Jumat, 26 Februari 2016

MEDANG DALAM LINTASAN SEJARAH INDONESIA KUNO.

Candi Ngawen

Pengantar

Perjalanan Sejarah Indonesia Kuno diawali dengan masuknya pengaruh kebudayaan India ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan tertulis berupa prasasti. Dari berbagai keterangan yang dapat diketahui dari sumber prasasti disebutkan bahwa sekitar tahun 400 Masehi di daerah Kutei Kalimantan Timur dan di daerah sekitar Bogor dan Jakarta telah dikenal adanya suatu kerajaan yang bercorak Hindu. Hal ini dibuktikan dengan telah digunakannya bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa dalam beberapa prasasti di kedua daerah tersebut. Berdasarkan perbandingan huruf dan bahasa (secara paleografis), bahasa dan huruf tersebut telah digunakan di tanah India sekitar tahun 400 Masehi.

Prasasti-prasasti dari Kutei tersebut dipahatkan pada sebuah tiang batu yang lazim disebut Yupa. Dari beberapa Yupa yang dapat dibaca dapat diperoleh berbagai informasi di antaranya nama silsilah raja-raja yang diawali dengan menyebut nama Maharaja Kudunga mempunyai putera Sang Açwawarmman yang mempunyai tiga putra, satu di antaranya yang terkemuka bernama Mûlawarmman.

Hampir bersamaan pula di Jawa Barat tepatnya daerah Bogor dan Jakarta muncul pula kerajaan yang bercorak ke-Hinduan, yaitu kerajaan Taruma Nagara dengan rajanya yang bernama Çri Purnnawarmman. Baik nama raja-raja di Kutei maupun Taruma Nagara belum pasti orang Hindu yang datang dari India, bisa jadi orang pribumi yang di-Hindu-kan dengan menggunakan gelar "Warmman", termasuk nama tokoh yang pertama disebut dalam prasasti Kutei, yaitu "Kudunga", bisa jadi orang pribumi yang di-Hindu-kan, seperti informasi yang diperoleh dari prasasti Kutei bahwa upacara pendirian Yupa dengan upacara persembahan saji-sajian yang dilakukan oleh para Brahmana yang dipersembahkan kepada raja Mulawarmman (Poerbatjaraka, 1952).


Sumber-sumber Sejarah Indonesia Kuno


Untuk merekonstruksi Sejarah Indonesia kuno diperlukan beberapa sumber. Adapaun sumber-sumber tersebut berdasarkan validitasnya dapat dirinci sebagai berikut:
  1. sumber prasasti, sumber ini merupakan sumber yang pertama dan utama di dalam merekonstruksi Sejarah Indonesia Kuno. Hal ini disebabkan karena prasasti merupakan data otentik yang berisi tentang suatu ketetapan atau keputusan yang mengikat yang dikeluarkan oleh seorang raja atau pejabat. Ketetapan tersebut dilengkapi dengan tahun dikeluarkannya prasasti (unsur pertanggalan), raja atau pejabat yang mengeluarkan, sebab-sebab dikeluarkannya prasasti, persembahan yang diberikan kepada para pejabat ( "pasek-pasek"), dan diakhiri dengan kutukan atau "sapatha" yang ditujukan kepada orang atau sekelompok orang yang merusak dan melanggar isi prasasti tersebut. Lebih dari 80 % prasasti Jawa Kuno berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah status tanah, hal ini bisa dipahami bahwa Indonesia / Jawa adalah negara agraris dimana masalah status tanah sangat penting, terutama yang berkaitan dengan penetapan "sima" (swatantra/otonom) suatu desa atau daerah dinyatakan menjadi daerah "perdikan" yang dibebaskan dari pajak kerajaan karena sesuatu hal. Sebagian kecil sisanya dari yang 80 % tersebut berisi antara lain tentang masalah hukum masalah hutang pihutang, masalah status kewarganegaraan seseorang, dan sebagainya.
  2. Sumber karya sastra Jawa Kuno, terutama kitab Nagarakrtagama, Sutasoma, kitab Pararaton, kitab-kitab Kidung, Babad, naskah-naskah lontar, dan sebagainya. Tentu saja nilai validitas masing-masing sumber tersebut berbeda, misalnya kitab Nagarakrtagama lebih tinggi validitasnya daripada kitab Pararaton, karena Nagarakrtagama diketahui penulisnya, diketahui tahun penulisannya yaitu pada zamannya (Majapahit ). Adapun kitab Pararaton tidak diketahui penulisnya, juga tidak diketahui tahun penulisannya, dan dari segi bahasa diperkirakan dari abad 16 Masehi.
  3. Berita Asing yang antara lain meliputi berita Cina, Arab, Portugis, Belanda dan sebagainya. Berita Cina banyak memberi sumbangan bagi penelusuran sejarah Indonesia Kuno.meskipun sumber-sumber tersebut ditulis dan disalin turun-temurun, dari dynasti ke dynasti, sehingga validitasnya perlu diuji, sementara kelebihan berita Cina adalah informasi yang disampaikan merupakan apa yang mereka lihat dan mereka alami, sebagai contoh Ratu Si-mo memerintah dengan keras dan tegas sampai-sampai putera mahkota kakinya menyampar pundi-pundi emas di jalan terpaksa dihukum dengan memotong kakinya, hal ini membuat musuh-musuhnya gentar menghadapi pemerintahannya. (W.P.Groeneeldt,1960). Begitu juga berita Arab banyak memberikan informasi tentang perdagangan abad 9 -10 M. Khusus pada masa Majapahit telah terjalin hubungan dagang dengan Cina, ribuan temuan mata uang Cina (uang "kepeng") dari berbagai dynasti serta guci-guci Cina telah banyak ditemukan baik dalam kondisi utuh maupun fragmentaris di daerah Trowulan bekas ibukota kerajaan Majapahit. Bahkan hiasan berupa bentuk bentuk guci Cina sudah menjadi bagian dari hiasan di kiri kanan arca-arca masa Majapahit.


