Perjalanan 30 Tahun Grup Musik Legendaris Indonesia : SLANK !

File: Profil-Slank.jpg
Searah jarum jam di bawah kiri: Ridho, Bimbim, Kaka, Abdee, Ivanka

Cikal bakal lahirnya Slank adalah sebuah grup bernama Cikini Stones Complex (CSC) yang dibentuk oleh Bimo Setiawan Almachzumi/Bimo Setiawan Sidharta (Bimbim) pada 26 Desember 1983.  Band ini hanya memainkan lagu-lagu Rolling Stones dan tak mau memainkan lagu dari band lain, alhasil mereka akhirnya jenuh dan menjelang akhir tahun 1983 grup ini dibubarkan.


Bimbim meneruskan semangat bermusik mereka dengan kedua saudaranya Denny dan Erwan membentuk Red Evil yang kemudian berganti nama jadi Slank, sebuah nama yang diambil begitu saja dari cemoohan orang yang sering menyebut mereka cowok selengean dengan personel tambahan Bongky (gitar) dan Kiki (gitar).

Karena tekad dan aktifitasnya di dunia musik, Bim Bim mendapat dukungan yang cukup besar dari kedua orangtuanya dengan ikhlas orangtua mereka merelakan sebagian ruang di rumahnya di jl. Potlot / 14 dijadikan tempat latihan sekaligus markas berkumpul personel Slank.

Dengan formasi Erwan (Vokal), Bongky (Gitar), Denny (Bass), Kiki (Keyboard) dan Bimbim (Drum), mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri. Sampai akhirnya Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank. "Banyak perusahaan rekaman yang menolak dengan alasan musik kami nggak bisa dijual," kenang Bim-Bim.

Saat itu dunia rekaman Indonesia memang sedang ramai dengan musik rock-nya Nicky Astria dan Ikang Fawzy, pop kreatifnya Dedi Dhukun, dan juga pop melankolisnya Rinto Harahap plus Obbie Mesakh. Musik Slank yang tak masuk tiga kategori itu dianggap tak bisa menghasilkan keuntungan. Slank sempat frustrasi. Lantas mereka mencoba berkompromi dengan selera pasar. "Kami membuat lagu rock yang mirip-mirip lagunya Ikang Fawzy, tapi tetap tak bisa diterima dengan alasan tidak komersil," kata Bim-Bim.

Mereka sempat tampil di beberapa pentas dengan membawakan lagu-lagu sendiri sebelum Erwan memutuskan mundur karena merasa tidak punya harapan di Slank. Dengan perjuangan panjang terbentuklah formasi ke-13, Bimbim, Kaka, Bongky, Pay dan Indra, Slank baru solid. Dengan formasi Bimbim (Drum), Bongky (Bass), Pay (Gitar), Kaka (Vokal) dan Indra (Keyboard) mereka mulai membuat demo untuk ditawarkan ke perusahaan rekaman.

Suatu ketika, Pay sempat mengisi gitar untuk album Nike Ardilla. Saat itu, Nike sedang ditangani produser Ichwan dan Boedi Soesetyo. Setelah tugasnya selesai, Pay menawarkan bandnya sendiri yakni Slank agar bisa diberi kesempatan untuk rekaman. Ia lantas memperdengarkan demo Slank kepada dua produser ini. Tak disangka, dua orang ini tertarik. Langsung aja Slank diajak rekaman. Tapi di tengah jalan, Ichwan mundur. Jadilah Boedi sendirian yang menjadi produser.

Dalam penampilannya Slank memang memainkan musik yang garang ditambah dengan lirik yang ’semau gue’. Namun hal tersebut ternyata disukai banyak orang. "Kami cuma cerita yang ada di sekeliling kami, jadi memang tidak dibuat-buat," kata Bim Bim. Bim Bim sendiri memang paling sering memberi ide lirik lagu Slank. Di album pertamanya, Slank juga tanpa sungkan menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya, seperti yang mereka tuangkan dalam lagu yg berjudul ‘Memang’.


Slank bukan cuma ’semau gue’ dalam musik dan lirik lagu-lagunya, gaya berpakaian mereka pun sembarangan. Sandal jepit, kaus oblong dan celana jins belel adalah ’seragam’ sehari-hari mereka pada saat itu. Bahkan pada saat itu, penampilan keseharian Kaka sang vokalis malah lebih mirip anak gelandangan daripada seorang vokalis grup band terkenal yang digandrungi remaja penggemar musik saat itu. Mereka juga tanpa sungkan memakai ’seragam’nya itu di mana aja.

Pernah, dalam suatu acara penghargaan musik di tahun 90-an, biasanya para artis yang datang mengenakan pakaian dari perancang busana ternama, justru sebaliknya pada saat itu Kaka malah datang dengan memakai kaus kostum timnas sepak bola Brasil, bercelana pendek, dan bersandal jepit.



Setelah berulang kali ditolak, akhirnya tahun 1990 demonya diterima dan mulai rekaman debut album Suit... Suit... He... He... (Gadis Sexy). Album yang menampilkan hit Memang dan Maafkan itu meledak dipasaran sehingga mereka pun diganjar BASF Award untuk kategori pendatang baru terbaik. Album tersebut juga seakan "menampar" industri musik Indonesia yang kala waktu itu masih gencarnya lagu lagu Malaysia seperti tembang Issabella milik Search. Musik Slank yang Rock 'N Roll Blues itu bisa dibilang penyelamat kaum anak muda di Indonesia. Gayanya yang cuek dan slengean tapi bersahabat itu menarik massa yang saat itu masih sebatas minoritas.


Album kedua mereka, Kampungan pun meraih sukses yang sama. Hits single dari album Kampungan adalah Mawar Merah dan Terlalu Manis yang dibuat dalam dua versi. Suka suka dan Jualan. Namun anehnya, justru lagu yang versi Suka suka lah yang menjadi hits dan sering dimainkan. Lagu nya memang damai karena Kaka bermain harmonika (bukan pertama kali ini saja Kaka bermain harmonika). Di album Kampungan ini pun,Slank memasukkan lagu Nina Bobo. Nafas Rock 'N Roll dan Blues masih terasa di album ini. Wajar,, karena nyawa musik Slank ada di situ.

