Minggu, 15 Desember 2013

Benarkah Tragedi Bintaro Akibat Medan Magnet? Tips Selamat Berkendara Lewat Rel !


Polisi terus menyelidiki penyebab Tragedi Bintaro II. Muncul kabar bahwa tabrakan antara kereta komuter dan truk pengangkut 24 ribu liter bensin yang menewaskan tujuh orang itu akibat medan magnet.

Medan magnet adalah area maya yang terbentuk akibat gerakan muatan listrik, biasa terjadi dalam kabel atau peralatan elektronik. Satuannya disebut Tesla (T).

Benarkah Tragedi Bintaro Akibat Medan Magnet?

Manajer Keamanan Senior PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasional I Ahmad Sujadi membenarkan keberadaan medan magnet di sekitar rel kereta sebagai dampak aliran listrik. "Aliran listrik itu mulai dari kabel atas, disalurkan ke kereta yang kontak dengan rel," katanya kepada Tempo, Rabu, 11 Desember 2013. 

Namun, Sujadi melanjutkan, medan magnet rel kereta tergolong kecil dan tidak ada pengaruhnya ke kendaraan. "Saya tidak tahu angka pastinya, tapi yang jelas sangat kecil dan tidak ada pengaruhnya ke kendaraan, apalagi sampai bikin mati," ujarnya. Dia hakulyakin kendaraan yang mogok di rel karena pengemudi yang gugup saat mendengar raungan sirene, lalu kehilangan keseimbangan antara gas dan kopling sehingga mesin mati.

Harsono Hadi, peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mengatakan medan magnet di rel kereta tidak berbahaya. "Secara ilmiah, tidak terbukti pengaruh medan magnet yang bisa membuat kendaraan mogok di lintasan kereta," kata pakar rekayasa energi dan tenaga listrik ini.

Segendang sepenarian, Perdamean Sebayang, fisikawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, meyakini Tragedi Bintaro II tidak berkaitan dengan medan magnet. "Sopirnya saja yang panik," katanya.

Harsono mengatakan insiden serupa bisa dicegah dengan membangun jalur layang kereta atau jalan bawah tanah pada perlintasan sebidang. "Ini lebih pada pengaturan lalu lintas," katanya. "Bukan soal medan magnet."


Tips Selamat Berkendara Lewat Rel Kereta Api.

Tragedi Bintaro, Tips Selamat Berkendara Lewat Rel

Kecelakaan kereta rel listrik jurusan Serpong-Tanah Abang yang menabrak truk tangki bahan bakar minyak milik PT Pertamina (Persero) di Pondok Ranji, Bintaro seperti mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya keselamatan berkendara. Masyarakat diharapkan bisa mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku, bukan hanya demi keselamatan diri sendiri, melainkan juga pengemudi kendaraan lain.

Presiden Director Indonesia Defensive Driving Center (IDDC), Bintarto Agung membenarkan masyarakat masih sering mengabaikan peringatan di jalur-jalur kereta api. "Kalau melihat kejadian kemarin, itu lebih pada kecelakaan lalu lintas, lebih disebabkan atas perilaku pengendara truk," ujar Bintarto saat dihubungi Tempo, Kamis, 12 Desember 2013.

Menurut Bintarto, pengendara mobil maupun sepeda motor harusnya bisa menganalisa keadaan di luar kendaraannya dengan baik. Untuk itu, yang paling utama, pengendara harus sehat mental dan fisik dan mampu mengontrol emosi yang baik di jalan raya.

Berikut sejumlah saran dari Bintarto, jika pengendara mobil harus melalui perlintasan kereta api. (Selengkapnya #Kecelakaan Kereta Bintaro)

1. Perhatikan situasi di sekitar perlintasan.
Jika sirine telah berbunyi, meskipun palang belum tertutup sempurna, harus diperhatikan apakah situasi lalu lintas sedang macet atau tidak. Jika macet, sebaiknya pengendara tak perlu memaksakan kendaraannya, karena bisa saja macet menyebabkan kendaraan kebagian berhenti di tengah perlintasan.

2. Perhatikan rambu-rambu lalu lintas di palang perlintasan.
Ada baiknya, ketika sirine tanda kereta api akan lewat, kendaraan berhenti. Pengendara disarankan berhenti dengan jarak 15 meter dari palang perlintasan. "Itu sudah ada di undang-undang lalu lintas," kata Bintarto.

3. Jangan panik.
Bintarto membenarkan, bahwa kendaraan seringkali mogok di tengah perlintasan kereta api. Alasannya, terjadi medan magnet di rel kereta akibat pergesekan dengan roda kereta. Medan magnet ini mengganggu kelistrikan kendaraan yang lewat di atasnya. Kalau pengendara terlanjur panik, kendaraan cenderung lebih susah di-start kembali. "Kejadian mogok terutama terjadi pada kendaraan yang menggunakan bensin. Truk biasanya menggunakan diesel, semestinya kelistrikannya tidak terlalu terpengaruh.

Terlepas dari saran-saran tersebut, Bintarto kembali menekankan kesadaran dan inisiatif dari pengendara untuk mematuhi peraturan lalu lintas. "Jangan terprovokasi dengan situasi lalu lintas yang saat ini semakin tidak terkontrol," ujarnya.

Sumber : http://www.tempo.co/, 13 Desember 2013.