Senin, 22 Februari 2016

Waspadalah, Ini Dia Faktor Pemicu Pria Menjadi Gay (Homoseksual) !


Beberapa hari ini media kita diramaikan oleh berita tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh 2 bintang TV terkenal yaitu IB dan SF, uniknya korban pelecehan seksual tersebut adalah "sesama jenis". Kita tahu bahwa kedua aktor tersebut keduanya sudah / pernah berumah tangga dan istrinya adalah "lawan jenisnya". Dalam istilah psikologi perilaku menyimpang seksual seseorang dikelompokka menjadi 2 kelompok :

  • Seseorang yang memiliki orientasi seks dengan sesama senisnya disebut "homoseksual" . Untuk mereka yang berkelamin laki-laki disebut "gay", sedangkan perempuan disebut "lesbi"
  • Seseorang yang memiliki orientasi seks dengan sesama senisnya dan lawan jenisnya disebut "heteroseksual".


Banyak faktor yang membuat seorang laki-laki menjadi gay atau penyuka sesama jenis. Menurut psikolog Elly Risman Musa, faktor pemicu itu di antaranya adalah ia berada di lingkungan di mana homoseksual dianggap sesuatu yang biasa atau umum. Tidak ada nilai-nilai moral atau agama yang membekali pengetahuannya sehingga ia memiliki wawasan yang tidak lurus mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Faktor lain yang mungkin membuat seseorang keluar dari fitrahnya adalah pengalaman seks dini yang dipicu karena dia menyaksikan gambar-gambar porno dari televisi, VCD, komik atau koran yang ada di sekitarnya. 

Selain itu, lanjut Elly, seseorang dapat tumbuh menjadi seorang gay karena pengalaman buruk dengan pengasuhan keluarga seperti memiliki ibu yang dominan sehingga anak tidak memperoleh gambaran seorang tokoh laki-laki. Atau sebaliknya, seorang anak laki-laki memiliki ayah yang kasar atau seorang ayah yang homoseksual.

Faktor-faktor kecenderungan ini akan semakin buruk apabila ia bergabung dengan orang-orang dewasa yang homoseksual. Ia tidak memiliki daya tahan imunitas dalam diri yang berasal dari penghayatan agama dan pengaplikasiannya, dan berada pada situasi yang membuatnya dipaksa oleh orang lain untuk melakukan perbuatan yang terlarang oleh agama itu. 

Untuk menghindari itu, Elly pun menyarankan agar menjauhkan diri dari lingkungan seperti itu. ''Alihkan perhatian dengan memperbanyak aktivitas yang akan dapat melupakan ketertarikan itu,'' papar Elly dalam sebuah konsultasi.

Jika muncul perasaan-perasaan tidak nyaman karena kangen atau suka, fokus perhatian bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Pengampun. Banyak mereka yang memiliki kasus yang sama berhasil keluar dari permasalahan ini. Kuncinya, kata Elly, adalah kesadaran diri dan motivasi yang kuat.

   
Homoseksual tidak disebabkan kelainan mental.


Homoseksual adalah istilah untuk orang yang tertarik secara personal, emosional, seksual, atau paduan ketiganya, kepada orang berjenis kelamin sama dengannya. Jika orang tersebut laki-laki, maka umumnya dikenal dengan istilah ‘gay’, sementara jika perempuan ‘lesbian’.

Tidak ada kesepakatan pasti yang diyakini peneliti dalam menentukan penyebab orang menjadi homoseksual. Peneliti umumnya percaya bahwa orientasi seksual seseorang ditentukan dari kombinasi berbagai faktor, antara lain lingkungan, budaya, emosional, hormonal, dan biologis. Maka tiap orang pasti dipengaruhi oleh latar belakang yang berbeda.

Meski masih membutuhkan penelitian lebih lanjut, homoseksual diduga lebih umum terjadi pada pria yang memiliki kakak kandung laki-laki, meski mereka tidak dibesarkan bersama. Data penelitian tersebut menunjukkan kemungkinan bahwa homoseksual bisa jadi disebabkan oleh kelebihan hormon androgen saat janin masih dalam tahap pertumbuhan. Sementara penyebab lain, seperti latar belakang keluarga yang tidak harmonis atau pola asuh di masa kecil, masih belum terbukti.

Sementara penelitian terbaru di Northwestern University menemukan bahwa memang ada faktor genetis yang berperan dalam homoseksualitas, meski tidak signifikan. Faktor lain seperti pengaruh lingkungan dan aspek sosial justru berperan lebih penting.

Di sisi lain, ada anggapan bahwa homoseksual adalah perilaku menyimpang. Namun faktanya, The American Psychiatric Association (APA) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa homoseksualitas tidak termasuk daftar penyakit psikologis. Begitu juga Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Edisi II (PPDGJ II) yang diterbitkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1983, menyebutkan bahwa orientasi seksual bukanlah suatu gangguan.

Meski demikian, homoseksual tidak lepas dari masalah dalam interaksi sosial karena adanya prasangka, stigma, dan diskriminasi, sehingga tidak jarang kaum homoseksual memilih untuk menyembunyikannya.

Untuk saat ini, disimpulkan bahwa orientasi seksual seseorang ditentukan dari kontribusi berbagai faktor. Faktor-faktor lingkungan dan sosial diduga paling berperan dalam menentukan orientasi seksual seseorang. Riwayat pelecehan seksual mungkin bisa berperan tapi tidak serta merta menyebabkan seseorang menjadi gay atau lesbian.


Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  • http://www.alodokter.com/faktor-penentu-seseorang-menjadi-homoseksual
  • http://trendtek.republika.co.id/berita/trendtek/sains/12/04/30/m3ag42-waspadalah-ini-dia-faktor-pemicu-pria-menjadi-gay
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...