Kamis, 20 Oktober 2016

Situs Candi Kajangkoso dan Situs Gendungan, Lebih Besar dan Lebih Tua dari Candi Borobudur?

Kerajaan Purba di Lereng Gunung Merapi Setua Kerajaan Mataram Kuno

Berbagai peninggalan purba terus ditemukan di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Baru-baru ini ditemukan bebatuan berbagai bentuk, mulai lumpang kuno, komboran (tempat minum kuda), hingga tumpukan batu yang membentuk seperti kolam.

Temuan situs Tamansari di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu seperti membuka misteri peradaban purba di kaki Gunung Merapi. Secara geografis, aspek keruangan lokasi temuan berada di lereng barat Gunung Merapi dalam jarak sekitar 10,5 Km. Lerang barat Gunung Merapi hingga saat ini termasuk area yang kandungan data arkeologinya tergolong sedikit, terutama jika dibandingkan dengan lereng selatan dan lereng timur.


Secara akademis lereng barat Gunung Merapi sebenarnya merupakan area potensial sebagai lokasi permukiman dan pertumbuhan peradaban Mataram Kuno sekitar abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi. Minimnya data arkeologi di lereng barat diduga karena area ini tertimbun material vulkanis hasil letusan Gunung Merapi yang memang aktif dan terus menerus menimbun bagian lereng beserta buah peradaban Mataram Kuno sejak abad ke-10 Masehi.

Di lereng barat, data arkeologi yang sudah dikenal adalah spot Sengi, yang terdiri atas Candi Asu, Candi Pendem, dan Candi Lumbung. Keberadaan spot Sengi di utara lokasi temuan dalam jarak sekitar 4 Km menunjukkan adanya konteks peradaban Mataram Kuno yang ada di lereng barat Merapi. Hal ini membawa ke pemikiran bahwa buah peradaban Mataram Kuno di lereng barat juga tinggi, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat akan ditemukan jejak-jejaknya yang lain.


Mengenal Situs Kajangkoso.

Temuan itu kembali mengingatkan pada situs yang pernah menjadi perbincangan ramai pada 2001, yakni Situs Kajangkoso. Situs ini bisa dilihat di ruas jalan menuju ke arah pos pengamatan Gunung Merapi Babadan. Situs ini ditemukan oleh petani saat membuat saluran irigasi. 

Situs Kajangkoso berada di Desa Kajangkoso, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Penampakan yang terlihat berupa struktur batu yang tertata sebagaimana sebuah candi. Saat ditemukan dan hingga kini, situs Kajangkoso memang sangat minim kelengkapan komponen bangunan candi. 

Dengan penemuan-penemuan tersebut, diyakini kawasan tersebut pernah menjadi pusat peradaban purba. Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah Tri Hartono memprediksi, temuan oleh Sumarlan di tanahnya itu diduga merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke 8-9.

"Perkiraan kami peninggalan masa klasik abad 8-9. Itu setara dengan masa kerajaan Mataram Kuno. Itu jika dilihat dari batu-batu yang ada," kata Tri Hartono di Semarang, Jateng, Rabu (18/5/2016).

"Lokasi itu merupakan lembah memanjang, dengan luasan sekitar 1 hektare. Di situ ada sumber mata air, ada banyak kolam yang sejauh ini sudah dimiliki oleh perorangan," sambung dia.

"Di saluran air itu ditemukan struktur batu. Bahkan kalau airnya sedang tidak deras, terlihat kasat mata," kata seorang ibu, warga Kajangkoso, Minggu (22/5/2016).

Kondisi situs ini sampai sekarang tidak berubah. Ketika ditemukan warga melalui desa sudah melapor ke Balai Pelestarian Cagar Budaya. Namun demikian, tidak dilanjutkan untuk ekskavasi. 

"Karena besarnya diperkirakan lebih besar dari Candi Borobudur, warga kan kemudian khawatir kalau disuruh bedhol desa," kata ibu tadi.

Harus diakui, memang sangat sulit mencari kebenaran tentang ukuran situs. Arkeolog UGM Joko Dwiyanto menyebutkan sejauh ini pihaknya belum pernah mendengar keberadaan situs itu. Namun Joko meyakinkan bahwa keberadaan sebuah situs selalu berhubungan dengan sebuah prasasti.

