Kamis, 14 Januari 2016

Indonesian Fighter Xperiment (IFX), Jet Tempur Made in RI di Atas Sukhoi-35 dan F-16.

Desain Indonesian Fighter Xperiment (grafik : militerhankam.com)
Desain Indonesian Fighter Xperiment 
(grafik : militerhankam.com)

Kita sudah sering membicarakan tentang pembangunan pesawat tempur KFX IFX, kerja sama antara Korea Selatan dan Indonesia. Informasi yang banyak kita terima, adalah berita berita dari pihak Korea Selatan. Nah sekarang, mari kita simak keterangan dari pihak Indonesia, khususnya PT DI, seperti apa pesawat KFX IFX itu nantinya.

Menurut, Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana usai penandatanganan KFX/IFX di Kementerian Pertahanan, Jakarta, (7/1/2016), varian Indonesia jet tempur itu bernama Indonesian Fighter Xperiment atau disebut IFX.

Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan sepakat membangun jet tempur bersama. Proyek pengembangan pesawat tempur tersebut bernama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Untuk varian Indonesia, jet tempur tersebut bernama IFX.

IFX, Jet Tempur Made in RI di Atas Sukhoi-35 dan F-16

Proses pengembangan tahap awal dilakukan di Korea Aerospace Industries (KAI), setelah itu proses produksi dilakukan di masing-masing negara yakni di fasilitas milik KAI dan fasilitas milik Indonesia di Bandung, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) (Persero).

Jet tempur generasi 4.5 ternyata dirancang mengungguli fighter atau jet tempur yang ada saat ini yakni di atas F-16, F-18, Sukhoi-35, Dassault Rafale hingga Eurofighter Typhoon.


"Generasi 5 baru ada F-35 dan F-22. Kalau kita generasi 4.5. Kita di atas F-16, F-18 sampai Sukhoi-35 karena mereka generasi ke-4," Kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana usai acara penandatanganan KFX/IFX di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (7/1/2016).

Dengan generasi 4.5, jet tempur karya Indonesia dan Korsel ini memiliki teknologi semi stealth atau kemampuan yang bisa mengecoh radar musuh. Teknologi ini mirip dengan pesawat siluman F-22 milik Amerika Serikat (AS).

"Secara struktur, pesawat ini punya teknologi stealth atau teknologi siluman yang ada di generasi ke-5," Ujar Direktur Utama PTDI, Budi Santoso.

Korsel sendiri, lanjut Budi, dipilih karena bersedia memberikan penguasaan teknologi sampai 100%. Indonesia juga dilibatkan dari awal pengembangan hingga produksi. Padahal, andil Indonesia hanya 20% dari total proyek yang senilai US$ 8 miliar atau Rp 111,52 triliun (US$ 1 = Rp 13.940).

Selain itu, Korsel memiliki pengalaman mengembangan jet tempur T-50 Golden Eagle yang merupakan kerja sama antara KAI dan Lockheed Martin, Amerika Serikat.

"Di sini yang penting adalah kita dapat semua teknologinya," tambahnya.

Konfigurasi Kokpit pesawat tempur IFX yang dipamerkan Infoglobal dalam Indo Defence 2014

Dengan penguasaan teknologi 100%, PTDI bisa secara mandiri memproduksi jet tempur di Indonesia mulai 2025. Namun untuk penjualan, share keuntungan antara PTDI dan KAI akan dibagi sesuai setoran modal.

"Sebanyak 20% komponen kita kerjakan, mereka 80% tapi tekonlogi kita dapat 100%," tuturnya.

Pengembangan jet tempur ternyata tak berhenti disitu. Indonesia dan Korsel bisa saja menaikkan kemampuan pesawat menjadi generasi 5 seperti F-22.

"Dengan mulai 4.5, kita nantinya bisa masuk ke generasi 5. Ini penting setelah punya kemampuan updating system dan lain-lain di pesawat," tambahnya.

Penulis : Feby Dwi Sutianto 
Sumber : finance.detik.com, Kamis, 07 Januari 2016, 13:51 WI.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...