Kamis, 12 Desember 2013

Berkat "Blusukan", Jokowi Dipilih sebagai Tokoh Terkemuka Dunia.



Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dipilih sebagai salah satu dari 134 tokoh terkemuka dunia versi pembaca majalah Foreign Policy terbitan Amerika Serikat. Dalam daftar The Leading Global Thinkers of 2013 itu, nama Jokowi masuk dalam kategori Challengers atau tokoh dengan gebrakan baru berkat aksi blusukan.

Dalam keterangan singkat tentang profil Jokowi pada situs web majalah itu, Foreign Policy menyebut Jokowi sebagai pemimpin sederhana yang keluar dari "pakem" penguasa politik di Indonesia. Majalah tersebut juga menyebut Jokowi seorang penggemar grup musik Metallica yang mau turun langsung dan menyapa warga Ibu Kota.




Jokowi juga disebut sebagai pemimpin langsung yang mengambil tindakan untuk mengeksekusi proyek-proyek pembangunan, antara lain pengerukan sungai untuk mencegah banjir. Ia menjadi sangat populer sehingga kehadirannya di tengah warga selalu disambut antusias. Atas semua hal yang dilakukan itu, Jokowi juga disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon presiden Indonesia.

Foreign Policy juga pernah mengangkat tulisan tentang Jokowi pada 2012 ketika Jokowi masih menjadi Wali Kota Surakarta. Dalam artikel berjudul "The City with a Short Fuse" tersebut, Foreign Policy menyebut Jokowi sebagai tokoh yang berhasil menata ulang Kota Solo, termasuk menata pedagang kaki lima.

Selain Jokowi, tokoh lain yang masuk dalam daftar tokoh terkemuka tahun ini antara lain pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, dan Edward Snowden, mantan kontraktor pada Badan Keamanan Nasional AS (NSA) yang membocorkan rahasia pemantauan hubungan elektronik badan intelijen AS tersebut. Mantan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati juga pernah mendapatkan penghargaan serupa pada 2012.


Jokowi: Tak Ada yang Berubah dari Saya.


Menjadi Gubernur DKI Jakarta, selalu memuncaki survei soal popularitas, selalu menjadi pusat perhatian masyarakat banyak, bahkan seringkali masuk ke dalam pemberitaan sejumlah media internasional, itulah Joko Widodo. Namun, segala hal yang diimpi-impikan para politisi di negeri ini tersebut tidak membuat Joko Widodo tinggi hati dan berubah perilaku sehari-hari.

Suami dari Iriana itu mengaku tetap apa adanya. Tetap kurus dan tetap memiliki wajah 'ndeso' tentunya. "Ndak ada yang beda. Dulu, tahun lalu, tahun ini, sama saja. Ndak ada yang berubah di saya. Badan ya gini-gini saja, wajah ya juga gini-gini saja," ujarnya saat berbincang dengan wartawan saat hendak pulang ke kediaman dari Balaikota, Rabu (11/12/2013).

Entah guyon atau bukan, menurut Jokowi, justru itu yang jadi pembeda antara dirinya dengan sejumlah tokoh lainnya. Pria lulusan Universitas Gajah Mada Fakultas Kehutanan tersebut pun mengaku sudah menjadikan media sebagai bagian dari hidup sehari-harinya. Baru menginjakkan kaki di Balaikota, mulutnya saja sudah ditodong alat perekam, begitu juga ketika ia mau keluar blusukan dan seterusnya. Tak terhitung berapa kali wawancara.

"Asal jangan pas saya mandi, media ngikutin aja," selorohnya santai.

Sadar bahwa gerak-gerik sepenuhnya terpantau media massa, Jokowi pun memanfaatkannya sebaik mungkin untuk sosialisasi program kebijakannya sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta.

Tak hanya media nasional, setiap beberapa bulan sekali, Jokowi pun mengaku kerap didatangi media internasional. Sebut saja New York Times, Aljazeera dan beberapa media massa di Eropa lainnya sering ikut blusukan ke kampung-kampung di Jakarta. Ia mengajak melihat persoalan Ibu Kota secara langsung dari dekat.

"Ndak kewalahan. Datang nanya, tinggal saya jawab. Mau lihat Pluit? ya kita ajak. Mau lihat Tanah Abang? kita ajak," ucapnya.

Bahkan, ketika Jokowi masuk menjadi salah satu dari 134 tokoh terpopuler berkat aksi blusukannya di majalah Foreign Policy asal Amerika Serikat, politisi PDI Perjuangan itu mengaku biasa saja.

"Ya ndak ngerti, ke Amerika saja ndak pernah," ujarnya saat diminta komentarnya atas predikat tersebut.

Dalam daftar the Leading Global Thinkers of 2013, nama Jokowi masuk ke dalam kategori tokoh Challenger atau tokoh dengan gebrakan baru, yakni aksi blusukannya. Pria penyuka Metallica ini pun dianggap sebagai pemimpin sederhana yang keluar dari pakem penguasa politik kebanyakan di Indonesia.

Seberapa tingginya popularitas Jokowi, rakyat tidak mau tahu. Selama ia bekerja dan memberikan kontribusi nyata bagi rakyat Jakarta, tak pedulilah ia berapa kali diwawancarai, tak peduli dia berapa kali disorot internasional, yang penting rakyat sejahtera. Seperti yang sering diungkapkan Jokowi, "Saya pekerja, bukan politisi. Saya hanya berkerja, bekerja. Saya tak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya bekerja."

Sumber : http://megapolitan.kompas.com/, Rabu, 11 Desember 2013, 14:06 WIB