Jumat, 08 Februari 2013

Tinjauan Ilmiah Krionika (Pembekuan Manusia)

 http://www.abe.pl/cv/blarge/2/4/3/9780387333243.jpeg
Ilmu itu disebut kriogenika, yaitu ilmu yang mempelajari tentang apa yang terjadi pada materi pada suhu yang sangat rendah. Krionika yaitu tehnik yang digunakan untuk mengawetkan tubuh manusia pada suhu yang sangat rendah dengan harapan suatu hari dapat dibangkitkan kembali, sedang dikembangkan saat ini.

Gagasan  di balik kronia adalah jika seseorang “mati” akibat penyakit yang dideritanya, ia dapat dibekukan untuk kemudian dibangkitkan kembali di masa depan saat teknologi pengobatan sudah dapat menyembuhkan penyakitnya itu. Seseorang yang diawetkan sedemikian rupa dikatakan berada dalam keadaan suspense krionika.

http://www.smh.com.au/ffximage/2006/01/20/2001_frozenbody.jpg

Untuk memahami mengenai krionika, ingat kembali cerita dimana orang jatuh ke dalam sebuah danau es dan terendam selama hampir 1 jam sebelum akhirnya diselamatkan. Mereka yang selamat dapat bertahan hidup sedemikian rupa karena air es menyebabkan raga mereka dalam keadaan semacam “mati suri” dengan memperlambat metabolisme tubuh dan fungsi otak mereka hingga pada titik dimana mereka hampir tak membutuhkan oksigen.

 http://4.bp.blogspot.com/-t1_SlhAii84/TxapzvA12mI/AAAAAAAAAMA/zyoXMvFYzZs/s1600/cryochamber.jpg

Krionika bukanlah sekedar menghidupkan kembali seseorang setelah ia jatuh ke dalam danau es. Melakukan suspensi krionika kepada orang yang masih hidup adalah illegal. Orang yang ingin menjalani suspense krionika harus terlebih dahulu dinyatakan mati secara hukum yakni, jantungnya sudah berhenti berdetak. Namun jika ia sudah mati, bagaimana mereka dapat dihidupkan kembali? Menurutnya para Ilmuwan yang mempraktikkan krionika, “mati secara hukum” tidak sama dengan “mati total”. Mati total menurut mereka adalah keadaan dimana seluruh fungsi otak berhenti. Mati secara hukum terjadi saat jantung berhenti berdetak, namun beberapa fungsi sel otak tetap bekerja, sehingga secara teoritis, orang dapat dibangkitakan kembali di masa depan.

http://www.onkocet.onkocet.eu/userfiles/image/cryo_photo4.jpg

 

A. Krionika (Pembekuan Manusia) dalam Ilmu Fisika

Pada hukum Termodinamika II, membatasi perubahan energy mana yang dapat berlangsung dan perubahan energy mana yang tidak dapat berlangsung. Pembatasan ini dapat dinyatakan dengan berbagai cara yaitu:
  1. Rudolf Clausius (1822-1888) menyatakan rumusan Claussius tentang Hukum Termodinamika I dengan pernyataan aliran kalor: “Kalor mengalir secara spontan dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah dan tidak mengalir secara spontan dalam arah kebalikannya”.
  2. Hukum II Termodinamika dinyatakan dalam entropi:  “Total entropi jagat raya tidak berubah ketika proses reversible terjadi dan bertambah ketika proses ireversibel terjadi”.
  3. Kelvin dan Planck menyatakan rumusan yang setara sehingga dikenal rumusan Kelvin-Planck tentang Hukum Termodinamika II tentang mesin kalor.
“Tidak mungkin membuat suatu mesin kalor yang bekerja dalam suatu siklus yang semata menyerap kalor dari sebuah reservoir dan mengubah seluruhnya menjadi usaha luar”.

Hukum kedua termodinamika lahir ketika manusia mencoba memanfaatkan seluruh energi yang disuplaikan ke dalam mesin agar bisa menghasilkan energi yang setara antara yang masuk dengan keluarannya.

Era industri, pada abad ke-18, merupakan awal mula pemikiran tentang efesiensi kerja tersebut. Mesin-mesin yang diciptakan pada abad tersebut telah mengantarkan pada permasalahan baru yakni mesin yang bekerja secara siklik, artinya, akan kembali kekeadaan awal di mana setiap gerakan akan terjadi proses yang benar-benar tak reversibel. Hal ini dikarenakan uap yang didinginkan dan dibuang dari silinder pada akhir gerakan. Intinya, mesin mengambil energi panas dari sumber panas, menggunakan sebagain energi ini untuk menghasilakn kerja yang berguna, kemudian membuang sisanya melalui sumber yang lebih dingin (lingkungan). Energi yang hilang tadi tidak dapat diambil kembali oleh mesin.

