Senin, 03 November 2014

Awas ! : Waspada Nasional, Ebola Masuk Indonesia !


Gelombang kedatangan tenaga kerja Indonesia (TKI) dari Afrika Barat ke Jawa Timur membuat semua pihak harus waspada. Sebanyak 28 TKI pulang ke kampung halaman mereka pada 26 Oktober lalu setelah bekerja di Liberia, salah satu lokasi endemis virus Ebola. Pemeriksaan kesehatan para penumpang dari negara-negara Afrika Barat dilakoni secara teliti di sejumlah bandara. Ke-28 TKI itu juga transit di Abu Dhabi dari Liberia. Mereka tiba di Jakarta pada 26 Oktober lalu. 

“Mereka sudah diperiksa di Liberia. Di paspor mereka tertera bahwa mereka sehat. Kemudian mereka diperiksa lagi di salah satu bandara transit. Dan ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, para petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan memeriksa mereka. Tidak ada dari mereka yang sakit,” ujar Tjandra.

Namun demikian ketika tiba di Madiun, salah satu TKI mengalami panas tinggi dan muntah-muntah. Dia kemudian diputuskan untuk dirawat dan dikarantina di RS dokter Soedono. Dari ke-28 TKI, 22 orang di antara mereka berasal dari Madiun dan enam lainnya dari Kediri.

Walau hanya dua orang yang menjadi suspect virus Ebola, menurut Syaiful Anwar, kepala bagian medis Rumah Sakit dokter Soedono, Madiun, sisanya tidak diperbolehkan meninggalkan rumah dan kondisi mereka terus dipantau dinas kesehatan daerah setempat. 

Radar Kediri (Grup JPNN.com) melaporkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pare, Kediri, saat ini merawat A, TKI yang menunjukkan gejala mirip penderita virus ebola yang tengah mewabah di Afrika itu.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pare, Kediri, saat ini merawat A, TKI yang menunjukkan gejala mirip penderita virus ebola yang tengah mewabah di Afrika itu. Foto: Radar Kediri
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pare, Kediri, saat ini merawat A, TKI yang menunjukkan gejala mirip penderita virus ebola yang tengah mewabah di Afrika itu

Humas RSUD Pare Hari Susanto mengatakan, A masuk RS pada Jumat (31/10) sekitar pukul 11.30. Keluhannya adalah nyeri saat menelan, kepala pusing, dan demam tinggi. ”Suhu tubuhnya 38 derajat Celsius,” kata Hari kemarin.

Gejala itu mirip dengan penanda virus ebola. Apalagi, lanjut Hari, sekitar tujuh bulan lalu A bekerja sebagai TKI di Liberia. Baru Minggu lalu (26/10) dia tiba di tanah air.

[EBOLA Masuk Indonesia?] Pulang Dari Liberia, TKI Madiun & Kediri Suspect Ebola

Seperti diketahui, virus ebola mewabah di negara Afrika Barat seperti Liberia, Guinea, dan Sierra Leone. Jumlah kasus di Liberia merupakan salah satu yang terbesar. Korban tewas mencapai ribuan. Karena itu, A langsung mendapatkan penanganan khusus. Pihak RSUD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jatim untuk penanganannya.

”Dinkes Jatim dan Kabupaten Kediri sudah mengambil sampel darah A dan saat ini dibawa ke Surabaya,” terang Hari.

Selain penanganan dari tim dinkes, pihaknya juga telah melakukan uji laboratorium (lab) lengkap. Mulai uji darah lengkap, haposan darah, fungsi liver dan ginjal, hingga tes malaria. Hasilnya memang sangat memuaskan. ”Semuanya negatif,” ungkap Hari.

Dokter Widyastomo, kepala bagian pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Pare, Kediri, mengatakan diagnosa awal pasien tersebut ialah radang tenggorokan.



Bagaimana kondisi suspect ebola di Madiun? 

Diketahui sebagian besar TKI itu bekerja sebagai penebang pohon di hutan di Liberia yang merupakan endemi penyakit ebola. Salah satu TKI yang terjangkit virus itu adalah seorang pria berusia 29 tahun berinisial M, warga Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Pria itu masuk ke rumah sakit sejak Jumat, (31/10/2014) lalu.
Menurut informasi, M,29, mantan TKI dari Liberia (Afrika) yang kini tengah dirawat karena kasus ebola, pulang bersama 21 TKI lain yang umumnya asal Kabupaten Madiun.

