Selasa, 06 Oktober 2015

Hadiah Ulang Tahun TNI ke-70 : "1 Skuadron Sukhoi SU-35 Super Flanker" Baru, Dilengkapi Sistem Operasi dan Senjata Lengkap.


Jet tempur itu meluncur vertikal dan mendadak berhenti seketika di udara. Moncongnya mengarah ke langit, tegak lurus dengan bumi. 

Berikutnya saat jet itu sedang terbang horizontal dengan kecepatan moderat, moncongnya tiba-tiba terangkat hingga posisi pesawat vertikal di 90 derajat. Pesawat bahkan terus berputar ke posisi 180 derajat seperti terjungkir. 

Pada posisi itu, pesawat mendadak membalikkan badannya ke posisi normal mendatar di nol derajat, dan melanjutkan terbang dengan santai. Yang terakhir ini disebut manuver Kobra Pugacov, dan biasa digunakan untuk pertempuran jarak dekat. 

Manuver-manuver itu dilakukan oleh Su-35 Super Flanker, jet tempur jarak jauh kelas berat terbaru keluaran Sukhoi –produsen pesawat Rusia– yang merupakan pengembangan dari Su-27, dan kini memperkuat armada udara Federasi Rusia. 

Atraksi SU-35 inilah yang disaksikan para petinggi TNI-AU di acara MAKS (Mezhdunarodnyj Aviatsionno-Kosmicheskij Salon) 2015 yang digelar di Bandara Zhukovsky, dekat Moskow, 25-30 Agustus 2015.

Seluruh aksi gila Su-35 tersebut mengundang decak kagum delegasi TNI Angkatan Udara yang menghadiri Pameran Dirgantara dan Antariksa Internasional atau MAKS (Mezhdunarodnyj Aviatsionno-Kosmicheskij Salon) 2015 yang digelar di Bandara Zhukovsky, dekat Moskow, 25-30 Agustus. 

Indonesia amat terkesan dengan Su-35, dan akhirnya memutuskan untuk memborong satu skuadron jet tempur Su-35. Kontrak kerja sama diteken pada September. 

“Kami membeli Su-35 satu skuadron, berisi 16 pesawat. Pesawat-pesawat itu datang mulai tahun depan,” kata Kepala Dinas Penerangan AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, kepada CNN Indonesia. “Mimpi semua prajurit AU ialah punya Su-35 karena itu pesawat tempur tercanggih saat ini,” kata Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. 

Su-35 dirancang sebagai pesaing F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon buatan Amerika Serikat. Skuadron Su-35 TNI AU nantinya akan menggantikan pesawat-pesawat F-5 Tiger yang usianya kian uzur. 


Jet siluman Su-35. 


Su-35 mampu melakukan manuver yang tak bisa diimbangi pesawat tempur biasa. Selain dapat menanjak vertikal, berhenti seketika di udara, dan berjungkir balik 180 derajat seperti yang dipamerkan pada MAKS 2015, jet itu juga bisa membawa banyak rudal dan lenyap dari radar. 

Su-35 dapat hilang begitu saja di udara alias tak terdeteksi radar ketika pesawat mengubah kecepatan secara acak sehingga mengacaukan pendeteksian radar pesawat musuh. Su-35 juga dilengkapi peralatan jamming yang bisa menurunkan kemampuan deteksi radar musuh. 

Lebih istimewa lagi, Su-35 mampu terbang secepat siluman. Jet ini memiliki kecepatan supersonik 1,5 mach atau dua kali kecepatan suara. Singkatnya, ini pesawat yang cukup mengerikan. Sukhoi Company mengklasifikasikan jet baru mereka ini sebagai pesawat generasi keempat dengan kecanggihan teknologi tepat di bawah pesawat siluman generasi kelima. 

Meski demikian, Su-35 bahkan dianggap mampu menandingi jet tempur siluman generasi kelima buatan Amerika Serikat, yakni F-22 Raptor. Nilai tambah Su-35 adalah mampu berfungsi sebagai pengisi bahan bakar dan pemadam kebakaran. Ini pula yang membuat TNI menjatuhkan pilihan padanya. Harga satu unit Su-35 diperkirakan US$ 65 juta atau sekitar Rp 951 miliar. Soal pembiayaan pesawat supermahal ini, TNI AU bungkam. 

“Pembayaran dilakukan oleh pemerintah, tepatnya Kementerian Pertahanan. Mau dibayar tunai atau dicicil, terserah. Pokoknya dibayar sampai satu skuadron terpenuhi,” kata Dwi. Menteri Pertahanan Ryamizard Rycudu mengatakan pembayaran tak jadi soal. Menurutnya, anggaran untuk pembelian pesawat-pesawat itu sudah dialokasikan dari dulu dan direncanakan sejak era Moeldoko, sebelum Indonesia dihantam badai perlambatan ekonomi. Pun Indonesia tak akan langsung membeli 16 Su-35 secara sekaligus. 

Pembelian dilakukan bertahap dalam dua-tiga periode hingga target kekuatan pokok minimum atau MEF (minimum essensial force) alat utama sistem persenjataan TNI AU terpenuhi pada 2004. Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Marsekal Muda Muhammad Syaugi, menyatakan Su-35 yang dibeli Indonesia telah dipasangi sistem operasi dan persenjataan lengkap. 

Semua pesawat itu baru, bukan bekas pakai. Artinya, hitungan harganya pun paket lengkap, bukan paket hemat. Itu sebabnya Kemhan memilih untuk membeli skuadron Su-35 secara bertahap, agar kantong tak jebol. “Lebih baik beli sedikit-sedikit tapi lengkap senjatanya daripada langsung beli banyak tapi kosongan,” kata Syaugi. 

Pembelian Su-35 telah menyertakan transfer teknologi. Alutsista baru kini menjadi pilihan pemerintah, terutama pasca-insiden jatuhnya pesawat Hercules-130 di Medan, Sumatera Utara, akhir Juni. Pemerintah juga memutuskan tak lagi menerima hibah alutsista demi menjaga kualitas. Alternatif terbaik yang dapat diambil, menurut Ryamizard, ialah membeli alutsista baru secara bertahap. 

Sumber : m.cnnindonesia.com.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...