Kamis, 14 Maret 2013

Susu dan Stimulasi Bantu Cerdaskan Anak "Stunting" (Anak berbadan pendek)


Malnutrisi adalah faktor utama terhambatnya pertumbuhan anak, dan dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Anak berbadan pendek atau dikenal dengan sebutan stunting memiliki nilai kecerdasan yang jauh di bawah rata-rata anak normal. Kondisi ini disebabkan oleh kualitas asupan gizi yang buruk saat anak masih berada dalam dan awal masa pertumbuhan.


Tubuh pendek (stunting) terjadi akibat kekurangan gizi berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga usia dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Sayangnya, masyarakat kita masih belum menyadari bahwa hal tersebut merupakan masalah serius. Stunting dapat berakibat fatal bagi produktivitas di masa dewasa. Hal ini seharusnya tidak diremehkan karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Untuk menurunkan angka anak balita stunting, diperlukan intervensi sejak kehamilan karena persoalan itu adalah sebuah siklus.


Data studi mengenai status gizi anak usia 6 bulan sampai 12 tahun (SEANUTS) menunjukkan, prevalensi anak balita pendek tidak banyak berubah, yakni sekitar 34 persen. Besarnya angka anak balita pendek merupakan indikator masalah kurang gizi.

Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan data Riskesdas 2010 yang menunjukkan angka 35,6 persen. Itu berarti, hampir separuh dari jumlah anak balita kita memiliki tinggi badan lebih pendek daripada seharusnya.


Berdasarkan penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbang Kementerian Kesehatan) pada 2010, tinggi badan anak laki-laki Indonesia pada umur 5 tahun rata-rata kurang 6,7 sentimeter dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada anak perempuan kurang 7,3 sentimeter. Anak umur 5 tahun seharusnya memiliki tinggi badan 110 sentimeter.



Penelitian menunjukkan, konsumsi susu dikombinasi dengan stimulasi dapat membantu anak stunting untuk lebih meningkatkan kualitas kecerdasannya. Seperti dipaparkan Ketua Umum Pergizi Pangan Profesor Hardinsyah, kombinasi konsumsi susu dan stimulasi berpengaruh paling besar bagi kecerdasan anak yang mengalami stunting. 


"Dengan diberikan susu dan distimulasi, kecerdasan anak stunting dapat mendekati anak yang normal," ungkapnya dalam acara Halaqah Syahriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan tema 'Pentingnya Gizi dalam Menciptakan Generasi Berkualitas' Kamis (14/3/2013) di Jakarta. 

Anak stunting pada umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari pada anak normal. Penelitian tahun 1991 mengatakan bahwa anak normal rata-rata memiliki kecerdasan dengan skor sekitar 105, sedangkan anak stunting hanya memiliki skor sekitar 90. Menurut Hardinsyah, pemberian susu dan stimulasi merupakan kombinasi yang baik dalam meningkatkan kecerdasan anak stunting. 

Dengan melakukan keduanya, kecerdasan anak stunting rata-rata bisa mencapai skor 100. Sedangkan pemberian stimulasi saja rata-rata skor kecerdasan mencapai 97 dan pemberian susu saja mencapai 95. "Stimulasi dapat berupa diajak bermain, diajak bicara. Semakin banyak orang yang menstimulasi, anak akan semakin cerdas," tutur guru besar departemen gizi masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor ini. 

Kendati demikian, cara tersebut hanya untuk mengoptimalkan potensi anak stunting. Yang lebih penting, kata Hardinsyah, adalah mencegah anak menjadi stunting. Caranya yaitu dengan menjaga asupan gizi yang baik sejak masa kehamilan. 

"Periode emas pertumbuhan anak dimulai sejak dalam kandungan. Harus lebih banyak lagi yang sadar akan 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sekitar 270 hari kehamilan, hingga anak berusia sekitar dua tahun," tandas Hardinsyah.

Penulis : Unoviana Kartika 
Editor : Asep Candra
Sumber : http://health.kompas.com/, Kamis, 14 Maret 2013, 18:42 WIB
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...