Menurut informasi, warga Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun yang kini dinyatakan positif terjangkit virus ebola ini datang pada 25 Oktober 2014 lalu bersama sekitar 21 TKI lainnya dari Liberia. Tercatat 8 orang dari Kecamatan Gemarang, 3 orang dari Kecamatan Pilangkenceng, 1 orang dari Kecamatan Mejayan, 10 orang dari Kecamatan Saradan. Selain itu juga terdapat 6 TKI asal Kabupaten Kabupaten Kediri.

Radar Madiun (Grup JPNN.com) melaporkan, kondisi Muh, 29, eks TKI di Liberia asal Kecamatan Gemarang, terus dipantau tim medis RSUD dr Soedono, Madiun. Setelah dinyatakan positif malaria, tim medis menemukan gejala klinis baru.

Dari hasil uji sampel darah pasien, diketahui adanya penurunan fungsi darah rutin. Salah satunya adalah trombosit darah yang turun di kisaran 48 ribu. Jauh dari batas normal 150 ribu–320 ribu per liter. Diketahui pula, pasien mengalami penurunan fungsi ginjal dan sedikit pembekuan darah serta terjadi gangguan elektrolit atau cairan tubuh.

”Jika kondisi ini terus terjadi, gejala klinis suspect ebola akan menguat. Dan saat ini kami intens berikan terapi sportif untuk pasien,” ungkap Kabid Pelayanan Medik RSUD dr Soedono dr Sjaiful Anwar SpJP kemarin.

Dijelaskan Sjaiful, uji sampel darah terus dilakukan meskipun sudah diketahui pasien positif malaria. Pengambilan sampel darah dilakukan bersama tim dari Dinkes Jatim. Tujuannya khusus memastikan gejala infeksi virus ebola dengan menyingkirkan diagnosis lain seperti malaria, demam berdarah, dan tifus.

”Hari ini (kemarin, Red) kami lakukan lagi pengambilan sampel untuk uji laboratorium yang dikirim ke Jakarta dan tunggu saja perkembangannya,” kata dia.

Dengan perkembangan status pasien dari yang hanya berstatus positif malaria menjadi ada gejala klinis ebola itu, Sjaiful mengaku lebih waspada. Saat ini penanganan pasien dengan menggunakan standard operating procedure (SOP) ebola sangat diutamakan. Salah satunya dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) saat merawat maupun memeriksa pasien.

Cegah Ebola, RSUD Madiun Siapkan 15 Alat Pelindung Petugas kesehatan membantu rekannya mengenakan baju pelindung dan peralatan di pelatihan "One Nation, One Direction Pencegahan Ebola", di Institut Penelitian untuk rumah sakit Tropical Medicine, Muntinlupa, Manila, Filipina, 28 Oktober 2014. (REUTERS/Romeo Ranoco)

Terkait dengan dirawatnya seorang pasian terduga ebola, Manajemen RSUD dr. Soedono menyiapkan sedikitnya 15 paket alat pelindung diri (ADP) untuk menangani M, 29 tahun, pasien terduga ebola. Satu paket ADP itu terdiri dari empat potong baju, penutup rambut, dan masker sekaligus pelindung mata.

“Setiap masuk ruang perawatan pasien terduga ebola, baju itu dipakai. Setelah keluar, baju itu dibuang,” kata Halimah, salah satu perawat di ruang isolasi RSUD dr. Soedono, Sabtu petang, 1 November 2014.

Menurut Halimah, baju ADP harus dibuang untuk menghindari kemungkinan penyebaran virus ebola. Sebab, penyakit tersebut bisa menular melalui cairan tubuh seperti keringat dan air liur setelah terjadi kontak fisik dengan penderita.

”Selama delapan hari ke depan, kami akan terus meningkatkan kewaspadaan,” imbuhnya.

Hingga kemarin siang, Muh terhitung menjalani hari ke-13 isolasi sejak awal karantina di Liberia. Awal merasakan demam, dia menjalani karantina enam hari di Liberia. Kemudian, dia dikarantina sehari di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada 26 Oktober dan pulang pada 27 Oktober. Jika mengacu pada masa inkubasi virus itu, yakni 21 hari, pasien suspect akan menjalani perawatan intensif hingga delapan hari ke depan.

