Rabu, 12 November 2014

Kisah Dua Sukhoi TNI AU Paksa Pesawat Australia Mendarat, "Mereka Sempat Melawan" !

http://api.news.com.au/content/1.0/newscomau/images/1227099055652?format=jpg&group=ipad&size=medium

TNI Angkatan Udara (TNI AU) mencegat sebuah pesawat asing dengan rute penerbangan Darwin-Cebu yang melintasi wilayah udara Indonesia tanpa izin pada hari Rabu (22/10/2014) sekitar pukul 10.30 WITA. Dua pesawat tempur jenis Sukhoi milik TNI AU memaksa pesawat asing tersebut turun di lapangan udara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. 

"Pesawat itu ter-detect radar kita. Setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, diketahui pesawat itu tidak memiliki izin terbang kita perintahkan pesawat Sukhoi kita yang ada di Lanud Hassanudin, Makassar untuk mengejar pesawat itu," kata Kapuspen TNI Mayjen TNI Mochamad Fuad Basya saat dihubungi Suara.com, Rabu (22/10/2014).

2 Unit pesawat tempur Sukhoi milik TNI-AU Komando Sektor (Kosek) II Makassar memaksa sebuah pesawat sipil Australia jenis propeller untuk mendarat darurat di Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado, Rabu (22/10) sekitar pukul 11.00 WITA. Pesawat ini di intercept Sukhoi lantaran tak memiliki izin melintas di wilayah Indonesia. 

"Saat itu radar Kosek mendeteksi ada pesawat dari Australia menuju Philipina tanpa izin melintas di Indonesia. Nah kita langsung terbang sekitar pukul 08.30 WITA dari Makassar dengan perintah menurunkan pesawat itu di Ambon," tutur Mayor (Penerb) Wanda, salah satu pilot Sukhoi yang melakukan pencegatan. 

Mayor Pnb Wanda Surijohansyah, Kapten Pnb Fauzi, Mayor Pnb David Ali, Lettu Pnb Idriz, yang merupakan pilot pesawat tempur Sukhoi TNI-AU Skadron Udara XI Makassar. Mereka lega sekaligus bangga mampu menyelesaikan misi. Mereka sempat terbang sangat dekat dengan pesawat asing itu dan bersyukur karena Pilot Cessna Beech Craft Baron C55, Kapten Jacklin Grame Paul bersedia menyerah dan menurut. 


Wanda Cs pun bergerak dipandu petugas kontrol Manado yang dibantu radar Kosek Makassar. Akhirnya jet tempur Sukhoi berhasil mencegat pesawat kecil dengan 2 orang awak tersebut di jarak sekitar 200 Km sebelah tenggara Manado dan disuruh mendarat di Ambon namun pesawat latih ini menolak. Akhirnya, awak Sukhoi-pun memutuskan untuk memaksa pesawat ini dengan peringatan keras. 

"Saya posisinya intercept sebelah kiri dan teman saya di belakang dengan posisi siap menembak. Saya tanyakan surat resminya lewat radio, ternyata mereka tidak punya," jelas perwira menengah TNI yang masih muda ini. 

Dengan tegas dia menegur pilot pesawat Australia tersebut dengan nada tinggi. "Kamu harus mendarat di Manado!!! Itupun saya tunjukin bahwa saya punya senjata. Saya mendekat, dekat sekali," lanjutnya. "Di udara kami sangat dekat. Bersyukur mereka mau menyerah, kalau tidak bisa saja kami tembak. Kami bawa senjata," ungkap Mayor (Pnb) Wanda Surijohansyah. 

Sukhoi yang memiliki batas jarak bahan bakar, mereka harus pandai memprediksi di koordinat mana pesawat asing tersebut akan diintersep atau dihadang. "Karena jika kami salah jalur, maka kemungkinan peluang mendapatkan lawan kecil. Soalnya pesawat tidak bisa berhenti," ungkap 

Wanda lalu tersenyum saat ditemui Tribun Manado di rumah makan yang tak jauh dari pemeriksaan orang asing yang ditangkap mereka. Kemudian, saat bertemu pesawat asing itu, mereka berkomunikasi dengan awak pesawat asing berjenis Cessna Beech Craft C55, Jacklin dan Mclean. 

Karena, kalau tidak menurut, sesuai prosedur, pesawat asing akan ditembak. Selain itu, Manado merupakan pangkalan udara terakhir yang akan dilintasi mereka. Dua Sukhoi ini pun kawal pesawat kecil tersebut selama 30 menit tiba di Bandara Sam Ratulangi. 

Sebelumnya, Wanda bersama rekan-rekan kesulitan karena kehilangan komunikasi dengan markasnya di Makassar. "Untung saja saat mencoba berkomunikasi dengan pangkalan udara di Manado, cepat ditanggapi," ungkap Wanda penuh bangga. Saat berkomunikasi dengan Jacklin dan Mclean di udara dan menerima perintah untuk turun, suasana pun menjadi cair. Saat landing di bandara, Wanda mengaku merasa seakan berjabat tangan dengan mereka. 

Menurut Fuad, awalnya pesawat asing tersebut menolak mendarat. Namun akhirnya menuruti perintah dan mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado pada pukul 11.29 WITA setelah dipaksa berulang kali oleh pilot Sukhoi. "Mulanya mereka tak mau mendarat dan terus terbang. Namun setelah dipaksa terus menerus akhirnya bersedia turun di Bandara Sam Ratulangi, Manado," lanjut Fuad.   


Melihat pesawat tempur bersenjata canggih tersebut, awak pesawat asing inipun ciut dan memutuskan ikut arahan dan mendarat di Lanud Sam Ratulangi Manado. Saat dipaksa mendarat darurat pun, mereka bersikap cukup kooperatif dan mengikuti arahan Sukhoi. 

"Setelah mendarat, saya melakukan circling di udara untuk memastikan pesawat itu benar-benar berhenti. Itu sudah prosedur kita. Takutnya dia terbang lagi," katanya.



Saat ini, ungkap Fuad, pihak TNI AU tengah melakukan pemeriksaan atas pesawat tersebut. Pesawat diketahui merupakan jenis Beechcraft BE95 dengan nomor registrasi VH-RLS. 

BREAKING NEWS: Pesawat Asing 'Dipaksa' Mendarat di Lanud AURI

Pesawat dinaiki dua personel, Kapten Pilot Jacklin Grrame Paul dan Kopilot Mc Clean Ricard Wyne, keduanya berkebangsaan Australia. "Saat ini pesawat sedang diperiksa, apakah membawa barang-barang berbahaya atau tidak, jika sudah selesai maka kasus ini akan diserahkan kepada pihak berwajib untuk diproses secara hukum," tutup Fuad.

Pnyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Disarikan dari beberapa artikel di link sumber : http://militerindonesiamy.blogspot.com/.