Senin, 29 Februari 2016

Inilah Kisah Abdurahman Ayub, Mantan Anggota Jaringan Teroris yang Bertobat

Ini Kisah Mantan Anggota Jaringan Teroris yang Bertobat
Abdurahman Ayub, mantan anggota kelompok teroris mengisi seminar tentang Strategi Kontra Jaringan Terorisme Pendekatan Empiris di Hotel Crown Tanjung Selor. 

"Bagi semua generasi muda, saya ingatkan jangan jauhi masjid. Karena ciri-ciri gerakan teroris pengaruhnya ada di luar masjid, gerakannya eksklusif, lebih senang bertatap muka 'face to face'. Gurunya tidak terang-terangan siapa orangnya."

Itulah kutipan pesan yang disampaikan Abdurahman Ayub, mantan anggota kelompok teroris saat bicara di depan peserta seminar "Strategi Kontra Jaringan Terorisme" di Hotel Crown Tanjung Selor, Rabu (2/12/2015) siang.

Video : "Kisah Mantan Teroris Yang Taubat (Abdurrahman Ayub)"

Pria berjanggut putih itu mengaku sudah bertobat, kembali kepada ajaran Islam yang dibenarkan, yang mengajarkan nilai-nilai kedamaian. Pertaubatan dia lakukan pada 1998.

Waktu itu, Ayub mengikuti gerakan salafi. Dirinya tersadar untuk mengambil ajaran Islam yang sesungguhnya. "Salafi tidak boleh berpolitik apalagi sampai membunuh orang. Saya sadar ternyata apa yang dilakukan selama ini salah paham," ungkapnya.

Awal mula dirinya terjebak pada gerakan terorisme, berkenalan dengan Negara Islam Indonesia (NII) sekitar tahun 1982. Ayub yang waktu itu masih duduk bangku Sekolah Teknik Mesin (STM) Boedi Oetomo Jakarta sedang gandrung-gandrungnya pada keilmuan agama Islam.

Abdurahman Ayub, yang merupakan mantan murid dari Abu Bakar Baasir dan Abdullah Sungkar, setelah bertobat sering diteror dan "disebut pengkhianat".

Menginjak 1986, dia pindah ke Malaysia memperdalam pergerakan tersebut, berkenalan dengan banyak orang-orang aktivis radikal dan setelah itu dia diberangkatkan ke Afghanistan. Dia ikut latihan perang diangkat sebagai Letnan Dua.

"Saya mendapat guru yang salah. Pelajaran ayat yang dipelajari sama dengan yang lain. Hanya saja beda penafsiran. Ajaran jihad perangnya lebih banyak," katanya yang mengaku garis keturunannya tidak memiliki pergerakan radikal dan orangtuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ayub ingat, ajaran jihad yang disampaikan lebih kepada perang pemberontakan. Jihad perang ini dianggap tingkatan jihad yang tertinggi dari jihad harta untuk kemaslahatan dan jihad kalam yang melalui penyampaian dakwah.

"Diajarkan jihad perang itu lebih tinggi derajatnya. Yang mati bisa bertemu puluhan bidadari, dijamin masuk surga," ungkapnya, yang pernah ikut latihan perang di Afganistan ini.

Selain itu, Ayub juga pernah diajarkan merakit bom peledak. Namun menurutnya, pekerjaan ini lebih mudah ketimbang mereka yang bertugas meracik bahan peledak. Membuat bom itu lebih sulit daripada merakit bom.

"Yang paling jago menciptakan bahan peledak ada dua orang, Umar Patek dan Dulmatin," ujarnya.

Terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Saud Usman Nasution usai membuka acara seminar terorisme, menjelaskan, wilayah Kalimantan Utara berada dekat dengan negara tetangga, dianggap sebagai tempat transit dan tempat singgah para oknum-oknum teroris.

Karena itu, seluruh masyarakat untuk turut bersama-sama membantu, mengawasi daerahnya bila ada indikasi gerakan terorisme.

"Semua mesti waspada. Gerakan yang mengatasnamakan agama dengan ciri kekerasan sangat tidak dibenarkan. Terorisme mesti kita tangkal sejak dari lingkungan terdekat kita. Anak-anak muda rentan terkena. Kita harus wapadai," tegas Saud.

Video : "Ustadz Abdurrahman Ayub - Kupas Tuntas Terorisme di Indonesia"

Penulis & Editor : Yunanto Wiji Utomo
Sumber : kaltim.tribunnews.com, Minggu, 6 Desember 2015 12:01.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...