”Tidak ada pengobatan khusus. Pasien hanya diisolasi supaya jika ada virus, tidak menular ke orang lain. Saat ini hanya rutin kami terapi sportif dengan banyak memberikan cairan infus,” tegasnya.

Perkembangan terakhir Muh tersebut membuat sejumlah rekannya yang dipulangkan bersama-sama dari Liberia waswas. Padahal, sebelumnya, para TKI yang bekerja di perusahaan kayu Forest Venture, Buchanan, Liberia, itu yakin bahwa Muh bebas dari penyakit mematikan tersebut.

”Kalau terjangkit, kami, termasuk Muh, tidak akan sampai di Indonesia,” ujar Kuncoro, salah seorang eks TKI yang pulang bersama Muh, kemarin (1/11). Dijelaskan, dia bersama Muh serta 27 TKI lain sudah melalui pemeriksaan yang cukup panjang sebelum sampai di Indonesia. Selama berada di Liberia, misalnya, semua pekerja yang sebagian besar berasal dari Kecamatan Gemarang itu dicek rutin setiap hari oleh petugas kesehatan dari WHO, PBB.


”Kalau terjangkit, kami pasti langsung dipinggirkan,” ucap dia. Kuncoro mengatakan, bagi pekerja yang suhu tubuhnya terdeteksi di atas 37,5 derajat Celsius atau menunjukkan gejala ebola lainnya akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Selebihnya diperbolehkan keluar dari titik pemeriksaan dengan disertai cap berwarna pink yang bertulisan angka temperatur tubuh dan tanggal pemeriksaan.

”Pengecekan terus dilakukan berulang kali sampai kami mau menuju bandara,” jelas pria yang sudah delapan tahun bekerja di Liberia tersebut.

Tidak berhenti di situ, pemeriksaan para TKI yang pulang atas perintah langsung Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia tersebut masih berlanjut hingga bandara transit di Maroko dan Abu Dhabi. Khusus di Maroko, lanjut dia, para TKI bersama rombongan lain dari Liberia diperiksa dengan menggunakan peralatan canggih yang berupa laser sensor tubuh.

”Pemeriksaan di Maroko termasuk yang paling ketat. Karena banyak dokter dan tim kesehatan yang dilibatkan dalam pemeriksaan,” ujarnya.

Setiba di Indonesia Sabtu lalu (25/10), pemeriksaan masih tetap dilakukan. Kendati tidak seketat di Liberia dan Maroko, pemeriksaan di Bandara Soekarno-Hatta tetap menerapkan SOP WHO.

”Karena kami dikawal petugas kedutaan,pemeriksaan tidak lama,” imbuhnya.

Hari Prasetyo, rekan lain Muh yang bekerja di Afrika, juga yakin bahwa Muh hanya menderita malaria. Penyakit itu, terang dia, kerap dialami Muh ketika lelah atau tidak fit.


”Memang gejala awal nyaris mirip dengan penyakit ebola. Tapi, saya yakin dia (Muh, Red) tidak terjangkit. Lha wong pemeriksaannya superketat kok,” beber dia sembari berharap Muh, yang bekerja pada bagian pengoperasian buldoser di perusahaan kayu tersebut, segera sembuh dan pulang ke rumah.(baz/tyo/yupmia)




Mengenal si Monster Penyakit Ebola.

Penyakit ini disebabkan virus yang sangat rentan berkembang di kawasan tropis seperti Indonesia. Namun sayang, masih banyak orang yang belum paham akan hal ini. Sebagai pemahaman sekaligus tindak pencegahan, berikut adalah deskripsi jelas tentang virus ebola.

Penyebab penyakit ebola adalah merupakan virus yang berasal dari genus Ebolavirus, yang termasuk di dalam familia Filoviridae. Virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976 ketika mengakibatkan wabah demam berdarah hebat di kawasan garis ekuator sebelah barat Sudan, berdekatan dengan negara Zaire yang dulu bergabung dalam kesatuan negara Republik Demokratik Kongo. Virus tersebut menyerang lebih dari lima distrik di kawasan tersebut dan mengakibatkan kematian 90 persen penduduknya.

Lebih jauh, ternyata virus ebola juga ditemukan di luar kawasan Afrika, seperti yang pernah terjadi di Filipina dan kawasan selatan China pada akhir dekade 80-an. Bahkan beberapa juga ditemukan di kawasan Amerika Latin, khususnya di kawasan yang berada di sekitar area tropis.

