Inilah 6 Kapal Selam Canggih Siap Jaga Seluruh Perairan Nusantara.


Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) akan membeli kapal selam jenis Kilo dan Amur dari Rusia, setelah sebelumnya melakukan penjajakan pula ke Jerman dan Perancis.

Jika benar terwujud, pembelian kapal selam Rusia tersebut mengukuhkan kekuatan daya tangkal (deterrent power) dilautdalamditengahpersaingan kawasan yang sengit. Sebelumnya Indonesia telah memiliki dua kapal selam buatan Jerman yang sudah diperbaiki di galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan, yakni kelas Cakra dan Nanggala, serta tengah membangun tiga kapal selam baru bersama Korea Selatan dengan skema transfer of technology(ToT). 

Rencananya, kapal selam dari Rusia tersebut digunakan untuk menjaga pertahanan batas laut selatan Indonesia. Purnomo beralasan, Indonesia membeli dari Rusia karena memiliki teknologinya dan sistem persenjataan rudal yang canggih. Hanya berapa jumlah yang akan dibeli, pemerintah menunggu tim TNI AL yang akan dikirim ke Rusia bulan depan. Tentu saja juga disesuaikan dengan anggaran. Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (Purn) TNI Slamet Soebijanto merespons positif pengumuman kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Rusia untuk pengadaan sejumlah kapal selam. 

Dia menilai langkah tersebut sebagai pembangunan awal yang baik untuk masa depan ketahanan militer nasional. Slamet pun berharap pengadaan alutsista yang lebih canggih bisa lebih dioptimalkan. Dia menuturkan, Indonesia membutuhkan kekuatan militer lautyangkuat untukmenjagakawasanmaritim. Karenaitu, dibutuhkan alutsista yang lengkap, khususnya kepemilikan kapal selam. 

Jika TNI AL memiliki kapal selam dalam jumlah yang memadai, hal itu akan berdampak baik bagi kedaulatan ekonomi dalam negeri. “Kita setidaknya butuh kapal selam sebanyak 18 unit untuk menjaga wilayah maritim kita, mulai dari kawasan barat, tengah, dan timur,” ucap Slamet kepada KORAN SINDO tadi malam. Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Wijayanto menilai pengadaan kapal selam signifikan bagi militer kita, meski baru akan terealisasi pada 2016. 

"Kami tetapkan dari Rusia, karena dari segi harga terjangkau dan kehandalan teknologinya telah teruji," kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Slamet Soebijanto kepada ANTARA News, usai mendampingi Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto meninjau empat KRI baru TNI AL, di Dermaga Ujung Komando Armada RI Kawasan Timur, Surabaya, Kamis.

Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI akan mengirimkan tim khusus untuk melihat secara fisik kondisi kapal selam Kilo Class bekas buatan Rusia yang telah ditawarkan kepada Indonesia.

"Ini merupakan kerja sama lanjutan antara Indonesia dengan Rusia, dari Angkatan Laut, kami akan kirim tim ke Rusia untuk melihat kondisi kapal selam Kilo Class," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, di Kantor Kemhan, Jakarta, Jumat (6/12).


Menurut dia, Indonesia memiliki dua pilihan untuk memperkuat armada laut nasional, khususnya pengadaan kapal selam, yakni pertama, mendatangkan kapal selam kilo class bekas buatan Rusia, dan opsi kedua, membangun kapal selam baru berteknologi Korea.

Dari dua opsi itu, pihaknya masih mempertimbangkan opsi mana yang akan dipilih karena harus mempertimbangkan cost atau biaya yang akan dihabiskan.

"Kita kirim dulu tim untuk melihat secara fisik untuk mengecek opsi pertama. Kalaupun dipilih kapal selam yang baru, tentu juga butuh biaya yang berbeda. Pembangunan armada kapal selam juga dilakukan berdasarkan masukan dari AL sendiri," ujarnya.

Dalam pengadaan kapal selam, armada yang akan dibangun, diutamakan yang dapat mengoperasikan persenjataan rudal balistik.

“Bagi Indonesia, kapal selam bukan saja penting, tapi mendesak karena punya tiga ALKI (alur laut kepulauan Indonesia) yang harus dikawal,” ujarnya tadi malam. Dia menuturkan, tiap ALKI penting untuk mendapat pengamanan optimal, tidak saja ALKI III di wilayah timur Indonesia yang dinilai masih lemah. Menurut dia, untuk pengamanan optimal setidaknya perlu penambahan 10 unit lagi, melengkapi dua kapal selam yang sekarang sudah dimiliki TNI AL, sesuai target kekuatan pokok minimal (minimum essential force/MEF). 


Menhan mengatakan, Indonesia memiliki tiga alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Di sebelah timur, alkinya terpecah menjadi tiga bagian, sehingga ada celah untuk masuk ke kepulauan Indonesia.

"Di sebelah timur kepulauan Indonesia, kondisinya berperairan dalam. Sehingga, operasi kapal selam sangat memungkinkan untuk dilakukan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana (TNI) Marsetio, menjelaskan, Indonesia telah memiliki dua kapal selam buatan Jerman, dan saat ini tengah dilaksanakan pembangunan tiga unit kapal selam atas kerja sama dengan Korea Selatan.

"Ada keinginan dari Rusia menawarkan kapal selam kilo class. Tim akan segera brangkat menindaklanjuti tawaran Rusia tersebut," katanya.