Awal ke-Hindu-an di Jawa Tengah


Setelah masa Purnnawarman berkuasa tidak diketahui lagi nasib kerajaan Taruma Nagara, rupa-rupanya kehinduan berpindah ke Jawa Tengah. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah prasasti di lereng barat Gunung Merbabu, di Desa Dakawu, Kawedanan Grabag, Kaupaten Magelang. Prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa tetapi lebih muda daripada huruf-huruf yang digunakan dalam prasasti-prasasti Purnnawarmman, diperkirakan sekitar tahun 500 M (Poerbatjaraka, 1952).

Prasasi tersebut menyebutkan bahwa : 
"..(Mata air)yang airnya jernih dan dingin ini ada yang Keluar dari batu atau pasir ke tempat yang banyak bunganya tunjung putih, serta mengalir kesana-sini. Setelah menjadi satu lalu mengalir ....... seperti Sungai Gangga."

Unsur kehinduan selain menyebut Sungai Gangga (sungai keramat bagi umat Hindu), juga ada gambar-gambar alat-alat yang biasanya digunakan dalam upacara-upacara agama Hindu. Informasi lebih jauh dari unsur kehinduan setelah prasasti Dakawu (Tuk Mas) sulit diperoleh.

Sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Sojomerto, Batang, Pekalongan mengindikasikan adanya semacam silsilah, yaitu nama Dapunta Selendra yang berputera bernama Santanu dan beristerikan Badrawati. Disebutkan bahwa Dapunta Selendra ini menganut agama Çiwa (Hindu). Informasi ini ditafsirkan oleh Boechari, bahwa berdasarkan prasasti Sojomerto ini ternyata di Jawa Tengah tidak ada dua dynasti , tetapi hanya ada satu yaitu Dapunta Selendra yang beragama Çiwa. Hal serupa juga telah dikemukakan oleh Poerbatjaraka, baru kemudian keturunannya ada yang penganut Çiwa ada yang penganut Budha. (Boechari,1967). Dari segi Paleografis, Boechari memperkirakan prasasti Sojomerto ini berasal sekitar abad ke- 7 Masehi.

