Jiwa Korsa, Ajaran Luhur Solidaritas TNI Yang (Sedang) Tercemar.



Jiwa korsa, dua kata ini saat ini menjadi terkenal sejak kasus penyerangan dan pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, yang dilakukan anggota Yon Armed Martapura, dan semakin mengemuka saat terungkapnya 11 oknum anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartosuro, yang membunuh empat tahanan Lapas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Apa sih itu jiwa korsa ?
Diawali dengan perkembangan jaman saat ini yang semakin banyak manusia hidup secara individualistis dan mementingkan diri sendiri, sedangkan manusia didunia diciptakan sebagai mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, melainkan saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Mulai dari dalam keluarga sampai kita hidup didalam masyarakat umum, kita masih membutuhkan orang lain yang tentunya dengan interaksi sosialnya sebagai mahluk sosial yaitu saling peduli, tolong – menolong, dan saling membantu.

Jiwa Korsa memiliki banyak arti tergantung orang yang mengartikan, namun pada intinya jiwa korsa itu adalah jiwa satu rasa dan satu asa dalam mencapai satu tujuan atau biasa disebut rasa peduli dan sepenanggungan terhadap sesama didalam suatu organisasi atau kelompok yang mempunyai satu tujuan. Jiwa Korsa juga dapat diartikan sebagai rasa persatuan, kekeluargaan, setia kawan, rasa tolong – menolong, bahu membahu, rasa memiliki bersama, dan rasa persaudaraan yang sangat erat.

Menurut Mayjen (Purn) TNI TB Hasanuddin, Wakil Ketua Komisi I DPR Bidang Pertahanan, Intelijen, Luar Negeri, dan Komunikasi, jiwa korsa atau istilah aslinya 'l'esprit de corps', semula diperkenalkan oleh ahli strategi perang jenderal besar dan kemudian dinobatkan sebagai kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte. 


"Bahwa perang adalah kerja bersama yang terorganisir dengan baik. Agar tiap satuan sukses dalam setiap peperangan, maka dibutuhkan l'esprit de corps yang tinggi. L'esprit de corps adalah semangat bekerja sama, untuk saling mengerti tugas masing-masing, saling membantu , saling menjaga , saling melayani, dan saling menolong satu sama lain." 

Ia menuturkan, peperangan membutuhkan jiwa korsa. Dalam kehidupan sehari hari di luar pertempuran, jiwa korsa pun merupakan semangat yang bernilai positif. Itu menjadi sesuatu yang layak untuk dipelihara dan dibina. Tapi, lanjut Hasanuddin, jiwa korsa akan menjadi tercela ketika ditempatkan dalam situasi yang salah. Untuk itulah, biasanya di samping jiwa korsa, disiplinnya juga harus dipupuk. Hasanuddin menjelaskan, disiplin adalah sikap taat dan tunduk pada aturan yang berlaku. 

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (TNI) Pramono Edhie Wibowo menilai tidak ada yang salah dengan jiwa korsa yang dipegang oleh para prajurit TNI. Jiwa korsa harus dimiliki untuk menghadapi perang.


"Itu rohnya. Kalau dia tidak punya jiwa korsa, suatu saat kawannya terluka di dalam pertempuran, mau ditinggal atau dibawa? Ditinggal nanti dibunuh padahal dia masih terluka tapi tidak bisa berjalan. Kalau tidak punya jiwa korsa, dia tinggal temannya di situ," kata Pramono di Markas Besar TNI AD di Jakarta, Selasa (9/4/2013). Pramono mengakui bahwa jiwa korsa telah salah dalam penerapannya jika melihat peristiwa penyerangan Lapas Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Para prajurit diduga membunuh empat tahanan yang menjadi tersangka pembunuhan Serka Santoso di Hugo's Cafe. Empat tersangka yang dieksekusi di dalam sel, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.


"Kami evaluasi kembali sehingga jelas kapan jiwa korsa dipakainya, kapan enggak boleh. Jiwa korsa itu tidak salah," ucap pria yang akan pensiun awal Mei 2013 itu.


Salah satu contoh bentuk nyata dan positif dari semangat jiwa korsa ini ditunjukkan oleh Mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IV Diponegoro, Mayor Jenderal TNI Hardiono Saroso di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Selasa 9 April 2013.

Mantan Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Hardiono Saroso.

Hardiono mengatakan, ia menyayangi semua prajuritnya. “Saya sayang betul sama anggota. Saya harus mati untuk prajurit,” kata dia. Untuk itu ia siap apabila namanya kelak terseret dalam proses penegakan hukum terhadap 11 oknum Kopassus penyerangan Lapas Cebongan di Pengadilan Militer.

“Tenang saja, saya pasti tanggung jawab. Berani berucap, berani bertanggung jawab. Yang jelas, prajurit mati untuk pemimpin, dan pemimpin mati untuk prajurit,” kata Hardiono.

Penyusun : Yohanes Gitoyo.
Sumber : 
  1. http://menwa811.blogspot.com/2010/04/jiwa-korsa.html
  2. http://www.tribunnews.com/2013/04/06/jiwa-korsa-diperkenalkan-napoleon-bonaparte
  3. http://nasional.kompas.com/read/2013/04/09/16010344/KSAD.Tidak.Ada.yang.Salah.dengan.Jiwa.Korsa
  4. http://nasional.news.viva.co.id/news/read/403658-eks-pangdam-diponegoro--semuanya-jelek-di-mata-komnas-ham