Sabtu, 02 November 2013

Pendidikan Seks Yang Berkualitas Menentukan Mutu Generasi Pada Masa Depan.


Munculnya kasus video asusila pelajar SMP di Jakarta menunjukkan betapa pengetahuan seks di kalangan anak dan remaja masih minim. Karena itu, Kementerian Kesehatan akan mengusulkan penambahan jam pendidikan seks di sekolah guna meningkatkan pemahaman tentang seksualitas di kalangan remaja muda.

Direktur Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan Elisabeth Jane Soepardi, Rabu (30/10/2013), menyatakan, pihaknya berencana mengadakan pertemuan dengan semua pihak yang terlibat dalam pendidikan remaja. Pertemuan yang dijadwalkan minggu depan itu akan mengusulkan penambahan jam pendidikan seks.

Program edukasi seks, kata Jane, kemungkinan akan dijadikan ekstrakurikuler di sekolah yang bersifat wajib. Para pengisi program tersebut kemungkinan berasal dari pihak swasta yang sudah berpengalaman.
Dalam program tersebut, juga akan disebarkan buku Rapor Kesehatanku, yang berisi pantauan kesehatan organ tubuh dan reproduksi secara keseluruhan.

Untuk membantu anak memperoleh pendidikan seks di rumah, Kemenkes juga akan menggalakkan pemberian buku Kesehatan Ibu dan Anak. Buku ini akan diperkaya dengan pengenalan organ reproduksi pada anak hingga berusia lima tahun. Buku ini diharapkan bisa membantu orangtua memberikan pendidikan seks sedini mungkin pada anak.

Link Download Buku Kesehatan Ibu dan Anak :

“Berbagai perubahan yang ada menuntut pergerakan cepat, termasuk untuk sesegera mungkin memberikan pendidikan seks. Pola pikir seks adalah tabu harus segera dihapus. Pendidikan seks yang berkualitas menentukan mutu generasi pada masa mendatang,” terang Jane.

Jane mengakui, pendidikan seks di sekolah saat ini masih sangat terbatas. Pendidikan seks dipotong-potong dan hanya disisipkan ke dalam berbagai mata pelajaran.

"Dalam pelajaran tersebut, anak sebatas mengetahui dan menghafal organ seks, tanpa mengerti apa bahaya jika menggunakan atau memegang sembarangan. Pengetahuan tersebut tidak cukup menuntun anak bersikap dan berperilaku lebih baik, menghadapi lingkungan yang terus berkembang,” paparnya.


Edukasi seks, kata Jane, sebenarnya tidak hanya terdiri atas kerugian berhubungan seks pada usia dini. Di dalamnya juga termasuk menjaga organ seksual dari ancaman orang lain dan memeliharanya agar tetap sehat.

Untuk pendidikan seks di sekolah, kata Jane, seharusnya tak hanya terdiri atas pengetahuan yang memperkaya kemampuan akademik dan kognitif anak. Pendidikan ini harus diperkaya pengetahuan yang membuat anak bisa bersikap dewasa, sesuai perkembangan kemampuan seksnya.

Pendidikan ini juga harus cukup membuat anak berperilaku lebih baik, menyikapi lingkungan sekeliling yang terkadang menularkan norma dan sikap tidak patut dicontoh.

Penulis : Rosmha Widiyani 
Editor : Asep Candra
Sumber : http://health.kompas.com/, Kamis, 31 Oktober 2013, 10:07 WIB.