Prasasti ini ditemukan di dekat reruntuhan candi di bukit Gunung Wukir, Salaman, Muntilan.Unsur kehinduan yang terdapat dalam prasasti ini adalah adanya sebuah bangunan suci di bukit sthirângga (= yang berbadan kokoh) untuk pemujaan sebuah Lingga. Bangunan suci untuk pemujaan Lingga ini didirikan oleh raja Sanjaya sebagai tanda kemenangan raja Sanjaya terhadap musuh-musuhnya.. Yang menarik dari prasasti ini adalah angka tahun yang dituliskan dalam bentuk Candra Sengkala yang berbunyi Çruti indriya rasa (456 = 654 çaka = 732 M). Inti dari prasasti Canggal ini yang menrik adalah ada seorang raja yang maha bijaksana dan mulia bernama Sanna yang berasal dari keluarga yang luhur memerintah rakyatnya dengan bijaksana dan sangat lama memerintah dengan penuh keadilan. Setelah Sanna meninggal pecahlah kerajaannya bingung mencari perlindungannya. Adapun yang tampil sebabagai raja yang gagah berani seperti Sri Rama menaklukkan raja-raja di sekitarnya yaitu raja Sañjaya. Ia adalah putera dari Sannaha saudara perempuan dari raja Sanna tersebut. Dengan demikian semakin jelaslah bukti-bukti kehinduan di Jawa Tengah awal.


Raja-raja Mataram Kuno

Menurut prasasti Mantyasih 907 M, raja yang berkuasa sebelum Rake Panabgkaran adalah Raja Sañjaya. Raja inilah yang mengeluarkan prasasti Canggal 732 M. Sañjaya diperkirakan mulai memerintah 717 M . Hal ini didasarkan atas perhitungan permulaan tarikh Sanjaya yang hanya digunakan oleh raja Daksottama di dalam dua prasastinya. Jika dugaan ini benar maka Sanjaya memerintah antara 717 hingga sebelum tahun 746 M. Informasi tentang raja Sañjaya ini terdapat dalam prasastinya yang ditemukan di dekat reruntuhan candi di bukit Gunung Wukir. Disebutkan tentang pendirian sebuah bangunan suci untuk pemujaan Lingga di bukit Sthirângga (= yang berbadan kokoh), daerahnya bernama Kuñjarakuñjadeça. ( Poerbatjaraka, 1952, Soekmono, 1974).

Akhir pemerintahannya ditandai dengan munculnya raja Panangkaran. Nama Sañjaya dikenal juga dalam prasasti Mantyasih 907 M masa pemerintahan raja Balitung. Dalam prasasti Mantyasih disebut nama raja-raja pendahulu Balitung (bukan silsilah), mulai dari Rakai Mataram Sang Ratu Sañjaya, Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, Sri Maharaja Rakai Garung, Sri Maharaja rakai Pikatan, Sri Maharaja rakai Kayuwangi, Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

Dalam prasasti Wanua Tengah III 908 M disebutkan lebih lengkap lagi raja-raja pendahulu Balitung, dan dirinci dengan tahun memerintah dan kelengserannya, sekaligus melengkapi prasasti Mantyasih.


Secara garis besar raja-raja Mataram Kuno sebelum Balitang disebutkan dalam prasasti Wanua Tengah III sebagai berikut: Rahyangta ri Mdang, Rake Panangkaran, Rake Panaraban, Rake Warak Dyah Manara, Dyah Gula, Rake Garung, Rake Pikatan Dyah Saladu, Rake Kayuwangi Dyah Lokapala, Dyah Tagwas, Rake Panumwungan Dyah Dewendra, Rake Gurunwango Dyah Bhadra, Rake Wungkalhumalang Dyah Jbang, dan Rake Watukura Dyah Balitung (Kusen,1984, Djoko Dwiyanto,1985).

Dari informasi yang diperoleh baik dari prasasti Mantyasih (907 M) maupun prasasti Wanua Tengah III (908M) dapat diketahui nama-nama raja Mataran Kuno mulai dari Sañjaya hingga Rakai Watukura Dyah Balitung. Adapun adanya perbedaan nama-nama raja dari kedua prasasti tersebut disebabkan oleh perbedaan latar belakang dikeluarkannya prasasti tersebut. Prasasti Mantyasih dikeluarkan sebagai upaya legitimasi Balitung sebagai raja karena Balitung naik tahta karena perkawinan ( mengawini anak raja Dhaksa). Oleh sebab itu dalam prasasti Mantyasih yang dicantumkan hanya raja-raja berdaulat penuh atas seluruh wilayah kerajaan, misanya Dyah Gula, Dyah Tagwas, Dyah Dewendra, dan Dyah Bhadra tidak dimasukkan dalam daftar karena mereka tidak pernah berdaulat penuh atas wilayah kerajaan. Hal ini terbukti dari singkatnya masa pemerintahan mereka karena digulingkan dari tahta, seperti yang telah diketahui dari prasasti Wanua Tengah III (908 M)  (Kusen, 1988). Dalam prasasti tersebut nama raja Sañjaya tidak disebut karena riwayat sawah di Wanua Tengah baru dimulai dari masa Rakai Panangkaran.

