Senin, 22 September 2014

M Nuh: Dana Abadi Rp 24 triliun Akan Dikeluarkan Untuk Riset Gunung Padang.



Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh mengatakan bahwa dana riset Gunung Padang berasal dari dana abadi sebesar Rp 24 triliun. Dana itu biasa dialokasikan untuk beasiswa, riset, dan perbaikan sekolah pasca-bencana. 

"Untuk tahap awal, kami mengalokasikan Rp 3 miliar, itu sudah cair. Tapi untuk total anggaran yang digunakan, kami tidak tahu," ujar Nuh seperti dikutip Tribunnews, Rabu (17/9/2014).

Karena menggunakan dana abadi, dana riset yang dialokasikan untuk Gunung Padang tak terbatas. Selain itu, pendanaan untuk penelitian situs kontroversial itu juga tak akan terpengaruh oleh pergantian kepala negara.


Ilustrasi seni Situs Gunung Padang di masa lalu.

Situs Gunung Padang di masa sekarang.

"Demi membuktikan adanya peradaban yang sangat unggul, berapa pun akan dibiayai dan saya yakin tidak besar karena yang biaya yang besar itu di fase konservasi," ungkap Nuh saat meninjau penelitian situs Gunung Padang kemarin.


Koin Gunung Padang


Tahap baru riset Gunung Padang yang berlangsung sejak Sabtu (14/9/2014) lalu telah membuahkan dua penemuan, yaitu alat mirip kujang dan koin jimat yang diduga berasal dari masa 5.200 SM. Koin dan kujang diduga berasal dari masa 500 - 5.200 tahun yang lalu. Usia diperkirakan berdasarkan hasil penanggalan karbon lapisan tanah tempat penemuannya. 

Kemiripan koin Gunung Padang dengan uang logam tahun 1945.

Seperti hasil riset Gunung Padang sebelumnya, temuan kali ini juga menuai kontroversi. Arkeolog Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, mengatakan, koin yang ditemukan sangat mirip dengan koin Netherland Indie yang terbit tahun 1945.

Tim riset Gunung Padang, di antaranya Ali Akbar dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa koin itu merupakan artefak kuno dan digunakan sebagai jimat. Namun, arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, meragukannya.

Lutfi membandingkan koin yang ditemukan oleh tim riset Gunung Padang dengan sejumlah koin atau uang pada masa lalu. Ia menemukan bahwa koin yang ditemukan mirip dengan uang koin Netherland Indie yang terbit tahun 1945.

Dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (17/9/2014), Lutfi menguraikan, empat kemiripan koin Gunung Padang dengan uang tahun 1945.

Kemiripan pertama adalah ukurannya yang sebesar uang logam Rp 25. Sementara itu, kemiripan kedua adalah hiasan pada bagian tepi koin, berupa bulatan dan gawangan. Terdapat pula hiasan aksara Jawa Kuno.

Kemiripan ketiga adalah adanya lingkaran yang membatasi bagian tepi dan tengah, sedangkan kemiripan terakhir adalah adanya aksara Arab pada bagian tengah koin yang ditemukan pada kedalaman 11 meter itu.

Arkeolog Ali Akbar dan geolog Danny Hilman Natawijaya hingga saat ini belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar tentang keraguan Balai Arkeologi Bandung.


Kujang Gunung Padang

Kujang Gunung Padang

Kujang Gunung Padang adalah artefak pertama yang ditemukan sepanjang penggalian sejak sabtu lalu.  Tim riset Gunung padang mengatakan bahwa artefak serupa kujang yang ditemukan lewat ekskavasi pada Sabtu (14/9/2014) merupakan cerminan dari konstanta pi itu.

Sekretaris tim riset Gunung Padang, Erik Rizki, mengungkapkan, konstanta pi dalam kujang bisa diketahui ketika mengukur panjang dan lebar bagian kujang yang meruncing.

Bagian yang meruncing punya panjang 22 cm dan lebar 7 cm. "Kalau dihitung, ini kan 22 dibagi tujuh, itu kan pi," kata Erik.

Erik mengatakan, hal itu mencengangkan dan di luar yang dibayangkan peneliti. "Luar biasa sekali," katanya.

Menurut Erik, ukuran kujang itu menunjukkan bahwa leluhur yang tinggal di Gunung Padang sudah mengenal geometri.

Kujang Gunung Padang juga punya keunikan lain. Menurut Erik, kujang itu punya anomali magnetik. 

"Ini punya tiga sisi. Tiga sisi itu hanya bisa merespon kutub magnet yang sama," kata Erik saat dihubungi Kompas.com, Rabu (17/9/2014).

Sebab anomali magnetik itu belum diketahui. Namun menurut Erik, struktur kujang memang unik.

"Di dalam permukaan ada kandungan metal. Waktu perbesaran 80 kali, tampak ada struktur seperti kawat," katanya.

Sementara itu, tak ada jejak yang menunjukkan bahwa alat kujang yang ditemukan merupakan buatan manusia. Menurut Lutfi, permukaan halus pada alat kujang merupakan hasil pelapukan batuan.  Sementara, temuan kujang juga meragukan. "Berdasarkan pengamatan terhadap foto objek yang bersangkutan tidak tampak adanya jejak pemangkasan baik monofasial maupun bifasial di permukaan batu ini," kata Lutfi. 

Jejak pemangkasan baik bifasial maupun monofasial di bidang permukaan batu biasanya tidak menghasilkan permukaan yang rata akan tetapi memiliki bentuk permukaan yang berbeda dengan sisi bidang yang tidak terpangkas. 

"Permukaan batu yang rata tersebut besar kemungkinan merupakan  produk dari proses pelapukan batuan," jelas Lutfi.


Ketua Tim Riset Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar, mengungkapkan bahwa riset pendahuluan akan berlangsung hingga 20 Oktober 2014. Tim yakin dengan adanya jejak peradaban yang terpendam di bawah permukaan tanah situs Gunung Padang.

Penyusun : Yohanes Gitoyo.
Sumber : 
  1. http://sains.kompas.com/read/2014/09/18/10522301/M.Nuh.Berapa.Pun.Dana.Akan.Dikeluarkan.untuk.Gunung.Padanghttp://sains.kompas.com/, Kamis, 18 September 2014, 10:52 WIB.
  2. http://sains.kompas.com/read/2014/09/17/21211391/Ini.Kemiripan.Koin.Gunung.Padang.dengan.Uang.Tahun.1945
  3. http://sains.kompas.com/read/2014/09/18/17502011/Kujang.Gunung.Padang.Dikatakan.Cerminan.Bilangan.Pi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...