Sabtu, 18 Januari 2014

DKI Jakarta (Mungkin) Tenggelam Tahun 2050.



Penurunan permukaan tanah secara signifikan di Jakarta semakin luas. Kondisi tersebut terjadi akibat kian intensifnya pembangunan fisik yang disertai penyedotan air tanah secara tidak terkendali. Naiknya permukaan laut sebagai dampak pemanasan global menyebabkan wilayah Jakarta yang terendam rob atau genangan saat air laut pasang kian luas.

Tim dari Kelompok Keilmuan Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan kajian subsidensi permukaan tanah di 23 titik di sekitar Jakarta menyimpulkan, penurunan permukaan tanah bervariasi, 2 sentimeter hingga lebih dari 12 cm selama 10 tahun sejak 1997 hingga 2007.

Hasanuddin Z Abidin, salah seorang peneliti, Sabtu (25/9/2010), menyatakan, sebagian besar kawasan barat hingga utara Jakarta mengalami penurunan tanah antara 5 cm dan 12 cm. Adapun wilayah tengah hingga timur penurunan tanahnya hingga 5 cm. Penurunan kawasan timur laut hingga selatan berkisar 2-4 cm.

”Penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah juga menurunkan badan jalan dan saluran drainase sehingga retak-retak, rusak, dan menutupi saluran,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Tarjuki. ”Dinas PU DKI sedang memperbaiki badan saluran drainase yang tertutup agar air lebih cepat mengalir,” lanjutnya.


Penurunan permukaan tanah juga menciptakan kawasan-kawasan cekung yang lebih cepat tergenang saat banjir.

Sebagian kawasan Pademangan, Jakarta Utara, yang beberapa tahun lalu nyaman dilalui, misalnya, kini menjadi langganan rob saat air laut pasang. Kawasan wisata Ancol Taman Impian yang beberapa tahun lalu lebih tinggi daripada permukaan laut kini harus membangun tanggul di sepanjang bibir pantai guna menahan air laut saat pasang. Tanggul pun harus rutin ditinggikan karena permukaan tanah terus turun.

Data Dinas Pengembangan DKI Jakarta bahkan lebih mengerikan. Pada periode tahun 1982 hingga 1997 terjadi amblesan tanah di kawasan pusat Jakarta yang mencapai 60 cm hingga 80 cm. Karena merata, amblesan ini menjadi tidak terasa. Bila penurunan ini terus berlanjut, “tenggelamnya” Jakarta sudah di depan mata.

Isu tentang Jakarta Tenggelam yang beredar selama ini memang bukanlah isapan jempol belaka. Pasalnya menurut perkiraan dari para pakar ahli kebumian, bahwa memang benar Jakarta tenggelam beberapa saat kedepan bila masyarakat tidak mewaspadai tentang berbagai pemanfaatan air tanah dan pembangunan gedung-gedung tinggi.

Seperti yang dipaparkan oleh seorang ahli yang juga merupakan Pengajar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) DR Armi Susandi, MT, bahwa memang mungkin saja kota Jakarta akan tenggelam karena berada di kawasan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan permukaan air laut. “Tanpa aturan yang benar, wilayah Jakarta akan segera tenggelam”, ungkapnya.

Contoh-contoh yang kecil telah mulai terlihat bahwa memang nyata bila Jakarta akan tenggelam, dan salah satu contohnya itu adalah amblasnya Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, arah Ancol menuju Tanjung Priok sepanjang 103 meter dan amblas sampai 7 meter.

“Tanah di Jakarta Utara makin tinggi penyerapan airnya karena eksplorasi air tanah. Masuknya air laut sudah begitu cepat ke daratan Jakarta. Ini sangat berbahaya,” kata Armi lagi.

Pada mulanya, tanah Jakarta padat. Namun tingginya konsumsi air tanah menyebabkan muncul rongga-rongga di dalam tanah. Selanjutnya, rongga itu diisi oleh air laut. Karena tingkat kepadatan berbeda dibandingkan sebelumnya, tanah Jakarta tidak sepadat dulu sehingga rentan ambles dan retak.

“Permukaaan Jakarta sejak dulu memang lebih rendah daripada permukaan laut. Namun penyerapan air laut menjadi sangat cepat saat ini,” kata Armi.

Ada dua alasan yang menyebabkan Jakarta akan segera tenggelam jika tidak ada perbaikan sistem, ungkap Armi. Pertama, tanah Jakarta memiliki beban bangunan yang begitu tinggi.

“Semakin tinggi bangunan, maka semakin besar kuantitas air yang dibutuhkan. Selain itu, kemungkinan besar tidak sanggup menahan beban karena tidak lagi padat.”

Kedua, eksploitasi air tanah yang berlebihan. Berdasarkan keterangan Armi, PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Jakarta hanya mampu menyediakan 70% jumlah kebutuhan air masyarakat.

“Sisanya masyarakat sendiri yang mencari. Salah satunya dengan konsumsi air tanah.” Yang terburuk, 25% wilayah Jakarta akan tenggelam di 2050, tandas Armi.

Sumber : AntaraNews.com & TRIBUNnews.com, dikutip dari : http://wanharwan.blog.com/, 17 Desember 2011.