Sukses Slank diikuti dengan banyaknya musisi yang berdatangan ke markas Slank di Jalan Potlot, Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Banyak musisi dan penyanyi yang tak hanya nongkrong, tapi jg berguru di sana seperti Anang Hermansyah, Oppie Andaresta, Thomas ‘GIGI’, Eki Lamoh (ex-Edane), Anda ‘Bunga’, Well Welly, Imanez, Ivanka, Baron, Flowers band, Alm. Andy Liani, Ipang ‘BIP’ dll. Merekapun juga mengawali kariernya di tempat ini.


Tahun 1993 bulan Desember, Slank merilis Album ketiga yang diberi judul Piss!. Semboyan Peace di plesetkan menjadi Piss. Semboyan Piss menjadi trend pada masa itu (mungkin juga sampai sekarang). Hits single dari album ini adalah Piss dan Kirim Aku Bunga. Cover album ini adalah seorang model yang meniru pose Jim Morisson (The Doors). walaupun banyak yang berpendapat bahwa model di cover tersebut adalah Bimbim, namun faktanya model cover album tersebut adalah Adji 'tarmo' tetangga seberang rumah Bimbim.

Sehingga jadilah tempat tersebut sebagai markas Slank, yang sebenarnya tempat tersebut adalah rumah orangtua Bim-Bim. Setiap hari tempat tersebut selalu ramai dikunjungi para musisi, ditambah para Slankers yang sekadar ingin berdekatan dengan para idolanya itu. Bim-Bim mengaku kaget dengan kenyataan ini. "Jujur saja, mental kami nggak siap,” katanya. Menurut dia, bisa rekaman saja sudah lebih dari cukup. Ia sempat tak siap dengan popularitas. "Tiba-tiba segala hal jadi mudah. Orang-orang yang tadinya nggak asyik sama kita, jadi asyik," kata Bim-Bim lagi.

Saat itu, Slank emang lagi menikmati ketenaran. Setiap panggung pertunjukannya selalu dipenuhi penonton. Para Slankers seperti tak bosan-bosannya menghadiri pertunjukan yang mereka adakan. Kesuksesan ini nyatanya berpengaruh pada gaya hidup anak-anak Slank. Entah siapa yang memulai, mereka mulai akrab dengan putaw, narkotik jenis heroin. Keakraban mereka dengan narkotik melebihi keakraban antarpersonel band. Lima anak muda yang biasanya selalu bersama-sama di rumah Bim-Bim mulai asik sendiri-sendiri. Band pun mereka lupakan. Badan para personel Slank pada saat itu sudah makin tak berdaging alias kurus kering, loyo, mata kuyu, jarang tidur, hidup kacau, tak terurus dan yang paling parah adalah mereka semakin menjadi seorang pemadat berat. Tak ada hari tanpa drugs dan alkohol. Makin mabok, terasa makin asik dan lebih rock n’ roll. Para tetangga mereka menuding ‘markas’ Slank tsb sebagai ‘rumah madat’. Suasananya sumpek, kumel, acak-acakan dan dekil. Beberapa remaja yang nongkrong di situ acuh tak acuh, awut-awutan dengan sorot mata yang tak bersahabat. Bahkan pada saat itu, sehari-harinya Kaka hanya berkaus oblong kutut, bercelana pendek dekil, dan tak beralas kaki.

Tahun 1994, Slank lagi-lagi merilis sebuah album yang diberi titel Generasi Biru. Lagu ini juga sering dibawakan sampai saat ini. Hits single dari album ini adalah Generasi Biroe, Terbunuh Sepi, dan juga Kamu Harus Pulang yang sering dimainkan saat ending show mereka.

Album ke lima mereka, Minoritas dirilis pada Januari 1996. Menampilkan single Bang Bang Tut yang juga sukses dipasaran dan masih sering dinyanyikan di show mereka. Di album ini juga Bimbim menyanyikan sebuah lagu miliknya yang berjudul Bidadari Penyelamat. Unik nya, lagu ini tidak ada aransemen apapun. Hanya suara Bimbim saja.

Pada saat menggarap album keenam Lagi Sedih, Bimbim selaku leader akhirnya memutuskan untuk memecat Bongky, Pay dan Indra. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa Bongky, Indra dan Pay keluar atau mengundurkan diri karena perilaku Bimbim dan Kaka yang sudah terlampau parah dalam penggunaan narkoba. Perpecahan tersebut sebenarnya sudah bisa terlihat di album ke empat mereka di lagu Pisah Saja Dulu. Bimbim bahkan berniat untuk membubarkan Slank. Namun sebuah surat yang ditulis dengan darah oleh seorang Slanker membuatnya mengurungkan niatnya. Isinya menyeramkan. Dia bersumpah untuk membunuh Bimbim jika Bimbim benar benar melaksanakan niatnya untuk membubarkan Slank. Kaka dan Bimbim tetap menggarap album ke-6 dengan bantuan additional player. Reynold masuk untuk mengisi posisi gitar dan Ivanka yang waktu itu sering nongkrong di Potlot juga ikut membantu dalam mengerjakan project Slank untuk album ke enam dengan formasi masa transisi ini. Album Lagi Sedih pun dirilis pada Februari 1996. Dengan single Koepoe Liarkoe dan Tong Kosong membuktikan Slank masih bisa survive. Tawaran manggung pun berdatangan. Dan saat tinggal beberapa kota yang akan diselesaikan dalam rangkaian show nya,, Reynold menyatakan ingin keluar dari Slank. Alasannya karena beliau juga tidak kuat karena Bimbim dan Kaka yang saat itu masih terjerumus dengan narkoba. Walaupun saat itu sudah dibujuk untuk menunda pengunduran dirinya,, Reynold tetap tidak ingin melanjutkan sisa show nya. Saat itu lah reformasi di tubuh Slank terjadi. Ivanka ditarik menjadi member resmi. Slank yang sepeninggal Reynold langsung bergerak cepat. Management langsung mencari orang untuk untuk menyelesaikan sisa show di beberapa kota. Ivanka merekomendasikan Abdee Negara untuk membantu Slank. Abdee dan Ivanka memang sebelumnya sudah bersahabat dan satu Band di Flash. Sedangkan manager Slank waktu itu,,Mbak Wiwid mengontak Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho) yang baru saja menyelesaikan sekolah gitarnya.

