Senin, 23 September 2013

Pengacara Hotman Paris "Show Force" di Depan Gubernur DKI Jokowi.


Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea menegaskan kesiapannya membantu biro hukum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Namun, di depan Gubernur DKI Joko Widodo dan wartawan, Hotman mengajukan syarat, yaitu tetap mendapatkan komisi sebagai pengacara. 

"Saya siap bantu Pak Gubernur tapi sebaiknya sih jangan gratis ya, Pak," ujar Hotman di hadapan wartawan di Balaikota, Senin (23/9/2013). 

Meski demikian, upaya membantu Pemprov DKI terbentur peraturan dari pemerintah pusat, yakni Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2011 tentang Perubahan Peraturan Presiden (Perppres) Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang atau Jasa Pemerintah. 

Dalam ketentuan tersebut, Pemprov DKI Jakarta tak boleh menunjuk langsung advokat, tetapi harus melalui proses lelang terlebih dahulu. Dalam peraturan tersebut, salah satu poin yang diprotesnya adalah syarat formal lelang pengacara yang harus direkrut dengan harga termurah. 

"Padahal kualitas pengacara beda satu sama lain. Misalnya yaitu pengacara yang top beradu lelang sama pengacara abal-abal pasti kalah," ujarnya. 


Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea mengendarai mobil Lamborghini hijaunya ke Balaikota DKI Jakarta untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Saat hendak meninggalkan Balaikota, Hotman memamerkan mobil mewahnya itu kepada Jokowi.

Hotman mengajak Jokowi untuk melihat-lihat mobil bernopol B 999 NIP yang diparkirnya persis di depan kantor sang Gubernur

"Ayo Pak Gubernur, coba naik mobil saya dulu, mungkin teman-teman ingin lihat Bapak naik mobil mewah," ujar Hotman. 

Semula, Jokowi menolaknya dengan halus. Namun, karena Hotman dan wartawan terus mendesak, Jokowi pun mengalah. Tampak dengan berat hati Jokowi melangkahkan kakinya ke mobil tersebut. 

"Ya, sudahlah, saya lihat-lihat sajalah, ndak naik," ujar Jokowi sambil melangkah mengikuti Hotman. 

Hotman pun membuka pintu mobilnya kemudian menyalakan mesinnya dengan menginjak pedal gas kencang-kencang. Akibatnya, suara raungan mobilnya membahana di pelataran Balaikota sehingga menyebabkan orang-orang di sekitarnya sontak terkejut, termasuk gubernur. 

"Loh, loh, loh," ujar Jokowi refleks mundur serta mengangkat tangannya akibat kejutan suara itu. 

Tak ayal, gerakan terkejut Jokowi yang spontan itu menarik urat tawa orang-orang yang hadir di sekitarnya. Hotman pun tertawa, tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada Jokowi. Situasi itu pun terus direkam oleh para wartawan. 

Kedatangan Hotman dan beberapa selebriti sendiri adalah menjalin komunikasi dengan Gubernur DKI. Beberapa yang dibahas adalah meminta Jokowi merevisi Perda Nomor 10 Tahun 2004 tentang Kepariwisataan dan menegaskan komitmennya membantu Biro Hukum Pemprov DKI atas sejumlah kasus.

Penulis : Fabian Januarius Kuwado 
Editor : Ana Shofiana Syatiri
Sumber : http://megapolitan.kompas.com/, Senin, 23 September 2013, 15:03 WIB.



Sebagai orang Indonesia, saya pribadi kurang suka adanya budaya "show force" atau biasa disebut sebagai pamer. Budaya pamer bagi saya pribadi hanya cocok di tampilkan di layar sinetron TV, sebagai contoh perilaku yang tidak layak ditiru, bahkan ada pula yang menyebutnya sebagai budaya kampungan. Fenomena ini dikalangan anak muda dikenal dengan istilah "narsis".

Pamer kekayaan, pamer popularitas, atau berbagai jenis dan bentuk pamer menunjukkan arogansi pribadi agar di anggap lebih, dianggap wah dan lain-lain. Filsafat Jawa mengajarkan "OJO DUMEH .....", atau bisa diterjemahkan "JANGAN MENTANG-MENTANG (misal kaya)", bagi kita orang Indonesia juga berlaku peribahasa "di atas langit masih ada langit". 

Secara keseluruhan kedua istilah tersebut mengajarkan : jangan sombong, dunia berputar, jangan sombong ketika kita di atas, dan jangan pula minder ketika kita di bawah. Semoga saya dan anda memperoleh hikmah dari artikel di atas agar belajar rendah hati, dan menunjukkan kebesaran jiwa kita dengan menghargai sesama sebagaimana mestinya.

Penulis : Yohanes Gitoyo.