Perbedaan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).


Black box sengaja didesain untuk tahan air, tahan benturan, dan tahan panas. Benda ini bisa tahan air sampai dengan 2 bulan. "Tahan panas bisa sampai 1.000 derajat, tapi dalam waktu terbatas, tidak terus menerus seribu derajat. Kalau black box rusak itu artinya rusak luarnya. Memorinya tidak," terang Budi.

Black box juga diberi warna mencolok, oranye, sesuai standar ICAO dan agar mudah ditemukan. "Black box adalah sesuatu yang hitam, diartikan sesuatu yang mengandung misteri. Kenapa warnanya oranye? Karena itu yang paling mencolok di mata. Warnanya tidak kamuflase," ujar Budi.


Alat perekam dalam penerbangan Flight Data Recorder (FDR) atau Cockpit Data Recorder (CDR), umumnya menggunakan pita perekam selayaknya kaset pada tape recorder. Namun perkembangan baru, kini telah digunakan FDR atapun CDR yang merekam menggunakan chip memory khusus.

Ketika terjadi insiden 11 September 2011 yang dikenal dengan 9-11, muncul usulan dari pihak keselamatan penerbangan agar kokpit persawat dilengkapi dengan Video Data Recorder yang merekam aktivitas dan situasi pilot saat penerbangan termasuk menit-menit terakhir dalam kecelakaan untuk melihat situasi sebenarnya.

CVR merupakan seluruh data percakapan di dalam ruang kocpit baik percakapan pilot dengan co pilot maupun dengan bandara pengawas. Sedangkan FDR mencatat seluruh data penerbangan pesawat, mulai dari ketinggian pesawat, kecepatan, tekanan kabin, temperatur udara diluar, kinerja mesin, dll.

Kotak hitam yang di perkenalkan pada tahun 1960 an. Kala itu sistem perekam kotak hita berupa pita magnetik yang cara kerjanya mirip tape recorder tempo dulu. Di era 1990 pita magnetik digantikan dengan Solid-state Technology yang menggunakan chip memori untuk merekam data.


Cara kerja Solid-state Technology dalam FDR dan CVR.

Data dari FDR dan CVR disimpan di memory boards di dalam crash-survivable memory unit (CSMU) – pelindung black-box1memory yang berbentuk silindris. Dengan alat ini lebih dari 700 macam parameter data dapat disimpan.

Seluruh data yang dikumpulkan oleh sensor sensor di pesawat terbang di kirim ke flight-data acquisition unit (FDAU) yang terletak di hidung pesawat. FDAU inilah sebagai perantara sebelum data di simpan dalam kotak hitam.

Itulah sebabnya mengapa setiap ada kecelakaan pesawat terbang, kotak hitam inilah yang di cari oleh investigator, karena data-data terakhir sebelum terjadi kecelakaan terekam dalam kotak hitam ini. Biasanya data-data di dalam kotak hitam (black box) ini dirahasiakan oleh penyelidik karena berbagai alasan.

Rancangan kotak hitam modern sudah diatur oleh sebuah kelompok yang disebut Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). ICAO menentukan informasi apa kotak hitam harus mencatat, lebih dari apa yang jangka waktu sudah disimpan, dan bagaimana survivable harus kotak.

Para delegasi ICAO banyak tanggung jawab ini kepada Organisasi Penerbangan Sipil Eropa Tetap (EUROCAE) yang menangani dokumen yang disebut Minimum Spesifikasi Kinerja Operasional Crash Airborne Sistem Perekam Dilindungi.

Kedua black box ini juga ditaruh di bagian belakang, tepatnya di bagian ekor pesawat. "CVR dan FDR diletakkan di bagian pesawat yang paling aman yaitu di ekor pesawat. Di ekor karena kalau ada apa2 dia tidak frontal. Sudah ada studi bahwa area yang paling aman adalah bagian ekor pesawat," terang Budi.

Flight Data Recorder (FDR) QZ 8501 telah ditemukan, sedang Cockpit Voice Recorder (CVR) masih dicari. Keduanya merupakan komponen black box. Apa sih beda keduanya?

Perbedaan FDR dan CVR.

Berikut data-data yang didapatkan saat detikcom mengulas black box dan wawancara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT):

Persamaan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).


Baik CVR dan FDR terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam. Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.

Sebagaimana dilansir DetikNews, gambar di atas adalah model Black Box saat dipertunjukkan di kantor KNKT pada tahun 2007 lalu. 2 Jenis black box itu adalah Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

Keduanya terdiri dari tiga bagian:
  1. Kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam.
  2. Kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip.
  3. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.