Sadi Carnot, seorang perwira di korps insyiur angkatan darat Prancis di zaman Napoleon, mencoba meningkatkan efisiensi kerja mesin, membuat model fungsi kerja dengan sebuah proses kerja siklik yang diidealiasasi dan sekarang dikenal dengan siklus karnot.

http://dspace.mit.edu/bitstream/handle/1721.1/41884/5-60Spring-2005/NR/rdonlyres/Global/E/E1DE621D-F2EC-4567-B175-5F215BC361A8/0/chp_carnot.jpg

Dia menyimpulkan bahwa kerugian energi yang dapat diambil tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, walaupun mesin tersebut dirancang dengan sangat baik. Bahkan sekalipun mesin tersebut bekerja dalam reversibel (yang perpindahan beban luarnya terlalu lambat untuk kebutuhan praktis), efesiensinya tidak dapat melampui batas dasar yang dikenal sebagai efesiensi termodinamik. Dengan demikian dapat dikatakan tidak ada mesin yang seratus persen efisien.

Pernyataan di atas seharusnya jangan hanya ditarik dalam ranah mesin semata karena bagaimanapun juga hukum-hukum dibidang sains mempunyai korelasi dengan ranah yang lain termasuk perilaku manusiapada era globalisasi sekarang ini dalam menciptakan mesin untuk krionika (pembekuan manusia).

Kalor dapat dipaksa mengalir dari benda dingin ke benda panas dengan melakukan usaha pada suatu system. Peralatan yang bekerja dengan cara seperti ini disebut mesin pendingin contohnya kulkas dan alat yang digunakan krikonia.

a.   T1   > T2
b.  Q 2 = kalor yang diserap dari temperature rendah
c.   Q 1  = kalor yang diberikan pada temperature tinggi
d.    W =  Q 1 -  Q 2 =  kerja atau usaha yang diperlukan
Ukuran penampilan sebuah mesin pendingin dinyatakan dengan koefisien daya guna (koefisien performansi) yang diberi dengan lambang

Semakin tinggi nilai  maka semakin baik mesin pendingin. Maka, untuk membuat alat yang digunakan dalam krikonia maka dibutuhkan nilai  koefisien daya guna yang semakin besar.

Dengan menghubungkan Hukum Termodinamika II maka para ilmuwan dapat menciptakan suatu alat untuk kegiatan krionika dimana tubuh orang tersebut akan dibungkus dalam es dan diinjeksikan heparin (sejenis antikoagulan), untuk mencegah koagulasi dalam perjalanan menuju fasilitas krionika. Setelah berada di fasilitas kriogenika, tim krionika membuang air dari sel tubuh orang tersebut dan menggantinya dengan campuran kimiawi berbasis gliserol yang disebut krioprotektan, tujuannya untuk mencegah organ dan jaringan tubuh membentuk kristal es pada suhu yang sangat rendah.

http://i.wp.pl/a/f/jpeg/24872/mozdzek640.jpeg

Proses yang disebut vitrifikasi (pendinginan tanpa pembekuan) ini menyebabkan sel tubuh dalam keadaan mati suri. Kemudian tubuh orang tersebut didinginkan pada gumpalan es kering hingga mencapai suhu -130°C (-202°F) dan selesai proses vitrifikasi. Kemudian diletakkan ke dalam tangki logam yang besar berisi nitogen cair pada suhu sekitar -196°C (-320°F). Tubuh disimpan dengan posisi kepala di bawah ,antisipasi jika terjadi kebocoran tangki,otaknya masih terendam dalam nitrogen cair. Krionika ini biayanya sangat mahal sekali.

Selain dalam Hukum Termodinamika, dapat juga diadakan percobaan yaitu pada mayat manusia dalam air dapat terapung karena massa jenis mayat manusia lebih kecil daripada massa jenis air sehingga hanya sebagian volume pada mayat manusia yang tercelup dalam air  sehingga volume air yang dipindahkan lebih kecil dari volume total pada mayat manusia.