Dari telaah prasasti Wanua Tengah III dapat diketahui bahwa pergantian raja-raja Mataram Kuno tidak selalu mulus, perubahan tahta sering terjadi, dan dapat diketahui bahwa perebutan tahta sering terjadi. Dari hasil rekonstruksi dapat diketahui bahwa perebutan kekuasaan terjadi di antara keluarga keturunan Sañjaya dan bukan karena pertentangan antara dynasti Çailendra dan Sañjaya.

Prasasti Mantyasih 829 Çaka = 907 M, menyebut raja Sañjaya dan raja-raja Mataram Kuno lainnya sebagai berikut: 
..." Rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu rakai mataram sang ratu Sañjaya Çri maharaja rakai panangkaran Çri maharaja rakai warak çri maharaja rakai garung çri maharaja rakai pikatan çri maharaja rakai kayuwangi çri maharaja rakai watu humalang lwiha sangkarika landapan yan paksasapatha çri maharaja rakai watukura dyah balitung dharmmodaya mahaçambhu....".

Seperti disebut di atas Balitung naik tahta karena perkawinan ( mengawini puteri raja Dhaksa). Oleh sebab itu untuk melegitimasikan kekuasaannya Balitung menyebut dalam prasasti Mantyasih nama-nama raja pendahulunya, hal ini lazim terjadi pada raja-raja yang naik tahta tidak secara genealogis atau turun temuran. Berbagai cara dilakukan misalnya raja pertama Majapahit Raden Wijaya, dia naik tahta karena mengawini puteri raja Krtanegara. Unuk legitimasinya dia menyebut gelarnya dengan menggabungkan nama-nama raja pendahulunya misalnya gelar Krtarajasa Jayawardhana merupakan gabungan dari mertuanya Krtanagara, dan Rajasa gelar Ken Arok, Jayawardhana gabungan dari raja Tohjaya dan Wisnuwardhana, masih banyak lagi contoh semacam ini. Sebagai cikal bakal leluhurnya Balitung yaitu raja Sañjaya disebut rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu rakai mataram sang ratu sañjaya. Dalam prasasti tersebut dapat diketahui bahwa Sañjaya yang dimuliakan di Mdang di Poh Pitu. Mdang berarti nama kerajaan dan Poh Pitu nama lokasi kerajaannya. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti lokasi Poh Pitu tersebut, yang jelas dari data prasasti ternyata lokasi kerajaan Mdang berpindah-pindah dan perpindahan ini menarik untuk diteliti penyebabnya.


Prasasti Çiwagrha 778 çaka = 856 M

Prasasti Çiwagrha dikeluarkan oleh raja Rakai Pikatan yang tidak diketahui dari mana asalnya tetapi sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Menarik perhatian setelah J.G. de Casparis mendalami isi prasasti tersebut. Ada 3 hal penting dalam prasasti Çiwagrha yaitu:
  1. bahasanya merupakan contoh yang tertua berangka tahun dari puisi-puisi Jawa Kuno; 
  2. isinya memuat bahan-bahan dan peristiwa-peristiwa sejarah yang penting dari pertengahan abad ke-9 M; 
  3. di dalamnya terdapat uraian yang rinci tentang suatu gugusan candi (Soekmono, 1974). 

Peristiwa sejarah yang dimaksud menurut Casparis adalah pertempuran antara Balaputradewa dari keluarga Çailendra dengan Rakai Pikatan alias Jatiningrat alias Kumbhayoni dari keluarga Sañjaya. Pertempuran tersebut di dataran tinggi Ratu Boko. Balaputradewa terpukul dan melarikan diri ke Sumatera. Konsolidasi Rakai Pikatan mendorong untuk dibangunnya sebuah candi yang besar dan bangunan candi yang dimaksud sering di interpretasikan dengan candi Prambanan atau masyarakat menyebutnya candi Rorojunggrang.

Prambanan, Candi Hindu paling anggun di dunia.

