Selasa, 28 Oktober 2014

Rahasia di Balik Kecerdasan Linguistik Gayatri !


Tak banyak orang yang mampu menguasai lebih dari 3 bahasa secara fasih dan baik. Salah satu remaja yang mampu melakukannya adalah almarhumah Gayatri Wailissa (17), remaja asal ambon. 

Gayatri diberitakan memiliki kecerdasan linguistik. Gadis belia ini menguasai berbagai bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Perancis, Rusia, Arab, hingga Mandarin. Uniknya, kemampuannya itu tidak didapatkan melalui kursus, melainkan dengan mendengar lagu dan menonton film asing. 

"Saya tidak punya biaya. Keluarga saya sederhana. Saya hanya suka nonton film kartun dan dengar lagu bahasa asing. Rasa penasaran saya akan bahasa membuat saya mencari tahu arti dan bagaimana mengucapkannya. Dari buku, saya pelajari tata bahasanya. Dari film dan lagu, saya pelajari pengucapannya, dan dari kamus, saya hafalin kosakatanya. Begitulah cara saya mempelajari bahasa asing," ungkap Gayatri di Kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Ambon, Senin (17/6/2013) silam.

Andreas Harry, dokter spesialis saraf, menyebut Gayatri sebagai anak yang jenius. "Kemampuan bahasanya sempurna, bukan hanya grammar, tapi juga logat dan pengucapannya sama persis," katanya kepada Kompas.com, Senin (27/10/14).

Andreas menjelaskan, kecerdasan yang dimiliki Gayatri tersebut karena ia memiliki otak kiri yang lebih besar dari pada otak kanan. "Ini mirip dengan Einstein yang otak kirinya lebih besar satu sentimeter dari otak kanan, sementara pada orang normal otak kanannya lebih besar," ujarnya.

Dengan struktur otak seperti itu, menurut Andreas, tak mengherankan jika dengan hanya mendengar lagu atau orang berbicara bahasa asing Gayatri sudah bisa menangkap dan menirukannya. "Ada pemusik yang hebat sekali baru mendengar satu lagu berbahasa Indonesia tapi langsung mampu mengubah nada dan iramanya menjadi lagu berbahasa lain," katanya.


Otak terdiri dari banyak stuktur yang memiliki fungsi spesifik. Otak besar dibagi menjadi belahan (hemisfer) kiri dan kanan. "Pusat linguistik selalu ada di kiri. Suara dan bunyi yang didengar akan diterima oleh bagian temporalis lalu diolah di bagian frontal dan diucapkan oleh mulut," katanya.

Namun, menurut Andreas, otak juga harus proporsional, sehingga jika ada satu bagian yang ukurannya lebih besar maka bagian lain akan lebih kecil.

"Kalau bagian parietalisnya besar, tentu bagian lainnya akan lebih kecil," papar dokter dari RS.Gading Pluit Jakarta ini. 

Hal tersebut akan berpengaruh pada kemampuan dalam bidang lainnya. "Kalau ia punya kecerdasan tinggi dalam bidang bahasa, biasanya tidak ahli dalam fisika atau matematika karena faktor bagian otak lainnya yang lebih kecil tadi," katanya.

Anak-anak yang punya kecerdasan verbal-linguistik seperti Gayatri, biasanya bukan hanya mampu menguasai beberapa bahasa tapi juga punya kemampuan menguraikan pikiran dalam kalimat-kalimat, presentasi, pidato, atau tulisan. 


"Kecerdasan itu ada bermacam-macam, sayangnya sistem pendidikan kita menyebut seorang anak cerdas kalau semua nilainya 10," kata Andreas.


 Masih Muda, Mengapa Gayatri Alami Perdarahan Otak?


Perdarahan di otak sebenarnya merupakan stroke yang terjadi ketika pembuluh arteri otak bocor atau pecah. Sebagian besar orang yang menderita stroke memang berusia lanjut. Lantas, mengapa Gayatri Wailissa yang baru berusia 17 tahun juga mengalaminya?

Gayatri yang dijuluki "doktor cilik" karena kemampuannya dalam menguasai 13 bahasa asing ini diberitakan mengalami pusing setelah ia berolahraga bersama teman-temannya di Taman Suropati Jakarta. Menurut sang ayah, Deddy Darwis Wailissa, putrinya itu selama ini tidak pernah mengeluhkan sakit kepala atau penyakit serius.

Stroke hemoragik atau perdarahan di otak sebagian besar terjadi karena adanya aneurisma atau menggelembungnya dinding arteri pada bagian dinding arteri sampai seperti balon. Ketika aneurisma ini pecah, maka darah akan mengalir masuk ke otak dan menimbulkan tekanan serta matinya jaringan saraf.

Andreas Harry, dokter spesialis saraf dari RS Gading Pluit Jakarta, menjelaskan, aneurisma biasanya terjadi karena faktor kelainan genetik. "Itu biasanya bawaan sejak lahir," katanya ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (24/10/2014).


Selain aneurisma, stroke hemoragik juga dapat dipicu oleh kelainan pembuluh darah otak yang disebut arterio venous malformation (AVM). Aneurisma atau AVM biasanya tidak memiliki gejala yang khas. Penderitanya mungkin hanya mengeluhkan pusing atau sakit kepala biasa.

Untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan ini, perlu dilakukan pemeriksaan CT-scan, MRI atau magnetic resonance angiography (MRA). Untuk yang lebih murah dapat juga dilakukan pemeriksaan aliran darah atau USG doppler.

"Lewat pemeriksaan ini, bisa diketahui ada atau tidaknya kelainan atau sumbatan," katanya.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan, maka dokter akan melakukan terapi pencegahan agar tidak sampai terjadi pecahnya pembuluh darah di otak.

Editor : Lusia Kus Anna
Sumber : http://health.kompas.com/, Senin, 27 Oktober 2014, 17:06 WIB.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...