Senin, 06 Oktober 2014

Sudah 14 Abad Umat Islam "Masih Tak Bisa Satukan" Tanggal Hari Raya?

Tim rukyah hilal dari MUI dan Departemen Agama Provinsi Kalsel, melakukan pengamatan penghitungan datangnya Idul Fitri 1 Syawal 1431 Hiriah di atas gedung BPD Kalsel, Rabu (8/9/2010). 

Sebagian umat Islam di Indonesia telah melaksanakan shalat Idul Adha pada Sabtu (4/10/2014). Kritik soal perbedaan hari raya ini mewarnai salah satu khutbah salat Id, yaitu di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.

"Sudah 14 abad dan masih tak bisa menentukan satu kalender (hari raya) yang sama?" ujar khatib shalat Id di masjid itu, Jimly Asshiddiqie, Sabtu pagi. Perbedaan pelaksanaan shalat Idul Adha ini tetap harus dihormati, kata dia, tetapi penyatuan kalender Islam pun harus tetap menjadi pemikiran. 

"Al Azhar biasanya mengikuti ulul amri, pemerintah. Namun, untuk Idul Adha ini sulit kita ikuti karena kita semua tahu bahwa di Makkah sudah wukuf kemarin (Jumat, 3/10/2014)," papar anggota dewan pembina Masjid Agung Al Azhar ini. "Aneh kalau di Makkah dua hari lalu wukuf dan kita baru melaksanakan shalat sunnah Idul Adha," imbuh dia.

Menurut Jimly, cara penentuan kalender hari raya berupa rukyat dan hisab adalah semata cara dan bagian dari dakwah. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu pun berpendapat sekarang sudah banyak kemudahan untuk membuat satu panduan yang sama terkait ibadah dan keumatan ini.


Tak ada lagi persoalan jarak

"(Sekarang) generasi Samsung, Ipad, tidak seperti dulu. Kalau dunia Islam mau, gampang sekali menentukan kiblat (sebagai patokan penentu waktu)," kata Jimly. "Apa yang terjadi di sana, itulah cara penentuan kalender Islam," lanjut dia dalam khutbahnya. 

"Mari kita mencatat ini sebagai pelajaran. Satu sisi mari bersatu dalam perbedaan, tetapi di sisi lain kita butuh persatuan. Kita mulai dari hal sepele, dari kalender. Jangan kalau mau bikin acara berantem karena beda tanggal," papar dia. 

Selepas khutbah, Jimly menegaskan kembali bahwa pelaksanaan shalat Idul Adha di Masjid Agung Al Azhar ini merupakan hasil musyawarah para pengurus masjid. "(Kami) bukan NU (Nahdlatul Ulama), bukan Muhammadiyah," tegas dia. 

Jimly menegaskan kiblat umat Islam itu masjidil haram dan Makkah. "Dan (wukuf) itu kemarin. Jarak (waktu di Makkah) dengan Indonesia hanya 6 jam. Ini harus jadi koreksi," tegas dia. "Dunia Islam harus berkiblat ke Kabah. Sekarang tak ada persoalan jarak, hanya berbeda jam." 


Inisiasi OKI


Selisih waktu antara Makkah di Arab Saudi dengan Waktu Indonesia Barat, merujuk kesepakatan Greenwich Mean Time (GMT) hanya 4 jam. Tepatnya, Makkah adalah GMT+3 dan WIB GMT+7. Pemerintah Arab Saudi menetapkan 1 Dzulhijah 1435 Hijriah adalah bertepatan dengan Kamis (25/9/2014).

Dengan penetapan 1 Dzulhijah 1435 H tersebut, maka wukuf di Arafah yang menjadi puncak ibadah haji pada 9 Dzulhijah 1435 adalah bertepatan dengan 3 Oktober 2014. (Baca: Wukuf 3 Oktober, Tahun Ini Haji Akbar).

"Saya sarankan dunia Islam, dalam hal ini Organisasi Konferensi Islam, mengambil prakarsa kemungkinan penyatuan kalender Islam," lanjut Jimly. Sekalipun perbedaan tetap harus dihormati dan toleransi juga mutlak dibangun, kata dia, penentuan awal kalender dengan metode rukyat, hisab, maupun turunannya tetap hanya cara dan metode. 


Tiga tanggal beda

Tim Lakjnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meneropong untuk melihat rukyat hilal di Jakarta, Senin (8/7/2013).

Pada 2014 atau 1435 H, umat Islam di dunia melaksanakan shalat Idul Adha pada tiga tanggal yang berbeda, yaitu 4, 5, dan 6 Oktober 2014. Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Susiknan Azhari, menulis artikel tentang ini dalam judul "Idul Adha 1435 H dan Konsistensi Sistem Kalender Islam", yang antara lain diunggah lewat laman Facebook-nya.

