Rabu, 10 September 2014

Jangan Halangi Pasien Gangguan Jiwa Jalani Pengobatan.


Pada tulisan ini, saya ingin berbagi catatan mengenai salah satu topik pada mata kuliah Obat Gangguan Saraf dan Otot ini yaitu Skizofrenia. Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu schizos yang artinya terpecah dan phren yang artinya pikiran, jadi secara harfiah, skizofrenia artinya pikiran atau jiwa yang terbelah atau terpecah. Sementara dalam modul "Intervensi Psikoedukasi Interaktif Singkat" yang dibuat oleh dr. Carla R. Marchira, SpKJ. skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan perubahan tingkah laku yang aneh yang mengalami halusinasi panca indera (mendengar, melihat, meraba, mengecap, mencium sesuatu yang tidak ada) dan waham (merasa sesuatu yang tidak nyata, seperti diikuti, diawasi, atau dibicarakan).

Data APA (American Psychiatric Association) menyebutkan bahwa terdapat 1% populasi penduduk dunia yang mengalami skizofrenia, 75%-nya mulai mengidap pada usia 16-25 tahun. Berdasarkan jenis kelaminnya, pria lebih besar peluangnya terkena skizofrenia pada usia muda, sementara wanita lebih lambat yaitu sekitar usia 25-35 tahun.


Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Kejiwaan (PPDGK) tipe-tipe skizofrenia dibagi menjadi 7 antara lain:
  1. Skizofrenia paranoid, merupakan jenis skizofrenia yang penderitanya mengalami bayangan dan khayalan tentang penganiayaan dan kontrol dari orang lain.
  2. Skizofrenia hebefrenik, merupakan jenis skizofrenia yang jenisnya ditandai terutama oleh gangguan dan kelainan di pikiran. Seseorang yang menderita skizofrenia sering menunjukkan tanda-tanda emosi dan ekspresi yang tidak sesuai untuk keadaannya.
  3. Skizofrenia katatonik, merupakan jenis skizofrenia yang ditandai dengan berbagai gangguan motorik, termasuk kegembiraan ekstrim dan pingsan. Gejala negatifnya berupa postur katatonik dan fleksibilitas seperti lilin yang bisa dipertahankan dalam kurun waktu yang panjang.
  4. Skizofrenia tak terinci, merupakan jenis skizofrenia yang penderitanya memiliki delusi, halusinasi, dan perilaku tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik.
  5. Depresi pasca skizofrenia, merupakan gangguan kejiwaan yang ditemukan pada penderita skizofrenia yang masih dijumpai dalam 12 bulan terakhir atau episode depresinya masih tetap ada walaupun pasien dinyatakan sembuh dari penyakitnya.
  6. Skizofrenia residual, merupakan jenis skizofrenia yang ketika didiagnosis setidaknya satu dari empat jenis skizofrenia yang lainnya telah terjadi, tetapi skizofrenia residual ini tidak mempunyai satu pun gejala positif yang menonjol.
  7. Skizofrenia simpleks, merupakan jenis skizofrenia yang gejala utamanya adalah apatis terhadap kepentingan diri sendiri.

Penyebab terjadinya skizofrenia berdasarkan CAT scans dan studi MRI, penderita skizofrenia dapat mengalami peningkatan ukuran ventrikel (rongga pada otak) dan penurunan ukuran otak. Adanya peningkatan pada ukuran ventrikel menyebabkan terjadinya abnormalitas neurotransmitter yang mana beberapa neurotransmitter tersebut yang dipengaruhi antara lain dopaminergik, glutamatergik, dan serotonergik. 

Dopaminergik dapat mengalami kejadian hipo atau hiperaktivitas dopaminergik yang mana kejadian hiperaktivitas terjadi akibat hasil dari peningkatan sensitivitas dan densitas reseptor dopamin D2. Perlu diketahui sebelumnya bahwa dopaminergik memiliki 4 jalur yaitu jalur nigrostriatal, mesolimbik, mesokortikal, dan tuberoinfundibular. Apabila jalur ini mengalami hambatan maka jalur ini tidak dapat berfungsi. Nigrostriatal berfungsi dalam pergerakkan dan sistem ekstrapiramidal. Mesolimbik berfungsi sebagai arousal, memori, pemroses stimulus, dan perilaku motivasional. Mesokortika berfungsi untuk kognisi, komunikasi, fungsi sosial, dan memberikan respon terhadap stres. Sementara tuberoinfundibular berfungsi dalam meregulasi pelepasan prolaktin.

Sistem glutamatergik merupakan salah satu sistem neurotransmitter eksitatori yang tersebar luas di otak, defisiensi glutamatergik dapat menimbulkan gejala yang sama seperti pada hiperaktivitas dopaminergik. 

Pada serotoninergik, perlu diketahui bahwa reseptor serotoninergik berada pada akson dopaminergik yang mana adanya stimulasi pada reseptor serotoninergik dapat mengurangi pelepasan dopamin. Pada pasien skizofrenia, ditemukan bahwa konsentrasi serotoninnya lebih tinggi dalam darah hal ini berkaitan dengan peningkatan ukuran ventrikel.