Selain itu disebutkan pula pergantian tahta kerajaan dari Rakai Pikatan ke putranya Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala "...asilih taŋanan inaŋső..." an setelahitu Rakai Pikaan mengundurkan diri sebagai petapa dengan sebutan Jatiningrat. Hal serupa dilakukan juga oleh raja Airlangga setelah membagi kerajaan menjadi dua dia juga mengundurkan diri sebagai Jatiningrat.

Dapat diketahui bahwa pentahbisan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala di kerajaan Mdang beribukota di Mamratipura, kitipan prasastinya menyebut "....ginlar I mamratipurasha madang kadatwan....". Dengan demikian pada masa Rakai Kayuwangi kadatwan (ibukotanya) sudah berpindah di Mamratipura.

Dari prasasti lainnya antara lain Prasasti Haliwangbang 799 Çaka = 877 M, prasasti Poh 827 Çaka = 905 M, Prasasti Sangsang 829 Çaka = 907 M, prasasti Lintakan 841 Çaka = 919 M, prasasti Wulakan 850 Çaka = 928 M. Kesemua tersebut ditemukan di Jawa Tengah, sehingga lokasi kerajaan Mdang sampai awal abad 10 masih di Jawa Tengah.

Dalam prasasti Sugih Manek dan Sangguran (masa Dhaksa dan Wawa), dijumpai keterangan ".....kita prasiddha mangraksa kadatwan Çri maharaja I mdang I bhumi mataram.....". Sementara N.J. Krom dan Poerbatjaraka berpendapat bahwa prasasti-prasasti Mpu Sindok ( prasasti Anjuk Ladang dan Paradah ), terdapat keterangan yang menyatakan ".....kitaprasiddha mangraksa kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram I waugaluh ....". Dari informasi ini dapat diketahui bahwa pada masa Mpu Sindok dimana telah terjadi perpindahan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Mpu Sindok masih menyebut leluhurnya dengan kata-kata rahyangta I mdang I bhumi mataram, meskipun ibukotanya sudah berpindah di Watugaluh.

Dengan demikian kerajaan Mdang yang cikal bakalnya di Poh Pitu (masa Sañjaya ) kemudian pada masa Rakai Kayuwangi berpindah di Mamratipura, kemudian masa Mpu Sindok berpindah ke Jawa Timur di Watugaluh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kerajaan Mdang diabadikan sepanjang masa Mataram Kuno akhir sampai masa Jawa Timur awal. Mpun Sindok berkuasa dari tahun 929 M sampai 947 M. Dengan demikian tahun 928 merupakan tahun terakhir kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dan ini merupakan masa peralihan. Adapun raja terakhir Mataram Kuno adalah raja Dyah Wawa ( prasasi tahun 927 M).


Sebab-sebab perpindahan pusat pemerintahan (kekuasaan).


Telah berlaku umum di seluruh kawasan Asia Tenggara Daratan suatu konsep yang menyatakan bahwa apabila sebuah kerajaan atau ibukota kerajaan telah hancur karena serangan musuh atau karena bencana alam, maka kerajaan tersbut sudah danggap kehilangan sinar kerajaannya (cahya nurbwat ) dan biasanya penguasa memindahkan pusat pemerintahannya / kerajaannya ke lokasi yang lain. (R.Heine Geldern/Deliar Noer,1982). Konsep seperti ini masih berlaku juga pada masa Mataram Islam di Jawa. Kerajaan Demak berpindah ke Pajang, kemudian pindah ke Kotagede, lalu dari Kotagede ke Pleret. Di Pleret terjadi pembrontakan Trunojoyo kemudia ibukota berpindah ke Kartosuro, di Kartosura terjadi pembrontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina yang terkenal dengan peristiwa Geger Pacinan, sehingga ibukota dipindahkan ke Surakarta. Peristiwa semacam ini pernah juga terjadi pada masa Raja Jayawarman II dari Kamboja yang memindahkan kerajaannya ke bukit.

Adapun perpindahan pusat pemerintahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur terjadi karena beberapa sebab yang akhirnya melahirkan beberapa pendapat. Pertama terjadi karena bencana alam akibat gunung meletus dan bencana alam lainnya (Van  Beummellen, Boehari, 1976). kedua, karena serangan musuh atau menghadapi ancaman musuh (mungkin dari Sriwijaya). Berdasarkan prasasti Kota Kapur (606 Çaka = 684 M) yang ditemukan di daerah Bangka dapat diketahui bahwa prasasti tersebut ditulis di batas wilayah kerajaan Sriwijaya yang (sangat berusaha) menaklukkan Bhumi Jawa yang tidak tunduk kepada Çriwijaya ( Poerbatjaraka,1952). Kemungkinan ke-tiga karena masalah ekonomi rakyat yang yang hancur akibat rakyat banyak dikurbankan untuk membangun bangunan-bangunan candi yang besar-besar ( B. Schrieke, 1956).

