Rabu, 01 Oktober 2014

Kisah Nyata Kekejaman PKI Pada Pemberontakan G-30S/ PKI Tanggal 30 September 1965.

Artikel ini secara khusu saya persembahkan kepada para pembaca yang masih muda, yang menganggap kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) hanyalah cerita yang dibuat-buat oleh rezim orde baru. Beberapa artikel berikut adalah cerita bukti kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) dari saksi mata, keluarga korban keganasan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Semoga menjadi pelajaran berharga bagi sejarah bangsa Indonesia tercinta ini.

Cerita Anak Jenderal D.I. Panjaitan Soal G30S/PKI

Masih ingat dengan film Pengkhianatan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI? Selama masa kepresidenan Soeharto, film berkisah penculikan serta pembunuhan tujuh jenderal revolusi itu selalu diputar pada 30 September oleh Televisi Republik Indonesia atau TVRI. Satu korban yang menjadi sasaran pembantaian adalah Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan atau D.I. Panjaitan. Dan putrinya, Catherine Panjaitan, menjadi saksi mata penculikan itu.

Pada majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, Catherine menceritakan kejadian malam berdarah itu. Ingatan itu tertuang dalam tulisan berjudul, Kisah-kisah Oktober 1965. Bagi Anda yang sempat menonton filmnya pasti melihat adegan putri D.I Panjaitan membasuhkan darah sang ayah ke mukanya. Tapi benarkah Chaterine melakukan hal itu?

Foto keluarga pabjaitan

“Saya melihat kepala Papi ditembak dua kali,” Catherine mengisahkan. “Dengan air mata meleleh, saya berteriak, "Papi..., Papi...." Saya ambil darah Papi, saya usapkan ke wajah turun sampai ke dada.”

Kata Catherine, penculikan terjadi sekitar pukul 04.30, pada 1 Oktober 1965. Kala itu, ia tengah tidur di kamar lantai dua. Kemudian terbangun karena teriakan dan tembakan. Catherine mengintip ke jendela. Ternyata telah banyak tentara berseragam lengkap di perkarangan rumah. “Beberapa di antaranya melompati pagar, sambil membawa senapan,” kata Catherine. 

Panik, ia lari ke kamar ayahnya. Yang dicari sudah terbangun dari tidur. Mereka pun berkumpul di ruang tengah lantai atas. Kata Catherine, almarhum papinya terus mondar-mandir, dari balkon ke kamar. Dia sempat mengotak-atik senjatanya, semacam senapan pendek.

Catherine sendiri sempat bertanya pada ayahnya soal apa yang terjadi. Tapi sang jenderal bergeming. Sedangkan di lantai bawah, bunyi tembakan terus terdengar. Televisi, koleksi kristal Ibu Panjaitan, dan barang lainnya hancur. Bahkan meja ikut terjungkal. “Tiarap…tiarap,” kata Catherine menirukan ayahnya.

Sebelum menyerahkan diri ke tentara, mendiang Panjaitan sempat meminta Catherine menelepon Samosir, asisten Jenderal S. Parman. Usai itu, Catherine menghubungi Bambang, pacar sahabatnya. Tapi belum selesai pembicaraan, kabel telepon diputus.

alt

Berseragam lengkap, kemudian D.I. Panjaitan turun ke ruang tamu. Seorang berseragam hijau dan topi baja berseru, "Siap. Beri hormat," Tapi Panjaitan hanya mengambil topi, mengapitnya di ketiak kiri. Tak diacuhkan begitu, si tentara memukul Panjaitan dengan gagang senapan, hingga ia tersungkur. Setelah itu, kejadian bergulir cepat. Dor! Dor! “Darah menyembur dari kepala Papi,” kata Catherine.