B.   Krionika (Pembekuan Manusia) dalam Ilmu Agama

Menjaga keseimbangan antara jasmani dan rohani tak ubahnya sebuah sistem dalam materi kimia sehingga keberadaanya bisa dikenakan hukum termodinamika. Hukum termodinamika dalam konteks ini lebih mengacu ke masalah keadaan manusia yang wujud eksistensinya terdiri dari ruh dan materi.

http://humananatomyandphysiologyhq.com/wp-content/uploads/2011/07/Human-Anatomy-Pictures.jpg

Komposisi yang membentuk adanya "manusia' ini bila tak mendapat perhatian bisa menyebabkan ketidakstabilan "diri". Dari ketidaksetimbangan inilah yang memunculkan kekacuan manusia yang berefek pada kehidupan sosialnya.

Meskipun manusia adalah makhluk yang diciptakan sebagai makhluk yang sempurna tetapi perlu dketahui bahwa bahan dasar manusia adalah tanah. Manusia merupakan mahluk yang berada di tengah-tengah tingkatan (derajat) makhluk Allah yaitu derajat malaikat dan binatang. Keberadaan ini memungkinkan manusia bisa tergelincir ke dalam tingkatan-tingkatan tersebut.

Bila manusia bisa menjaga perilaku atau energi yang Allah berikan niscaya manusia akan mencapai derajat 'malaikat" atau "ahsanu taqwim". Akan tetapi jika sebaliknya manusia tak mampu mengendalikan energi tersebut berarti manusia mengurangi nilai hakikat dirinya. Ini berarti hanya meningkatkan nilai entropi kaadaannya. Hakikat dirinya sebagai makhluk "linuwih" nya Allah mengalami distorsi menuju derajat binatang atau yang lebih rendah lagi.

Dengan mamahami keadaan manusia, maka kita juga diharapkan bisa memahami mengapa harus ada agama, nabi yang diutus?

Allah menyebutkan dalam firman-Nya bahwa rosul yang diutus-Nya tak lain berfungsi sebagai kontrol perilaku manusia agar tetap dalam di jalan lurus. Sedangkan "Noe" Sabrang, anak Cak Nun, mengatakan dengan bahasa yang berbeda: kitab suci diturunkan tak lain karena tingkat kengeyelan manusia sudah melampui batas wajar, layak perdebatan filasat yang diawali era Thales sampai era filasafat modern, yang terus mengusik antara akal, agama, sains dan hal lain, yang ujung-ujungnya tak mencapi titik sepakat bahkan terkesan saling meniadakan antara kebenaran akal dan agama, roh dan materi.

Hal yang lebih menarik adalah bahwa kiamat  didukung oleh Hukum II Termodinamika, atau yang juga dikenal sebagai Hukum Entropi. Dalam Stephen Hawking, salah seorang Fisikawan kenamaan mengatakan
…if your theory disagrees with the Second Law of Thermodynamics, it is in bad trouble. In fact, the theory that the universe has existed forever is in serious difficulty with the Second Law of Thermodynamics. The Second Law, states that disorder always increases with time.

Dalam sebuah tulisan yang berjudul “Ilmu Termodinamika Menyanggah Evolusi“, Harun Yahya menuliskan, Hukum II Termodinamika, yang dianggap sebagai salah satu hukum dasar ilmu fisika, menyatakan bahwa pada kondisi normal semua sistem yang dibiarkan tanpa gangguan cenderung menjadi tak teratur, terurai, dan rusak sejalan dengan waktu. Seluruh benda, hidup atau mati, akan aus, rusak, lapuk, terurai dan hancur. Akhir seperti ini mutlak akan dihadapi semua makhluk dengan caranya masing-masing dan menurut hukum ini, proses yang tak terelakkan ini tidak dapat dibalikkan.

Namun kegitatan krionika yang mengawetkan tubuh manusia pada suhu rendah dengan harapan suatu hari dapat dibangkitkan kembali, banyak orang berpendapat bahwa hal tersebut dapat dikatakan dengan “Mati Suri”. Hal ini diperkuat sebagaimana pengertian dari Mati Suri.

Allah berfirman:
QS Az Zumar – ayat 42 :
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”

Qs Asy Syuura – ayat 44:
“Dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?”

Rasulullah bersabda :
    Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. (HR. Ad-Dailami)

    Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.”   Nabi Saw lalu bersabda: “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” 
(HR. Ath-Thabrani)

Jika Allah mempunyai kehendak, tidak ada satu makhlukpun maupun berkelompok yang bisa menghalangi. Allah mempunyai ilmu yang luas dan manusia banyak keterbatasan dan kekurangannya.