Dari beberapa pendapat penyebab perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur yang lebih cukup beralasan adalah akibat bencana alam dan ancaman musuh akibat dari persaingan perdagangan saat itu antara Sriwijaya dan Jawa, hal ini terbukti bahwa pada masa Mpu Sindok hinngga masa Majapahit perdagangan antar pulau dan internasional telah berkembang. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (959 Çaka = 1037 M), masa raja Airlangga (1009-1041) dapat diketahui ramainya perdagangan antar pulau saat itu :
. . . ." Kapwa ta sukhamanah nikaŋ maparahu samaŋhulu maǹalap bhanda ri hujuŋgaluh tka rikaǹ parapuhawaŋ parabanyaga saŋkariŋ dwipântara samañunten ri hujuŋ galuh. . . ." ( ...= " semua senanglah hatinya hatinya (orang-orang yang ) berperahu pergi ke hulu mengambil barang (dagangan) hingga para nahkoda kapal para orang-orang yang berniaga dari berbagai pulau semuanya ke hujung galuh...".

Dari uraian tersebut di atas secara kronologis kerajaan Mdang yang diawali dari raja Sañjaya dan kira-kira berakhir masa raja Wawa, namun masih di sebut-sebut pada masa Mpu Sindok, yang disebutkan berlokasi di Watugaluh. Boechari menafsirkan Watugaluh diperkirakan sama dengan Wotgaleh yang berlokasi di daerah Jombang Jawa Timur.

Penulis :  Slamet Pinardi
Sumber : medang.org


Baca artikel yang relevan :

  • Mengenang Kejayaan Kerajaan Mataram Kuno



  • Mengenal Kerajaan Kalingga, Kerajaan Tertua di Pulau Jawa Bagian Tengah.



DAFTAR PUSTAKA
  1. Bambang Sumadio (ed), 1992, Sejarah Nasional Indonesia II,edisi 4, Jakarta, Balai Pustaka.
  2. Boechari,1965, Epigraphy and Indonesian Hisoriography, Cornell Press).
  3. ------------, 1966, "Preliminary Report on the Discovery of an Old – Malay Inscription at Sodjomerto", MISI jilid III, hlm. 241-251.
  4. ..............,1976, Some considerations of the problems of the shift of Mtaram's center of Government from central to east ava in the 10th century AD,"Bulletin of the Research centre of Archaeology of Indonesia, No.10 .Jakarta.
  5. .............., 1986, "Local Genius dalam Pranata Sosial di Indonesia pada masa Klasik", Ke-Pribadian Budaya Bangsa, Jkt, Pustaka Jaya, hlm. 200-206.
  6. Djafar, 1978, Girindrawardhana. Beberapa Masalah Raja-raja Majapahit Akhir, Jakarta: Nalanda.
  7. Heine Geldern, R. von. 1982, Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukakan Raja di Asia Tenggara,erjemahan Deliar Noer, Jkt: C. Rajawali.
  8. Kusen, 1988-1989, "Faktor-faktor penyebab Terjadinya Perubahan Status sawah di Wanua Tengah dalam masa pemerintahan raja-raja Mataram kuna abad 9-10 ", Laporan Penelitian fak. Sasra UGM.
  9. Slamet Mulyana, 1979, Nagarakretagama dan Tafsir sejarahnya, Jkt, Bhratara Karya Aksara.
  10. Slamet Pinardi, 1990, Posisi Wanita Jawa Kuno dalam Suksesi abad X –XV M, Laporan Penelitian Fak.Sastra UGM.
  11. Poerbajaraka, 1952, Riwayat Indonesia I, Jakarta : Yayasan Pembangunan.
  12. Schrieke B., 1957, "Ruler and Realm in Early Java", Indonesian Sociological Studies. part two.
  13. Soemarsaid Moertono, 1985, Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa masa lampau. seri terjemahan , Jkt: Yayasan Obor.
  14. Titi Surti Nastiti, dkk, 1982. Tiga Prasasti Balitung, Jkt: Puslitarkenas. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...