"Yang jelas kami belum pernah meneliti tentang Kajangkoso. Apakah benar lebih besar dari Borobudur, saya pikir perlu penelitian lebih jauh," kata Joko Dwianto.

Menurut Joko, situs Kajangkoso bisa jadi sebuah prasasti. Atau bahkan ada sebuah prasasti yang bisa menjelaskan hal itu.

"Melalui prasasti kita bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan sebuah situs," kata Joko.


Situs Gendungan, harta sejarah yang terpendam.








Kondisi situs saat ini masih terpendam. Mulai dari terpendam areal persawahan, irigasi, bangunan rumah, bahkan juga jalan raya. Struktur batu yang tertata itu tidak seluruhnya bisa dilihat. Yang terlihat di situs ini hanya sebuah padu sudut candi, yang berada di sebuah irigasi, yang jika air dari puncak cukup deras, batu candi ini akan sangat sulit terlihat oleh mata. 

Sesungguhnya penemuan situs ini sempat dilaporkan ke yang berwenang. Kemudian dari hasil pantauan awal disimpulkan bahwa kemungkinan struktur batu yg berada di saluran irigasi tersebut diperkirakan adalah sudut candi.

"Dulu pernah juga ditemukan arca sapi," kata seorang ibu warga Kajangkoso.


Keberadaan Candi Kajangkoso memang mempertegas adanya peradaban purba yang terkubur erupsi Gunung Merapi. Seperti disebutkan arkeolog Djoko Dwiyanto, bahwa di sekeliling Gunung Merapi dan Merbabu memang bertebaran peninggalan-peninggalan masa lalu.

"Jumlahnya memang banyak. Kalaupun sekarang banyak yang terkubur, itu karena erupsi Gunung Merapi," kata Djoko Dwianto.

Ada juga analisis yang menyebutkan bahwa Kecamatan Dukun sejatinya adalah pusat peradaban purba sebelum Borobudur yang dibangun pada abad ketujuh. Analisis itu menempatkan Candi Kajangkoso sebagai pusat seperti Borobudur, dengan candi-candi lain seperti Candi Asu, Candi Jago, dan Candi Pendem berfungsi sebagai penyangga. Seperti fungsi Candi Pawon dan Candi Mendut di Borobudur.

Sejauh ini candi tersebut memang belum bisa dipastikan tergolong Candi Hindu atau Budha. Namun petunjuk awal ditemukannya arca Nandi menunjukkan bahwa candi ini adalah candi Hindu. 

Peminat sejarah dan peradaban purba asal Muntilan, Agus Sutijanto, menyebutkan bahwa ada juga kemungkinan bahwa Candi Kajangkoso ini mungkin memiliki lay out seperti Candi Prambanan. 

"Jika itu candi Hindhu, bisa jadi seperti Prambanan. Setelah terkubur seperti Kota Pompei, baru dipindahkan ke Prambanan," kata Agus.


Rekonstruksi.


Sebelum ditemukan dan digali, lokasi tersebut sejak dulu dikenal sebagai Tamansari atau tempat pemandian para raja. Tri memperkirakan, ada sebuah kerajaan yang terletak di atas atau arah selatan dari lokasi penemuan tersebut.

Saat ini BPCB masih terus menelusuri dengan metode studi pustaka terkait benda-benda purbakala yang ditemukan di lereng Gunung Merapi itu.

Sebenarnya temuan ini bisa mendorong Pemerintahan Desa Kalibening untuk merevitalisasi cagar budaya itu. Hanya saja ada sejumlah warga yang sudah membongkar sendiri benda-benda itu dari lokasi semula tanpa pendataan terlebih dahulu.

Hal ini dinilai cukup menyulitkan tim BPCP untuk merekonstruksinya kembali.

"Rekonstruksi itu penting sebagai upaya penelusuran dan mengetahui sejarah benda-benda itu. Saya sudah ingatkan untuk jangan membongkar dulu sebelum didata," tutur Tri.

