Daratan Amerika Serikat Membeku, Apa Dampak ke Iklim Indonesia?


Beberapa hari terakhir, wilayah Amerika Serikat bagian utara dihujani salju dengan temperatur suhu yang sangat dingin. Suhunya mencapai minus 50 derajat Celcius. Dan, tentu bisa bikin beku Negeri Paman Sam.

Banyak yang beranggapan peristiwa itu disebabkan oleh badai salju. Tapi, sebenarnya itu disebabkan oleh sebuah fenomena alam yang disebut polar vortex (pusaran kutub), atau kolam udara dingin yang berputar di wilayah Kutub Utara dan menjalar ke wilayah selatan, dilansir NBC News, Rabu 8 Januari 2014.

Penyebab aliran udara dingin itu adalah sebuah fenomena yang dikenal 

Ahli meteorologi dari The Weather Channel, Frank Giannasca menjelaskan polar vortex adalah sebuah aliran udara dingin besar yang berputar di puluhan ribu kaki di bawah atmosfer. 

"Pada dasarnya, aliran udara itu terkonsentrasi di wilayah Kutub Utara dan berputar mengarah ke selatan," kata Giannasca.

Biasanya, aliran udara dingin itu hanya sampai ke timur laut Kanada. Tapi, menjadi sangat mengejutkan ketika aliran udara dingin itu bisa menjangkau jauh lebih ke selatan. Dan, ini membuat kurang lebih 140 juta orang Amerika merasakan beku.


Melansir Space, Rabu 7 Januari 2014, penampakan aliran udara super dingin itu tertangkap dari luar angkasa oleh Satelit GOES-East milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada tanggal 6 Januari 2014, pukul 11:01 EST.

Di gambar itu terlihat pusaran udara dingin dari Kutub Utara bergerak ke arah selatan, yaitu ke wilayah barat Wisconsin dan wilayah timur Minnesota. Akibatnya, setengah wilayah AS ditutupi udara yang super dingin.

Menurut Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), polar vortex merupakan daerah luas yang bertekanan udara rendah yang biasa ditemukan di Kutub Utara dan Kutub Selatan. 

"Polar vortex dari Kutub Utara biasanya terbang dari barat ke timur di Laut Artik selama musim dingin. Tapi, sistem tekanan udara tinggi yang ada di Greenland dan Kanada telah mendorong udara dingin tersebut ke wilayah Amerika Serikat," kata pejabat NASA.

Dia juga menyampaikan, hal itu juga yang menyebabkan suhu udara menurun di Amerika Serikat bagian utara dan udara dingin Kutub dirasakan sampai jauh ke selatan di Atalanta.

Dari data NASA pada Minggu 5 Januari 2014, polar vortex terus berputar-putar di sebagian wilayah AS, terutama di North Dakota ke Florida, dan mengakibatkan suhu menjadi -77 derajat Celcius.

Diperkirakan polar vortex akan kembali bergerak ke utara, di atas Kanada pada akhir minggu ini.

Sementara Satelit GOES-East berhasil menangkap sistem frontal dari polar vortex di sepanjang Pantai Timur AS yang mengakibatkan hujan salju turun di Minnesota, Wisconsin, Illinois, Indiana, Ohio, Michigan, Iowa, Missouri, dan menyebar ke Great Plains.




"Ada berbagai alasan mengapa aliran udara dingin itu bisa pergi sampai jauh ke arah selatan. Tapi, untuk kasus ini adalah salah bentuk dari anomali cuaca, yang memaksa aliran udara itu pergi jauh ke selatan," ujar Giannasca.

Lalu, apakah ini sebuah fenomena cuaca langka? Dan, sampai kapan polar vortex berlangsungi?

Bisa benar, bisa juga tidak. Sebenarnya, Giannasca menjelaskan, jika melihat dari perjalanan musim dingin, udara dingin di kutub bisa saja mengungsi ke wilayah selatan, biasanya ke wilayah timur AS. 

"Sangat jarang sekali udara dingin itu menutupi hampir sebagian negara AS. Mungkin hanya terjadi dalam periode satu dekade sekali atau lebih," kata Giannasca.

Prakiraan cuaca menunjukkan suhu di negeri Paman Sam secara keseluruhan akan mulai menurun pada akhir minggu. Suhunya di antara -20, -30 derajat Celcius. 

"Tapi, fenomena cuaca seperti ini tidak menentu. Sulit diperkirakan. Bisa saja terjadi lagi, dan bisa juga segera menghilang. Sangat sulit untuk memastikannya," ujar Giannasca.


Adakah Pengaruhnya Bagi Indonesia ?

Badan Meterologi Klimatologi dan Geofiska (BMKG) mengatakan suhu ekstrem yang terjadi di wilayah Kanada dan Amerika bagian Utara dalam beberapa hari terakhir tak akan berdampak bagi cuaca di Indonesia. Suhu ekstrem di AS itu disebutkan merupakan bagian dari variabilitas iklim.

"Sejauh ini belum ada hubungan langsung terhadap aktivitas cuaca dan iklim di wilayah Indonesia," jelas Widada Sulistya, Deputi Bidang Klimatologi BMKG di Cricis Centre, Kantor BMKG, Jakarta, Jumat 10 Januari 2014. 

Dia mengatakan, suhu ekstrem yang dapat memberi pengaruh langsung pada cuaca dan iklim di Indonesia adalah suhu ekstrem dari wilayah terdekat, misalnya Australia atau kawasan daratan Indo China Selatan.

Contohnya, Widada menyebutkan, suhu esktrem di Vietnam pernah berdampak bagi Indonesia. Pada Desember lalu, di Vietnam turun salju. Di sana terdapat tekanan udara dari utara ke selatan. Akibatnya, cuaca di sana dingin.

"Cuaca dingin di sana memberi dorongan massa udara dingin ke selatan sehingga cuaca kita relatif banyak hujan," terang dia.

Ia menyebutkan, dampak suhu ekstrem Vietnam beberapa waktu lalu membawa peningkatan curah hujan dan banyaknya petir di wlayah Indonesia. 

"Dampak suhu di Vietnam itu hanya angin kencang, hujan lebat," tegasnya. 

Ia menambahkan, pada bulan Januari, untuk beberapa wilayah yang mengalami cuaca ekstrem rata-rata mengalami penurunan suhu dari rata-rata suhu ektrim.

Misalnya, Desember lalu, Vietnam mengalami penurunan suhu 3 derajat Celcius dari rata-rata suhu semestinya. Sedangkan, wilayah AS memang memasuki puncak musim dingin.


Biasanya, kata Widada suhu ektrem mencapai -15 derajat Celcius. "Tapi, yang kemarin itu cukup ekstrem, sebanyak -9 derajat Celcius dari rata-rata suhu pada bulan Januari," jelasnya.

Penulis : Muhammad Chandrataruna, Amal Nur Ngazis
Sumber : http://teknologi.news.viva.co.id/, Jum'at, 10 Januari 2014, 18:27 WIB.