Kisah Pahit Getirnya Anggota Densus 88 Anti Teror.


Setelah menyimak sisi kepahlawanan Kesatuan Densus 88 Anti Terror dalam membasmi para teroris di negeri kita Indonesia, berikut saya kutipkan sisi gelap seorang "oknum" anggota Densus 88 yang tidak pernah terungkap dimedia, semua artikel saya kutip dari link : http://34.lasdipo.com/10-khabar/nusantaraku/127-gaji-polantas-1-bulan-gaji-densus88-5-bulan.html.

”Ustadz juga Manusia”, ungkapan ini sering kita dengar di TV. Bila dilihat, ternyata ungkapan ini tak cuma cocok buat para ustadz. Salah satunya anggota Densus88 yang dipandang elit di negeri ini, terutama dalam mengangani berbagai kasus ”terorisme” meski ada banyak kontroversi. Seganas apapun dia, tetap saja ia manusia yang punya banyak cing-cong.

Berikut kami sajikan sebuah pengalaman yang dialami oleh seorang Master Degree UI, MPKP (Magister on Public Policies), Agung Wasono. Pengalaman ini menunjukkan betapa tersiksanya batin anggota Densus88 yang merasa dikebiri kebebasannya. ”Densus88 juga manusia”.

Saya (Agung Wasono) pulang ke Jogja dari Jakarta naik Senja Utama Yk. Kebetulan saya duduk dekat dengan seorang “anggota” entah TNI atau Polri karena badannya yang tegap dan tergantung pistol jenis FN dipinggangnya.

Setelah sedikit ngobrol, ternyata umurnya tak jauh beda dengan saya. Sebut saja namanya Anton. Dia berangkat ke Jogja untuk menyampaikan berkas penting ke Polda DIY. ketika saya tanya kenapa tidak pakai pesawat saja? dia jawab sayang karena sisa uang perjalanan dinasnya bisa dipakai buat kebutuhan lain…

Anton lulusan SMU tahun 2000 di Makassar dan sudah 8 tahun jadi anggota Polri. Sebelumnya di kesatuan Brimob dan sekarang sudah 4 tahun bergabung dengan Densus Anti Teror 88. Cara bicara Anton sangat runtut dan masuk akal, ia juga banyak tahu tentang Densus 88.

Alasan kenapa Anton pengin jadi Polisi ternyata karena awalnya pengin balas dendam, waktu SMU Anton pernah masuk sel gara-gara berkelahi dengan anak polisi, makanya setelah Anton jadi polisi hal pertama yang Anton lakukan adalah menghajar (lagi) anak polisi itu… asyik kaan…


Orang lain mungkin melihat wah ke anggota Densus 88 karena selain kelompok elite juga seringkali dikaitkan dengan aktifitas terorisme yang memang lagi menyita perhatian kita semua. Tapi, Anton merasa kehidupannya tidak normal. Berpindah-pindah dari kota satu ke kota lain dalam hitungan jam, tanpa batasan jam kerja dan harus selalu siap ketika dibutuhkan.

Sebagai seorang pemuda, Anton merasa masa mudanya sudah hilang. Tidak pernah bisa berkumpul bersama keluarga, 4 tahun jadi anggota Densus tidak pernah bertemu keluarga bahkan pada hari raya iedul fitri sekalipun. Tidak punya temen cewek, apalagi pacaran. SMS yang diterima lebih sering perintah dan tugas dari atasan bukan SMS mesra dari lawan jenis.


Sebagai seorang pemuda tugasnya tergolong berat. Sebelum tugas, ia selalu menandatangani surat wasiat dan surat keterangan tentang kecacatan atau kematian. Anton pernah bertugas di Aceh, Palu, Ambon, Bali, Sampit dan juga terlibat dalam penangkapan anggota kelompok Dr. Azahari dan Noordin M. Top di Batu, Malang.

Anton juga bercerita bahwa disetiap tugas (apalagi tugas penyamaran) di daerah Anton selalu mengantongi nama dan identitas baru yang semuanya sudah disiapkan oleh atasan. Makanya nama, alamat, agama, pekerjaan dan tanggal lahir selalu berbeda tergantung kebutuhan. Anton pernah menyamar jadi tukang jualan sandal keliling, pedagang pasar dan tukang kredit yang semua “modal kerja” nya sudah disiapkan. (pakai dana APBN kali ya...)

Padahal gajinya tidak terlalu besar. Take home pay gajinya cuma Rp. 2,9Jt. Makanya kadang Anton berpikir pengin jadi Polantas saja, gajinya sama, ada jam kerja, bisa mengenal cewek, pacaran, dan tentunya bisa pulang ke rumah sama dengan orang pada umumnya.

Anton bercerita bahwa anggota Densus 88 tidak pernah apel pagi, rapat mereka lebih sering dengan telepon atau SMS dan hanya kumpul tiap hari Jumat untuk menyusun laporan ke Mabes Polri (bukan ke Polres atau Polda). Ini karena mereka memang lebih sering berada dilapangan daripada duduk di belakang meja.

Anggota Densus 88 sehari-hari tidak boleh pakai sepatu standar Polri karena menyebabkan mata kaki jadi hitam, potongan rambut juga biasa tidak terlalu cepak karena mengganggu tugas penyamaran, dan juga tidak memakai seragam ketat dan lengan dilipat karena itu adalah ciri khas “anggota”. Semua ini untuk keamanan dan kelancaran tugas penyamaran apalagi tugas spionase.

Saat ditanya kenapa namanya Densus 88, Anton menjawab ternyata angka 88 diambil dari Jumlah korban warga australia yang berjumlah 88 Orang pada insiden Bom Bali. Kenapa Australia? Kenapa namanya bukan "Densus 202" seperti jumlah seluruh korban tewas? Apakah karena australia termasuk negara yang menggelontorkan dana bagi polri dalam operasi anti terorisme? Anton menjawab: YA..!!

Lah.. gimana ini... jangan-jangan operasi anti terorisme selama ini hanya pesanan dari Australia dan Amerika sebagai sekutu abadinya..??


Anton, masih pengin jadi Anggota Densus 88 atau pengin beralih jadi Polantas aja..? lumayan lho jadi Polantas. Sekali tiup peluit 50-100 ribu bisa dikantongi. Kalau sehari tiup peluit 5x aja, sebulan berarti 15juta dikantong... itu setara 5 bulan gaji kamu Ton..!! jadi gak perlu lagi menghemat uang perjalanan dinas. hehehe.

Kami juga bisa lelah dan letih.

Sekian sajian kutipan artikel, satu kata untuk merumuskan tujuan pengutipan artikel di atas : 

"Begitu besar pengorbanan seorang anggota kesatuan elit pasukan khusus yang mengabdi demi keamanan Indonesia, maka tidak berlebihan jika kita wajib menganugerahkan gelar : 
PAHLAWAN TANPA TANDA JASA KEPADA SELURUH ANGGOTA DENSUS 88,
berkat jasa mereka kita bisa tidur tenang, bekerja dengan nyaman hidup tenteram di bawah naungan kepak sayap INDONESIA."

Penulis : Adnan Nafisa
Sumber : http://34.lasdipo.com/,18 Juni 2012, 09:21:00 AM.