Kisah Nyata Nasib Tragis Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno   

(Foto) Kisah Nyata Nasib Tragis Jenderal Ahmad Yani, Anak Emas Presiden Soekarno

Ada cerita menarik seputar pelantikan KASAD. Khususnya saat pemerintahan Presiden Soekarno yang mengangkat Letnan Jenderal Achmad Yani sebagai Kasad pada 28 Juni 1962. Ujung dari peristiwa ini adalah sejarah paling kelam dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika itu, Bung Karno mengangkat Kasad Jendera Abdul Haris Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Kasab). Secara jabatan, Nasution mendapat promosi. Tetapi secara kewenangan, Nasution sebenarnya dilucuti. Kasab hanya mengurus administrasi, tidak lagi memegang komando pasukan. Hubungan Bung Karno dan Nasution memang tidak bisa dibilang sejalan, bahan cenderung berseberangan.

Bung Karno meminta Nasution merekomendasikan sejumlah nama perwira tinggi TNI AD untuk dilantik menjadi Kasadyang kemudian semua nama-nama tersebut ditolak oleh Bung Karno yang malah meminta diberikan nama-nama lain. Nasution menurutinya dengan mengajukan calon-calon lain. Dari daftar rekomendasi terbaru ini, nama Mayor Jenderal Ahmad Yani berada di posisi paling akhir.

Pada masa tersebut, Yani memang masih termasuk Jenderal junior. Itulah alasannya mengapa Nasution tidak memasukkannya ke dalam nama-nama pertama yang ia rekomendasikan pertama kali. Tapi justru Bung Karno malah akhirnya memilih Yani sebagai Panglima Angkatan Darat.

Jabatan Ahmad Yani saat itu adalah Kepala Staf Gabungan Komando Tertinggi (KOTI) pembebasan Irian Barat dan sekaligus juga menjadi juru bicara tunggal Panglima Tertinggi soal Irian Barat. Hampir setiap hari bertemu dalam rapat-rapat dengan Presiden Soekarno di Istana. Itulah yang menyebabkan hubungan mereka dekat. Setelah menjabat Kasad, hubungan Yani dan Bung Karno menjadi semakin akrab.

Amelia Yani, Putri Ahmad Yani mengatakan bahwa "Banyak yang bilang bapak jadi anak emas Presiden Soekarno,".

Hal berlawanan justru terjadi dalam hubungan antara Yani dan Nasution, dimana Nasution dan Yani malah sering berdebat. Keduanya kerap berbeda pendapat soal pembangunan Angkatan Darat. Yani dikenal tegas, blak-blakan dan jarang basa-basi.

Di masa kepemimpinan Yani, Angkatan Darat disibukkan Operasi Trikora merebut Irian Barat dari Belanda. Setelah itu Operasi Dwikora menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Amelia mengingat Bung Karno ikut peduli masalah dengan renovasi rumah Yani di Jalan Lembang, Menteng. Bung Karno juga sering mengajak Yani ikut dalam kunjungan ke daerah, dan bahkan menyempatkan hadir saat acara syukuran rumah Yani.

"Hari Minggu pun Bapak dan Ibu sering menemani Bung Karno dan ibu Hartini ngobrol-ngobrol di Istana Bogor," kenang Amelia.

Namun saat itu pun suasana politik Indonesia makin memanas. Partai Komunis Indonesia (PKI) makin kuat karena merasa mendapat angin dukungan dari Bung Karno. Cuma masalahnya, Angkatan Darat, khususnya Ahmad Yani terang-terangan menolak segala kebijakan negara yang dipengaruhi PKI.

Yani bahkan menolak mentah-mentah permintaan Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit (D.N. Aidit) yang meminta buruh dan kaum tani dipersenjatai. Jadilah, beredar isu Dewan Jenderal dan dokumen asing yang menyebut kolaborasi sejumlah jenderal AD dengan Barat. Karena berlawanan dengan Soekarno dan PKI yang cenderung ke negara Blok Timur seperti China dan Uni Soviet, maka Yani dan kawan-kawannya disebut-sebut akan melakukan kudeta terhadap Bung Karno.