Kawasan Timur Tengah, kata Susiknan, pada umumnya melaksanakan shalat Idul Adha pada Sabtu. Selain kawasan Timur Tengah, keputusan tersebut diikuti oleh Belanda, Spanyol, Inggris, Denmark, dan Fiqh Council of North America (FCNA) di Amerika Serikat. 

Di Indonesia, Muhammadiyah adalah salah satu organisasi masyarakat yang menyatakan bahwa shalat Idul Adha pada 10 Dzulhijah 1435 H bertepatan dengan 4 Oktober 2014. (Baca: Muhammadiyah Tetapkan Idul Adha 4 Oktober). 

Dasar penentuan shalat Idul Adha 1435 bertepatan dengan 4 Oktober 2014 adalah hisab wujudul hilal, alias perhitungan astronomi bahwa bulan sudah di atas ufuk, terlihat dengan mata telanjang ataupun tidak.

Adapun Pemerintah Indonesia menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan 5 Oktober 2014. Negara lain yang berkeputusan sama  adalah negara-negara maghribi di benua Afrika, seperti Tanzania, Afrika Selatan, Zambia, dan Kenya, demikian pula negara-negara jiran seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. 

Penentuan 10 Dzulhijah 1435 H bertepatan dengan 5 Oktober 2014 ini memakai metode rukyat. Ketika bulan tak terlihat dengan mata telanjang, maka bulan Dzulkaidah digenapkan menjadi 30 hari, yang karenanya 1 Dzulhijah 1435 H ditetapkan bertepatan dengan Jumat (26/9/2014). 

Sementara itu, sebut Susiknan, laman Islamic Crescents’ Observation Project (ICOP) maupun moonsighting, melaporkan bahwa ada lima negara yang menetapkan 10 Dzulhijah 1435 H bertepatan dengan 6 Oktober 2014. Kelima negara itu adalah Banglades, India,Oman, Pakistan, dan Srilanka. 


Dialektika

"Semua ini terjadi karena umat Islam belum memiliki sistem kalender Islam yang mapan dan terpadu," tulis Susiknan. "Yang ada hanyalah kalender Islam lokal yang berlaku pada negara, kawasan, atau kelompok tertentu dan tidak berlaku untuk negara dan kawasan lain."

Susiknan pun mengkritisi dialog tentang penyatuan kalender Islam ini terlalu banyak didominasi perdebatan antara metode hisab dan rukyat. "Saya mengingatkan pemerintahan yang baru, khususnya kepada bapak Jusuf Kalla untuk melanjutkan gagasannya yang telah dirintis sejak 2007, (untuk) mewujudkan kalender Islam pemersatu demi kemajuan peradaban Islam ke depan".

Dalam salah satu diskusi di laman Facebook pakar astronomi Thomas Djamaluddin, Susiknan mengatakan ada tiga hal penting yang kini belum terjawab apalagi disepakati, terkait penyatuan kalender Islam ini. "Yaitu konsep hilal, metode untuk mengetahui hilal, dan matla," sebut dia. Matla, atau lengkapnya matla fi wilayatil hukmi, adalah konsep tentang kesamaan wilayah.

Menurut Susiknan, gagasan soal penyatuan kalender Islam sudah diawali Muhammad Ilyas, yang mengenalkan International Lunar Date Line. Gagasan itu kemudian ditindaklanjuti oleh Nidhal Guessoum, Mohammad Odeh, Khalid Shawkat, M Durrani, dan Jamaluddin Abd Razik.

Susiknan pun menyampaikan setidaknya ada empat usulan sistem kalender yang akan diuji dan dipilih yang paling memungkinkan untuk menjadi pedoman bersama. Keempat kalender dimaksud yaitu kalender al-Husain Diallo, kalender Libya, kalender Ummul Qura, dan kalender Terpadu dari Jamaluddin Abd Eazik.


Kuncinya kesepakatan

Adapun Thomas dalam lamannya menulis bahwa persoalan penentuan penanggalan Islam ini secara teknis astronomi sangatlah mudah. "Penyatuan kriteria hisab-rukyat," sebut dia. Thomas menulis juga, implementasinya pun mudah, yaitu asalkan ada kesepakatan.

Kesepakatan itu, lanjut Thomas, terkait tiga hal, yaitu otoritas, kriteria, dan batas. "Kata kuncinya adalah kesepakatan," tegas dia.

Dalam kasus India dan negara-negara yang menetapkan Idul Adha 1435 H bertepatan dengan 6 Oktober 2014, Thomas menyisipkan penjelasan tentang penyebabnya. 

"Mereka memakai derajat penampakan hilal yang lebih besar lagi (daripada yang dipakai NU atau pengguna perhitungan berbasis rukyat), dan tanpa alat," kata dia. 

Dari semua dialektika yang terjadi sampai dengan saat ini, Jimly berkeyakinan penyatuan kalender Islam adalah niscaya. "Suatu hari kelak pasti bisa," ujar dia. Semoga....


Penulis & Editor: Palupi Annisa Auliani
Sumber : http://sains.kompas.com/, Sabtu, 4 Oktober 2014, 22:06 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...