Ia menambahkan, sebagai negara kepulauan, Indonesia idealnya memiliki 12 unit kapal selam, namun TNI AL akan menyesuaikan budget yang diterima.

"Kita juga punya rencana startegis untuk mencapai kekuatan pokok minimum (MEF). Kalau anggaran tersedia dan ada percepatan, maka akan memberikan efek strategi bagi pertahanan," tutur Marsetio. 


Kapal Selam Kilo Class.

Miniatur kapal selam Kilo Class. [www.shipmodels.info]

Dipilihnya Rusia, lanjut dia, karena bekas negara adidaya itu telah lama membangun industri kapal selam dan telah teruji kehandalanya. Selain itu, menindaklanjuti keputusan politik negara untuk tidak tergantung pada negara-negara barat untuk menghindari embargo.

"Nggak ada masalah dengan Rusia," kata Kasal singkat.

Sebelumnya, TNI AL melakukan penjajakan terhadap pengadaan kapal selam dari Rusia, Jerman dan Perancis. Dari Jerman, TNI AL berencana membeli kapal selam jenis U-209/1400 sedangkan dari Perancis kapal selam jenis Scorten.

Kapal Selam  Kilo Class 

Dari negeri beruang merah, TNI AL berencana membeli enam kapal selam masing-masing dua kapal selam jenis Kilo Class (B/M), dua kapal selam Kilo (S/H) dan dua Amur Class 950 (B/M).





Dibanding Jerman dan Perancis, enam kapal selam yang akan dibeli tersebut telah dilengkapi dengan persenjataan yang dibutuhkan TNI AL seperti peluru kendali, torpedo, antiranjau, dan anti peluru kendali. 

"Tidak itu saja, kapal selam Rusia yang akan kita beli juga telah dilengkapi alat sensor. Jadi, dengan harga yang lebih rendah kita sudah dilengkapi dengan senjata dan alat sensor," kata Slamet.


Kapal selam Kilo Class rencananya akan dilengkapi rudal Yakhont dan senjata antiranjau, sedangkan Amur Class akan dilengkapi dengan enam torpedo 533 mm, antipeluru kendali 3M-54E-1 dan antiranjau.

Lebih jauh, Kasal mengemukakan, pengadaan kapal selam itu merupakan salah satu bentuk upaya penangkalan (detterence) sekaligus melengkapi satuan pemukul (striking force).

Pada jangka pendek dan menengah, TNI AL tetap akan memprioritaskan pengadaan dan pengembangan kekuatan satuan pemukul dan satuan patroli (patrol force) mengingat banyak sekali aksi perompakan, penyelundupan dan pencurian ikan di wilayah perairan RI, terutama yang berbatasan dengan negara lain.

"Dua-duanya, akan kita tingkatkan dan prioritaskan baik satuan pemukul dan patroli. Karena dana terbatas, maka peningkatan kapasitas terhadap kapal-kapal patroli dan perang dilakukan dengan menambah peluru kendali jenis Yakhont untuk mengganti rudal Harpoon yang telah kedaluwarsa.

Pada kesempatan yang sama, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto mengatakan, TNI tengah menyusun daftar kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista) yang akan dibeli dari Rusia, menyusul persetujuan pemerintah menerima kredit negara dari Rusia senilai satu miliar dolar AS.

"Sudah, masing-masing Mabes Angkatan telah menyusun dan mengajukan daftar alat utama sistem persenjataan (alutista) yang akan dibeli dari Rusia," katanya, ketika dikonfirmasi ANTARA.


Bukan untuk Hadapi Australia 

Australia Sadap Indonesia, Terkait Kapal Selam Rusia

Purnomo pun menegaskan bahwa kerja sama ini tak ada kaitannya dengan isu intelijen yang dibocorkan oleh Edward Snowden, karena wacana kerja sama sudah dijajaki empat tahun lalu. Dia juga secara tegas membantah rencana pembelian kapal selam jenis kelas Kilo yang ditempatkan di wilayah selatan Indonesia untuk menghadapi ancaman dari Australia. Menurutnya, pembelian kapal selam sudah direncanakan sejak lama sesuai dengan rencana strategis Minimum Essential Force (MEF).

”Saya tidak pernah mengatakan ancaman dari selatan dalam buku putih. Dalam rencana itu, dalam konteks regional yang diprioritaskan itu di perbatasan,” tandasnya. KSAL Laksamana (TNI) Marsetio menjelaskan, Indonesia telah memiliki dua kapal selam buatan Jerman, dan saat ini tengah dilaksanakan pembangunan tiga unit kapal selam atas kerja sama dengan Korea Selatan.”Ada keinginan dari Rusia menawarkan kapal selam Kilo class. Tim akan segera berangkat menindaklanjuti tawaran Rusia tersebut,” katanya. 

Dia menambahkan, sebagai negara kepulauan, Indonesia idealnya memiliki 12 kapal selam, namun TNI AL akan menyesuaikan anggaran yang diterima.” Kita juga punya rencana strategis untuk mencapai kekuatan pokok minimum. Kalau anggaran tersedia dan ada percepatan, maka akan memberikan efek strategis bagi pertahanan,” tutur Marsetio.

Sumber : 
  1. http://www.antaranews.com/.
  2. http://www.suarapembaruan.com/
  3. http://www.koran-sindo.com/