Malware Bisa Kirim Data Curian Tanpa Internet !!!


Malware dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai "perangkat perusak" (bahasa Inggris: malware, berasal dari lakuran kata malicious dan software) adalah perangkat lunak yang diciptakan untuk menyusup atau merusak sistem komputer, server atau jejaring komputer tanpa izin (informed consent) dari pemilik. Istilah ini adalah istilah umum yang dipakai oleh pakar komputer untuk mengartikan berbagai macam perangkat lunak atau kode perangkat lunak yang mengganggu atau mengusik kinerja komputer.

Perangkat lunak dianggap sebagai perangkat perusak berdasarkan maksud yang terlihat dari pencipta dan bukan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Perangkat perusak mencakup virus komputer, cacing komputer, kuda Troya (Trojan horse), kebanyakan kit-akar (rootkit), perangkat pengintai (spyware), perangkat iklan (adware) yang takjujur, perangkat jahat (crimeware) dan perangkat lunak lainnya yang berniat jahat dan tidak diinginkan.


Selama ini program jahat atau malware selalu membutuhkan semacam medium digital untuk bisa mencuri data dari satu perangkat untuk diteruskan ke perangkat lain, biasanya melalui jaringan komputer dan internet.

Lalu, apakah komputer yang tidak tersambung ke jaringan bisa disebut "steril" dari kemungkinan pencurian data?

Ternyata tidak juga. Sekelompok peneliti dari Fraunhofer Institute of Communications, Jerman, membuktikan bahwa ternyata malware juga bisa mencuri data dari komputer lewat gelombang suara tanpa butuh koneksi data.

Seperti dilaporkan oleh Ars Technica, para peneliti tersebut mengembangkan prototipe malware yang berkomunikasi dan mengirim data lewat mikrofon dan speaker. Caranya adalah dengan mengirim sinyal frekuensi tinggi dari komputer yang terinfeksi ke komputer lain. 

Transfer data hanya bisa dilakukan dengan kecepatan sangat rendah, yaitu 20 bit per detik, tapi ini sudah cukup untuk mengirim informasi-informasi vital semacam password dengan cepat. 

Terlebih lagi jangkauan metode pengiriman lewat suara ini lumayan luas, mencapai 65 kaki atau 20 meter. Jarak itu bisa diperluas dengan menciptakan jaringan komputer yang terinfeksi untuk melakukan relay sinyal suara.


Malware tersebut membuktikan bahwa isolasi komputer dari internet dan jaringan sudah tidak bisa dipandang cukup untuk mengamankan perangkat. "Konsep jaringan berbasis sinyal suara membuat metode sekuriti konvensional menjadi tidak berguna karena biasanya tak mempertimbangkan komunikasi audio," tulis tim peneliti dari Fraunhofer Institute itu dalam laporan yang dipublikasikan di Journal of Communications.

Tim peneliti dari Fraunhofer Institute itu sendiri tidak benar-benar membuat malware, melainkan hanya membuktikan konsep untuk meningkatkan kesadaran mengenai kemungkinan serangan di masa depan dan cara menangkalnya. Salah satu "penangkal" yang disarankan adalah dengan memakai filter audio yang memblokir suara frekuensi tinggi dan penganalisa audio.

Penulis: Oik Yusuf 
Editor: Wicak Hidayat
Sumber: ArsTechnica, dikutip dari : http://tekno.kompas.com/, Jumat, 6 Desember 2013, 08.23 WIB.