Pengalaman pahit terjerat narkoba memang menjadi bumerang tak hanya dalam urusan personel. Ketika mereka sedang sakaw namun tidak ada narkoba dalam sebuah perjalanan ke daerah untuk konser, Bimbim pernah sampai tak bisa bangun, padahal harus ada pertemuan dan tanya-jawab dengan wartawan. "Kaka yang ngadepin wawancara wartawan karena kondisinya lebih kuat meski dengan susah payah. Pokoknya hancur banget saat itu." Slank membantah anggapan bahwa dengan mengonsumsi Narkoba seorang seniman bisa lebih kreatif, justru sebaliknya, tanpa menggunakan barang haram tersebut mereka terbukti bisa menghasilkan karya-karya bagus. "Saat membikin album pertama hingga ketiga, kami belum memakai Narkoba, tapi album itu terbukti paling bagus. Jadi, tanpa Narkoba kami bisa menghasilkan karya yang bagus. Setelah album ketiga, kami menjadi pengguna," ujar Kaka. 

Masuknya Abdee Negara dan Ridho dalam formasi inti Slank membuat Bimbim dan Kaka melanjutkan perjalanan bermusiknya. Diawali dengan album Tujuh yang dirilis January 1997 dengan single yang menghentak yaitu Balikin. Lagu yang menandakan bahwa Bimbim dan Kaka ingin rehat dan sehat dari ketergantungan. Ditambah dengan Abdee dan Ridho yang benar-benar bersih dari narkoba semakin menguatkan niat mereka. Mereka berhenti bukan karena takut diikuti massa yang memang sudah banyak,, namun mereka berhenti justru karena sudah banyaknya yang mengikuti mereka memakai narkoba. Album tersebut terjual satu juta copy hanya dalam hitungan minggu. Bimbim lagi-lagi menyumbang suaranya dalam lagu Bimbim Jangan Menangis. Sebuah curhatan yang tercipta sejak tahun 1993. Ridho bermain keyboard di lagu ini. Pada tahun ini pulalah Bunda Iffet selaku Ibunda dari Bimbim mengambil alih jabatan menjadi Manager Slank.

Tak mudah bagi Bim Bim dan Kaka untuk berhenti menggunakan narkotika. Proses sulit pun harus mereka lakukan. Dari mulai sulit mendapatkan 'barang' hingga terganggungnya tur yang mereka lakukan juga pernah dialami. Bahkan, yang terparah, Bim Bim pernah mengalami sakaw karena tidak mendapat suplai narkoba. Saat itu, Bimbim, tak dapat melupakan pengalaman tersebut. Pengalaman itu, tak sekadar membekas di bilik hatinya, tetapi memicunya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus lebih menghayati agama Islam. Sepotong doa, baginya di puncak kritis, menjadi obat yang mengeluarkannya dari jerat narkoba. "Ya, Allah, sembuhkan aku dari rasa sakit ini, bebaskan aku dari jerat narkoba," kata Bim Bim kala itu.

Narkoba bagaikan setan. Awalnya, mengiming-iming kebebasan berekspresi dan kekayaan kreativitas, sehingga mereka menggunakan narkoba untuk eksis di blantika musik Indonesia. "Dulu dengan menggunakan narkoba memang bisa membantu," kisah Bimbim. Tak mengherankan, narkoba menjadi gaya hidup, awak Slank. Tak hanya Bimbim, Kaka pun mengonsumsinya. Maka dengan mata celong, kelakukan tak terkontrol, mereka lebih mirip monster di panggung. Ironisnya, penggemarnya mengelu-elukannya. "Yang ganjil malahan orang luar yang melihat kita. Kita sih ngerasa benar juga," kenang Bimbim. Namun, narkoba itu laiknya setan.

Setelah terjerumus kepada narkoba, Bimbim maupun Kaka belakangan merasa daya sihir narkoba, berkurang. Sebaliknya, mereka merasa fisik dan jiwa kian layu, bahkan, mengutip istilah mereka, hampir mati. Merasakan dampak buruknya, awak Slank pun sepakat untuk keluar dari jebakan narkoba. Semula, mereka mencoba mengurangi dosis, dengan harapan kelak dapat berhenti.

Kenyataannya? Hingga lima tahun, mereka tak kunjung berhenti. "Jadi kalau mau berhenti harus mendadak. Hari ini mau berhenti, ya hari itu juga nggak lagi mau bersentuhan dengan narkoba,” jelas penabuh drum itu. Kaka, sang vokalis, berpendapat demikian. Ia melukiskan, obat dan dokter hanya pembantu, yang utama ialah niat untuk berhenti. Ivan, pemain bass, menambahkan dari semua itu kemauan memohon petunjuk Allah. "Tanpa berdoa nggak mungkin kita bebas dari narkoba. Mereka yang tak percaya Allah mustahil keluar dari jerat narkoba," ujarnya.

Tanpa bantuan Allah dan dukungan keluarga, para awak Slank itu meyakini, mustahil dapat sembuh. "Kita nggak lupa berdoa. Ya berdoa untuk karier kita dan supaya lepas dari narkoba. Alhamdulillah akhirnya dijawab oleh Allah dan kita diberi kesempatan sekali lagi," kisah Bimbim.