Badan Kesehatan Dunia WHO menggolongkan sebagai demam berdarah. Wabah demam berdarah Virus Ebola melanda Afrika Barat dan meledak di Guinea di tahun 2014 ini. Ebola dikatakan memiliki tingkat kematian hingga 90 persen. Namun untuk kejadian saat ini, 60 persen kasus Ebola berakibat fatal.

Hingga saat ini belum ditemukan vaksin antivirus ebola, namun masih banyak kemungkinan untuk menghidarinya. Salah satu hal utama yang harus diperhatikan adalah kualitas sanitasi serta air konsumsi, pastikan dengan baik semuanya berada dalam kondisi terbaik. 

Penyebaran virus ebola amat mengkhawatirkan. Sebagian besar pasien yang terpapar virus ini tak tertolong lagi. Presentase untuk hidup bagi orang yang sudah positif terkena virus Ebola adalah 0% alias tidak ada. Sampai sekarang belum ada vaksin untuk virus ini.

Selama ini  virus ebola di Afrika diduga ditularkan oleh kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, dan sentuhan dari hewan-hewan liar yang rentan terjangkit, seperti simpanse, monyet, gorila, kijang liar Afrika, dan kelelawar buah.

Selain itu, perlu diperhatikan pula kesehatan hewan-hewan domestik di sekitar Anda, seperti hewan peliharaan, serta anjing atau kucing liar. Penularan dari hewan-hewan domestik ini memiliki kemiripan dengan penularan rabies, sehingga Anda perlu tetap waspada terhadapnya.

Penyebaran dari manusia ke manusia terjadi ketika terdapat kontak langsung dengan penderita berupa bersin, paparan luka langsung, dan penggunaan alat makan yang sama. Bahkan di Afrika, sebaran virus ebola juga dapat menular melalui kontaminasi air sungai, di mana hingga kini masih menjadi pusat sanitasi bersama.

Penelitian cukup panjang mengenai virus ini menghasilkan sebuah klasifikasi virus ebola yang dibagi menjadi lima jenis spesies. Selanjutnya, penelitian ini juga menghasilkan fakta bahwa virus ebola dapat menyebar dari manusia ke manusia, layaknya virus flu burung.


Apa itu Virus Ebola?

Ebola adalah sejenis virus dari genus Ebolavirus, familia Filoviridae. Ebola juga dijadikan nama bagi penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, ada lima tipe virus ebola yang ditemukan di Afrika. Kelima varian virus itu sedang menjadi sorotan dunia yaitu Bundibugyo Ebolavirus (BDBV), Zaire Ebolavirus (EBOV), Reston Ebolavirus (RESTV), Sudan Ebolavirus (SUDV), dan Tai Forest Ebolavirus (TAFV). (Baca juga: Pemerintah Ingatkan Bahaya Virus Ebola)

Dari kelima spesies yang ada, tiga di antaranya BDBV, EBOV, dan SUDV merupakan jenis virus yang menyebabkan wabah Ebola di Afrika. “Ketiganya menimbulkan wabah pada manusia dan angka kematian yang tinggi,” kata Tjandra kepada Tempo, Ahad, 10 Agustus 2014. 

Sementara itu untuk virus jenis RESTV, pernah ditemukan di Filipina dan Cina. Pernah menimbulkan wabah ebola pada monyet berjenis Macaque Monkeys di Filipina, virus ini bila menular ke manusia. Meski demikian, virus ebola jenis ini tidak menimbulkan kesakitan dan kematian.

Beberapa waktu terakhir ini, Ebola termasuk sebagai masalah besar yang dihadapi beberapa negara di Afrika dan menjadi sorotan dunia. Salah satu virus mematikan bagi manusia ini kini masuk dalam kategori Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), seperti halnya virus H1N1 dan Wild Polio Virus.


Asal kata Ebola

Nama Ebola diambil dari sungai Ebola, Kongo, Afrika


Gejala Penyakit Ebola

Gejala-gejalanya antara lain muntah, diare, sakit badan, pendarahan dalam dan luar, dan demam. Untuk tingkat kematian dari penyakit ini adalah 80% sampai 100%.

Tanda-tanda umum orang terinfeksi virus ebola secara umum bisa dikenali. Badan Kesehatan Dunia WHO menggolongkan sebagai demam berdarah. Berikut penjelasan Prof Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI seperti dikutip dari laman website health.okezone.com Senin 4 Agustus 2014 ini.