Dalam model black box seperti gambar di atas, CVR berukuran 30 x 12,5 cm. Alat ini untuk merekam percakapan pilot, kopilot, pilot dengan ATC, serta para awak pesawat. Sedangkan yang satunya bernama Flight Data Recorder (FDR) berukuran lebih panjang, 49 x 12,5 cm. Alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

Kedua jenis peranti ini dilengkapi Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa mendeteksi bila pesawat ini jatuh ke laut. ULB ini merupakan transmitor yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.


Perbedaan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).


Cockpit Voice Recorder (CVR) 

Sesuai namanya, CVR ini merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit. Menurut analis dan investigator kotak hitam Nugroho Budi, CVR ini ada 4 saluran yang merekam percakapan:

  1. Saluran 1 terhubung dengan pengeras suara yang biasa digunakan pramugari kepada penumpang
  2. Saluran 2 terhubung dengan co-pilot 
  3. Saluran 3 terhubung dengan pilot yang terhubung dengan air traffic controller (ATC) 
  4. Saluran 4 merekam seputar suasa kokpit, misalnya mesin yang berisik atau hujan. 
Isi sebuah Cockpit Voice Recorder (CVR)

"Singkatnya CVR adalah perekam yang dihubungkan dengan sistem audio," jelas Budi.Next

Spesifikasi Perekam suara kokpit Cockpit Voice Recorder (CVR) :
  • Mencatat waktu: 30 menit terus menerus, 2 jam untuk solid state unit digital
  • Jumlah saluran: 4
  • Dampak toleransi: 3400Gs / 6,5 ms
  • Tahan api: 1100 degC / 30 menit
  • Air tekanan perlawanan: 20.000 kaki terendam
  • Underwater locator beacon: 37,5 KHz; baterai memiliki umur simpan dari 6 tahun atau lebih, dengan 30-hari
  • kemampuan operasi pada saat aktivasi

Menurut Investigator In Charge (IIC) untuk kecelakaan SSJ 100, Prof Mardjono Siswosuwarno, CVR itu juga bisa merekam suara-suara instrumen di kokpit.

"Paling tidak ada 3 kanal kita dengarkan. Apa yang terdengar di kokpit itu instrumen juga bisa didengarkan, bunyi alarm dan lain-lain. Pembacaan seminggu mudah-mudahan selesai," jelas Mardjono yang juga guru besar Teknik Penerbangan ITB ini.

Sementara menurut Kasubag Pelayanan Investigasi dan Penelitian KNKT, Moch Haryoko pada 2007 lalu, durasi perekaman untuk CVR adalah 30 menit. Maksudnya setiap 30 menit data percakapan akan terhapus dan diganti dengan yang baru secara otomatis.


Flight Data Recorder (FDR).

FDR ini merekam data-data penerbangan. Menurut Moch Haryoko, alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

Isi sebuah Flight Data Recorder (FDR)

Spesifikasi Perekam Data Penerbangan (Flight Data Recorder (FDR).) :
  • Mencatat waktu: 25 jam terus menerus
  • Jumlah parameter: 18 – 1000 +
  • Dampak toleransi: 3400Gs / 6,5 ms
  • Tahan api: 1100 degC / 30 menit
  • Air tekanan perlawanan: 20.000 kaki terendam
  • Underwater locator beacon: 37,5 KHz; baterai memiliki umur simpan dari 6 tahun atau lebih, dengan 30-hari
  • kemampuan operasi pada saat aktivasi

FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Kendati merekam data-data penerbangan, FDR ini tidak kalah penting. "FDR sangat perlu karena membaca ketinggian pesawat," jelas Mardjono.


Data analisa sebuah Flight Data Recorder (FDR).

Data yang diperoleh lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.

Dalam laporan final KNKT yang bisa dilihat di situsnya, KNKT membandingkan antara data CVR dan FDR tersebut. Misalnya saat pilot meminta pada ATC, saat itu ketinggian pesawat berapa dan kecepatan angin berapa.

Hal ini bisa dilihat dalam laporan final KNKT, seperti kecelakaan Merpati Nusantara Airlines dengan pesawat MA-60 di Kaimana 7 Mei 2011 lalu. KNKT menyusun kronologi data CVR dan FDR ini dalam tabel berlini masa UTC/Coordinated Universal Time.

Dalam detik-detik kecelakaan, kolom UTC Time ditulis "0448.43", sedang di CVR kala Enhanced Ground Proximity Warning Systems (EGPWS) atau Terrain Awareness and Warning System (TAWS) alias sistem untuk mengindari tumbukan pesawat berbunyi, KNKT menuliskan kolom CVR seperti: EGPWS sounded "two hund...." followed by warning "terrain, terrain".

Sedangkan di sampingnya, data dalam FDR, KNKT menuliskan, "151 feet radio altitude, 158 knotsairspeed, bank angle 28 to the left,70% left and 82% right engine torque, heading 301 degree, vertical speed 2944 fpm down".