Dalam waktu dekat, jajarannya akan kembali meninjau ke lokasi penemuan untuk menggali kemungkinan ditemukan benda-benda cagar budaya lagi. Sedangkan sejumlah benda-benda kuno yang sudah ditemukan di kaki Merapi telah diamankan dan dibatasi garis polisi.


Situs Pemandian Raja.


Selain temuan situs pemandian raja-raja di Gendungan, Kalibening, Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang juga memiliki sejumlah jejak peradaban purba lain. Mulai dari keberadaan Candi Asu dan Candi Pendem di Dusun Sengi hingga Candi Kajangkoso di Kajangkoso.

Situs Gendungan berlokasi di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara astronomis terletak pada 70 33’ 16,87” LS – 110 20’ 56,55’’ BT. Secara geografis lokasi ini berada di lereng barat Gunung Merapi dan berjarak sekitar 10,5 Km dari puncak.

Benda-benda purbakala yang ditemukan warga di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, diduga merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke 8-9.

"Perkiraan peninggalan masa klasik abad 8-9 atau masa kerajaan Mataram Kuno kalau dilihat dari batu-batu yang ada," kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Tri Hartono, dihubungi, Selasa (17/5/2016) sore.


Tri menjelaskan, setelah menerima laporan masyarakat terkait penemuan itu, pihaknya langsung meninja ke lokasi yang dimaksud. Di lokasi itu, ditemukan benda-benda kuno yang terbuat dari batu seperti lumpang, komboran (tempat makan kuda), dan bebatuan membentuk struktur kolam air.

"Lokasi itu merupakan lembah memanjang, dengan luasan sekitar 1 hektar. Di situ ada sumber mata air, ada banyak kolam yang sejauh ini sudah dimiliki oleh perorangan," ujar Tri.

Atas penemuan itu, ujar Tri, aparat desa setempat berkeinginan untuk membangkitkan atau menggali potensi desa berupa cagar budaya itu.

Namun Tri menyayangkan sejumlah warga yang sudah membongkar sendiri benda-benda itu dari lokasi semula tanpa pendataan terlebih dahulu. Hal ini dinilai cukup menyulitkan tim BPCP untuk merekonstruksinya kembali.

"Rekonstruksi itu penting sebagai upaya penelusuran dan mengetahui sejarah benda-benda itu. Saya sudah ingatkan untuk jangan membongkar dulu sebelum didata," kata Tri.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan kembali meninjau ke lokasi penemuan untuk menggali kemungkinan ditemukan benda-benda cagar budaya lagi.

Sementara sejumlah benda-benda kuno yang sudah ditemukan telah diamankan dan dibatasi garis polisi.

Di Situs Gendungan ditemukan bebatuan itu berwujud mirip bangunan candi, permukiman, dan kandang kuda. Di lokasi temuan masih dijumpai sebuah kolam yang berisi beberapa komponen struktur batu yang sudah terangkat dan dikumpulkan di lahan sebelahnya dengan diberi pengaman tali pembatas. Pada kolam tersebut masih tampak beberapa batupersegi panjang polos yang belum diangkat. Beberapa komponen batu yang telah diangkat berupa batu luar, batu kulit, dan batu isian.

Dari informasi yang dihimpun, situs itu ditemukan kali pertama oleh Sumarlan Sastra Sudarmo (74), warga setempat, saat sedang mencangkul di sawah.

Tanpa disengaja, cangkulnya mengenai benda keras mirip batu. Sumarlan tidak menduga sebelumnya bahwa benda itu adalah benda-benda bersejarah.

"Saat itu, saya sedang mencangkul di sawah tiba-tiba kena batu. Saya kira batu biasa, tetapi setelah saya gali untuk disingkirkan, ternyata bentuknya aneh, mirip lumpang," kata dia, Selasa (17/5/2016).

Sumarlan kemudian memberitahukan penemuan itu kepada Kepala Desa Kalibening Nurbiyanto lalu diteruskan kepada aparat terkait.

Menurut Sumarlan, benda-benda serupa juga pernah ditemukan warga beberapa tahun silam. Lokasi tersebut, katanya, memang dikenal warga sebagai Tamansari.
"Tetapi, dulu benda-benda itu dibiarkan saja oleh warga. Ada yang tertimbun lagi, ada juga yang hanyut karena warga saat itu tidak tahu kalau itu benda bersejarah," kata dia.