Namun ada yang mengatakan bahwa kegiatan krionika tidak berhubungan dengan Mati Suri sekalipun mempunyai pengertian yang sama tetapi pada kegiatan krionika terjadi kesepakatan pada orang yang akan melakukan krionika (kedua belah pihak) sedangkan pada Mati Suri merupakan kehendak Allah dan tak ada yang dapat menghalangiNya serta tidak mengenal adanya kesepakatan antara kedua belah pihak. Memang da juga kaitannya dengan Mati Suri tapi itu hanya terjadi pada sel tubuhnya.

Dan memangterasa sangat masuk akal. Dalam keseharian, kita mendapati bahwa tidak ada sesuatu pun yang abadi. Semua hal, entah itu makhluk hidup atau mati, pada akhirnya akan menuju sebuah kehancuran. Buah-buahan yang membusuk, besi yang berkarat, kayu yang lapuk. Dan alam semesta ini, bukan sebuah pengecualian, semuanya tunduk pada sunatullah ini. Bahkan, tanpa terjadinya benturan antar galaksi pun, Bumi ini akan hancur dengan sendirinya. Lagi-lagi, masalahnya soal waktu saja.

C.   DAMPAK KRIONIKA (Pembekuan Manusia)

Oleh karena itu, dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa krionika memiliki sisi positif dan negatif yaitu:

1.    Dampak negatif
Memang masuk akal dengan adanya krionika karena kebanyakan manusia yang mengalami kegagalan fungsi hanya pada satu organ tubuh ( tetapi berakibat fatal ) yang menyebabkan manusia tersebut tidak dapat bertahan hidup lagi, maka didorong untuk explorasi ilmu krionika tersebut,  juga dimaksudkan agar suatu saat jika teknologi sudah lebih maju, dapat mentransplantasi organ tersebut, yang memungkinkan manusia untuk hidup kembali. Transplantasinya bisa dari organ manusia yang lain atau dari organ buatan manusia sendiri. dengan catatan jika sudah terjangkau oleh teknologi, tapi teknologi krionika ini seperti melawan takdir Tuhan.
kalau teknologi ini udah bisa diterapin di kehidupan kita, maka semua filosofi tentang agama semakin tipis.

2.    Dampak positif
Kita dapat mempelajari mengenai kematian, dan rasa ketakutan dengan penyakit akan hilang. Namun semuanya kembali padaNya, bahwa kita sebagai manusia hanya berusaha dan segala keputusan berada di tanganNya, karena Dia Yang Maha Mengetahui Segala Sesuatunya.

Oleh karena itu, krionika sangat berhubungan dalam ilmu fisika terutama dengan Hukum Termodinamika II dimana diciptakan krionika untuk menyembuhkan penyakit manusia dengan mengawetkan tubuhnya dan dibangkitkan kembali apabila sudah ditemukan obat dari penyakit tersebut dengan menggunakan suhu rendah sehingga sel-sel tubuhnya mati suri.

Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penulisan karya tulis ini, yaitu:
  1. Krionika adalah teknik yang digunakan untuk mengawetkan tubuh manusia pada suhu yang sangat rendah dengan harapan suatu hari dapat dibangkitkan kembali.
  2. Pada hukum Termodinamika II, membatasi perubahan energi mana yang dapat berlangsung dan perubahan energi mana yang tidak dapat berlangsung.
  3. Dampak positif dari krionika adalah kita tidak perlu takut lagi dengan penyakit yang menyerang kita dan dampak negatifnya adalah teknologi krionika melawan takdir Tuhan, kalau teknologi ini sudah bisa diterapin di kehidupan kita, maka semua filosofi tentang agama semakin tipis.

SARAN
Adapun saran dari penulisan karya tulis ini yaitu:
  1. Dalam melakukan penulisan karya tulis ilmiah, sebaiknya memperhatikan struktur penulisan karya tulis ilmiah sehingga tercipta karya yang lebih baik.
  2. Sebaiknya penulis menggunakan pola hidup sehat agar tidak mudah terkena penyakit.
  3. Sebaiknya sebelum menyusun karya ilmiah hendaknya mencari literatur yang mendukung dan akurat.
 Sumber : http://sartika-arifin.blogspot.com/2012/04/krionika-pembekuan-manusia.html, 24 April 2012.
DAFTAR PUSTAKA
  1. Foster, Bob. 2005. Terpadu Fisika SMA Untuk Kelas XI. Bandung: Erlangga.
  2. http://famhar.multiply.com/journal/item/122.
  3. http://ferrydc.blogspot.com/2008/12/kriogenika.html.
  4. http://mbahjogo.wordpress.com/2009/03/17/mengingat-mati-mati-suri.
  5. Tim Pengajar. 2008. Materi Perkuliahan Fisika Dasar. Makasaar: Universitas Negeri Makassar.