Di sisi lain, menurut Kaka, peran keluarga terutama Bunda Ifet, orangtua Bimbim menyebabkan mereka sembuh. Bunda begitu sabar dan telaten merawat mereka. Menghadapi awak-awak Slank, Bunda memperlakukan mereka, tak ubahnya bayi. Berkat doa mereka sendiri maupun Bunda sekaligus ketawakkalan orangtua tersebut, mereka sembuh dari narkoba, pada 2000.

Kini, kelima personel Slank memang sudah bebas dari narkoba. Kini mereka merasa lebih sehat jasmani maupun rohani dibandingkan dulu. Berhasil keluar dari jeratan narkoba merupakan pengalaman rohani yang terbesar, bagi awak Slank. "Kalau dipikir-pikir mustahil kami dapat keluar, tanpa pertolongan Allah,” ujar Bim Bim.


Album berikutnya Mata Hati Reformasi dirilis. Lagu-lagu di album ini banyak bercerita tentang masalah sosial dan pemerintahan di zaman reformasi. Ketinggalan Zaman menjadi andalan di album ini. Slank juga mengaransemen ulang lagu tradisional yang diberi judul Punk Java. Di album ini juga terdapat sebuah lagu yang seharusnya di rilis pada album Tujuh namun terkena sensor. Namun saat Orba rezim Soeharto runtuh, lagu tersebut bisa masuk dalam album ini. Siapa Yang Salah adalah judul lagunya. Yang unik dari lagu ini adalah lagu ini hanya dimainkan oleh Bimbim dan Kaka. Mereka berdua yang memainkan semua. Bimbim juga mengambil dua porsi lagu yang dia nyanyikan. Aktor Intelektual dan Nggak Mau Percaya. Di album ini Slank memberi bonus sebuah kalung tiap satu buah kaset original. Ada peringatan di belakang kaset untuk didampingi kepada pendengar dibawah umur. Banyak lagu yang direkam secara live di album ini.

Tahun 1998 juga Slank menyelenggarakan konser dengan judul Konser Piss 30 Kota yang direkam dan dijual ke pasaran. Lagu yang direkam secara live dan ada bonus dua buah lagu baru yaitu Pintu dan Makan Gak Makan. Album ini banyak sekali mengambil tema lagu-lagu politik yang di masuk kan ke dalam nya. Bimbim bernyanyi di lagu Kalo Aku Jadi Presiden namun ada lirik yang diubah oleh nya. Hampir di setiap lagu, ada sedikit "ceramah" dari Kaka maupun Bimbim.

Tahun 1999 Slank merilis double album yang diberi judul 999+09. Ada total 27 lagu yang dibuat dalam dua versi. Yaitu versi abu-abu dan versi yang biru. Versi yang biru memiliki single Bintang Kesiangan dan Anak Mami sedangkan versi abu-abu adalah Orkes Sakit Hati dan Ngangkang serta Malam Minggu Lagi. Konon, saking banyaknya lagu yang mau dijadikan single, Slank mengumpulkan massa di Potlot dan mendengarkannya kepada pendengar untuk dimintai pendapatnya perihal lagu mana yang akan dijadikan single. 

Lagu Orkes Sakit Hati memang ditujukan kepada orang-orang dan politisi yang cenderung menguraikan janji-janji manis nya. Di PV (promo video)lagu tersebut juga Slank bermain di tengah-tengah masyarakat kecil. Bimbim mengambil jatah dua lagu dari masing-masing album. Sista Petty di album abu-abu dan Friday di album biru.Bonus dari album ini adalah sebuah kantong kecil yang biasa dipakai di ikat pinggang. Tahun 1999 pun menjadi tahun dimana Bimbim mengakhiri masa lajangnya dan menikahi seorang gadis bernama Reny.

Slank kemudian merilis sebuah album the best yang diberi titel De Bestnya Slank. Berisi lagu lagu pilihan dengan satu lagu dari album sebelumnya yang di remix oleh DJ Anton di lagu Ngangkang. Dan sebuah live lagu Malam Minggu Lagi yang direkam di Potlot.

Album Virus dirilis pada 2001. Berisi single Virus, Jakarta Pagi Ini, dan #1. Bonus dari album ini adalah sebuah tattoo dan kartu koleksi Slank. Lagu bertema sosial juga dimasukkan di album ini. Keprihatinan Slank tentang pembabatan hutan bisa ditangkap lewat lagu Lembah Baliem. Bahkan Slank memasukan lagu Yamko Rambe Yamko di akhir lagu Lembah Baliem. Lagu yang berasal dari tanah Papua. Di lagu #1 dan Symphaty Blues, Slank untuk pertama memasukkan unsur orkestra di lagu nya. Erwin Gutawa orkestra lah yang ikut membantu lagu yang ditaruh di track terakhir itu. Sebelum lagu #1, Anda bahkan bisa mendengar permainan solo Abdee di lagu Kereta terakhir. Di lagu Symphaty Blues, Anda bisa mendengar suara seorang wanita yang konon itu adalah istri dari Kaka, Tascha.

Sukses album Slank sendiri langsung diikuti dengan konser Virus Road Show 22 Kota di Indonesia dan hasil Live nya sendiri bisa didengar di album yang diberi judul A Mild Live Slank Virus Road Show dengan bonus tambahan satu buah lagu baru dengan judul yang sangat menarik, I Miss You But I Hate You dan bonus sebuah Koran Koranan Slank. Koran Koranan Slank ini adalah cikal bakal lahirnya media bulletin yang bisa didapatkan diluar (tanpa harus membeli kasetnya) secara berkala. Ini adalah album live kedua Slank setelah Konser Piss 30 Kota.

Dalam versi kaset,terdapat permainan solo dari Abdee, Ridho, dan Ivanka. Rekaman lagu Pak Tani yang di Jember dimana terjadi keributan antar penonton pun dimasukkan di kaset ini. Namun jika melihat versi VCD nya, konser yang di ambil adalah yang di Jember. Di lagu Bocah, Ivanka bermain gendang terlebih dahulu sebelum memainkan gendangnya. Di lagu Pak Tani dimana ada keributan tersebut, Slank mengajak penonton untuk melakukan semacam tanya jawab di tengah-tengah lagu dan yang menarik adalah saat Kaka bertanya apakah mungkin jika Slank menjadi presiden, dan jawabannya ternyata tidak mungkin. Di lagu Kamu Harus Pulang yang menjadi penutup konser pun diselipi ucapan terima kasih kepada semua pihak di tengah-tengah lagu.

