-lain. Dalam buku Electric Car Made in Indonesia, Karya Pandawa Putra Petir, tidak banyak disebutkan keterangan mengenai mobil Selo ini. Namun buku itu menulis Ki Ageng Selo dalam mitos Jawa memiliki beragam kesaktian, termasuk menangkap petir dan memanfaatkannya sesuai keinginan. Itu pula yang sepertinya ingin dilakukan mobil sport listrik Selo. Menggunakan tenaga listrik, mobil ini ingin berlari kencang


Proses kelahiran mobil Selo.

Video Seperti Inilah Desain Mobil Listrik Selo Ala Lamborgini

Siapa orang di balik terwujudnya mobil listrik generasi kedua yang diberi nama Selo dan Gendhis? Dialah Ricky Elson. Anak muda lulusan Jepang yang rela mengabdikan ilmunya untuk pengembangan mobil listrik di Indonesia.

Ya, Demi Indonesia, Ricky Elson rela meninggalkan gaji besar dari perusahaan di Jepang yang meminta untuk melakukan riset mobil listrik. ‘’Selama empat tahun hanya ditarget bikin satu,’’ ujarnya suatu saat.

Ricky lebih memilih Indonesia. Negeri yang dicintainya. Dahlan Iskan yang mengerti potensi Ricky pun bersedia mengucurkan dana untuk riset dan pembuatan mobil listrik di Indonesia.

Hingga lahirlah Selo, pada 18 September 2013. Ya pada tanggal itulah, mobil listrik generasi kedua warna kuning ini lahir. Ricky Elson mewartakannya lewat akun twitternya @ricky_ruby. ‘’ Alhamdulillaah. SELO, Akhirnya kau berlari gagah di bawah Purnama malam ini,’’ kicau Ricky tanggal 18 September.

Tapi, Ricky selalu merendah saat disebut sebagai pembuat Selo. ‘’Saya sendiri pun tak pernah berani mengklaim SELO sebagai karya saya, selalu berkata “Para MAESTRO” yg terlupakan,’’ katanya.

Bahkan lewat akun twitternya, Ricky dengan tegas menulis bahwa SELO dan GENDHIS adalah karya Dahlan Iskan yang diwujudkan melalui tangan2 “Para Maestro” yang takkan dilupakan oleh beliau,’’ tulisnya.
Lalu dia melanjutkan, ‘’Kami, team SELO & GENDHIS menutup mulut rapat-rapat sehingga uji laik jalan clear, kemudian publikasinya kami serahkan ke Abah,’’ lanjutnya. Abah adalah sebutan Ricky untuk Dahlan Iskan.

Mobil listrik SELO yang tipe sport dan GENDHIS, MPV sekelas Alphard, dibuat oleh Tim Putera Petir atau Tim Maestro yang Ricky ada di dalamnya. Sedangkan mobil listrik tipe lain yaitu sekelas city car dan bus Listrik dibuat oleh Dasep Ahmadi.

Selo, dibuat secara diam diam, di sebuah Workshop Autofashion Jogja, yang bagi kami bukan rakitan. Berikut proses Selo :

Proses kelahiran Selo 2, mockup dgn tanah liat 

Proses kelahiran Selo 3, pengerjaan rancang body

Proses kelahiran Selo 4, master cetak body selo selesai

Proses kelahiran Selo 5, cetakan body finish dan pencetakan lampu dan aksesoris 

Proses kelahiran Selo 6, dengan kondisi peralatan seadanya, Para maestro mempersembahkan yg terbaik. 

Proses kelahiran Selo 7, body selo naik keatas chasis.


Proses Kelahiran Selo 8, murni karya para maestro, chasis, rangka body dan lampu Selo.

Dan inilah hasilnya....


Kinerja Mobil Selo.

Seperti Apa Kinerja Mobil Listrik Dahlan Iskan?  

Dua mobil listrik milik Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan dipajang di Indonesia International Motor Show 2014. Mobil bernama Selo dan Gendhis ini dipajang di gerai Bengkel Kupu-Kupu Malam, Hall A Semipermanen JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. 

Kepada Tempo, Manajer Bengkel Kupu-Kupu Malam, Kunto Wibisono, memaparkan spesifikasi teknis Selo dan Gendhis. Selo yang berwujud mirip dengan supercar ini memiliki kandungan lokal 70 persen. Komponen lokal berada di kompartemen bodi serta sebagian interior. Sedangkan suku cadang yang cukup mahal dan masih harus diimpor adalah baterai dan motor listrik seharga sekitar Rp 40 juta.


Kunto mengklaim racikan motor listrik Selo bisa mengeluarkan daya sekitar 130 kilowatt atau setelah dikonversi ke dalam besaran energi mekanik menjadi 182 daya kuda (HP). Dengan motor ini, Selo bisa dipacu hingga 220 kilometer per jam. Selain punya daya yang mumpuni, Selo bisa menempuh jarak 250 kilometer dalam kondisi baterai penuh. "Perlu empat jam untuk mengisi baterai dari kondisi kosong," katanya. 

