Sabtu, 12 Desember 2015

Mengenal Pesawat N219, Produk Asli Karya Anak Bangsa.

Mengenal pesawat N219, produk asli karya anak bangsa

Untuk pertama kalinya prototipe pesawat N219 ditampilkan secara utuh di hadapan publik lewat acara penampilan perdana pesawat N219 di PT Dirgantara Indonesia (DI) Bandung, Kamis (10/12).

Pesawat berwarna putih dengan kapasitas 19 penumpang itu tadinya akan diberi nama langsung oleh Presiden Joko Widodo. Namun karena masalah kesehatan, Presiden urung hadir dan digantikan oleh Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan.

Luhut Perkenalkan Pesawat N219 ke Publik

Kendati demikian, penampilan perdana tetap dilakukan, meski pesawat urung diberi nama. Pesawat N219 dirancang khusus untuk melayani transportasi udara di daerah terpencil di Indonesia.

Pesawat ini hasil kerja sama PT DI dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN). Kepala Lapan Thomas Djamaluddin mengatakan, pengembangan pesawat ini menjadi bagian dari kebangkitan kembali industri pesawat terbang nasional.

Kebangkitan tersebut, lanjut dia, sekaligus mengulang kebangkitan teknologi penerbangan nasional yang terjadi pada 1995. Saat itu Indonesia mampu membuat pesawat N250.

Thomas menuturkan, sejarah teknologi penerbangan Indonesia setidaknya tercatat sejak 1963. "Waktu itu ada kebijakan untuk membangun kemandirian industri pesawat, dengan Nurtanio sebagai Kepala Lapan pertama yang waktu itu nama jabatannya masih Dirjen Lapan," tuturnya.

Nurtanio bekerja keras untuk membangun teknologi penerbangan di Indonesia. Tiga tahun ia memimpin LAPAN. Pada 1966, ia meninggal. Namanya kemudian diabadikan dalam IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara). IPTN merupakan cikal-bakal PT DI.

Tahun 1974, LAPAN membangun pesawat XT400 yang terbang perdana pada 1980. Kemudian seluruh pengembangan pesawat terbang difokuskan di IPTN. "Waktu itu LAPAN sering dikritik DPR, bahwa fungsi penerbangan LAPAN sudah tidak ada, hanya antariksa saja," kata Thomas.

Kemudian pasca pembuatan N250 semangat penerbangan nasional kembali bangkit. Pada 2008 LAPAN ditunjuk menjadi pusat litbang pengembangan pesawat terbang sedangkan PT DI sebagai pengembangan manufaktur pesawat terbang.

Video : "Pesawat N219 MahaKarya Anak Negeri"

Mulai 2011, LAPAN membentuk pusat teknologi penerbangan. Sejak itu, LAPAN bekerja sama dengan PT DI dalam membangun N219. Mulai 2014, pengembangan N219 mendapat anggaran resmi dari pemerintah.

"Lalu tahun ini kita melihat wujud nyata N219. Tahun depan mulai terbang perdana. Tahun 2017 mulai dilakukan sertifikasi. Kemudian tahun 2017 pula kita mulai produksi (untuk dipasarkan)," katanya.


Sekilas  Tentang Pesawat N219.


N-219 adalah pesawat multi fungsi bermesin dua yang dirancang oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dengan tujuan untuk dioperasikan di daerah-daerah terpencil. Pesawat ini terbuat dari logam dan dirancang untuk mengangkut penumpang maupun kargo. Pesawat yang dibuat dengan memenuhi persyaratan FAR 23 ini dirancang memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dan pintu fleksibel yang memastikan bahwa pesawat ini bisa dipakai untuk mengangkut penumpang dan juga kargo.

Sebelum memasuki serial production, PT DI terlebih dahulu akan membuat dua unit purwarupa untuk uji terbang serta satu unit purwarupa untuk tes statis pada tahun 2012. Program pembuatan purwarupa sendiri direncanakan memakan waktu selama dua tahun dengan pengalokasian dana yang dibutuhkan sebesar Rp. 300 miliar.

N-219 akan melakukan uji terbang di laboratorium uji terowongan angin pada bulan Maret 2010. Pesawat N-219 baru akan bisa diserahkan kepada pemesan pertamanya untuk diterbangkan sekitar 2014-2015. N-219 ini merupakan pengembangan dari NC-212 yang sudah diproduksi oleh PT DI dibawah lisensi CASA.


Spesifikasi Teknis.