Kepala Desa Kalibening Nurbiyanto mengatakan, setelah penemuan itu, pihaknya kemudian mengerahkan warga dan perangkat desa untuk melakukan penggalian di parit dan persawahan sekitar lokasi.

Ternyata, mereka menemukan banyak benda kuno di lokasi tersebut, antara lain lumpang bulat panjang, lumpang bulat, yoni, gandik, relief kosong, dan beberapa patung.

"Kami sudah melaporkan hal ini ke Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang untuk ditindaklanjuti. Untuk sementara, benda-benda ini kami amankan," ujar Nurbiyanto.


Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno?



Berdasarkan hasil identifikasi artefaktual berupa batu-batu yang ditemukan warga di Dusun Gendungan, Desa Kalibening ini diyakini merupakan komponen dari struktur bangunan candi. Bagian bangunan yang dapat dikenali antara lain bagian atas pagar dan struktur kaki. Berdasarkan pengamatan bentuk komponen batu diperkirakan bangunan candi ini berasal dari abad IX atau X Masehi. Hal ini didukung dengan analogi dengan spot Sengi (terdiri atas Candi Asu, Candi Pendem, dan Candi Lumbung), yang berada sekitar 4 Km arah utara dari temuan ini. Abad IX-X Masehi di Jawa Tengah adalah masa kejayaan kerajaan Mataram Kuno, sehingga temuan ini terkait dengan keberadaan kerajaan Mataram Kuno.

Selain komponen batu tersebut juga dijumpai komponen batu menara berbentuk persegi, 3 (tiga) buah batu lumpang, dan beberapa batu persegi di tepi kolam ikan. Kesimpulan hasil peninjauan yaitu bahwa temuan pertama merupakan bagian dari struktur pagar dan tidak ditemukan bangunan yang dipagari tersebut, temuan kedua kemungkinan merupakan bengkel/ tempat pembuatan miniatur candi, lokasi temuan pertama dan kedua tidak mempunyai korelasi.

Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Hrb. Binawan menduga temuan lumpang, gandik, yoni, relief kosong dan patung di Dusun Gendungan, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah oleh seorang petani baru-baru ini terkait dengan keberadaan sebuah kerajaan besar di abad ke-8 atau kurang lebih tahun 717 M yang bernama Medhang Metriam atau Medhang Metriam Poh I Pitu yang berpusat di desa Adireja sebelah timur Gunung Buthak, kini wilayah Kabupaten Temanggung.

Peneliti yang kini menjadi Dosen di Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) ini menuturkan, menurut catatan Brandes, JLA. 1913 'Oud-Javaasche Oorkonde, nagelaten transcripties van wiljen Dr.J.L.S. Brandes, uitgegeven door N.J.Krom. VBG LX, Medhang berarti mandiri atau merdeka. Metriam berarti ibu atau induk.

"Medhang Metriam sejatinya kerajaan yang merdeka yang juga adalah induk dari kerajaan Medhang Galuh, Medhang Pakuwon dan Medhang Metriam itu sendiri. Poh I Pitu menandakan keberadaan pohon Poh atau Kepoh yang berjumlah tujuh di dekat tujuh pohon Kepoh itulah Keraton atau Kedaton Medhang Metriam berdiri," tegasnya.

Ia menambahkan Medhang Metriam didirikan oleh Sanjaya atau Hang Sanjaya yang berdarah campuran. Ibunya bernama Sanaha, wangsa Chandra yang berbadan tidak terlalu besar, berkulit putih dan bermata sipit, Sedangkan ayahnya bernama Saladu, wangsa Surya yang berperawakan tinggi besar dan berkulit kemerahan, keturunan India.

Alumni Pascasarjana Pendidikan Bidang Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini menambahkan Sanjaya menjadi ratu atau datu dari sebuah kerajaan yang sangat heterogen budaya, bahasa, agama dan suku-suku bangsanya. Kemajemukan ini menjadi sebuah simbol kerukunan dan persatuan yang indah, namun di sisi lain pluralitas juga membawa potensi ancaman bagi eksistensi kekuasaan Sanjaya.