Isu yang dihembuskan oleh PKI tersebut berhasil membuat hubungan Presiden Soekarno dan Yani retak perlahan-lahan. Puncaknya, Soekarno (berencana) memanggil Yani ke istana pada 1 Oktober 1965. Dia berniat mengganti Yani dengan Jenderal Moersjid. Yani tak pernah tahu mengenai hal ini.

Namun apa daya, Yani tak pernah bisa datang ke Istana menemui Bung Karno, karena pagi itu, 1 Oktober 1965 Pukul 04.30 WIB, sepasukan tentara datang menjemput Yani. Mereka mengatakan bahwa Yani diminta menghadap Soekarno segera saat itu juga. Yani sendiri tak curiga karena ia memang sudah ada rencana hendak ke Istana menghadap Bung Karno. Maka dia meminta waktu kepada tentara yang menjemputnya untuk berganti pakaian dengan seragam dinas.

Namun niatnya itu dibantah oleh Tjakrabirawa yang menjemputnya. "Tak usah ganti baju, jenderal!" bentak seorang bintara Tjakrabirawa itu membentak. Hal itu membuat Yani marah (mana boleh seorang bintara berani kurang ajar pada jenderal). Lalu Yani, membalikkan badan dan menempeleng prajurit kurang ajar itu.

Pintu Tempat Jenderal Ahmad Yani Ditembak
Pintu Tempat Jenderal Ahmad Yani Ditembak

Jenderal Ahmad Yani tewas ditembak di sini setelah menempeleng prajurit kurang ajar di pintu ini. Ia ditembak dari jarak dekat, peluru menembus pintu kaca memberondong tubuhnya yang berada dibalik pintu

Melihat peristiwa tersebut, seorang prajurit lainnya segera memberondong tubuh Yani dengan tembakan senapan otomatis secara membabi buta dari jarak dekat. Yani tersungkur dan gugur dengan berlumuran darah. Kejadian ini disaksikan oleh Untung dan Eddy, kedua putranya yang masih kecil.

Lokasi Jenderal Ahmad Yani Tewas Ditembak
Lokasi Jenderal Ahmad Yani Tewas Ditembak, Prasasti ini menunjukkan lokasi tersungkur dan gugurnya Jenderal Ahmad Yani, di balik pintu kaca dan pas di sebelah meja makan

Penculikan Jenderal Ahmad Yani
Lorong di depan pintu kaca. Di sepanjang lorong ini tubuh Jenderal Ahmad Yani diseret kemudian berbelok ke kanan. Darah berceceran dan menggenang di sepanjang lorong

Penculikan Jenderal Ahmad Yani
Foto ini menunjukkan jejak-jejak darah saat jenazah Pak Yani diseret dengan keji di sepanjang lorong

Lalu para gerombolan prajurit itu menyeret jenazah Yani di sepanjang lorong dan melemparnya ke atas truk. Mereka membawanya pergi, tapi bukan ke Istana melainkan ke sebuah tempat di Lubang Buaya Jakarta Timur. Itulah akhir tragis dari seorang Jenderal yang memiliki rekam jejak cemerlang dalam peristiwa nahas G30S/PKI.
(foto dokumentasi pribadi, Ahmad Yani Tumbal Revolusi/Galang Press, Museum Sasmitaloka Ahmad Yani dan berbagai sumber-sumber lain)

Sumber : http://www.memobee.com/foto-kisah-nyata-nasib-tragis-jenderal-ahmad-yani-anak-emas-presiden-soekarno-10107-eij.html


Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren

Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren

Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. "Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak," kata Masdoeqi saat ditemui Tempo di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu.

Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. "Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata," tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan.

Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah. 

Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh. Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya. Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang. "Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja," ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya. 

Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka. 

Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara. 

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian. "Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak," katanya. Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro.

Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, membantai anggota PKI. Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar. "Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI," ujarnya.