Seperti tak mengenal lelah,,Slank lagi-lagi merilis album studio kesebelas nya yang diberi titel Satu Satu pada tahun 2003. Bulan dan Bintang, Gara-Gara Kamu, dan Jembatan Gantung menjadi hitsnya. Lagu Bulan dan Bintang juga masuk dalam soundtrack film Novel Tanpa Huruf R. Lagu Gara-Gara Kamu ditujukan kepada narkoba yang sempat membuat mereka mengalami masa-masa kritis

Tingkat kreativitas Slank saat itu bisa dibilang sangat tinggi dan sangat produktif. Bisa dibilang pada tahun ini lah mereka benar-benar bersih dari ketergantungan. Album ini juga diikuti dengan award AMI Award kategori album rock terbaik. Album ini diberi bonus kondom dan kartu koleksi Slank. Cover depan album pun ditulis 'EDISI KHUSUS SUAMI ISTRI'. Di album ini Kaka sudah tidak berambut panjang gimbal namun menjadi lebih pendek namun tetap keriting. Bimbim menyumbang suaranya di lagu Jadi Masalah. 

Slank kemudian menyelenggarakan Satu-Satu Live Tour di kota-kota Indonesia. Beberapa lagu di konser tersebut dimasukkan ke album live ketiga mereka yang diberi titel Bajakan. Bajakan adalah bentuk kegelisahan Slank terhadap para pembajak yang dengan mudah dan gampangnya mencuri hak cipta seorang pemusik. Lagu lagu yang direkam semuanya adalah live hasil konser dibeberapa tempat dan event. Ada tiga lagu baru yang dimasukkan di album live ketiga Slank ini. That's All,, yang direkam pada konser Satu-Satu Live Tour ini menjadi single disusul Bendera 1/2 Tiang yang direkam di studio Parah di Potlot dan juga lagu hasil kolaborasi dengan group musik dari Korea Selatan berjudul South Asia. South Asia direkam secara live bersama Yoon Band dari Korea. Lagu ini pernah dibawakan saat Slank bermain di Korea. Yoon Band pun ikut berkolaborasi di lagu I Miss You But I Hate You milik Slank yang direkam pada acara Impresario. Sang vokalis dari Yoon Band mengubah liriknya menjadi bahasa korea. Lagu tersebut juga masuk dalam album Bajakan ini. Ada juga lagu dimana Slank berkolaborasi dengan raja dangdut Rhoma Irama di lagu Balikin. Kaka tidak banyak bernyanyi di lagu ini. Malah Rhoma lah yang mengambil hampir seluruh bagian yang dinyanyikan Kaka. Hasil konser Tiga Dimensi pun dimasukkan kesini. Ending album Bajakan adalah Sumpah Anti Pembajak yang di deklarasikan Slank bersama Slanker se-Indonesia. Bonus album ini adalah sebuah pick guitar.

Slank merayakan ulang tahun ke 20 nya di Lebak Bulus. Konser yang diberi judul Metamorfosa Sebuah Generasi ini banyak diisi para musisi yang meramaikan acara ini di antaranya Ungu, Koil, dll. 20 tahun bermain musik dan berkreasi belumlah cukup untuk Slank. Mereka masih ingin bermimpi dan meraih mimpi-mimpinya.


Album Live pertama di dunia.


Memasuki tahun 2004 dimana punk berhasil menggebrak musik Indonesia, Kaka mengubah image dirinya dengan rambut mohawk. Punk ala Slank. Begitu mereka menyebutnya. Slank dan Naif menggelar konser bersama bernama Road to Peace 24 Kota. Yang menarik dari konser ini adalah, dibawakannya lagu-lagu baru yang belum pernah dibawakan dan hasil lagunya direkam secara live dan dijadikan album berikutnya. Jika biasanya Slank merekam lagu, rilis, kemudian tour,, kali ini tidak. Mereka tour sambil merekam secara live di panggung, baru kemudian merilisnya. Album ini diberi nama Road to Peace. Naif juga berkolaborasi di lagu Amrozy Gitting yang direkam di studio Parah milik Slank. Dua lagu yaitu Amrozy Gitting dan P3K direkam di Potlot, markas mereka sedangkan yang lainnya direkam di atas panggung. Mars Slankers dan Salah menjadi jagoan di album ini. Di album ini juga dimasukkan sebuah karya dari Mochtar Embut berjudul Mars Pemilu yang diaransemen menjadi aransemen rock oleh Slank. Album ini konon disebut sebagai album live pertama di dunia. Walaupun sudah pernah ada yang merekam full album secara live seperti Greateful Dead dan Blues Traveler, namun band tersebut tidak merekam nya di atas panggung seperti yang dilakukan Slank. 

Bahkan lagu Make Love Not War direkam saat Slank sedang checksound di Yogyakarta. PV lagu Mars Slanker mencampurkan unsur animasi di dalamnya sedangkan PV lagu Salah, lagi-lagi Slank tidak ada di video tersebut.Bonus dari album ini adalah sebuah poster dan masker berlogo peace yang di design oleh seorang Slanker dari Makassar bernama Firman.

Tahun 2004 ini juga Slank mewakili Indonesia untuk tampil di acara MTV Asia Aid di Thailand dan membawakan sebuah lagu yang diambil dari album Satu Satu yaitu Karikatur. Selain Slank, musisi lain yang tampil di event tersebut adalah Simple Plan, Rain, Siti Nurhaliza, Namie Amuro, Jay Chou, Hoobastank, dll.