Awal gejala termasuk demam tinggi, setidaknya 38,8 derajat Celcius atau 101,8 derajat Fahrenheit. Kemudian, sakit kepala parah, nyeri otot, sakit perut, kelemahan parah, kelelahan, sakit tenggorokan, mual, pusing, pendarahan internal dan eksternal.

Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit yang menduga jika penderita virus Ebola sedang terkena malaria, demam, thyphus, disentri, influenza, atau berbagai infeksi bakteri lainnya. Lebih dalam, Ebola juga bisa menyebabkan gejala yang lebih serius. Bahkan, jika tidak ditangani dengan cepat, bisa berujung pada kematian.

Diare, kotoran berdarah atau gelap, muntah darah, dan mata merah distension adalah gejala dari Ebola yang sudah tahap serius. Kalau sudah seperti itu, biasanya disarankan untuk seseorang diinkubasi sekira dua sampai 21 hari. Akan tetapi, umumnya hanya perlu lima sampai 10 hari


Salah Diagnosis Penyakit Ebola

Diagnosis terhadap penularan virus ini dapat bersembunyi di balik beberapa penyakit menular yang umum diketahui, seperti malaria, kolera, leptospirosis, dan lain sebagainya. Tak jarang hal tersebut membuyarkan perkiraan medis yang dilakukan pada pasien terkait, sehingga rentan membuatnya mengalami salah penanganan.

Adapun tanda-tanda jelas mengenai penularan virus ini pada manusia terdiri dari beberapa contoh seperti sesak napas tanpa sebab, diare yang sulit berhenti, dan radang tenggorokan.

Selanjutnya jika tidak ditangani lebih lanjut, virus ini dapat menyebabkan disfungsi ginjal yang dibarengi oleh kelebihan enzim pada hati, di mana dapat mengakibatkan penetralan racun dalam tubuh menjadi terhambat.


Cara penularan penyakit Ebola


Penyakit Ebola dapat ditularkan lewat kontak langsung dengan cairan tubuh atau kulit. Masa inkubasinya dari 2 sampai 21 hari, umumnya antara 5 sampai 10 hari. Saat ini telah dikembangkan vaksin untuk Ebola yang 90% efektif dalam monyet, namun vaksin untuk manusia belum ditemukan.

Virus Ebola hidup di tempat yang lembab, lingkungan yang gelap, tidak akan menyebabkan tipikal penularan melalu udara. Tetapi bisa menetap pada partikel udara yang mengambang dan darah orang yang terinfeksi, cairan tubuh lain, kontak langsung dengan kotoran, urine, air liur dan air mani, ada kemungkinan akan terinfeksi. Kondisi pria ketika yang telah pulih, sampai tujuh minggu setelah pemulihan masih bisa menyebarkan virus melalui air mani mereka.

Ketika kulit orang sehat yang luka atau selaput mukosa kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi oleh cairan lendir pasien Ebola (seperti pakaian kotor, sprei atau jarum suntik yang telah digunakan), juga akan terinfeksi.

Mayat tubuh seseorang yang terinfeksi Virus Ebola juga adalah sumber infeksi, oleh sebab itu juga ada yang menyebut “virus orang mati” atau “virus zombie”, harus melakukan perlindungan terhadapnya dan segera dikuburkan. Setelah pasien mulai menunjukkan gejala, sifatnya sudah menular. Dalam masa inkubasi tidak menular.


Pencegahan Ebola

Kenali Beberapa Cara Mencegah Penularan Virus Ebola

Sebagai bentuk kewaspadaan, ada perlunya kita mengenali beberapa cara mencegah penularan virus mematikan ini. 

