Selasa, 06 Mei 2014

Antisipasi Pemerintah Indonesia Hadapi Virus MERS-CoV.


Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV), ini "pembunuh" baru dari Timur Tengah. Virus ini telah menyerang 400 orang, menewaskan lebih dari 100 penderita di Timur Tengah sejak kemunculan perdananya pada September 2012.
Pemerintah Indonesia tidak mau anggap enteng hadapi virus itu. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat sampai menggelar rapat koordinasi bersama Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Perhubungan untuk membahas penyebaran virus tersebut, Senin 5 Mei 2014.

MERS-CoV mirip sindrom pernafasan akut berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Orang yang terkena MERS-CoV mengalami gejala demam, batuk, dan sesak nafas selama tujuh hari hingga akhirnya mengakibatkan gagal ginjal dan penumonia atau radang paru-paru akut. Penderita bisa juga terkena gejala penyakit yang berhubungan dengan lambung dan usus, misalnya diare.

Virus ini ditemukan pertama kali di Arab Saudi, dan sudah menyerang warga Prancis, Jerman, Italia, Tunisia, Inggris, dan lain-lain. Mereka yang terinfeksi rata-rata baru melakukan perjalanan dari Timur Tengah. Rata-rata korban MERS-CoV berusia 51 tahun, walau ada juga yang berusia 2 bahkan 94 tahun.

Pejabat Saudi menyatakan, kenaikan jumlah korban MERS-CoV tahun ini memiliki kesamaan dengan tahun lau, yakni terjadi pada musim semi. Sampai saat ini belum ada vaksin dan obat-obatan khusus untuk menangani virus itu. Dokter hanya dapat mengobati gejalanya saja.

Selain di Arab Saudi, kasus MERS-CoV juga dilaporkan terjadi di Qatar, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, Oman, Tunisia, Perancis, Jerman, Italia, Yunani, Filipina, dan Malaysia. Ada sekitar 15 negara yang warganya terserang virus ini. Sabtu, 3 Mei 2014, penyebaran virus mematikan tersebut sampai ke Amerika Serikat.

MERS-CoV ditemukan pada seorang petugas kesehatan yang baru saja kembali ke Indiana, Amerika Serikat, dari Arab Saudi. Pria itu kini dirawat dalam kondisi stabil. Lembaga kesehatan publik AS, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pun menelusuri penumpang pesawat yang melakukan kontak jarak dekat dengan pria tersebut.

Pemerintah Republik Indonesia mewaspadai penyebaran Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV). Sebab, virus yang berasal dari Arab Saudi itu belum ditemukan vaksin untuk mengatasinya.

Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) menggelar rapat koordinasi (rakor) tingkat menteri bersama Menteri Agama, Menteri Kesehatan, Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, Menteri Perhubungan, BNP2TKI dan lainnya di Jakarta, Senin 5 Mei 2014.

Menurut Menkokesra Agung Laksono, rakor itu membahas pencegahan dini sekaligus agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di masyarakat. 

"Kasus cukup banyak, korban yang meninggal dunia cukup banyak. Negara kita berhubungan dengan Middle East, khususnya Saudi Arabia. Sekitar 1,2 juta hidup di sana merantau. Setiap tahun, setiap bulan, kita mengirim ratusan ribu jamaah umroh dan haji. Kami berkepentingan melindungi warga kita," kata Agung dalam konfrensi pers di kantornya.

Merujuk pada catatan WHO, Agung mengatakan virus Mers sudah menulari sedikitnya 261 orang dengan korban meninggal 93 jiwa sejak September 2012 sampai dengan 26 April 2014. Dia mencatat, sebagian besar tertular setelah melakukan kontak dengan hewan setelah berkunjung ke Timur Tengah.

"Penyebaran di negara luar Timur Tengah terjadi karena penanganan pasien tanpa alat pelindung diri dan kontak langsung dengan orang tertular," ujarnya.

Sejauh ini, Agung mengungkapkan virus Mers-coV telah menyebar ke 15 negara yaitu Saudi Arabia, Jordania, Qatar, Tunisia, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, Perancis, Jerman, Italia, Yunani, Filipina, dan Malaysia. Mereka tertular setelah menjalankan ibadah umroh.

"Amerika Serikat melaporkan penularan Mers-CoV pada 2 Mei 2014. Pada 27 April, NA 61 tahun, seorang WNI yang tinggal di Arab Saudi meninggal dunia akibat Mers-CoV," ujar dia.


Sebagai langkah konkrit, Menteri asal Partai Golkar itu melanjutkan pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan lintas sektor. Selain itu, bersama Pemerintah Da (Pemda) memperketat pintu-pintu masuk kunjungan wisatawan, atau kembalinya jamaah dari Timur Tengah khususnya Arab Saudi.

"Meningkatkan pemantauan di point of entry, pintu masuk negara. Penyebaran health alert card, pemasangan leaflet dan banner di pintu masuk Indonesia, misalnya bandar udara dan pelabuhan laut," ucapnya.

Penulis : Suryanta Bakti Susila, Syahrul Ansyari
Sumber : http://fokus.news.viva.co.id/, Senin, 5 Mei 2014, 13:46 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...