Di akhir tahun 2004, lagi-lagi Slank merilis sebuah album baru. P.L.U.R adalah nama albumnya. PLUR adalah singkatan dari kata Peace, Love, Unity, Respect. Sebuah semboyan baru Slank (sebelumnya Slank setia dengan jargon Piss). Album ini mengandalkan Ku Tak Bisa, Biru, dan Juwita Malam sebagai jagoan. Juwita Malam ini adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki. Dibuat dalam dua versi. Punk dan Blues. Lagu Juwita Malam dan Biru masuk dalam soundtrack film Banyu Biru yang dibintangi Tora Sudiro. Bimbim bernyanyi kembali di lagu Indonesiakan Una. Bonus album ini adalah sebuat sticker dan poster kalender. Dan album ini, pada akhir tahun 2005 menurut majalah GitarPlus masuk sebagai album gitar rock terbaik tahun tersebut bersama dengan Gigi, Edane, dan Netral. Alasannya adalah permainan gitar Abdee dan Ridho yang cenderung blues dan rock 'n roll menyaru ke permainan gitar rock modern.

Pada tahun 2004 ini Slank merayakan ulang tahun ke 21 tahun di kota Surabaya pada 26 Desember bertepatan dengan bencana besar di Aceh. Sebenarnya di album ini pun Slank membuat lagu tentang Aceh yaitu Atjeh Investigation. Lagu Gossip Jalanan yang membuat gerah para politisi pun terdapat di album ini.  Bencana Aceh tersebut lantas dijadikan destinasi oleh Slank untuk mengumpulkan dana dan memberikan sumbangan di tengah-tengah promo album P.L.U.R tersebut. Akhirnya pada awal tahun 2005, Slank dan Iwan Fals diajak oleh Deteksi Production untuk menggelar konser di 27 Kota Indonesia yang diberi judul Bersatu Dalam Damai. Slank dan Iwan Fals berhasil mengumpulkan total 2,9 Milyar Rupiah yang akan disumbangkan untuk korban bencana alam tsunami di Aceh dan sekitarnya. Target dari Deteksi dan A Mild adalah Rp.3 Milyar sehingga angka tersebut di bulatkan menjadi Rp.3 Milyar yang disumbangkan ke Aceh.

Tahun 2005, Slank di daulat leh MTV Indonesia menjadi Icon dari MTV. Saat itu Slank berhasil mengalahkan saingan lainya di antaranya Dewa dan juga Chrisye. Malam penganugerahan gelar tersebut diselenggarakan di TMII Jakarta dan musisi yang hadir di situ membawakan lagu Slank. 

Pada tahun 2005 ini pula lah Slank untuk pertama kalinya show di Korea Selatan. Pada tanggal 7 Oktober 2005, Slank bermain di kota Gwangju. The May 18 Memorial Foundation yang mengundang Slank untu tampil dalam acara yang diberi judul Echo of Music Concert. Slank membawakan dua buah lagu yaitu Bang Bang Tut dan Virus (English Version). Dalam konser ini, Slank juga bertemu kembali dengan Yoon Band, musisi yang berkolaborasi dengan Slank dan menghasilkan sebuah lagu yang masuk ke dalam album mereka masing-masing.

Masih pada tahun yang sama, Abdee Negara selaku gitaris Slank melelang gitar Fender Stratocoaster nya. Dibuka dengan harga Rp 10 Juta, dan berharap bisa mencapai Rp 20 Jutaan, perkiraan Abdee ternyata jauh meleset. Angkanya terus naik dan akhirnya terjual seharga Rp 325 Juta. Adrie Soebono, seorang promotor kondang dari JAVA Musikindo itulah yang berhasil mendapatkannya. Bahkan terlihat Abdee sempat ingin meneteskan air mata setelah tahu harga gitar yang telah setia menemaninya itu (gitar Abdee tersebut dipakai saat rekaman maupun tour Slank dari pertama Abdee bergabung) dinilai sangat tinggi melebihi bayangan awalnya. Ivan juga sempat melelang bass Tobias Legend kesayangannya dan berhasil meperoleh Rp. 5 Juta.

Di tahun 2005, Slank sempat merilis sebuah Video Live dalam format DVD dan VCD. Diambil dari konser A Mild Live Soundrenaline saat itu. Lagu-lagu nya di ambil dari lima kota tempat berlangsungnya konser tersebut (Bali, Palembang, Bandung, Surabaya, dan Semarang). Slank juga mengajak vokalis Crowned King, Shawn Frank untuk berkolaborasi di lagu I Miss You But I hate You. 

Di penghujung tahun 2005, Slank kembali merilis sebuah album studio ke 14 nya yang diberi titel SLANKISSME. Dan ulang tahun Slank yang ke 22 tahun di Ancol pun sedikit banyak telah memainkan lagu-lagu baru dari album tersebut. Slankissme sendiri adalah sebuah ambigu kalimat dari Slank Kiss Me, Slank Is Me, dan Slankisme. Bimbim menyebut bahwa ada 13 ajaran 'gak sempurna dari Slankisme, dan itu harus diketahui oleh para Slanker, agar mengerti dan menjalani. 13 ajaran g(ak) sempurna SLANKISME:
1. Kita harus Kritis
2. Berjiwa Sosial
3. Penuh Solidaritas
4. Saling Setia
5. Selalu Merdeka
6. Hidup Sederhana
7. Mencintai Alam
8. Manusiawi
9. Berani untuk Beda
10. Menjunjung Persahabatan
11. Punya angan yg Tinggi
12. Menjadi diri sendiri
13. Membuka otak & hati kita
Karena kesempurnaan hanya milik TUHAN YME

Kenapa, karena memang kesempurnaan hanya milik Tuhan. Begitu kata Bimbim. Dan "tiga belas ajaran gak sempurna ini" dijadikan manifesto Slank, dan Bimbim selalu membacakan nya di saat Slank berkunjung ke suatu negara. Namun, Di dalam negeri pun Slank sering kali membacakan manifesto-nya tersebut. Single dari album ini adalah SBY, singkatan dari Sosial Betawi Yoi, dan dua tembang ballad nya, Gak Ada 2nya dan Yang Manis yang ketiga nya dibuat PV nya.