Berikut beberapa jenis tindak pencegahan terhadap penyebaran virus ebola yang bisa dilakukan:
  • Pertama, hindari daerah yang diketahui sebagai pusat awal wabah terjadi. Atau ketahui di negara mana saja virus ebola sudah menyebar. Sebagai contoh, sebelum bepergian ke Afrika, cari tahu tentang epidemi yang sedang berkembang saat ini. Cara yang dapat dilakukan dengan memeriksa ke situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
  • Kedua, cuci tangan sesering mungkin. Tindakan pencegahan yang satu ini merupakan salah satu langkah penting yang perlu dilakukan. Sama halnya terhadap pencegahan yang ditimbulkan dari jenis penyakit menular lainnya. Cucilah tangan menggunakan sabun atau gunakan antiseptik yang mengandung setidaknya 60 persen alkohol ketika sabun dan air tidak tersedia. 
  • Ketiga, hindari daging hewan liar di dan dari negara berkembang. Hindari membeli atau memakan binatang liar, termasuk primata yang dijual di pasar lokal. 
  • Keempat, hindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi. Perlu diperhatikan juga untuk menghindari kontak dengan cairan dan jaringan tubuh seseorang, termasuk darah, air mani, cairan vagina, dan air liur. Orang yang terjangkit virus ebola paling cepat menular pada tahap akhir, biasanya ketika korban dalam keadaan parah atau bahkan sudah meninggal.
  • Kelima, ikuti prosedur pengendalian infeksi. Jika Anda seorang petugas kesehatan, kenakan pakaian pelindung, seperti sarung tangan, masker, dan perisai mata. Jauhkan orang yang terinfeksi dari orang lain. Buang jarum dan sterilkan instrumen kesehatan lainnya. 
  • Keenam, jangan sembarangan menangani mayat korban ebola. Mayat orang yang meninggal karena ebola masih dapat menular. Tim khusus dan terlatih harus mengubur mayat menggunakan peralatan yang tepat.
  • Ketujuh, tutup luka, luka yang terbuka bisa dengan mudahnya terpapar virus dari luar termasuk virus Ebola. Oleh karena itu jika Anda memiliki luka, segera tutup luka tersebut dengan perban.
  • Kedelapan, hati-hati mengonsumsi daging babi, peternakan babi terutama di wilayah Afrika menjadi salah satu sumber terbesar tumbuhnya virus ebola. Sehingga jika Anda mengonsumsi daging ini, sebaiknya pastikan bahwa daging yang Anda konsumsi bersih dan baik kualitasnya.
  • Kesembilan, jangan mengonsumsi daging kualitas buruk, Virus ebola bisa menular lewat daging merah yang berkualitas buruk. Sehingga jika Anda tidak yakin dengan kualitas daging yang Anda konsumsi, maka sebaiknya jangan mengonsumsinya.7
    Sangat dianjurkan untuk berhati-hati dengan virus Ebola ini, waspadalah. Mencegah adalah cara yang paling baik daripada mengobati. Terapkan tips sehat di atas agar Anda dapat terhindar dari virus mengerikan ini.

    Jika dirasa penting, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis jika merasa berkontak langsung dengan sumber-sumber penularan virus ebola. 


    Pengobatan Ebola 

    Sampai dengan saat ini, belum ditemukan vaksin yang bisa mencegah infeksi oleh virus Ebola. Akan tetapi sekarang sedang di kembangkan pembuatan vaksin yang akan diujikan kepada manusia untuk pertama kalinya adalah vaksin yang sudah memasuki fase uji-klinis.

    Menurut Sanchez, seperti informasi yang dilansir dari mediaindonesia.com bahwa infeksi virus Ebola di dalam tubuh manusia memang bisa sangat mematikan, tapi monyet berhasil selamat dari infeksi virus tersebut dan ini bisa menjadi contoh yang sangat bermanfaat bagi uji-coba terhadap binatang.

    Pengujian vaksin Ebola dengan menggunakan primata memberikan perkembangan yang menjanjikan bagi hadirnya vaksin pelindung. Dalam pengobatan pada gejala penyakit ebola ini sebenarnya belum ada obat yang 100% dapat menyembuhkan dengan total, pengobatan yang dilakukan biasanya hanya dengan antivirus untuk melawan virus menyerang semakin banyak.

    Penderita biasanya dirawat di rumah sakit secara intensif dengan obat-obatan yang membantunya untuk menjaga kondisi tubuh agar masih bisa bertahan dalam melawan virus tersebut. Obat untuk ebola belum ditemukan. Pendarahan yang sering terjadi pada penyakit ini, biasanya penderita akan memerlukan tranfusi darah untuk mengganti darah yang sudah keluar. 

    Penyusun Yohanes Gitoyo, S Pd.
    Sumber : 
    1. http://www.jpnn.com/
    2. http://www.bbc.co.uk/
    3. http://perpustakaanindonesia.com/
    4. http://www.tempo.co/
    5. http://www.kabar24.com/
    6. http://health.okezone.com/
    7. http://askep-net.blogspot.com/
    8. https://www.youtube.com/watch?v=RTDjN6RBR18