Video : 360, 22 Mei 2014: Mobil Listrik Buatan Indonesia ( Ricky Elson )

Sedangkan performa Gendhis berada di bawah Selo. Gendhis diklaim bisa melaju paling cepat 150 kilometer per jam. Menurut Kunto, mobil-mobil ini sudah menggunakan sistem regenerative brake yang memungkinkan baterai mobil terisi dengan daya yang dilepas selama terjadi pengereman. Namun, dia mengakui teknologi mobil listrik itu masih belum secanggih kendaraan hibrid yang sudah dipasarkan secara global. 

Untuk riset Gendhis dan Selo, Dahlan Iskan dan tim Kupu-Kupu Malam menghabiskan biaya yang cukup besar. Kunto mengatakan biaya pengembangan Selo mencapai Rp 1,8 miliar, sedangkan Gendhis Rp 1,5 miliar. Kini, fokus utama riset Selo dan Gendhis adalah menyediakan baterai berkapasitas besar. Dengan menambah kapasitas baterai, kata Kunto, jarak tempuh mobil ini lebih jauh ketimbang mobil listrik biasa, yang bisa digunakan untuk menempuh jarak 150 kilometer. "Tapi, konsekuensinya, biaya riset jadi lebih mahal."


Mobil Selo, "calon" Mobil Listrik Nasional Yang Malang Nasipnya


Hingga saat ini mobil listrik yang dibangga-banggakan Menteri BUMN Dahlan Iskan belum mendapat status laik jalan. Siang tadi, Dahlan menengok mobil listrik yang mangkrak selama dua tahun di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan harus gigit jari saat datang ke Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Selasa (11/3) siang. Dahlan yang ingin mengetahui kabar uji sertifikasi mobil listrik miliknya harus menelan pil pahit. Sebab hingga kini, nasib mobil listrik bernama ‘Selo’ itu tak kunjung jelas.

“Tadi saya ngelus dada lihat barisan bus listrik tanpa kejelasan. Hampir 2 tahun terkatung-katung gimana peraturan mobil listrik sebetulnya. Ke sana untuk tombo kangen. Mau mengendarai, tidak bisa,” ujar Dahlan saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (11/3).

“Soal mobil listrik, saya hanya bisa elus dada. Saya ke sana tadi untuk tombo kangen (obat rindu-red),” ungkap Dahlan saat ditemui di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (11/3).

Karenanya, Dahlan tadi hanya dapat mengelus-elus mobil kesayangannya itu serta mengajak berbincang dan menyampaikan permintaan maaf. Dahlan mengenang kembali saat mengendarai mobil listrik selo berwarna hijau sejauh 1000 Km. Dahlan punya keinginan untuk dapat mengendarai kembali mobil tersebut. Namun Dahlan harus bersabar karena mobil listrik belum mendapatkan izin laik jalan.

“Saya tadi sedih, mau mengendarai enggak bisa. Jadi hanya bisa lihat dan pegang saja. Tadi saya elus-elus dia (Selo-red) saja. Saya minta maaf udah lama jadi, tapi ngendon (diam-red) saja di sana (Kemenristek-red),” kisah mantan Dirut PLN itu.

“Maksud saya gitu (pakai). Kalau saya pakai terus kritik, tadi saya minta maaf ke bus. Padahal, bus sudah dijalankan ke Bandung, Yogya, balik lagi ke Jakarta,” katanya.

Mantan Dirut PLN ini mengaku tidak diam saja dengan kondisi tersebut. Dia mengaku sudah berkali-kali melayangkan surat secara pribadi kepada Menristek untuk dilakukan uji coba. Tetapi, hingga saat ini belum mendapat tanggapan. Ia mengaku sudah mengirim surat ke Kemenristek, serta sudah melakukan komunikasi via telepon dan SMS namun hingga saat ini masih belum ada jawabnya.

“Saya sudah kirim surat mohon izin sebagai salah satu orang yang diizinkan mengendarai mobil tersebut, saya telepon sudah, SMS juga sudah sering, tapi belum ada jawabnya,” katanya.

Ternyata tak hanya ‘Selo’ saja yang bernasib malang, kata Dahlan di Gedung Kemenristek yang terletak di jalan MH Thamrin, Jakarta itu, banyak bus yang bernasib sama. “Saya sedih lihat puluhan baris bus di sana, sudah hampir dua tahun terkatung-katung,” sesal dia.


Menteri BUMN Dahlan Iskan kecewa karena surat laik jalan untuk produk bus listrik made in Depok karya Dasep Ahmadi belum terbit dari Kantor Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Ia mengatakan bus listrik tersebut sudah selesai dibuat sejak 2 tahun lalu namun hingga kini masih belum dapat digunakan. Hingga kini, surat izin laik jalan dari Kemenristek belum terbit.

Saat ditanya mengapa sertifikasi untuk ‘Selo’ belum diberikan oleh Kemenristek, pria asal Magetan itu juga bingung. “Saya juga enggak tahu kenapa belum juga keluar izinnya,” tukas mantan Ketua Umum Persebaya ini.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...