Rabu, 13 Januari 2016

Anda Perlu Tahu : Makanan, Sumber Buruknya Kualitas Sperma Pria.


Salah satu penyebab dari ketidaksuburan atau sulitnya pasangan untuk mendapat keturunan adalah kualitas sperma yang buruk. Salah satu sebab buruknya kualitas sperma tenyata sangat sepele dan sederhana, yakni makanan. 

Para peneliti yang menelaah masalah ini berharap hasil dari percobaan mereka yang dilakukan terhadap tikus bisa juga berlaku bagi manusia. 

Selama ini memang pembicaraan tentang kesuburan dan kesehatan reproduksi selalu terfokus pada perempuan dan beberapa hal seperti usia, lingkungan dan faktor gaya hidup. Karena dianggap perempuanlah yang punya kemampuan untuk hamil dan melahirkan bayi yang sehat. 


Namun seperti dikutip dari Huffington Post, penelitian terbaru menyimpulkan bahwa kesehatan calon ayah sama pentingnya dengan kesehatan calon ibu untuk melahirkan anak-anak yang sehat. 

Dua penelitian terbaru yang dipublikasikan secara independen di jurnal Science, menunjukkan  bahwa pola makan ayah bisa berdampak pada keturunannya.  

Seperti dikutip dari Hufington Post, dalam salah satu penelitian itu, tim peneliti dari China  memberi makan tikus dengan diet yang tinggi lemak  dan kemudian mengambil sperma mereka. Sperma itu kemudian dipergunakan untuk membuahi tikus betina. 

Hasilnya anak-anak tikus yang dilahirkan mengalami kelainan resistensi insulin dan intoleransi glukosa. Keduanya diketahui sebagai pemicu diabetes—sementara pada kelompok tikus pengendali penelitian, kelainan itu tak terjadi. 

Dalam penelitian kedua yang dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan Kanada, pola penelitian yang sama dilakukan. Namun kali ini dengan pola makan diet rendah protein. 

Hasilnya sama-sama ada perubahan pada gen yang bertanggung jawab pada perkembangan sel punca pada keturunan tikus-tikus itu. 

Temuan dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa DNA dalam sperma tak hanya akan mempengaruhi sang ayah tapi juga pada keturunannya. 

RNA—rangkaian asam yang tugasnya untuk membantu cetak biru berisi DNA—juga memiliki peran penting. Dalam penelitian di China, transfer RNA sepertinya membawa informasi dari pola makan ayah yang kemudian akan memengaruhi kesehatan keturunannya. 

“Secara tradisional, kontribusi pria pada kesehatan anak biasanya dibatasi pada separuh dari DNA anak,” kaya Dr. Oliver Rando, ahli biokimia dari University of Massachussets Medical School dan salah satu penulis penelitian itu kepada Huffington Post. “Jadi ini adalah ide besar bahwa pola makan calon ayah dan lingkungan akan sangat mempengaruhi metabolisme anak-anak atau seperti inilah tantangan yang bakal kita hadapi.” 

Penelitian terbaru juga menyebutkan bahwa diet calon ayah akan sangat mempengaruhi kesuburan pria. 

Penelitian lain terbaru menemukan tak hanya pola makan tapi lingkungan dan faktor lingkungn —termasuk diet dan olahraga—juga berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan kesuburan. Semua ini jadi faktor pendukung semakin menurunnya angka kelahiran di dunia. 

“Saya sangat terkejut menemukan  kualitas semen yang sangat rendah pada pria berusia 20 hingga 25 tahun, “ kata pemimpin penulis Dr Niels Skakkbaek dari University of Copenhaden dalam pernyataannya. 


“Kami menemukan bahwa rata-rata pria memiliki 90 persen sperma tak normal. Ini menunjukkan kita sedang melangkah ke negara industri di mana kualitas semen yang buruk terjadi meluas. Hal ini  harus  juga jadi kecurigaan kita tentang mengapa semakin sulit kehamilan terjadi.” 

Skakkebaek dan koleganya menyimpulkan bahwa melihat usia calon ibu saja bukanlah penentu menurunnya jumlah kehamilan. “Situasinya sangat rumit,” katanya. 

Para peneliti mengatakan jika hasil penelitian yang didapat dari tikus ternyata juga terjadi pada manusia—seperti yang mereka harapkan—maka sangat bijak bagi para calon ibu dan ayah untuk mulai mempertimbangkan pola diet mereka jika ingin menyambut kehamilan yang sehat. 

Penulis : Utami Widowati
Sumber : cnnindonesia.com, Selasa, 12 Januari 2016 06:29 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...