Di awal tahun 2006, Slank berangkat ke Jepang untuk konser disana. Konser pada tanggal 2 January itu bertujuan untuk acara charity for Sumatra. Kemudian Slank gencar mempromosikan album baru nya. Baik dari live on air di televisi atau juga konser tour nya yang menjangkau 60 kota di Indonesia. Bisa dibilang ini adalah tahun tersibuk Slank, karena pada tahun ini, selain promo album Slankissme, Slank juga menjalani tour di beberapa kota di Jawa Barat dan Banten dalam rangka konser Ngedjinggo Bareng Slank, lalu merilis Album Slank Since 1983 di Malaysia dan promo di negara tersebut. Di tour Ngedjinggo Bareng Slank ini, setiap Slank mampir ke suatu kota, selalu saja mampir ke suatu tempat untuk kegiatan bhakti sosial, atau juga kegiatan lainnya yang melibatkan rakyat kecil dan juga kesenian dan budaya setempat.

"Jika Anda ingin dunia melihat apa yang ingin Anda katakan, Anda lebih baik pergi ke gunung tertinggi. Dan untuk musik, gunung tertinggi saat ini di Amerika Serikat ", kata Abdee Negara. Slank juga mampir ke Amerika untuk mengisi acara di 5 tempat live house di beberapa kota di Amerika. Slank di undang oleh para mahasiswa disana. Hal itu dijadikan kesempatan untuk membawa CD demo album Slank yang telah di translate ke bahasa Inggris agar albumnya bisa rilis di luar negeri dan go internasional. Untuk itulah Slank gencar mencari cara dan usaha agar bisa terbang dan bermain di sana. Kesempatan emas itu pun hadir tatkala Slank mengundang dua produser di konser mereka. Satu dari Amerika dan satu dari Kanada. Blues Saraceno, mantan gitaris group band Poison yang juga guru gitar Ridho ketika menuntut ilmu di Musician Institute, Hollywood, hadir sebagai produser yang ingin melihat aksi Slank. Dan satu lagi seorang produser dari Kanada yang juga hadir bersama vokalist dari group Crowned King, Shawn Frank, yang pernah berkolaborasi dengan Slank ketika konser Soundrenaline tahun 2005 di Bali turut serta hadir jauh-jauh dari Kanada. Mereka berdua tertarik dan akhirnya Slank lebih memilih Blues Saraceno. 

Alasan Slank ingin berkarier di luar negeri karena mereka telah jenuh, dalam artian, hampir semuanya sudah pernah di raih oleh Slank di Indonesia. Makanya, Amerika dan dunia lah tujuan berikutnya Slank. Slank ingin kembali menjadi Underground, yang belum dikenal oleh siapa-siapa, yang belum terkenal. Inilah pertama kalinya Slank ke Amerika. Ketika di Las Vegas, Bimbim sempat membuat sebuah lagu yang hasilnya ada di album berikutnya dari Slank.

Tahun 2006 ditutup dengan sebuah pesta ulang tahun yang ke 23 berjudul 23rd Slank Indie Festival. Acara ini memang banyak mengambil musisi-musisi ang berangkat dari jalur Indie seperti Nidji, Steven n Coconut Trezz, Suicidal Sinatra, The S.I.G.I.T, Sheila on 7 dll. 

Tahun 2007 Slank kembali mengeluarkan album dengan titel Slow But Sure. Inilah album yang bisa dibilang "jawaban" dari para pendengar musik terutama Slanker karena banyak sekali yang meminta Slank untuk bermain akustik/unplugged. Di album ini, Slank bermain sangat sederhana. Tidak ada bunyi bising. Yang ada hanyalah suara-suara bersahabat dari perkusi, gitar akustik dan selingan harmonika. Bimbim menyumbang satu lagu di lagu Me & Reny dan ada satu lagu yang diciptakan oleh Bimbim di Las Vegas pada tahun 2006 yang dimasukan ke album ini yaitu Sin City. Kemudian ada lagu My Scooter Love yag diciptakan oleh Kaka. Di lagu ini bahkan bisa didengar di akhir lagu suara Vespa Kaka. Ada juga lagu berjudul Lapindo yang mengkritisisasi semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Pada album tersebut terdapat sebuah hidden track di lagu ini berjudul Lilo. Lagu ini tidak terdapat di album tersebut tapi liriknya terdapat di booklet album. Lagu ini bisa didapatkan bila membeli software game Lilo. Single di lagu ini adalah Cinta?, Slalu Begitu, dan Sejak Kau Benci. Di versi VCD dan DVD semua lagu dibuat video klip nya. Bonus dari album ini adalah sebuah boxer.

Slank kemudian meraih hasil dari CD demo yang dibawa ke Amerika tahun 2006. Blues Saraceno bersedia untuk menjadi produser Slank untuk perilisan album internasional pertama nya. Blues Saraceno yang juga mantan guru gitar Ridho memberi banyak sekali masukan dan ide nya kepada Slank. Bimbim sempat membuat sebuah lagu berjudul Hard For You yang kemudian masuk ke album Slank berikutnya pada tahun 2008. Selesai rekaman album barunya di Amerika, Slank kemudian pulang ke Indonesia. ID Indonesia sendiri, Slank berkenalan dengan musisi dari Jepang bernama The Big Hip. The Big Hip yang tinggal menyisakan dua orang personel tersisa melakukan jamming di Potlot bersama Slank dan mereka sepakat untuk membuat sebuah album kolaborasi. The Big Hip diboyong di pesta ulang tahun Slank ke 24 di Surabaya dengan titel From Slank With Love.

Tahun 2008, Slank sempat akan digugat oleh DPR karena saat itu Slank aktif mendukung KPK dan sempat memberikan CD yang berisi lagu-lagu Slank sebagai bentuk dukungan nya dan menyuaakan saat melakukan pertunjukan. Namun ternyata ada lagu yang berjudul Gossip Jalanan (dari album PLUR, tahun 2005) yang dianggap menyakiti lembaga tertentu. 

