Selasa, 18 November 2014

Mengenal Multazam, Arah Kiblat Sholat Umat Beragama Islam di Indonesia.


Tahukah anda, bagi anda yang beragama Islam anda melakukan Sholat ke arah Multazam-Ka'bah di Mekkah?  Apakah itu Multazam-Ka'bah ? Silahkan membaca artikel berikut :

Apa itu multazam? Multazam adalah satu tempat di sudut Ka’bah, antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Multazam adalah salah satu tempat yang peluang dikabulkannya do’a sangat besar. Dan hampir bisa dipastikan setiap orang yang berthawaf menyempatkan diri untuk berdoa di Multazam ini.

Multazam secara bahasa artinya adalah “tempat yang sangat diperlukan”. Multazam itu sendiri artinya “barang yang menempel atau dipeluk” dan memang kenyataannya demikian, tapi ada juga yang mengartikan multazam dengan “dipastikan”, karena do’a yang disampaikan disana “pasti dikabulkan” asal niatnya baik dan tujuannya benar serta dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Video Sudut Multazam Ka'bah yang makbul.

Multazam sering disebut sebagai maqam ijabah, tempat dikabulkannya doa. Multazam adalah dinding Ka’bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah disebut sebagai Multazam. Menurut Atiq bin Ghaits Al-Biladi dalam Fadhail Makkah wa Hurmat al-Bayt al-Haram, panjang antara pintu Ka’bah dengan hajar aswad sekitar empat hasta. 


Inilah tempat yang paling diburu jamaah haji dan umrah setelah mengerjakan thawaf. Saat sekeliling Ka’bah dipenuhi jamaah, tak mudah untuk mencapai Multazam. Setiap orang berusaha untuk mencapai tempat yang mustajab itu. Jamaah haji dan umrah pun berdoa dengan penuh kekhusyukan. Bersimpuh memohon ampunan dan memanjatkan berbagai harapan kepada Sang Khalik.

Selain bersimpuh dan berdoa di Multazam, jamaah pun berlomba menggapai pintu Ka’bah. Mereka memeluk rumah Allah SWT itu sambil memanjatkan doa. Ada pula yang menangis, bahkan tak sedikit yang histeris. Setiap orang berlomba mencapai Multazam karena Rasulullah SAW pernah bersabda, “Antara rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah terdapat Multazam. Tidak seorang pun hamba Allah SWT yang berdoa di tempat ini, kecuali dikabulkan doanya.” 

Memang bila memungkinkan berdoa di sini sambil menempelkan pipi, dada, lengan dan kedua telapak tangan. Sebagaimana dikisahkan bahwa Abdullah Ibn Amru setelah thawaf lalu shalat dan mencium hajar Aswad. Kemudian ia berdiri di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah menempelkan dada, kedua tangan dan pipinya sambil berkata ,“Seperti ini aku melihat Rasulullah SAW melakukannya” (Sunan Ibnu Majah dalam Al Manasik dengan sanad hasan). 

Saking spesialnya tempat ini, Rasulullah SAW sempat mendekapkan wajah dan dadanya di Multazam sambil memanjatkan doa. Kisah itu tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah. Amru bin Syu’aib menceritakan dari ayahnya, ‘’Aku pernah melakukan thawaf bersama Abdullah bin Amr bin Ash, dan ketika kami sampai ke belakang Ka’bah, aku berkata, ‘Tidakkah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari api neraka?’ Abdullah lalu mengucapkan, ‘Aku berlindung kepada Allah dari api neraka’.‘’Kemudian dia berlalu dan menyentuh hajar aswad, selanjutnya dia berdiri antara hijir Ismail dan pintu, lalu mendekatkan dada, kedua tangan dan pipinya kepada rukun itu, kemudian dia berkata, ‘beginilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya.’’


Menurut Atiq, Multazam juga menjadi tempat yang dipilih Rasulullah SAW untuk menunaikan shalat. Seorang Quraisy pernah mendengar Saib bertanya, ‘’Dimanakah engkau melihat Rasulullah SAW melakukan shalat? Lalu dia menunjuk ke Ka’bah, dekat rukun (sudut) yang sebelah kiri, yang termasuk di dalamnya hijir Ismail, kira-kira empat atau lima hasta.’’

Rasulullah SAW juga pernah memanjatkan doa khusus di Multazam, ''Ya Allah yang memelihara Al Bait al Atieq (Ka'bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api neraka Wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebakan. Ya Allah jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat.''

''Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-mu yang sedang berdiri di bawah rumah-mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan. Ya Allah aku memohon kepada-Mu terimalah zikir-ku (pada-Mu), hilangkanlah dosa-dosaku, lancarkanlah urusanku sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku dan aku mohon pada-Mu berikanlah derajat tinggi di surga.'' (HR Ahmad bin Hanbal atau Imam Hanbali). 

Nabi Adam AS pun pernah memanjatkan doa khusus di Multazam. Menurut Abdullah bin Abi Sulaiman – maula bani Makhzum – ketika Adam diturunkan dia ber-thawaf di Baitullah sebanyak tujuh putaran. Lalu shalat dua rakaat di hadapan pintu Ka’bah.

Lalu, Adam mendatangi Multazam dan berdoa, ‘’Ya Allah engkau mengetahui rahasia dan terang-teranganku, maka terimalah permohonan maafku. Engkau mengetahui apa-apa yang ada dalam jiwaku, maka ampunilah dosa-dosaku. Engkau mengetahui kebutuhanku, maka berikanlah permintaanku…’’ Menurut riwayat itu, Allah SWT mengabulkan doa Nabi Adam AS itu. Berada di Multazam sungguh terasa sangat nikmat. Pesona Multazam bagai magnet yang menarik setiap jamaah yang telah menyelesaikan thawaf untuk mendekatinya.

Menyusur arah Kiblat Sholat dari Indonesia ke arah Multazam dengan Google-Earth










Kini berdoa di Multazam dengan cara seperti itu bukanlah hal yang mudah. Jumlah jamaah yang sangat besar dengan tingkat kepadatan yang tinggi, menyebabkan kesulitan dan kemudharatan yang tinggi pula. Karenanya cukuplah jamaah berdoa pada arah Multazam saja. Berdoa dapat sambil duduk maupun berdiri. Dengan menunduk, memandang, atau mengangkat tangan. 

Lagi pula perlu kita ketahui, bahwa makbul doa itu bukan semata-mata ditentukan oleh faktor tempat, melainkan lebih kepada keadaan hati masing-masing. Ketenangan, keyakinan, kebutuhan yang sangat, serta kerendahan hati sangat mempengaruhi kontak batin dan kabulnya doa. Memang yang terbaik adalah tempatnya mustajab, hatinya juga khusyuk. 

Namun jika tidak, kita pun yakin bahwa Allah itu Maha Melihat dan Maha Mendengar. Melihat dan mendengar doa. Di sudut mana pun kita berada. 

Sumber : 
  1. http://umrohmalang.com/multazam-kabah/
  2. http://www.kaskus.co.id/thread/53a40928becb1733578b462a/pic-arah-kiblat-dari-indonesia-itu-ternyata-tepat-ke-arah-multazam-kabah-di-mekkah
  3. http://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/konsultasi-haji/13/10/03/mu3gak-benarkah-berdoa-di-multazam-itu-mustajab
  4. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/09/27/mb0jg1-subhanallah-inilah-pesona-multazam