Sanjaya menghadapi pemberontakan hebat dari para kesatria keturunan India yang menamakan diri mereka Syailendra. Akibatnya, Sanjaya kalah dan harus bergeser ke wilayah timur di sekitar Prambanan atau Prambwana. Lalu dinasti Syailendra otomatis memegang kekuasaan di wilayah barat meliputi Magelang, Yogyakarta, Purworejo, Wonosobo, Kebumen dan sebagainya. Kedua wangsa tersebut, baik yang di timur maupun barat, lambat-laun bercampur, sehingga sampai saat ini tidak ada lagi yang benar-benar murni.

Saat memerintah, Sanjaya banyak dipengaruhi oleh falsafah dan budaya wangsa Chandra. Maka Sanjaya membangun keraton/kedaton dari rumah kayu beratap ijuk dan tidak membangun candi melainkan pagoda kayu. Wangsa Chandra memiliki kebiasaan melarung abu raja/bangsawan ke sungai atau laut. Sementara raja-raja dinasti Syailendra kental dipengaruhi budaya wangsa Surya. Mereka membangun keraton secara permanen dari batu dan membangun candi-candi termasuk prasasti-prasati dalam bentuk ukiran batu. Abu raja/bangsawan disimpan di candi-candi. Di sekitar candi, mereka biasanya membangun tempat pemandian bagi para peziarah sebagai bagian dari ritual pencucian diri.

"Mencermati penemuan pekan lalu maka dugaan sementara benda-benda tersebut berasal dari Medhang Metriam masa kekuasaan Dinasti Syailendra, yang mana pada masa itu kerajinan batu gencar digalakkan. Raja-raja Dinasti Syailendra mendirikan candi-candi," terangnya.

Ia menambahkan pada waktu itu mereka menyimpan abu raja atau bangsawan di candi tersebut. Nah, di dekat candi juga biasa ditemukan tempat pemandian sebagai bagian dari sarana ritual keagamaan. Sementara itu, kandang kuda mengindikasikan sarana transportasi yang digunakan sekaligus level ekonomi para peziarahnya. Secara kebetulan, penemuan tersebut di wilayah Tamansari, Desa Kalibening, tempat pemandian bangsawan yang bening kalinya.


Mirip Candi Prambanan.

Situs-situs tersebut memiliki tipikal yang mirip, yakni bentuk candi tunggal dengan candi pengapit. Tipikal itu sangat berbeda dengan Candi Prambanan di Klaten, Jawa Tengah yang merupakan kompleks percandian.

Peminat sejarah kebudayaan dari Muntilan Agus Sutijanto menyebutkan, jika dirunut, ada semacam jalur purba yang menghubungkan candi-candi ini. Di sepanjang jalur purba tersebut, dimungkinkan terdapat jejak-jejak peradaban kuno.

"Ini membuktikan bahwa sejak dulu, meskipun Merapi itu aktif, namun sangat ramah dengan masyarakat," tutur Agus.

Menurut dia, jejak candi-candi di wilayah Muntilan, Dukun, dan Salam sangat berkait erat dengan rangkaian candi dari Pegunungan Dieng yang berpuncak dan berpusat di Candi Borobudur.

Penyusun  : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber :
  • http://arkeologijawa.kemdikbud.go.id/2016/08/03/hello-world/, 3 Agustus 2016.
  • http://regional.liputan6.com/read/2513024/situs-terpendam-candi-kajangkoso-lebih-besar-dari-borobudur
  • http://www.paseban.org/2016/05/kerajaan-purba-di-lereng-gunung-merapi-setua-kerajaan-mataram-kuno.html
  • http://tarabuwana.blogspot.co.id/2010/09/situs-kajangkoso.html
  • http://www.jaringnews.com/seleb/hangout/77080/Peneliti-MCI-Situs-di-Lereng-Gunung-Merapi-Diduga-dari-Medhang-Metriam
  • http://regional.kompas.com/read/2016/05/17/11000001/Situs.Diduga.Peninggalan.Kerajaan.Mataram.Kuno.Ditemukan.di.Lereng.Merapi
  • http://www.kabarmagelang.com/2016/05/situs-taman-sari-mataram-kuno-ditemukan.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...