Kamis, 14 Februari 2013

Bagaimana Cara Melacak Jejak Asteroid Dekat Bumi ( Itu ?



Jumat (15/02/2013) mendatang (tanggal 16/02/2013 waktu Indonesia) , asteroid seukuran Gedung Putih akan melintas pada jarak hanya 27.700 km dari Bumi. Dalam skala astronomi, pada jarak ini asteroid bisa diibaratkan hampir mencium Bumi. 

Asteroid telah diketahui bisa dilihat dari Bumi dengan Indonesia sebagai lokasi terbaik untuk melihatnya. Satu hal yang perlu dipertanyakan, bagaimana bisa astronom mengetahui jalur sebuah asteroid dan memprediksi kapan asteroid melintasi dekat Bumi. 

Dalam kasus asteroid 2012 DA14, peneliti La Sagra Observatory Spanyol, yang telah menemukannya pada Februari 2012. Apabila astronom berhasil mengidentifikasi sebuah objek, maka jejaknya dapat diikuti.

Mark Boslough, fisikawan di Sandia National Laboratories, New Mexico, yang meneliti dampak asteroid, mengatakan, pola lintasan dari objek luar angkasa sangat mudah diprediksi

“Apabila Anda mengetahui lokasi dan kecepatan suatu benda, maka Anda dapat memprediksi dimana benda tersebut akan berada pada suatu waktu tertentu di masa yang akan datang, asalkan anda tidak keluar terlalu jauh,” ujar Boslough seperti dikutip Livescience, Selasa (13/2/2013).



2012 DA14 mengelilingi matahari setiap 368 hari, dan telah melintas dekat Bumi setiap tahunnya. Asteroid ini ditemukan kala melintas di dekat Bumi tahun lalu dan secara kebetulan teramati oleh teleskop.


Obyek-Obyek asteroid yang berpeluang menghantam Bumi

Saat sebuah asteroid melintas di dekat Bumi, astronom akan menelitinya. Hal ini juga akan dilakukan pada 2012 DA14. Ketika asteroid berada cukup dekat, para peneliti dapat mengarahkan radar pada batuan luar angkasa tersebut untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik. 

Ahli objek deka Bumi Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Don Yeomans, mengatakan, perlengkapan di Arecibo Observatory di Puerto Rico dan Goldstone Deep Space Communication Complex di California akan melakukan pengukuran.

“Radar-radar akan diarahkan pada objek ini bukan pada jarak yang terdekat, dikarenakan objek tersebut tidak berada pada sisi bumi yang tepat. Meskipun demikian mereka akan mengamatinya beberapa jam kemudian,” ujar Yeomans dalam sebuah wawancara video.


“Jika kita bisa mendapatkan radar pada mereka (asteroid), kita dapat menangkap orbitnya untuk beberapa ratus tahun yang akan datang,” tambahnya.

Pengukuran dengan radar juga akan mengklarifikasi ukuran dari asteroid tersebut. Untuk 2012 DA14, estimasi saat ini menetapkan ukuran diameternya kira-kira sebesar 45 meter. Sebagai referensi, itu setara dengan sebuah batu sebesar Gedung Putih.

Akan tetapi perhitungan ukuran tersebut didasarkan pada kecemerlangan objek sebagaimana yang terlihat pada teleskop optik, dimana hasilnya mungkin dapat menipu. 

Asteroid berwarna gelap merefleksikan lebih sedikit cahaya dibandingkan yang berwarna lebih cerah, sehingga mungkin saja bahwa 2012 DA14 lebih gelap dan lebih besar dari yang diperkirakan, atau lebih terang dan lebih kecil.

“Hal tersebut sungguh merupakan sebuah ketidakpastian yang besar,” kata Boslough.

Beruntungnya, 2012 DA14 tidak mengancam Bumi, akan tetapi ketidakpastian dapat berupa sesuatu yang turut memperhitungkan seandainya ada sebuah objek dekat-Bumi yang memberikan dampak. 

Peneliti mungkin dapat memprediksi dimana lokasi benturan dengan objek akan terjadi, namun mereka mungkin tidak akan tahu secara tepat seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkan tanpa mengetahui ukurannya.

“Akankah kita mengevakuasi suatu daerah dengan berasumsi bahwa benda itu berdiameter 150 kaki, yang mana hal itu merupakan estimasi yang terbaik, atau maukah kita keliru pada penentuan tingkat kewaspadaan dan berkata, ‘apa kasus terburuknya?’” ucap Boslough. 

“Seandainya kami melakukan kesalahan, kami ingin membuat kesalahan dalam rangka kehati-hatian,” katanya. 

Penulis : Fifi Dwi Pratiwi
Editor :yunan
Sumber :LiveScience, dikutip dari : http://sains.kompas.com/, Rabu, 13 Februari 2013, 17:14 WIB