Dengan demikian apa yang dilakukan pilot di dalam kokpit dengan kondisi lingkungan eksternal pesawat bisa diketahui.


Cara membaca kotak hitam

Contoh rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

Tidak sembarang orang bisa mengakses data black box. Bahkan pilot pun tidak boleh mengaksesnya. Demikian halnya dengan orang KNKT pun tidak boleh asal.

Data yang diperoleh dari rekaman atau memori black box lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang seperti Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.

“Kalau download datanya paling satu jam. Tapi yang lama adalah analisisnya. Tidak bisa dipatok karena harus seteliti mungkin. Tergantung kerumitan pesawat juga, kan pesawat juga macam-macam. Ada yang sederhana, ada yang modern. Kalau makin modern akan lebih banyak parameter yang direkam dan harus dibaca. Tapi ada standar pada dasarnya,” tutur Budi.

Membaca kotak hitam ini, bukan tanpa kesulitan. Jenis pesawat yang berbeda-beda memiliki konfigurasi kotak hitam yang berbeda-beda pula.

“Kesulitannya, karena pesawat itu beda-beda. Dari Boeing, Airbus, beda konfigurasi. Misal kita analisa punya Boeing, ya kita harus pakai software dan database Boeing. Jadi kita harus kontak pabrikan Boeing,” imbuhnya.

Laboratorium KNKT sendiri sudah diresmikan pada 17 Agustus 2009 lalu, bertepatan dengan HUT RI yang ke-64. Saat itu KNKT masih di bawah Kemenhub yang dipimpin Jusman Syafii Djamal. Dalam laboratorium ada dua alat baca yang sesuai dengan jenis black box yang terdiri dari pembaca FDR dan pembaca CVR.

“Alat ini ada yang beli sendiri dari Kanada dan ada yang bantuan dan hasil kerjasama dengan Jepang,” jelas Budi.

Berdasarkan data , FDR didatangkan dari Kanada, sedangkan CVR dibeli di Australia. Pengadaan alat software itu memakan dana sebesar US$ 250 ribu. Sementarahardware-nya berasal dari hibah negara Jepang seharga US$ 300.000.

“Laboratorium ini kurang lebih sudah membaca sekitar 20-an black box yang kita analisa. Baik cockpit voice recorder maupun flight data recorder. Baik yang sudah rusak ataupun yang masih bagus kondisinya,” papar Budi. Sedangkan untuk peningkatan kapasitas operatornya, imbuh Budi, Australia menjadi tempat pendidikannya.

Sedangkan untuk pesawat Air Asia QZ8501, Ketua Investigator Prof Dr Mardjono Siswosuwarno mengatakan black box Air Asia akan dibaca di laboratorium black box KNKT Indonesia. Menurut dia data yang terekam di CVR bisa diumumkan ke publik dalam waktu 3 bulan setelah ditemukan.

“Kita kan sudah punya alatnya, jadi tidak harus dibawa ke Perancis,” kata Mardjono, Rabu (31/12/2014) malam.


Begitulah penjelasan mengenai seluk beluk tentang perang penyelidikan Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) di dalam "kotak hitam" pesawat Airasia QZ 8501. Meski demikian, saya berani menjamin 1000 pesen kalau hasil investigasi atau rekaman kotak hitam ini sama sekali tidak akan pernah terungkap ke publik.

Bisa disebabkan karena beberapa hal, bisa jadi karena memang hasil rekamanya sangat bikin malu perusahaan, konspirasi, atau karena memang media sudah lupa jadi tidak terlalu memburu berita mengenai kotak hitam ini. Seperti kasus kecelakaan pesawat Adam Air, Sriwijaya air dll, masalah kotak hitamnya menguap begitu saja. Lantas bagaimana dengan pesawat Airasia QZ 8501. Kita tunggu saja hasil pembukaan investigasi penyelidikan rekaman kotak hitamnya.


Baca juga : http://pustakadigitalindonesia.blogspot.com/2015/01/menelisik-peran-black-box-dalam.html

Penyusun : Yohanes Gitoyo, S Pd.
Sumber : 
  1. http://www.suaranews.com/2015/01/tahukah-anda-dalam-black-box-ada-2.html#ixzz3OecRmUFH
  2. http://news.detik.com/read/2012/05/16/192937/1919012/10/2/ini-beda-fungsi-cvr-dan-fdr-pada-black-box-pesawat
  3. http://tiada-haluan.blogspot.com/2013/10/ini-dia-perbedaan-fungsi-cvr-dan-fdr.html
  4. https://alfredoeblog.wordpress.com/2012/05/12/pengertian-sejarah-dan-cara-kerja-black-box-pada-pesawat/
  5. http://pustakadigitalindonesia.blogspot.com/2015/01/menelisik-peran-black-box-dalam.html