N-219
N219model.jpg
Model N-219 di Dirgantara Indonesia
TipePesawat angkut
PerancangDirgantara Indonesia
Terbang perdana2015
StatusDiproduksi
Pengguna utamaIndonesia
Harga satuan$ 4.500.000 - $ 5.000.000[1]
Acuan dasarNC-212




Fitur Utama.
  • Fungsi: angkut penumpang dan kargo (Multi fungsi, dapat dikonfigurasi ulang)
  • Kapasitas: 19 Penumpang (konfigurasi tiga sejajar)
  • Kinerja lepas landas dan mendarat: jarak pendek/STOL (600 m)
  • Biaya operasional: rendah
  • Mesin: 2 x 850 shp

Kinerja.
  • Kecepatan jelajah maksimum: 395 km / jam (213 KTS)
  • Kecepatan jelajah ekonomis: 352 km / jam (190 KTS)
  • Rata rata feri Maksimum: 1580 Nm
  • jarak lepas landas (halangan 35 kaki): 465 m, ISA, SL
  • jarak mendarat (halangan 50 kaki): 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan jatuh (stall): 73 KTS
  • Berat lepas landas maksimum (MTOW): 7270 kg (16,000 lbs)
  • Muatan Maksimum: 2500 kg (5511 lb)
  • Tingkat panjat 2300 kaki / menit (semua mesin operasi)
  • Jarak: 600 Nm

Operator.
  • Merpati Nusantara Airlines = 20 unit dalam pemesanan
  • Lion Air Group = 100 unit dalam pemesanan


Apa Saja Komponen Lokal Pesawat N219?


Keistimewaan pesawat N219 adalah seluruh rancang bangun strukturnya dikerjakan putra-putri Indonesia. "Murni dikerjakan insinyur-insinyur Indonesia, tak ada seorang pun konsultan asing di dalamnya. Dengan teknik rancang bangun modern, semuanya komputerisasi untuk mencapai akurasi yang tinggi," katanya.

Dia menambahkan, N219 merupakan tanda kebangkitan kembali teknologi penerbangan Indonesia. "Kita berharap semangat dulu Nurtanio sebagai Kepala LAPAN yang pertama mampu memberi semangat pada insinyur-insinyur muda Indonesia. N219 menjadi simbol kemandirian teknologi. Bahkan kita mampu menjadikan teknologi sebagai konektivitas nasional," ungkapnya.

PT Dirgantara Indonesia mengklaim, kandungan lokal dalam pesawat turboprop buatannya, N219, saat ini sudah sekitar 40 persen.

"Saat ini, kami estimasi sekitar 40 persen. Kami belum tahu exact-nya berapa," demikian kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia (DI) Andi Alisjahbana kepada KompasTekno, Kamis (10/12/2015) di hangar N219 di PT DI, Bandung, Jawa Barat.

Andi menjelaskan, yang pasti semua komponen badan adalah buatan PT DI. Lalu, komponen-komponen N219 apa lagi yang telah diproduksi di dalam negeri?

"Ada komponen yang biasa kita beli dari luar sekarang diproduksi di dalam negeri," kata Andi di sela acara peluncuran N219 di Bandung.

Andi mencontohkan kaca depan pesawat (windshield) yang rupanya dibuat oleh pabrik yang biasa membuat kaca mobil di dalam negeri.

"Ini kaca buatan lokal. Tepatnya, pabrik yang biasa bikin kaca mobil," kata Andi tanpa memerinci pabrik yang dimaksud.

Andi juga menjelaskan, switch dan knob yang terpasang di kokpit pesawat juga dibuat oleh pabrik di Surabaya.

"Kalau display gedenya itu bukan (buatan dalam negeri). Itu Garmin punya," katanya.

Penampilan Perdana Pesawat N219
Ruang kabin Pesawat N219 dalam keadaan kosong.

Penampilan Perdana Pesawat N219
Display avionik Pesawat N219

Andi berharap, PT DI bisa merangkul hingga 23 industri lokal yang bisa memasok komponen untuk pesawat buatannya, N219.

Saat ini, PT DI masih berupaya untuk merangkul industri-industri lokal tersebut agar mau bergabung dengan proyek pembangunan pesawatnya itu. "Belum semuanya berhasil (digandeng)," ujarnya.

Rencananya, pemerintah ingin menambah tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam pesawat N219 menjadi 60 persen pada masa mendatang, seperti sempat diutarakan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin.

"Kami akan mendorong terus, kalau bisa sampai 60 persen. Dengan begitu, industri komponen di dalam negeri bisa kembali pulih," kata Saleh Husin kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (18/9/2015) lalu.

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S pD.
Sumber : 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...