Gejala skizofrenia dibagi menjadi 4 macam yaitu gejala positif, negatif, kognitif, dan afektif. Gejala positif mengacu pada distorsi pemikiran normal seseorang dan fungsi, sementara gejala negatif mengacu pada kesulitan menunjukkan emosi atau fungsi normal, biasanya terlihat depresi. Lebih rincinya pada gejala positif terdiri dari halusinasi, delusi, gangguan pikiran, dan gangguan gerakan. Gejala negatif terdiri dari tidak dapat merawat diri sendiri, tidak menunjukkan ekspresi wajah (datar), dan autisme. Gejala kognitif antara lain kesulitan menggunakan informasi yang diperoleh dalam membuat keputusan, kesulitan dalam memberi perhatian, dan kesulitan memahami lingkungan. Sementara gejala afektif antara lain depresi, cemas, dan curiga.

Berikut merupakan algoritma terapi dari skizofrenia yang dipresentasikan oleh teman saya.


Algoritma terapinya dapat dijelaskan seperti ini, pada tahap pertama yaitu pada saat serangan pertama atau belum pernah menggunakan SGA (Second Generation Antipsychotic) sebelumnya, selama maksimal 12 minggu gunakan SGA tunggal seperti Aripiprazol, olanzapin, quetiapin, risperidon, atau ziprasidon. Jika responnya parsial (sebagian) atau tidak ada sama sekali maka pada tahap kedua dapat diberikan obat SGA tunggal yang lain selain yang dipakai pada tahap 1 selama maksimal 12 minggu. Jika respon parsial atau tidak ada maka dapat digunakan pada tahap 2 FGA (First Generation Antipsychotic) atau SGA yang lain, jika responnya parsial atau tidak ada dapat ke tahap ketiga dengan mencoba FGA atau SGA yang lain selama 6 bulan, yang sebelumnya pada tahap 2 sebenarnya dapat langsung ke tahap ketiga juga. Pada tahap 2a, jika dapat menerima klozapin maka jika responnya parsial atau tidak ada dapat diberikan klozapin, namun jika tidak ada juga dapat ke tahap kelima untuk dicoba satu obat FGA atau SGA yang belum perna dicoba, sementara jika pada tahap 3 tidak ada respon dan tidak dapat menerima klozapin dapat langsung ke tahap 5. Di tahap 5 jika tidak ada respon juga maka dapat diberikan terapi kombinasi antara SGA degan FGA, atau kombinasi SGA dengan SGA, atau kombinasi antara SGA atau FGA dengan ECT, atau kombinasi antara FGA atau SGA dengan agen lain. 

Obat-obatan antipsikotik merupakan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati jenis gangguan jiwa yang disebut gangguan psikotik. Obat antipsikotik berdasarkan penjelasan pada algoritma terapi sebelumnya terdiri menjadi 2 jenis, yaitu FGA dan SGA.

FGA bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal, dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif. Pemakaian yang lama dapat memberikan efek samping berupa gejala ekstrapiramidal, tardive diskinesia, disfungsi seksual, peningkatan berat badan, dan memperat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu FGA juga dapt menimbulkan efek samping berupa mulut kering, pandangan kabur, gangguan defekasi, dan hipotensi. FGA ada 2 macam, yaitu FGA dengan potensi tinggi dan FGA dengan potensi rendah. FGA dengan potensi tinggi apabila digunakan dosis kurang atau sama dengan 10 mg seperti trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol, dan pimozide. Biasanya obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham, dan halusinasi. Sementara FGA dengan dosis rendah bila dosisnya lebih dari 50 mg seperti Chlorpromazine dan thiondazine yang digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, dan sulit tidur.

SGA merupakan antipsikotik yang dikenal pula sebagai antipsikotik atipikal. Merupakan pilihan pertama di dalam terapi skizofrenia, kecuali klozapin. Obat generasi kedua ini memiliki sedikit atau bahkan tidak ada efek ekstrapiramidal. SGA bekerja secara relatif dengan menghambat reseptor D2 dan reseptor 5-HT2A. Obat-obatan yang termasuk ke dalam SGA antara lain aripiprazol, olanzapin, quetiapin, risperidon, klozapin, dan ziprasidon.

Berikut merupakan tabel obat yang termasuk obat antiskizofrenia.


Berikut merupakan penjelasan terkait beberapa istilah pada efek samping yang sering muncul pada penggunaan obat FGA, yaitu sindrom atau gejala ekstrapiramidal.

Sindrom ekstrapiramidal (Extrapyramidal Syndrom (EPS)) merupakan gangguan pada sistem ekstrapiramidal pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh adanya gangguan pada reseptor dopamin. EPS meliputi tardive dykinesia (TD), neuroleptic malignant syndrome (NMS), dan akathisia. 

TD merupakan gerakan involunteer biasanya berulang-ulang terutama pada bagian wajah yaitu mulut dan lidah misalnya seperti mengerucutkan bibir, meringis, memeletkan lidah, dan lain-lain. Akathisia merupakan suatu kondisi yang mana tidak bisa duduk dengan tenang dan tidak dapat berhenti bergerak. Sementara NMS merupakan suatu kondisi dengan suhu tubuh yang tinggi yaitu lebih dari 41 derajat celcius, otot kaku, instabilitas otonomi seperti detak jantung dan tekanan darah tidak teratur, takikardi, dan diaforesis (keringat yang berlebihan).

Penulis : Nurul Fajry Maulida
Sumber : http://nurulfajrymaulida.blogspot.com/, 28 Oktober 2013, 11:34 WIB.