Di tahun 2009, Slank bermain film yang diberi judul Generasi Biru. Film ini bekerjasama dengan sutradara handal Garin Nugroho. Filmnya menceritakan tentang perjalanan karir Slank dalam bentuk koreograpi. Para personil Slank menjadi dirinya sendiri. Ada 3 unsur dalam film ini. Yang pertama adalah animasi, koreo, dan dokumenter Slank yang kebanyakan mengambil scene pada acara Slankers Day. Banyak lagu Slank yang juga diputar di film tersebut yang kemudian dirilis albumnya dengan tambahan dua lagu yaitu SLank Dance dan Monogami. Di IMDB, nilai untuk film Generasi Biru mendapat nilai 7,4.


Konser peringatan ulang tahun Slank ke-30 berlangsung meriah di Gelora Bung Karno, Jumat (13/12). Puncak peringatan tersebut ditandai dengan peniupan lilin oleh para personel Slank. Kue ulang tahun Slank tampak istimewa dengan keberadaan tulisan "Slank Nggak Ada Matinya." Acara tiup lilin itu juga menghadirkan keluarga personel Slank, sang manajer Bunda Iffet, dan para pemain film Slank Nggak Ada Matinya.
Bunda Ifet Terharu Bisa Bawa Slank Sampai Usia ke-30

Selama membina dan membimbing Slank, Bunda Ifet tidak pernah menyangka kalau eksistensi anak didiknya di industri musik Tanah Air sudah malang melintang selama 30 tahun. Bunda Bimbim, drumer Slank itu pun tak bisa menahan keharuannya atas pencapaian band yang terbentuk sejak 1983. "Bunda terharu dan tidak menyangka bisa membimbing Slank hingga 30 tahun," ucap Bunda Ifet di atas panggung Konser 30 Tahun Slank, di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (13/12/2013).


Anggota.


  1. Vocal - Akhadi Wira Satriaji (Kaka)
  2. Drums - Bimo Setiawan Almachzumi (Bimbim)
  3. Guitars - Abdee Negara (Abdee)
  4. Guitars - Mohammad Ridwan Hafiedz (Ridho)
  5. Bass - Ivan Kurniawan Arifin (Ivanka)


Diskografi.
  • Album Studio
  1. Suit... Suit... He... He... (Gadis Sexy) (1990)
  2. Kampungan (1991)
  3. Piss! (1993)
  4. Generasi Biru (1995)
  5. Minoritas (1996)
  6. Lagi Sedih (1996)
  7. Tujuh (1997)
  8. Mata Hati Reformasi (1998)
  9. 999+09 (biru) (1999)
  10. 999+09 (abu-abu) (1999)
  11. De Best Nya Slank (2000)
  12. Ngangkang (2001)
  13. Virus (2001)
  14. Satu Satu (2003)
  15. Road To Peace (2004)
  16. PLUR (2004)
  17. Reborn Repuplic Slank (2005)
  18. Slankkissme (2006)
  19. Slankograpy (2006)
  20. Slow But Sure (2007)
  21. The Big Hip (2008)
  22. Anthem For The Broken Hearted (Versi Eropa) (2008)
  23. Anthem For The Broken Hearted(2009)
  24. Jurus Tandur No. 18 (2010)
  25. I Slank U (2012)
  26. Slank Nggak Ada Matinya (2013)
  27. Album Live[sunting | sunting sumber]
  28. Konser Piss 30 Kota (1998)
  29. Virus Roadshow (2001)
  30. Bajakan (2003)
  • Album internasional.
  1. Sejak tahun 1983 - Malaysia Edition 2006
  2. Slank feat. Big Hip - Japan Edition 2008
  3. Anthem For The Broken Hearted - USA Edition 2008
  • Album Soundtrack
  1. Ost. Anak Menteng (1996)
  2. Ost. Get Married (2007)
  3. Ost. Generasi Biru (2009)
  4. Ost. Get Married 2 (2009)
  5. Slank Party (2011)
  • Mini Album
  1. I SLank U (2012)
  2. ISLank (ISL-Slank) (2013)
  • Album Sponsor
  1. I Slank U Nexian oleh Hp Nexian
  2. ISLank (ISL - Slank)Oleh Liga Super

Penghargaan.
  1. 1990 - Best Selling Album Rock Category BASF Awards
  2. 1991 - Best Selling Album Rock Category BASF Awards
  3. 1993 - Best Selling Album Rock/Alternative Category BASF Awards
  4. 1994 - Best Selling ALbum (Double Platinum Album Category) BASF Awards
  5. 1994 - Video Klip Terbaik (Terbunuh Sepi) Video Musik Indonesia
  6. 1995 - Video Klip Terbaik (Bang Bang Tut) Video Musik Indonesia
  7. 1997 - Lagu Rock Terbaik (Balikin) AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  8. 1997 - Album Rock Terbaik (Tujuh) AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  9. 1997 - Group Rock Terbaik AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  10. 1998 - Album Rock Terbaik (Matahati Reformasi) AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  11. 1999 - Band paling kontroversial Taboid MUMU (MUda MUsika)
  12. 2002 - The Best Director for Video I Miss You But I Hate You MTV Indonesia Awards
  13. 2003 - Artis/Duo/Group Terbaik AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  14. 2003 - Album Rock Terbaik (Satu-Satu) AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards
  15. 2004 - Album Pop/Rock paling Ngetop(Road to Peace) SCTV Music Awards 2005
  16. 2005 - Penghargaan dari IFNGO (International of Non GOvernmental Organization)
  17. 2009 - Most Fav Band/Duo MTV Indonesia Awards
  18. 2010 - Album Rock Terbaik (OST Generasi Biroe) AMI (Anugerah Musik Indonesia) Awards\
  19. 2010 - Group Musik Indonesia Pertama yang Merilis Album melalui Handphone MURI (Museum Rekor Indonesia)