Senin, 31 Maret 2014

Memahami Makna "Ogoh-ogoh" Sebelum Perayaan Nyepi Di Bali.


Artikel ini memiliki misi yang sama dengan artikel sebelumya, mari kita belajar memahami kekayaan budaya negara kita, untuk mencegah kesalah pengertian yang dapat menimbulkan perpecahan.

Jujur saya pribadi selalu bertanya-tanya mengapa umat Hindu di Bali mengadakan "ritual" mengarak patung raksasa yang biasa disebut "Ogoh-ogoh", apakah mereka memuja raksasa tersebut ?

Kesalah pengertian saya yang kedua, mengapa di Bali banyak ditemukan banyak "Patung Raksasa" yang menakutkan, hampir di semua tempat bahkan di tempat tersuci misal di Pura. Pertanyaanya apakah mereka memuja raksasa tersebut ? Pemahaman saya (pribadi) raksasa merupakan simbol kejahatan.

Kebetulan tahun kemarin saya berwisata ke Bali dan menanyakan hal tesebut kepada Guide Tour saya perihal keberadaan "Para Raksasa" tersebut.

Menurut guide tour patung raksasa di Bali mememang simbol unsur jahat, baik yang ada di dalam diri kita, maupun di alam semesta (baca diluar diri kita). Mengenai yang di luar diri kita anda pasti sudah paham, mereka adalah penghuni "dunia lain" di sekitar kita.

Yang perlu diketahui raksasa tersebut ada dalam diri kita, raksasa tersebut adalah simbol segala unsur jahat dalam diri kita yang menghambat/ mengganggu hubungan kita dengan Tuhan, ia adalah pikiran jahat, hawa nafsu, semua sifat diri yang negatif dan lain-lain. Untuk dapat berhubungan baik dengan Tuhan sesuai kodrat kesucian manusia, kita harus mengetahui dan mengalahkan mereka, sehingga kita bisa menjadi pribadi suci sesuai kodrat kita sebagai manusia.

Mengapa ditempat suci terdapat patung tersebut ?


Tempat suci hanyalah "tempat", kita "ber-sembah Hyang" (baca-berdoa) secara pribadi, jika saat kita "ber-sembah Hyang" diri kita masih dikuasai hawa nafsu dan sifat jahat, sia-sia kita "ber-sembah Hyang". Untuk dapat "ber-sembah Hyang" yang baik kita harus dapat mengalahkan semua kejahatan yang ada dalam diri kita. Secara bercanda sang guide berseloroh : anak anak diajarkan "ber-sembah Hyang" dengan mata tertutup, saat membuka mata patung raksasa tersebut "masih nampak menakutkan" berarti kita masih dikuasai "kejahatan".

Saya bertanya, lha yang namanya patung raksasa kita memejamkan mata berapa tahunpun ketika kita membuka mata tentunya masih berupa patung raksasa, lha trus bagaimana?

Sang guide dengan enteng menjawab "Selama kita masih hidup di dunia, sang sifat jahat masih ada dalam diri kita", kita bisanya mengurangi kemunculannya dalam kehidupan kita dan berusaha hidup sebaik-baiknya agar saat kita meninggal nanti sang raksasa jahat tersebut tidak "membawa kita ke neraka....


Perihal Ogoh-ogoh anda dapat memahaminya sebagai berikut :
Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud Rakshasa.

Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah,, Widyadari, bahkan Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat. Terkait hal ini, ada pula yang berbau politik atau SARA walaupun sebetulnya hal ini menyimpang dari prinsip dasar Ogoh-ogoh. Contohnya Ogoh-ogoh yang menggambarkan seorang teroris.

Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.

Menurut para cendekiawan dan praktisi Hindu Dharma, proses ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan tersebut meliputi kekuatan Bhuana Agung (alam raya) dan Bhuana Alit (diri manusia). Dalam pandangan Tattwa (filsafat), kekuatan ini dapat mengantarkan makhluk hidup, khususnya manusia dan seluruh dunia menuju kebahagiaan atau kehancuran. Semua ini tergantung pada niat luhur manusia, sebagai makhluk Tuhan yang paling mulia dalam menjaga dirinya sendiri dan seisi dunia.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ogoh-ogoh.